Kartu E-Toll Suamiku Selalu Kosong padahal Kantornya Dekat, Jejak Transaksi di KM 37 Membongkar Rahasia Paling Menjijikkan
Pramesti tidak pernah menyangka bahwa selembar kartu plastik tipis berwarna biru itu akan menjadi awal dari runtuhnya istana pasir yang ia bangun selama tujuh tahun. Malam itu, ruang tengah terasa begitu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang seolah mengejek kegelisahannya. Nalendra sudah terlelap di kamar atas, suaranya dengkur halusnya terdengar stabil, menandakan dia sama sekali tidak merasa terancam oleh apa pun. Di genggaman Pramesti, ponsel Nalendra yang tidak terkunci menampilkan mutasi rekening yang janggal.
Bukan soal nominal jutaan rupiah yang berpindah tangan, tapi soal rutinitas kecil yang tidak masuk akal. Top-up e-money sebesar dua ratus ribu rupiah setiap tiga hari sekali. Bagi seorang manajer proyek yang kantornya hanya berjarak lima kilometer dari rumah mereka di Bintaro, frekuensi pengisian saldo jalan tol itu adalah sebuah anomali. Pramesti menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai bertalu tidak keruan. Ia teringat ucapan Nalendra pagi tadi tentang rapat di luar kota yang sebenarnya tidak pernah ada dalam jadwal kalender kerjanya.
Kebohongan pertama biasanya adalah gerbang menuju kebohongan-kebohongan berikutnya yang lebih masif. Pramesti mulai menyisir riwayat lokasi dari aplikasi pemesanan makanan. Di sana, ia menemukan sesuatu yang lebih menyesakkan: pesanan martabak manis dan ayam bakar yang dikirim ke sebuah alamat di kawasan Sentul hampir setiap akhir pekan saat Nalendra pamit untuk 'main golf'. Pramesti merasakan mual yang hebat. Sentul bukan hanya sekadar lokasi geografis baginya, itu adalah tempat di mana luka masa lalunya tertanam dalam.
Ingatan Pramesti melayang pada sosok ayahnya yang kasar, yang sudah ia putus hubungannya sepuluh tahun lalu. Ayahnya tinggal di sebuah perumahan tua di pinggiran Sentul, tempat yang dijanjikan Pramesti tidak akan pernah ia injak lagi seumur hidupnya. Mengapa Nalendra sering ke sana? Apakah suaminya menjalin komunikasi dengan pria yang telah menghancurkan masa kecilnya? Ataukah ada sosok lain di sana yang jauh lebih berbahaya?
Keesokan harinya, Pramesti memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia mengambil cuti darurat, menyewa mobil rental yang tidak akan dikenali Nalendra, dan menunggu di dekat gerbang kompleks mereka sejak pukul tujuh pagi. Saat mobil SUV hitam milik Nalendra keluar, Pramesti mengikutinya dengan jarak yang aman. Benar saja, alih-alih berbelok ke arah tol JORR menuju kantornya di Kuningan, Nalendra justru mengambil jalur menuju tol Jagorawi.
Perjalanan itu terasa seperti menuju eksekusi mati. Setiap kali mobil Nalendra menempelkan kartu di gerbang tol, Pramesti merasa seolah ada sembilu yang menyayat dadanya. Di Gerbang Tol Sentul Selatan, SUV itu melambat dan akhirnya keluar. Pramesti terus mengikuti, melewati jalanan berliku hingga sampai di sebuah rumah dengan pagar cat putih yang sudah mulai mengelupas. Sebuah rumah yang sangat ia kenali. Rumah masa kecilnya.
Pramesti memarkir mobilnya agak jauh, bersembunyi di balik rimbunnya pohon kersen. Ia melihat Nalendra turun dengan membawa beberapa kantong belanjaan. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang wanita muda yang tampak sangat akrab dengan Nalendra keluar menyambutnya. Wanita itu memeluk Nalendra dengan cara yang hanya dilakukan oleh orang yang memiliki ikatan emosional mendalam. Namun, yang membuat dunia Pramesti benar-benar berhenti berputar adalah sosok pria tua yang muncul di belakang wanita itu. Ayahnya.
Pramesti merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ayahnya, pria yang dulu sering memukuli ibunya dan menghabiskan uang keluarga untuk judi, kini tampak sehat dan bahkan tertawa bersama suaminya. Mengapa Nalendra bisa berada di sana? Mengapa Nalendra terlihat begitu akrab dengan 'iblis' dalam hidupnya? Pramesti merasa dikhianati dalam dua lapisan sekaligus: oleh suaminya yang berbohong, dan oleh fakta bahwa suaminya memelihara hubungan dengan sumber traumanya.
Ia memberanikan diri untuk turun dari mobil. Kakinya terasa lemas, seperti berjalan di atas awan yang bisa runtuh kapan saja. Saat ia melangkah masuk ke halaman rumah itu, suara tawa dari dalam tiba-tiba terhenti. Nalendra adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya. Wajah suaminya yang tadinya cerah mendadak pucat pasi, seperti melihat hantu di siang bolong.
'Pram... kamu... kenapa bisa di sini?' suara Nalendra bergetar, tangannya masih memegang cangkir teh yang diberikan oleh wanita muda itu.
Pramesti tidak menjawab. Matanya tertuju pada ayahnya yang kini menatapnya dengan pandangan dingin, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. 'Bagus kalau kamu datang, Pramesti. Suamimu ini jauh lebih berbakti daripada anak kandungku sendiri,' ujar ayahnya dengan nada sinis yang masih sama tajamnya seperti sepuluh tahun lalu.
'Berbakti?' Pramesti mengulang kata itu dengan suara serak. Ia menatap Nalendra dengan penuh kebencian. 'Apa maksudnya semua ini, Nalendra? Kenapa uang tabungan kita dipakai untuk membiayai pria ini? Kenapa kamu membohongiku setiap minggu?'
Nalendra mendekat, mencoba menyentuh bahu Pramesti, namun Pramesti menepisnya dengan kasar. 'Aku bisa jelaskan, Pram. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Ayahmu sakit, dia butuh biaya pengobatan, dan dia memohon padaku untuk tidak memberitahumu karena dia tahu kamu masih membencinya.'
'Dia tidak layak mendapatkan belas kasihan dariku, apalagi dari kamu!' teriak Pramesti, tangisnya pecah di tengah halaman rumah yang penuh kenangan buruk itu. 'Dan siapa wanita ini? Jangan bilang kamu juga menyembunyikan saudara tiri yang tidak aku tahu?'
Wanita muda itu menunduk, tidak berani menatap mata Pramesti. Nalendra terdiam cukup lama sebelum akhirnya memberikan jawaban yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Pramesti. 'Dia adalah Siska, anak dari wanita yang dulu pernah menjadi alasan ayahmu meninggalkan ibumu. Dan dia... dia sedang mengandung anakku, Pram.'
Dunia seolah runtuh menimpa kepala Pramesti. Skandal ini jauh lebih menjijikkan dari sekadar perselingkuhan biasa. Suaminya tidak hanya mengkhianati komitmen pernikahan mereka dengan wanita lain, tapi dia melakukannya dengan keluarga dari masa lalu yang paling ingin Pramesti lupakan. Nalendra telah membangun 'keluarga baru' di atas puing-puing trauma Pramesti.
Pramesti tertawa histeris, tawa yang penuh dengan kepedihan dan kehampaan. 'Jadi, setiap kali aku mengeluh tentang lelahnya bekerja, kamu justru menggunakan hasil keringat kita untuk menghidupi mereka? Untuk menghidupi anak hasil perselingkuhanmu dengan putri dari selingkuhan ayahku? Ini benar-benar gila, Nalendra!'
Nalendra mencoba berlutut, memohon ampun, tapi Pramesti sudah tidak bisa mendengar apa pun lagi. Baginya, Nalendra sudah mati sejak pertama kali dia menempelkan kartu e-money itu di gerbang tol menuju rumah ini. Pengkhianatan ini bukan hanya soal nafsu, tapi soal penghinaan terhadap martabat dan luka lama yang sengaja dibuka kembali.
Pramesti berbalik, berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di dalam mobil, ia melihat mutasi rekening itu sekali lagi. Angka-angka itu kini bukan lagi sekadar data finansial, tapi adalah bukti dari sebuah rencana jahat yang dilakukan orang terdekatnya. Pramesti menyalakan mesin mobil, meninggalkan Sentul, meninggalkan masa lalunya, dan yang paling penting, meninggalkan pria yang pernah ia sebut sebagai pelindungnya.
Sambil menyetir di jalan tol yang panjang, Pramesti mulai menyusun rencana. Jika Nalendra mengira dia bisa menghancurkan hidupnya begitu saja, maka Nalendra salah besar. Pramesti bukan lagi gadis kecil yang ketakutan saat ayahnya mengamuk. Ia adalah wanita yang kini tahu bagaimana cara membalas dendam dengan cara yang paling elegan. Langkah pertama adalah memastikan semua aset rumah dan tabungan kembali ke tangannya, sebelum Nalendra menyadari bahwa istrinya jauh lebih cerdik daripada yang ia duga.
Saat melewati gerbang tol keluar, Pramesti menatap kartu e-money yang tergeletak di dasbor. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan badai di baliknya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Pramesti yang memegang kendali penuh atas rutenya.