Isi History GoFood Pacarku Ternyata Menyimpan Rahasia Gelap yang Menghancurkan Mimpiku di Kampus

Isi History GoFood Pacarku Ternyata Menyimpan Rahasia Gelap yang Menghancurkan Mimpiku di Kampus

Kisah Kampus

Isi History GoFood Pacarku Ternyata Menyimpan Rahasia Gelap yang Menghancurkan Mimpiku di Kampus



'Kamu tadi bilang di perpustakaan sampai subuh untuk nyelesein revisi skenario teater, kan?' Suara Galang terdengar parau, hampir tidak keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering. Di tangannya, sebuah ponsel pintar milik Sekar bergetar pelan, bukan karena panggilan masuk, melainkan karena jempol Galang yang gemetar hebat saat menggulir layar aplikasi pemesanan makanan. Di hadapannya, Sekar yang baru saja keluar dari kamar mandi kostnya tampak membeku. Handuk kecil masih melingkar di lehernya, dan aroma sabun mawar yang biasanya menenangkan Galang, kini terasa seperti bau bangkai yang menyesakkan.

Sekar tidak menjawab. Matanya yang bulat dan biasanya berbinar penuh ambisi sebagai calon aktris panggung terbaik di universitas, kini meredup, kehilangan cahaya. Galang menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang seperti genderang perang. Dia tidak sengaja melihatnya. Ponsel Sekar tertinggal di atas meja belajar saat gadis itu mandi, dan sebuah notifikasi 'Pesanan Anda telah sampai' muncul. Galang hanya berniat memindahkan ponsel itu agar tidak jatuh, namun rasa penasaran yang tak terduga mendorongnya melihat riwayat pesanan yang ternyata sangat panjang dan ganjil.

'Dua porsi Nasi Goreng Kambing, jam dua pagi, alamatnya Apartemen Skyview Tower B Unit 1205. Ini bukan alamat kost kamu, Kar. Dan ini bukan cuma sekali. Hampir setiap Selasa dan Jumat selama tiga bulan terakhir, ada pesanan makanan porsi ganda ke alamat yang sama di jam yang sama. Kamu bilang setiap Selasa dan Jumat itu jadwal latihan rutin teater sampai larut. Jadi, siapa yang makan nasi goreng kambing sama kamu di apartemen itu?' Galang menatap Sekar, menuntut penjelasan yang masuk akal, meski hatinya sudah tahu bahwa tidak ada logika yang bisa menyelamatkan mereka kali ini.

Kampus Seni ini adalah saksi bisu bagaimana Galang, mahasiswa Arsitektur yang kaku, jatuh hati pada Sekar yang lincah. Mereka adalah pasangan yang sering disebut sebagai 'Power Couple' di Fakultas Seni dan Desain. Galang sering menghabiskan malam di studio gambar, sementara Sekar berteriak lantang melatih vokalnya di panggung terbuka. Namun, di balik kemegahan panggung dan estetika garis-garis maket Arsitektur, ada retakan yang tidak pernah Galang sadari. Retakan itu bernama Pradipta, alumni sukses yang kini menjadi sponsor utama pementasan teater kampus, sekaligus pemilik unit di Skyview Tower.

Sekar perlahan mendekat, mencoba meraih tangan Galang, namun Galang mundur selangkah. 'Jangan sentuh aku dengan tangan yang sama yang menyuapi laki-laki lain di apartemen itu, Kar,' desis Galang. Air mata mulai mengalir di pipi Sekar, tapi itu bukan air mata penyesalan yang tulus di mata Galang; itu adalah air mata kepanikan karena topengnya baru saja retak. 'Lang, dengerin dulu. Itu nggak seperti yang kamu bayangin. Mas Dipta cuma bantu aku buat riset karakter. Dia punya koneksi ke produser besar, dan dia mau kasih aku peran utama di film layar lebar setelah lulus nanti,' suara Sekar bergetar, mencoba menyusun pembelaan yang terdengar profesional.

'Riset karakter? Jam dua pagi? Pakai nasi goreng kambing?' Galang tertawa getir, tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. 'Aku selama ini kerja sampingan jadi drafter sampai kurang tidur cuma buat bayar biaya pendaftaran lomba kamu, buat beli kostum kamu, karena aku percaya kamu punya bakat. Tapi ternyata, bakat terbesar kamu bukan di panggung, Kar. Bakat terbesar kamu adalah akting di depan aku selama tiga tahun ini. Kamu menjadikan aku penonton setia dalam sandiwara murahan yang kamu buat sendiri.'

Suasana kamar kost itu mendadak terasa sempit. Galang menatap sekeliling, melihat foto-foto mereka yang tertempel di dinding—foto saat mereka merayakan ulang tahun di taman kota, foto saat Galang memenangkan sayembara desain, dan foto Sekar yang tersenyum lebar memegang piala aktris terbaik tingkat fakultas. Semuanya terasa seperti properti panggung yang palsu sekarang. Galang merasa seperti arsitek yang baru saja menyadari bahwa gedung yang ia bangun dengan susah payah ternyata berdiri di atas tanah rawa yang busuk.

Sekar jatuh terduduk di lantai, tangisannya pecah. 'Aku capek miskin, Lang! Aku capek harus nunggu kamu sukses buat bisa ngerasain hidup enak. Mas Dipta kasih aku semuanya. Dia kasih aku koneksi, dia kasih aku gaya hidup yang nggak bisa kamu kasih sekarang! Aku sayang kamu, tapi aku butuh kepastian masa depan yang nggak bisa cuma dijanjikan lewat maket-maket kardus kamu itu!' Kalimat Sekar menghantam Galang lebih keras daripada pengkhianatan itu sendiri. Ternyata, cinta dan dukungan selama ini tidak lebih berharga daripada kenyamanan instan yang ditawarkan oleh orang asing yang memiliki segalanya.

Galang terdiam. Ia meletakkan ponsel Sekar di atas meja dengan perlahan, seolah benda itu adalah bom yang siap meledak. Ia teringat bagaimana ayahnya, seorang tukang bangunan tua, selalu berpesan bahwa fondasi yang kuat adalah kunci dari segalanya. Dan hari ini, Galang sadar bahwa fondasi hubungannya dengan Sekar tidak pernah kuat karena Sekar tidak pernah mau ikut membangun dari bawah. Gadis itu hanya ingin langsung menempati penthouse di puncak menara, tanpa peduli siapa yang harus ia injak untuk sampai ke sana.

Tanpa kata-kata lagi, Galang berbalik menuju pintu. Ia tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Setiap riwayat pesanan di GoFood itu adalah bukti fisik dari setiap detik pengkhianatan yang telah ia lalui tanpa curiga. Ia keluar dari kamar kost itu, meninggalkan Sekar yang masih meraung di lantai. Di luar, langit kampus mendung, seolah turut merasakan kehampaan yang kini memenuhi rongga dada Galang.

Saat ia berjalan menyusuri koridor kampus yang mulai sepi, Galang berpapasan dengan Pradipta yang baru saja turun dari mobil mewah hitamnya, membawa sebuah buket bunga besar, kemungkinan besar menuju kost Sekar. Mereka sempat bersitatap selama beberapa detik. Pradipta tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan dari seorang predator yang tahu ia telah memenangkan mangsanya. Galang tidak membalas. Ia terus berjalan, pundaknya tegak meski hatinya hancur. Ia tahu satu hal: bangunan yang runtuh bisa dibangun kembali, tapi kepercayaan yang sudah menjadi abu tidak akan pernah bisa menjadi utuh lagi.

Galang menuju studio Arsitektur, tempat yang paling ia benci sekaligus ia cintai. Ia duduk di mejanya, mengambil cutter, dan mulai memotong kardus maket barunya. Kali ini, ia tidak sedang membangun rumah impian untuknya dan Sekar. Ia sedang membangun benteng untuk dirinya sendiri. Sebuah benteng yang tidak akan pernah membiarkan sandiwara apa pun masuk lagi. Namun, di tengah kesunyian studio, sebuah pesan masuk ke ponsel Galang dari nomor tak dikenal. Sebuah foto Sekar dan Pradipta di dalam unit 1205, dengan caption: 'Ini baru permulaan, Galang. Kamu nggak tahu apa yang sebenarnya Sekar korbankan buat kamu.'

Tangan Galang berhenti bergerak. Napasnya tertahan. Apa maksud dari pesan itu? Apa yang Sekar korbankan? Galang menatap foto itu lekat-lekat, menyadari ada sesuatu yang aneh di pergelangan tangan Sekar yang tersembunyi di balik jam tangan mahal pemberian Pradipta. Sebuah luka memar yang samar, namun cukup jelas untuk dilihat oleh mata seorang arsitek yang terbiasa dengan detail. Dunia Galang kembali berputar, kali ini dengan pertanyaan yang jauh lebih gelap daripada pengkhianatan itu sendiri.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url