Istri Mana yang Tidak Hancur? Di Balik Jas Rapi Suamiku, Ternyata Ada Rahasia yang Terbungkus Rapat Selama 7 Tahun...
Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langitnya abu-abu pekat, tipikal musim hujan yang bikin jemuran nggak kering-kering dan hati entah kenapa jadi ikutan mendung. Aku, Maya, baru saja selesai merapikan tumpukan cucian yang baru saja diangkat dari jemuran belakang. Wangi pewangi pakaian rasa floral memenuhi ruang tengah kami yang biasanya tenang. Semua kelihatan normal. Sangat normal bagi seorang wanita yang sudah mengabdi selama lima belas tahun sebagai istri dari Adrian, seorang pria yang selalu dibilang 'suami idaman' oleh teman-teman arisanku.
Adrian itu rapi. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, nggak ada yang meleset. Dia tipe pria yang kalau pakai kemeja, garis lipatannya harus simetris. Dia bekerja di salah satu firma hukum ternama di Sudirman, dan setiap pagi aku selalu memastikan jasnya sudah disetrika dengan sempurna. Tapi sore itu, ada yang berbeda. Saat aku hendak menggantung jas abu-abu gelap yang baru dia pakai kemarin, jemariku merasakan sesuatu yang mengganjal di saku kecil bagian dalam. Biasanya cuma pulpen atau kartu nama klien. Tapi ini rasanya seperti kertas kecil yang terlipat-lipat kaku.
Dengan perasaan iseng—atau mungkin insting istri yang tiba-tiba berdenyut kencang—aku merogoh saku itu. Sebuah struk belanja dari sebuah minimarket di daerah pinggiran Depok. Dahiku berkerut. Kantor Adrian di Sudirman, rumah kami di Bintaro. Ngapain dia sampai ke daerah pinggiran Depok? Dan yang lebih membuat jantungku berhenti berdetak sesaat adalah isinya. Satu kaleng susu formula tahap satu, satu pak popok sekali pakai ukuran S, dan satu botol minyak telon. Anak-anak kami, si kembar Rian dan Rina, sudah duduk di bangku SMP. Kami sudah lama sekali tidak menyentuh benda-benda seperti itu.
Duniaku rasanya berputar pelan. Aku duduk di tepi tempat tidur, memandangi struk kecil yang mulai agak luntur itu. Tanggalnya baru dua hari yang lalu. Jam tujuh malam. Saat itu, Adrian bilang dia ada rapat dadakan dengan klien penting di sebuah restoran hotel di Jakarta Pusat. Kenapa dia malah berada di minimarket di pinggiran Depok membeli perlengkapan bayi? Apakah ini milik temannya? Tapi Adrian bukan tipe pria yang mau direpotkan untuk sekadar membelikan titipan orang lain. Dia terlalu eksklusif untuk itu.
Malamnya, saat Adrian pulang, aku berusaha bersikap biasa saja. Aku menyambutnya di depan pintu, mengambil tas kerjanya, dan mengecup pipinya yang terasa dingin terkena AC mobil. 'Capek, Mas?' tanyaku berusaha menjaga nada suaraku tetap stabil. Adrian hanya mengangguk singkat, melonggarkan dasinya dengan gerakan yang selama ini aku anggap sangat maskulin, tapi kini terlihat seperti sebuah topeng yang menakutkan. 'Iya, hari ini sidang melelahkan sekali. Aku mau mandi terus langsung tidur ya, May,' katanya tanpa menatap mataku.
Aku memperhatikan punggungnya saat dia berjalan menuju kamar mandi. Punggung yang selama ini menjadi tempatku bersandar, kini terasa seperti dinding beton yang dingin dan asing. Aku tidak bertanya soal struk itu malam itu. Aku tahu, kalau aku bertanya sekarang, dia akan punya seribu satu alasan logis sebagai seorang pengacara handal. Aku butuh bukti yang lebih nyata. Aku butuh melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang sebenarnya dia sembunyikan di balik kegagahannya.
Keesokan harinya, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku meminjam mobil temanku, sebuah mobil city car tua yang tidak akan dikenali oleh Adrian. Aku menunggunya di depan kantornya sejak jam empat sore. Saat mobil hitam mewahnya keluar dari basement gedung tinggi itu, aku mengikuti dengan jarak yang aman. Jantungku berdegup kencang, tanganku berkeringat dingin di atas setir. Aku merasa seperti mata-mata di dalam film, tapi ini bukan film. Ini adalah hidupku yang mungkin sedang berada di ambang kehancuran.
Mobil Adrian tidak mengarah ke Bintaro. Benar saja, dia mengambil jalur menuju arah selatan, melewati kemacetan Lenteng Agung yang menjemukan. Setelah hampir dua jam terjebak macet, dia berbelok ke sebuah kompleks perumahan kecil yang asri, jauh dari kemewahan rumah kami di Bintaro. Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan taman depan yang penuh dengan bunga kamboja jepang. Seorang wanita muda, mungkin usianya sepuluh tahun di bawahku, keluar dari rumah itu dengan menggendong seorang bayi yang baru berusia beberapa bulan.
Rasanya ada ribuan jarum yang menusuk dadaku saat melihat Adrian turun dari mobil, tersenyum lebar—senyum yang jarang kulihat di rumah akhir-akhir ini—dan langsung mencium kening wanita itu sebelum mengambil bayi tersebut ke dalam gendongannya. Dia terlihat sangat mahir menimang bayi itu. Sangat natural. Sangat bahagia. Di sana, di bawah lampu jalan yang mulai menyala, suamiku terlihat seperti seorang ayah muda yang baru saja pulang ke rumahnya yang sebenarnya.
Aku mematikan mesin mobilku, tubuhku gemetar hebat. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah juga, membasahi pipiku yang terasa panas. Aku ingin keluar, aku ingin menjambak wanita itu, aku ingin berteriak di depan muka Adrian dan menanyakan kenapa dia setega ini. Tapi kakiku terasa lumpuh. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana mereka bertiga masuk ke dalam rumah itu dan menutup pintu, meninggalkan aku sendirian di dalam kegelapan mobil yang pengap.
Seminggu kemudian, aku mulai menyusun rencana. Aku tidak mau cerai dengan tangan kosong. Sebagai mantan arsitek yang merelakan kariernya demi anak-anak, aku tahu cara membangun sesuatu dari nol, dan aku juga tahu cara meruntuhkannya jika pondasinya sudah busuk. Aku mulai mengumpulkan semua bukti transaksi keuangan Adrian. Ternyata, selama tujuh tahun ini, dia punya rekening rahasia yang alirannya selalu ke arah 'rumah kedua' itu. Pantas saja tabungan pendidikan anak-anak tidak pernah bertambah signifikan, padahal gajinya sebagai partner di firma hukum itu sangat besar.
Aku juga mencari tahu siapa wanita itu. Namanya Siska. Mantan staf administrasi di kantor lama Adrian. Mereka sudah berhubungan sejak Siska masih kuliah. Sakit? Luar biasa. Ternyata rumah tanggaku hanyalah sebuah panggung sandiwara yang aku sutradarai sendiri dengan kepolosan yang bodoh. Aku merasa seperti orang tolol yang selama ini membanggakan keharmonisan palsu di depan teman-temanku, sementara suamiku sedang membangun istana lain di atas penderitaanku yang tersembunyi.
Suatu sore, saat Adrian bilang dia harus ke luar kota untuk urusan bisnis, aku justru mengundangnya makan malam di rumah. Tapi bukan makan malam biasa. Aku mengundang Siska juga. Aku mengirimkan pesan singkat dari nomor baru ke ponsel Siska, mengaku sebagai asisten Adrian yang disuruh menjemputnya untuk makan malam kejutan di rumah Adrian yang 'asli'. Aku tahu Siska tidak tahu kalau Adrian punya istri pertama yang masih sangat aktif. Adrian pasti bilangnya dia sudah duda atau sedang dalam proses cerai.
Malam itu, meja makan sudah kuset dengan lilin-lilin cantik dan makanan mewah. Rian dan Rina sedang menginap di rumah neneknya. Suasana rumah sangat sepi, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran kami. Adrian datang lebih dulu, kaget melihatku sudah berpakaian rapi dengan daster silk elegan favoritnya. 'May, bukannya aku bilang mau ke bandara malam ini?' tanyanya bingung.
'Duduk dulu, Mas. Ada tamu spesial yang mau datang,' kataku tenang sambil menuangkan air putih ke gelasnya. Tanganku sudah tidak gemetar lagi. Kemarahanku sudah berubah menjadi dingin yang mematikan. Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Aku tersenyum tipis ke arah Adrian yang mulai terlihat gelisah. Saat aku membuka pintu, Siska berdiri di sana dengan dandanannya yang paling cantik, memegang tas tangan bermerk yang aku tahu itu dibeli pakai uang SPP anak-anakku.
'Halo, Siska. Silakan masuk. Mas Adrian sudah menunggu di dalam,' kataku dengan nada paling ramah yang pernah kubuat. Wajah Siska langsung pucat pasi saat melihatku, lalu melihat ke arah Adrian yang sudah berdiri dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan warnanya. Dia seperti melihat hantu di siang bolong. Siska gemetar, dia menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. 'Mas... ini siapa?' tanyanya lirih.
'Ini Maya, istri sah saya selama lima belas tahun ini, Siska. Dan kamu... kamu pasti ibu dari bayi yang dibelikan susu formula tahap satu itu, kan?' ujarku sambil menarik kursi untuk Siska. Aku duduk di antara mereka berdua, memandangi dua orang pengkhianat ini dengan perasaan puas yang aneh. Adrian mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. Dia seperti kehilangan semua kemampuan bicaranya yang biasanya sangat lihai di ruang sidang.
'May, ini nggak seperti yang kamu bayangkan...' Kalimat klise itu akhirnya keluar juga dari mulut Adrian. Aku hanya tertawa kecil, suara tawaku terdengar asing di telingaku sendiri. 'Lalu seperti apa, Mas? Seperti drama di TV? Atau seperti kasus-kasus perselingkuhan yang sering kamu tangani? Aku punya semua buktinya, Adrian. Dari rekening rahasia sampai akta kelahiran bayi itu yang kamu sembunyikan di brankas kantormu. Aku sudah menyewa detektif swasta untuk membereskan sisanya.'
Siska mulai menangis sesenggukan. 'Mas Adrian bilang kalian sudah pisah ranjang... dia bilang dia cuma tinggal nunggu ketok palu...' teriaknya histeris. Aku menatapnya kasihan. Dia hanyalah korban lain dari kebohongan Adrian, meskipun dia juga bersalah karena mau saja menjalin hubungan dengan pria yang sudah jelas berkeluarga. 'Sayangnya, kita nggak pernah pisah ranjang, Siska. Mas Adrian ini tipe pria yang sangat rakus. Dia mau kenyamanan rumah di sini, dan kegairahan di sana. Tapi hari ini, pestanya selesai.'
Aku mengeluarkan map cokelat besar dan meletakkannya di atas meja. 'Surat cerai sudah siap. Aku minta hak asuh penuh atas Rian dan Rina, dan aku minta rumah ini serta setengah dari seluruh aset yang kamu punya. Kalau kamu keberatan, aku tidak keberatan membawa kasus ini ke ranah hukum dan memastikan kariermu sebagai pengacara terhormat hancur karena skandal perzinahan. Kamu tahu kan, Mas, betapa sensitifnya firma hukummu soal reputasi?'
Adrian menatap map itu dengan tangan gemetar. Dia tahu aku tidak sedang menggertak. Aku adalah wanita yang pernah merancang gedung tinggi dengan ketelitian milimeter, dan sekarang aku sedang merancang masa depanku sendiri tanpa dirinya. Dia melihat ke arah Siska, lalu kembali ke arahku. Tidak ada lagi cinta di matanya, yang ada hanyalah ketakutan akan kehilangan status dan hartanya. Itulah saat aku sadar bahwa pria yang kucintai selama belasan tahun ini sebenarnya tidak pernah ada.
Malam itu berakhir dengan keheningan yang mencekam. Siska pergi dengan tangisan yang pecah, sementara Adrian duduk termenung di meja makan yang makanannya sudah mendingin. Aku berjalan ke kamar, mengemas tas kecilku, dan memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuaku malam itu juga. Aku tidak butuh drama fisik. Aku tidak butuh teriakan. Aku hanya butuh ruang untuk bernapas kembali tanpa aroma pengkhianatan yang menyesakkan.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian kami berjalan lancar—setidaknya untukku. Aku mendapatkan apa yang menjadi hakku dan anak-anak. Adrian harus menanggung malu saat rahasianya perlahan tercium oleh rekan-rekan kantornya. Siska? Aku dengar dia ditinggalkan oleh Adrian karena Adrian tidak sanggup membiayai dua gaya hidup mewah sekaligus setelah hartanya dibagi dua denganku. Ternyata benar, cinta yang dibangun di atas luka orang lain tidak akan pernah berdiri kokoh.
Kini aku kembali bekerja sebagai konsultan arsitek freelance. Rian dan Rina mulai mengerti, meskipun awalnya berat bagi mereka. Kami pindah ke sebuah apartemen yang lebih kecil tapi terasa jauh lebih luas karena tidak ada lagi rahasia yang menyesakkan di dalamnya. Setiap kali aku melewati rak minimarket dan melihat susu formula tahap satu, aku tidak lagi merasa sakit hati. Aku hanya merasa bersyukur bahwa struk kecil itu telah menyelamatkanku dari kebohongan yang jauh lebih besar. Kadang, kehancuran adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan yang sejati.