Kado Anniversary Paling Berdarah: Struk Transfer Lima Juta Untuk 'Susu Dika' Membongkar Borok Lelaki Pujaan yang Kusangka Malaikat
Malam itu seharusnya menjadi puncak perayaan lima tahun pernikahan kami. Aku sudah memesan steak wagyu terbaik, menyalakan lilin aromaterapi beraroma cendana yang menenangkan, dan mengenakan dress satin berwarna merah marun yang selalu Galendra puji. Semuanya tampak sempurna, sampai sebuah denting notifikasi dari iPad Galendra yang tergeletak di atas meja rias mengubah segalanya menjadi abu-abu yang menyesakkan.
Galendra sedang berada di kamar mandi, suara gemericik air shower terdengar samar-samar di balik pintu kaca. Biasanya, aku bukan tipe istri yang suka menggeledah privasi suami. Kami memiliki kesepakatan tak tertulis untuk saling percaya. Namun, layar iPad itu menyala terang di keremangan kamar, menampilkan sebuah notifikasi mutasi rekening yang masuk ke emailnya. 'Transfer Berhasil: Rp 5.000.000 ke Rekening Aruna - Keterangan: Susu Dika bulan ini'.
Jantungku serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Aruna? Sepupuku sendiri? Dan siapa Dika? Kami tidak memiliki anak bernama Dika. Kami bahkan masih berjuang dengan program kehamilan yang belum membuahkan hasil selama tiga tahun terakhir. Tangan kaku ini meraih iPad itu, jemariku gemetar hebat saat memasukkan sandi yang untungnya masih tanggal lahirku. Aku membuka aplikasi perbankan itu dengan napas yang memburu, seolah-olah oksigen di kamar ini mendadak habis tersedot oleh kenyataan pahit yang mulai terkuak.
Di sana, dalam riwayat transaksi yang panjang, namaku hampir tidak ada. Yang ada hanyalah deretan transfer rutin setiap tanggal dua puluh lima kepada Aruna. Nilainya bervariasi, terkadang lima juta, terkadang tujuh juta, bahkan pernah sepuluh juta dengan keterangan 'Biaya Rumah Sakit Dika' atau 'Mainan Dika'. Air mata pertamaku jatuh tepat di atas layar kaca yang dingin itu. Rasa mual mendadak mengaduk perutku, lebih sakit daripada kram menstruasi yang paling parah sekalipun.
Aruna adalah orang yang paling dekat denganku sejak kecil. Dia adalah sepupu yang aku bantu biaya kuliahnya ketika ayahnya meninggal. Dia adalah orang yang selalu memelukku saat aku menangis karena hasil testpack yang selalu garis satu. Dan sekarang, dia menerima uang 'susu' dari suamiku untuk seorang anak yang namanya tidak pernah disebutkan dalam silsilah keluarga kami. Pikiranku mulai berkelana ke hal-hal yang paling buruk. Apakah Dika adalah anak mereka? Apakah suamiku selama ini memiliki keluarga rahasia di belakangku?
Suara pintu kamar mandi terbuka membuatku tersentak. Aku tidak sempat meletakkan kembali iPad itu. Galendra keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, rambutnya yang basah meneteskan sisa air ke lantai parket. Ia tersenyum lebar ke arahku, senyum yang biasanya membuat hatiku meleleh, namun kini terasa seperti sembilu yang menyayat kulit. Senyum itu perlahan memudar saat matanya tertuju pada iPad di tanganku.
'Sekar? Kamu... sedang apa?' suaranya terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja tertangkap basah. Ia berjalan mendekat, mencoba mengambil iPad itu dengan gerakan halus, namun aku menjauh. Aku berdiri dengan lutut yang terasa lemas, menatapnya dengan pandangan yang mungkin belum pernah ia lihat sebelumnya: sebuah kebencian yang lahir dari cinta yang hancur berkeping-keping.
'Siapa Dika, Galen?' tanyaku. Suaraku tidak melengking, justru terdengar parau dan penuh tekanan. Galendra terdiam. Ia menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. Tidak ada raut panik yang berlebihan, hanya sebuah ekspresi lelah yang seolah berkata bahwa ia sudah menduga saat ini akan tiba. Ia duduk di pinggiran tempat tidur, mengabaikan makan malam romantis yang sudah kusiapkan dengan penuh cinta di ruang tengah.
'Aruna butuh bantuan, Sekar. Dia sendirian,' jawabnya pendek. Aku tertawa retak. Tawa yang lebih mirip sedu sedan. 'Butuh bantuan? Lima juta setiap bulan untuk susu anak bernama Dika? Dan kamu menyembunyikannya dariku selama dua tahun? Kenapa harus kamu yang bertanggung jawab atas anak Aruna? Di mana suaminya?' Galendra menatapku lurus, matanya yang tajam kini tampak berkaca-kaca, namun aku tidak akan membiarkan diriku tertipu lagi oleh air mata buaya itu.
'Aruna tidak punya suami, kamu tahu itu,' bisiknya. Tentu saja aku tahu. Aruna menghilang selama setahun ke luar kota dengan alasan mengikuti proyek penelitian dosennya dua tahun lalu. Saat ia kembali, ia bilang ia sedang berdiet ketat karena penampilannya yang sedikit berubah. Aku yang bodoh tidak pernah curiga. Aku yang terlalu percaya menganggap Aruna adalah adik yang jujur. 'Dika adalah anakku, Sekar. Dia anak biologis dariku,' lanjut Galendra dengan suara yang hampir tak terdengar, namun dampaknya bagaikan bom atom yang meledakkan seluruh duniamu.
Duniaku mendadak gelap. Kalimat itu terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Anak biologis. Galendra dan Aruna. Pengkhianatan ganda yang dilakukan oleh dua orang yang paling aku cintai. Aku merasa seperti orang gila yang sedang bermimpi buruk dan ingin segera bangun, tapi rasa sakit di dadaku terlalu nyata untuk disebut mimpi. Aku melempar iPad itu ke atas kasur, tidak peduli jika layarnya pecah, karena hatiku sudah lebih dulu hancur berantakan.
Galendra mencoba mendekat, ingin menyentuh bahuku, tapi aku berteriak sekencang-kencangnya. 'Jangan sentuh aku! Kamu menjijikkan! Kalian berdua benar-benar iblis!' teriakku sambil memukul dadanya dengan sisa tenaga yang kupunya. Galendra hanya diam menerima pukulanku, kepalanya tertunduk pasrah. Ia tidak membela diri, yang justru membuatku semakin muak. Aku ingin dia berbohong, aku ingin dia bilang ini semua hanya salah paham, tapi kejujurannya justru menjadi paku terakhir di peti mati pernikahan kami.
Malam itu, perayaan anniversary kami berubah menjadi ajang interogasi yang dingin. Galendra menceritakan semuanya. Tentang kejadian di malam perayaan kelulusan Aruna tiga tahun lalu, saat aku sedang dinas luar kota. Tentang bagaimana Aruna menggodanya, dan bagaimana dia yang lemah tidak bisa menolak. Tentang kehamilan Aruna yang disembunyikan di rumah kontrakan di pinggiran kota yang dibiayai oleh Galendra. Tentang kelahiran Dika, anak laki-laki yang kini berusia dua tahun dan memiliki mata yang sangat mirip dengan Galendra.
Aku mendengarkan setiap detailnya dengan rasa mual yang terus membuncah. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah racun yang membunuh setiap sel dalam tubuhku. Bagaimana mungkin mereka bisa berakting begitu sempurna di depanku selama ini? Aruna sering datang ke rumah, makan malam bersama kami, bahkan ikut merayakan ulang tahunku, sementara di rahimnya—dan kemudian di pelukannya—ada hasil dari pengkhianatan mereka. Aruna sering memujiku sebagai kakak sepupu yang baik, sementara dia tidur dengan suamiku.
Aku berjalan menuju dapur, mengambil ponselku yang tergeletak di samping piring steak yang sudah dingin. Aku mencari nomor Aruna. Jariku bergetar saat menekan tombol panggil. Galendra mencoba merebut ponselku, tapi aku menepisnya dengan kasar. Panggilan itu diangkat pada nada ketiga. 'Halo, Kak Sekar? Ada apa malam-malam begini? Oh ya, Happy Anniversary ya buat Kakak dan Bang Galen!' suara Aruna terdengar sangat ceria di seberang sana, sangat kontras dengan badai yang sedang meluluhlantakkan hidupku.
'Datang ke rumah sekarang, Aruna. Bawa Dika,' kataku dengan nada dingin dan datar. Keheningan panjang terjadi di seberang sana. Suara ceria Aruna mendadak hilang, digantikan oleh suara napas yang memburu. 'Kak... apa maksudnya? Dika siapa?' tanyanya, mencoba berakting lugu untuk terakhir kalinya. Aku memejamkan mata, menahan tangis yang ingin meledak. 'Jangan main-main denganku. Galen sudah menceritakan semuanya. Bawa anak itu ke sini sekarang, atau aku yang akan mendatangi kalian dengan pengacara.'
Telepon ditutup sepihak oleh Aruna. Aku menatap Galendra yang kini duduk di lantai dengan punggung menyandar pada kaki tempat tidur. Ia tampak sangat kerdil, sangat hina di mataku. Lelaki yang dulu kupuja karena kesetiaan dan kesabarannya, ternyata hanyalah seorang pengecut yang pandai bersandiwara. Aku masuk ke kamar, mengambil koper besar, dan mulai memasukkan pakaiannya secara acak. Aku tidak ingin dia ada di rumah ini satu detik pun lebih lama setelah Aruna datang.
Satu jam kemudian, bel apartemen berbunyi. Aku membukanya dan menemukan Aruna berdiri di sana dengan mata sembab, menggendong seorang balita laki-laki yang sedang tertidur lelap di bahunya. Balita itu menggunakan jumper biru bermotif beruang. Dan benar kata Galendra, anak itu memiliki garis wajah yang sangat mirip dengannya. Bentuk hidungnya, lekuk bibirnya... itu adalah miniatur Galendra. Melihat anak itu, amarahku yang tadinya membara mendadak berganti menjadi rasa hampa yang luar biasa dalam.
Aruna berlutut di hadapanku sambil masih menggendong Dika. Ia menangis tanpa suara, air matanya membasahi baju anak itu. 'Maafkan aku, Kak. Aku khilaf. Aku tidak bermaksud menghancurkan rumah tangga kalian. Aku hanya mencintai Bang Galen,' isaknya. Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Mencintai? Sejak kapan pengkhianatan disebut cinta? Sejak kapan mengambil milik orang lain disebut kekhilafan yang bisa dimaafkan dengan air mata?
Aku tidak berkata apa-apa. Aku masuk ke dalam, menarik koper Galendra yang sudah penuh, dan melemparkannya ke depan pintu. 'Ambil suamimu, Aruna. Ambil ayah dari anakmu ini. Aku tidak butuh sampah di rumahku,' kataku dengan suara yang sangat tenang, ketenangan yang bahkan menakutiku sendiri. Galendra berdiri, menatapku dengan tatapan memohon, tapi aku menutup pintu apartemen itu tepat di depan wajah mereka berdua. Aku mengunci pintu, menyandarkan tubuhku di sana, dan akhirnya tangisku pecah sehebat-hebatnya. Malam anniversary ke-lima ini bukan lagi tentang cinta, tapi tentang bagaimana aku harus belajar berdiri di atas reruntuhan harga diri yang dihancurkan oleh orang-orang terdekatku.