Kepingan Foto di Halaman 402 Buku Dewangga yang Tak Seharusnya Aku Lihat

Kepingan Foto di Halaman 402 Buku Dewangga yang Tak Seharusnya Aku Lihat

Kisah Kampus

Kepingan Foto di Halaman 402 Buku Dewangga yang Tak Seharusnya Aku Lihat



'Jangan pernah meminjam buku dari Dewangga kalau kau tak siap kehilangan ketenangan hidupmu,' bisik Kirana tempo hari di kantin. Kalimat itu tadinya hanya kuanggap sebagai angin lalu, sekadar bumbu gosip dari seorang mahasiswi tingkat akhir yang terlalu banyak mengonsumsi kafein. Namun, sore ini, di antara jajaran rak kayu perpustakaan yang berbau apek dan kertas lama, peringatan itu menghantamku tepat di ulu hati. Aku memegang sebuah buku tebal berjudul Hukum Agraria yang baru saja kupinjam dari Dewangga, sang primadona fakultas yang selama ini kukagumi dalam diam.

Udara di perpustakaan pusat Universitas Gadjah Mada sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Pendingin ruangan yang berderit pelan seolah sedang berusaha menceritakan rahasia yang terpendam selama puluhan tahun. Aku duduk di pojok paling belakang, tempat paling aman dari gangguan mahasiswa lain yang hanya datang untuk sekadar numpang tidur atau mengisi daya ponsel. Dengan hati-hati, aku membuka halaman demi halaman, mencari catatan kaki yang sempat Dewangga sebutkan saat kami berpapasan di koridor tadi pagi. Senyumnya yang tipis namun mematikan masih terbayang di benakku, membuat jemariku sedikit gemetar saat menyentuh kertas yang mulai menguning itu.

Lalu, tepat di halaman 402, sebuah benda jatuh ke pangkuanku. Bukan pembatas buku biasa. Itu adalah sebuah foto Polaroid. Permukaannya sedikit tergores, menunjukkan bahwa foto itu sering disentuh atau mungkin disimpan dengan cara yang terburu-buru. Aku memungutnya, berniat untuk menyelipkannya kembali, mengira itu mungkin foto Dewangga bersama ibunya atau kekasih rahasianya yang selama ini jadi bahan spekulasi seantero kampus. Namun, saat mataku menangkap detail di dalam foto itu, paru-paruku seolah mendadak kehilangan fungsinya. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk dengan irama yang menyakitkan.

Di dalam foto yang diambil dengan pencahayaan minim itu, terlihat dua sosok yang sangat kukenal. Salah satunya adalah Prof. Dananjaya, dosen paling dihormati di fakultas kami, sosok yang dikenal sebagai penjaga moral dan integritas akademik. Dan sosok lainnya... itu adalah Kirana. Tapi bukan Kirana yang kukenal sebagai teman kosku yang ceria. Di foto itu, Kirana sedang menerima sebuah amplop cokelat tebal di sebuah parkiran basement yang remang-remang. Wajahnya tampak pucat, matanya sembab, sementara Prof. Dananjaya memegang bahunya dengan cara yang terlalu akrab untuk ukuran seorang dosen dan mahasiswa. Tanggal di pojok bawah foto itu menunjukkan waktu tiga hari yang lalu, tepat di malam sebelum pengumuman peraih beasiswa bergengsi Yayasan Bhakti yang dimenangkan oleh Kirana, mengalahkan aku yang secara nilai jauh lebih unggul.

Tanganku mulai bergetar hebat. Foto ini bukan sekadar kenang-kenangan. Ini adalah bukti. Bukti sebuah transaksi, pengkhianatan, atau mungkin sesuatu yang lebih gelap lagi. Kenapa foto ini ada di buku Dewangga? Apakah Dewangga yang mengambil foto ini? Apakah dia sedang memeras mereka, atau dia justru bagian dari rencana ini? Pikiran-pikiranku berlarian liar, saling bertabrakan satu sama lain hingga kepalaku terasa pening. Aku menoleh ke sekeliling, merasa seolah ribuan mata dari balik rak buku sedang mengawasiku, menunggu langkah salah yang akan kuambil selanjutnya.

Selama ini aku mengenal Dewangga sebagai sosok yang sempurna. Anak dari seorang jaksa agung ternama, cerdas, tampan, dan selalu bersikap santun. Dia adalah lambang keadilan di mata kami para mahasiswa hukum. Namun, keberadaan foto ini di genggamannya mengubah segalanya. Apakah citra 'Pangeran Hukum' itu hanyalah topeng untuk menyembunyikan sisi gelap yang lebih mengerikan? Aku teringat bagaimana dia begitu mudahnya memberikan buku ini padaku tadi pagi. 'Pelajari halaman 402, Laksmi. Kau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu tentang ketidakadilan,' katanya dengan suara bariton yang menenangkan. Saat itu, aku pikir dia sedang membicarakan teori hukum agraria yang rumit. Ternyata, dia sedang menyerahkan sebuah bom waktu ke tanganku.

Aku segera menutup buku itu dengan kasar, menyelipkan foto itu ke dalam saku almamaterku. Suara langkah kaki yang mendekat membuatku tersentak. Aku buru-buru memasukkan buku itu ke dalam tas, berusaha terlihat senormal mungkin. Dari balik rak buku, muncul sosok tinggi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Dewangga. Dia berdiri di sana, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Cahaya sore yang masuk dari jendela kaca besar di belakangnya menciptakan siluet yang membuatnya tampak seperti malaikat sekaligus iblis di saat yang bersamaan.

'Sudah ketemu jawabannya, Laksmi?' tanyanya datar. Tidak ada senyum di wajahnya sekarang. Hanya ada kekosongan yang dingin. Aku mencoba menelan ludah, tapi tenggorokanku terasa kering seperti padang pasir. Aku tidak bisa menjawab. Setiap kata seolah tersangkut di pangkal lidah. Aku hanya bisa meremas tali tas bahuku, berharap bumi terbelah dan menelanku detik itu juga.

Dia melangkah mendekat, perlahan namun pasti. Setiap langkahnya bergema di lantai perpustakaan yang sunyi. 'Aku tahu kau anak yang pintar. Kau selalu melihat apa yang orang lain lewatkan. Itulah kenapa aku memilihmu untuk memegang 'kunci' itu,' lanjutnya, kini hanya berjarak dua meter dariku. Dia merendahkan suaranya, hampir berbisik namun terdengar sangat mengancam. 'Dunia ini tidak bekerja sesuai dengan buku-buku tebal yang kau baca setiap malam, Laksmi. Terkadang, hukum harus ditegakkan dengan cara yang tidak sah. Sekarang pertanyaannya, apakah kau akan menjadi saksi yang diam, atau kau akan ikut bermain di dalam papan catur ini?'

Kata-katanya membuat bulu kudukku meremang. Aku teringat wajah Kirana di foto itu. Teman baikku yang selalu berbagi mie instan di akhir bulan denganku. Apakah dia dipaksa? Ataukah dia memang sengaja menjual dirinya demi sebuah beasiswa? Dan Prof. Dananjaya, pria yang kuhormati itu... bagaimana mungkin dia melakukan ini? Aku merasa dikhianati oleh semua orang yang kupercaya. Di depanku berdiri Dewangga, yang kini bukan lagi sekadar mahasiswa idaman, melainkan seorang manipulator yang sedang menyusun rencana besar yang melibatkan diriku.

'Kenapa aku, Dewangga?' suaraku akhirnya keluar, meskipun terdengar parau dan kecil. Dia berhenti melangkah, menatapku dalam-dalam. Matanya yang tajam seolah bisa membaca setiap inci ketakutan di dalam jiwaku. 'Karena kau satu-satunya orang di kampus ini yang punya integritas cukup tinggi untuk menghancurkan mereka, tapi punya masa depan yang cukup rapuh untuk bisa kukendalikan,' jawabnya dengan kejujuran yang menyakitkan. Dia kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dan meletakkannya di atas meja di depanku. 'Di dalam sana ada rekaman CCTV dari basement itu. Dan ada juga daftar nama mahasiswa lain yang 'membayar' Prof. Dananjaya selama lima tahun terakhir. Termasuk... mantan kekasihmu, Baskara.'

Duniaku seolah runtuh mendengar nama Baskara disebut. Baskara, pria yang meninggalkanku tahun lalu dengan alasan ingin fokus pada karier hukumnya di Jakarta. Ternyata dia juga bagian dari kekotoran ini? Air mata mulai menggenang di mataku, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan Dewangga. Aku mengambil flashdisk itu, menggenggamnya erat hingga sudut-sudutnya yang tajam melukai telapak tanganku. Rasa sakit fisik itu setidaknya membantuku untuk tetap sadar dari hantaman kenyataan yang brutal ini.

'Apa maumu?' tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Dewangga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi terasa hangat, melainkan penuh dengan intrik. 'Besok pagi, Prof. Dananjaya akan mengadakan kuliah umum di aula besar. Aku ingin kau yang berdiri dan mengonfrontasi dia di depan semua orang, termasuk Dekan dan para jurnalis kampus. Aku akan berada di belakangmu, memastikan kau tidak akan tersentuh. Setelah ini selesai, beasiswa itu akan jadi milikmu, dan nama Kirana serta Prof. Dananjaya akan dihapus dari sejarah universitas ini.'

Tawaran itu terdengar seperti sebuah keadilan, namun aku tahu ini adalah sebuah jebakan. Dewangga tidak melakukan ini demi aku. Dia punya agenda sendiri. Mungkin dia ingin menggulingkan Prof. Dananjaya demi ayahnya, atau mungkin dia hanya menikmati kekacauan yang dia ciptakan. Aku berdiri di persimpangan jalan yang mustahil. Jika aku melakukan apa yang dia minta, aku akan menghancurkan hidup Kirana, teman yang mungkin sedang dalam tekanan. Namun jika aku diam, aku membiarkan kebusukan ini terus berlanjut dan membiarkan diriku sendiri terus menjadi korban ketidakadilan.

Dewangga berbalik, berjalan menjauh tanpa menunggu jawabanku. 'Pikirkan baik-baik, Laksmi. Kau punya waktu sampai jam delapan pagi besok. Pilihanmu akan menentukan apakah kau akan tetap menjadi mahasiswi miskin yang jujur, atau menjadi wanita yang memegang kendali atas nasibnya sendiri.' Dia menghilang di balik jajaran rak buku, meninggalkanku dalam kesunyian yang mencekam. Aku jatuh terduduk di kursi kayu, menatap kosong ke arah flashdisk dan foto Polaroid yang kini ada di depanku. Di luar, langit sudah berubah menjadi ungu gelap, menandakan malam akan segera tiba. Malam yang mungkin akan menjadi malam terpanjang dan paling menakutkan dalam hidupku.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url