Jejak Digital di Google Maps Ungkap Alasan Suamiku Selalu Menghilang Setiap Selasa Sore ke Desa Terpencil

Jejak Digital di Google Maps Ungkap Alasan Suamiku Selalu Menghilang Setiap Selasa Sore ke Desa Terpencil

Skandal & Pengkhianatan

Jejak Digital di Google Maps Ungkap Alasan Suamiku Selalu Menghilang Setiap Selasa Sore ke Desa Terpencil



'Aku nggak butuh penjelasan kamu soal kenapa ada jejak GPS di Desa Selotopo setiap Selasa sore, Damar. Aku cuma mau tahu, sejak kapan Elian juga ada di sana di jam yang sama?' Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku, dingin, tanpa getaran, saat kami sedang duduk di meja makan yang penuh dengan hidangan makan malam yang baru saja kupesan lewat aplikasi. Damar yang sedang memegang garpu seketika mematung. Wajahnya yang biasanya tenang, kini pucat pasi seolah seluruh aliran darahnya tersedot ke bumi. Di depannya, sebuah tablet keluarga yang tadinya dipinjam anak kami untuk menggambar, kini menampilkan layar 'Timeline Google Maps' yang tak sengaja terbuka saat aku ingin mengecek histori pengiriman paket.

Selama ini aku mengenal Damar sebagai sosok suami teladan. Dia adalah pria yang tidak pernah lupa tanggal ulang tahun pernikahan, selalu mencium keningku sebelum berangkat ke kantor, dan sangat telaten mengurus putri kecil kami, Gendis. Namun, sejarah perjalanan digital di layar itu bercerita lain. Setiap Selasa, di saat aku sedang sibuk dengan kelas yoga soreku, Damar yang mengaku sedang ada rapat direksi di kantor pusat, ternyata selalu bergerak menuju pinggiran kota. Ke sebuah titik koordinat di Desa Selotopo, sebuah daerah perbukitan yang jarang terjamah. Dan yang membuat ulu hatiku mencelos adalah kenyataan bahwa Elian—sahabat baikku sejak masa SMA yang juga merupakan rekan bisnis Damar—memiliki pola perjalanan yang identik di hari yang sama.

Ruang makan yang tadinya hanya diisi suara denting jam dinding, kini terasa mencekam. Damar perlahan meletakkan garpunya. Dia tidak berani menatap mataku. 'Laras, itu... itu cuma urusan bisnis. Elian dan aku sedang mengurus proyek villa di sana. Kami belum mau memberitahumu karena ini kejutan untuk hari jadi kita nanti,' suaranya parau, penuh dengan nada pembelaan diri yang dipaksakan. Aku tersenyum sinis. Sebuah senyum yang bahkan tidak kusadari bisa keluar dari wajahku yang biasanya lembut. 'Kejutan? Selama enam bulan berturut-turut? Dan kenapa setiap kali kalian pulang dari sana, Elian selalu memakai parfum yang baunya tertinggal di jok mobilmu, Damar? Aku menciumnya, setiap Selasa malam saat aku masuk ke mobil untuk menjemput Gendis dari tempat les.'

Ingatanku berputar ke belakang, memutar kembali fragmen-fragmen kejadian yang selama ini kuanggap biasa. Elian, wanita cantik dengan rambut sebahu yang selalu tampil elegan, adalah orang yang paling sering berada di rumah kami. Dia adalah orang pertama yang kupanggil saat aku merasa kesepian atau butuh teman bicara. Dia bahkan yang menyarankan aku ikut kelas yoga di hari Selasa sore agar aku punya 'waktu untuk diri sendiri'. Kini aku sadar, saran itu bukan untuk kesehatanku, melainkan untuk memberi jalan baginya masuk ke dalam hidup suamiku tanpa gangguan.

Aku teringat bagaimana tatapan mata Elian sering kali tertangkap basah sedang memandang Damar terlalu lama di acara makan malam bersama. Atau bagaimana Damar tiba-tiba menjadi sangat pemurah dengan memberikan modal tambahan untuk butik Elian yang sempat goyah. Dulu, aku menganggapnya sebagai bentuk solidaritas antar sahabat. Aku terlalu naif, atau mungkin terlalu percaya bahwa pengkhianatan tidak akan pernah datang dari orang yang berbagi rahasia masa remajaku. 'Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Damar?' tanyaku dengan suara yang mulai bergetar. 'Bukan karena kalian melakukannya di belakangku. Tapi karena kamu menggunakan Elian, orang yang paling aku percayai, untuk menghancurkanku. Kalian berdua membiarkan aku terlihat seperti orang bodoh selama setengah tahun ini.'

Damar mencoba meraih tanganku, tapi aku segera menariknya menjauh. Sentuhannya sekarang terasa seperti sengatan listrik yang menjijikkan. 'Laras, tolong dengarkan dulu. Aku dan Elian... kami nggak sengaja. Awalnya memang cuma urusan pekerjaan, tapi...' 'Tapi apa? Tapi ternyata suasana Desa Selotopo terlalu romantis untuk dilewatkan?' aku memotong ucapannya dengan tajam. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, tapi aku menolak untuk membiarkannya jatuh di depan pria ini. Aku harus kuat. Aku harus memikirkan Gendis yang sedang tidur lelap di kamarnya, tidak tahu bahwa dunianya yang sempurna baru saja runtuh dalam satu klik di layar tablet.

Aku berdiri, berjalan menuju lemari pajangan di sudut ruangan. Di sana ada sebuah foto kami bertiga: aku, Damar, dan Elian saat merayakan pembukaan cabang butik Elian tahun lalu. Kami bertiga tersenyum lebar, tampak seperti keluarga besar yang bahagia. Aku mengambil bingkai itu dan menjatuhkannya ke lantai. Bunyi kaca pecah yang nyaring memecah kesunyian malam. Damar terlonjak kaget. 'Besok pagi, aku mau kamu keluar dari rumah ini. Bawa semua barangmu, dan jangan pernah coba-coba menghubungi Elian lewat aku lagi,' kataku dengan nada final. Namun, di dalam hati, aku tahu ini baru permulaan. Aku tahu pengkhianatan ini jauh lebih dalam dari sekadar perselingkuhan.

Malam itu, setelah Damar akhirnya pergi tidur di sofa ruang tamu karena aku mengunci pintu kamar, aku kembali meraih tablet itu. Aku mulai menelusuri lebih dalam. Bukan hanya Google Maps, aku memeriksa mutasi rekening bersama kami yang jarang aku pantau karena aku mempercayakan semuanya pada Damar. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat aliran dana yang cukup besar mengalir ke sebuah perusahaan cangkang yang namanya terasa familiar. 'PT Selotopo Abadi Jaya'. Aku segera melakukan pencarian cepat di internet tentang pemilik perusahaan tersebut. Namanya tertera di sana: Elian Pratiwi. Dan yang membuatku lemas adalah fakta bahwa modal awal perusahaan itu diambil dari dana pendidikan Gendis yang seharusnya tidak bisa dicairkan tanpa persetujuanku.

Ternyata, mereka tidak hanya mencuri cintaku, tapi mereka juga sedang mencuri masa depan anakku. Rasa sedih yang tadi mendominasi kini berganti menjadi amarah yang membara. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Jika mereka ingin bermain kotor di Desa Selotopo, maka aku akan memastikan mereka terkubur oleh rahasia mereka sendiri di sana. Aku teringat bahwa ayahku, seorang pensiunan jaksa, masih memiliki banyak relasi di bidang agraria dan kepolisian. Besok, hidup Damar dan Elian tidak akan pernah sama lagi. Aku akan menunjukkan pada mereka bahwa seorang istri yang dikhianati bisa menjadi badai yang paling mematikan.

Aku duduk di kegelapan kamar, menatap langit-langit yang sunyi. Pikiranku melayang pada setiap tawa yang pernah kami bagi, pada setiap janji suci yang diucapkan Damar di depan altar. Semuanya terasa seperti sampah sekarang. Betapa tipisnya batas antara cinta dan benci, antara kesetiaan dan pengkhianatan. Aku mengambil ponselku, mengetik satu pesan singkat untuk Elian. Sebuah pesan yang akan membuatnya tidak bisa tidur sepanjang malam. 'Aku sudah tahu semuanya, Elian. Termasuk soal PT Selotopo Abadi Jaya. Sampai jumpa di pengadilan, Sahabatku.'

Saat aku hendak mematikan ponsel, sebuah notifikasi masuk. Sebuah email dari bank yang menyatakan bahwa ada upaya penarikan sisa saldo di rekening darurat kami. Lokasi penarikan: ATM di dekat apartemen Elian. Damar rupanya tidak benar-benar tidur di sofa. Dia sedang mencoba melarikan apa pun yang tersisa. Aku segera menelepon layanan pelanggan bank untuk memblokir akun tersebut. Permainan kucing dan tikus ini baru saja dimulai, dan aku tidak berencana untuk menjadi tikusnya.

Keesokan harinya, aku bangun dengan tekad yang bulat. Aku tidak lagi menangis. Mataku sembab, tapi sorotnya tajam. Aku mengantar Gendis ke sekolah seperti biasa, mencium keningnya lebih lama dari biasanya, berjanji dalam hati bahwa aku akan melindungi dunianya apa pun risikonya. Setelah itu, aku tidak pergi ke kantor. Aku melajukan mobilku menuju Desa Selotopo. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, apa sebenarnya yang mereka bangun di sana dengan uang masa depan anakku. Perjalanan itu memakan waktu dua jam, melewati jalanan berkelok dan hutan jati yang meranggas.

Sesampainya di titik koordinat yang tertera di Google Maps, aku terperangah. Bukan sebuah villa mewah yang kutemukan, melainkan sebuah gudang besar yang tertutup rapat dengan penjagaan ketat di depannya. Di papan nama kecil di gerbangnya tertulis: 'Gudang Logistik Farmasi'. Jantungku berdegup kencang. Ini bukan sekadar perselingkuhan atau pencurian uang biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang mereka sembunyikan di sini. Aku memarkir mobil agak jauh, lalu mencoba mendekat dengan berjalan kaki melewati semak-semak. Saat itulah aku melihat mobil Damar terparkir di dalam area gudang, bersisian dengan mobil merah menyala milik Elian. Mereka berdua ada di sana, di jam yang bukan Selasa sore. Mereka sedang panik.

Dari balik jendela kaca yang buram, aku bisa melihat Damar dan Elian sedang berargumen hebat. Elian tampak histeris, menunjuk-nunjuk tumpukan kardus di dalam gudang, sementara Damar memegang kepalanya seolah ingin meledak. Aku mengeluarkan ponselku, merekam kejadian itu. Saat aku mencoba mendapatkan sudut pandang yang lebih baik, aku tidak sengaja menginjak ranting kering. 'Krak!' Bunyinya tidak keras, tapi cukup untuk membuat seorang penjaga di dekat gerbang menoleh ke arahku. Aku menahan napas, merapatkan tubuh ke balik pohon besar. Detik itu juga, aku sadar bahwa aku telah masuk ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih besar dari sekadar drama rumah tangga. Ini adalah skandal yang bisa menghancurkan banyak orang, dan kini, aku adalah satu-satunya saksi yang mereka tidak inginkan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url