Mahasiswi Berprestasi Ini Tidak Pernah Menyangka Kalau Skripsi Miliknya Justru Menjadi Tiket Masuk Ke Neraka Yang Diciptakan Sahabat Sendiri

Mahasiswi Berprestasi Ini Tidak Pernah Menyangka Kalau Skripsi Miliknya Justru Menjadi Tiket Masuk Ke Neraka Yang Diciptakan Sahabat Sendiri

Kisah Kampus

Mahasiswi Berprestasi Ini Tidak Pernah Menyangka Kalau Skripsi Miliknya Justru Menjadi Tiket Masuk Ke Neraka Yang Diciptakan Sahabat Sendiri



Gendis menggeser layar ponselnya dengan jempol yang sedikit gemetar, bukan karena udara dingin di kantin pusat Universitas Padjajaran yang sedang mendung, melainkan karena saldo Grab-nya yang mendadak terkuras habis. Padahal, seingatnya ia baru saja melakukan top-up sebesar dua ratus ribu rupiah tadi pagi untuk persiapan ongkos pulang-pergi bimbingan selama seminggu ke depan. Di depannya, semangkuk bakso yang masih mengepulkan asap sama sekali tidak menggugah selera. Matanya terpaku pada satu baris riwayat pesanan yang muncul sepuluh menit yang lalu.

'Ayam Geprek Sambal Matah - Paket Double. Alamat Pengiriman: Apartemen Newton Residence, Tower B, Unit 1205'. Dada Gendis berdegup kencang. Ia mengenal akun itu adalah akun bersama yang ia gunakan dengan Dananjaya, sahabat karibnya sejak semester satu, untuk menghemat biaya langganan paket hemat. Namun, Dananjaya sedang berada di perpustakaan pusat bersamanya tadi, atau setidaknya begitulah yang pria itu katakan sebelum pamit untuk 'mencari referensi tambahan'.

Yang membuat jemari Gendis makin mendingin adalah alamat tersebut. Newton Residence. Itu adalah kompleks apartemen mewah yang jaraknya hanya lima belas menit dari kampus, namun tidak ada satu pun dari lingkaran pertemanan mereka yang tinggal di sana. Kecuali, satu kemungkinan yang coba ia tepis jauh-jauh. Baskara, kekasihnya yang sudah dua tahun ini menemaninya, baru saja mengatakan bahwa dia sedang berada di rumah orang tuanya di luar kota karena urusan keluarga mendadak. Gendis menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di kepalanya yang mulai berisik dengan berbagai skenario buruk.

Perjalanan mereka bertiga—Gendis, Baskara, dan Dananjaya—selama ini dianggap sebagai 'relationship goals' sekaligus 'friendship goals' oleh anak-anak Fakultas Hukum. Gendis yang ambisius, Baskara yang tenang dan suportif, serta Dananjaya yang selalu menjadi penghibur di kala stres menghadapi dosen penguji yang killer. Mereka adalah segitiga emas yang tidak terpisahkan. Namun, melihat riwayat pesanan makanan yang dipesan menggunakan akun miliknya dan dikirim ke alamat yang asing, Gendis merasa ada sebuah retakan besar yang selama ini tidak ia sadari.

Ia memutuskan untuk tidak menelepon Dananjaya. Tidak juga mengirim pesan pada Baskara. Dengan gerakan yang mekanis, Gendis membereskan tasnya, meninggalkan baksonya yang mulai mendingin dan mengeras, lalu berjalan menuju pangkalan ojek online di depan gerbang kampus. Pikirannya melayang pada malam-malam panjang saat ia dan Baskara mengerjakan skripsi bersama. Gendis bahkan sering membantu Baskara mencari literatur karena pria itu sering mengeluh kesulitan fokus. Jika benar Baskara ada di apartemen itu, bersama siapa dia? Dan mengapa Dananjaya yang memesankan makanannya?

Sesampainya di Newton Residence, Gendis berdiri terpaku di depan lobi yang megah. Ia merasa sangat kecil dengan jaket almamater yang masih tersampir di bahunya. Beruntung, satpam di sana sedang sibuk membantu sebuah mobil mewah yang baru datang, sehingga Gendis bisa menyelip masuk mengikuti penghuni lain yang menempelkan kartu akses di pintu lift. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Gendis melihat pantulan dirinya. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang mulai membakar logikanya. Ia menekan tombol angka dua belas dengan tangan yang masih gemetar.

Lantai dua belas sangat sunyi, hanya suara dengung AC sentral yang terdengar. Gendis berjalan menyusuri koridor yang karpetnya terasa empuk di bawah langkah kakinya yang berat. Unit 1205 berada di ujung lorong. Sebelum ia sampai di depan pintu, pintu itu terbuka. Gendis refleks bersembunyi di balik pilar besar yang menghiasi koridor. Jantungnya serasa mau copot saat melihat siapa yang keluar dari sana. Dananjaya. Sahabatnya itu keluar sambil membawa kantong plastik sampah, tampak sangat santai dengan hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Tak lama kemudian, seseorang menyusul dari dalam dan merangkul bahu Dananjaya dari belakang.

Dunia Gendis seolah runtuh seketika. Orang itu adalah Baskara. Kekasihnya yang katanya sedang di luar kota. Namun, yang lebih menyakitkan dari sekadar perselingkuhan biasa adalah apa yang ia dengar selanjutnya. 'Gimana, naskah skripsi si Gendis udah lo copy semua?' tanya Baskara dengan nada suara yang begitu dingin, jauh dari nada lembut yang biasa ia gunakan saat memanggil Gendis dengan sebutan 'Sayang'. Dananjaya tertawa kecil, suara tawa yang selama ini menjadi penghibur Gendis kini terdengar seperti suara iblis di telinganya. 'Beres. Dia gak bakal curiga. Dia terlalu percaya sama kita, Bas. Minggu depan kita bisa submit atas nama kita berdua di kampus cabang, sebelum dia sempat sidang di sini'.

Gendis membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Pengkhianatan ini berlapis-lapis. Bukan hanya soal cinta, tapi soal masa depannya, soal kerja kerasnya selama empat tahun yang hendak dirampas oleh dua orang yang paling ia percayai di dunia ini. Mereka tidak hanya mengkhianati hatinya, tapi juga harga diri dan intelektualitasnya. Gendis merasa mual. Ia menyandarkan punggungnya di tembok dingin, mencoba mencerna fakta bahwa selama ini ia sedang memelihara dua ekor ular di dalam hidupnya. Namun, Gendis bukan tipe wanita yang akan menangis tersedu-sedu dan memohon penjelasan. Darah bangsawannya—seperti namanya, Gendis—mulai bergejolak. Ia meraih ponselnya, lalu mengaktifkan mode perekam video.

Dengan langkah yang kini terasa sangat mantap, Gendis keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan tepat ke arah mereka berdua yang masih asyik bercengkrama di ambang pintu unit 1205. Wajah Dananjaya dan Baskara memucat seketika, seolah-olah mereka baru saja melihat hantu di siang bolong. 'G-gendis? Kok kamu di sini?' suara Baskara bergetar hebat, tangannya yang tadi merangkul Dananjaya langsung terlepas kaku. Gendis tidak menjawab. Ia hanya mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, memastikan wajah mereka berdua terekam dengan jelas dalam video berdurasi pendek itu, termasuk suasana di dalam unit apartemen yang penuh dengan tumpukan berkas skripsinya.

'Aku cuma mau mastiin satu hal,' kata Gendis dengan suara yang sangat tenang, namun menusuk. 'Apakah harga persahabatan dan cinta kalian memang cuma seharga unit apartemen sewaan dan satu gelar sarjana hasil curian?' Dananjaya mencoba mendekat, mencoba meraih tangan Gendis, namun Gendis mundur satu langkah dengan tatapan yang begitu jijik. 'Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja mencuri masa depanku, Jaya. Dan kamu, Bas... terima kasih sudah menunjukkan kalau pengkhianatan yang paling sempurna memang selalu datang dari orang yang paling kita cintai'.

Gendis berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia tidak butuh penjelasan, karena bukti di ponselnya dan apa yang baru saja ia dengar sudah lebih dari cukup. Namun, ini hanyalah awal. Gendis tahu betul bagaimana cara bermain cantik di lingkungan akademis. Ia tidak akan menghancurkan mereka di lorong apartemen ini. Ia akan menghancurkan mereka di depan dewan etik universitas, di depan orang tua mereka, dan di depan seluruh mahasiswa yang selama ini memuja mereka sebagai contoh mahasiswa teladan. Saat ia melangkah masuk ke dalam lift, Gendis menghapus air mata tunggal yang sempat jatuh, lalu tersenyum tipis. Permainan baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan kedua ular itu menang.

Di dalam taksi dalam perjalanan pulang, Gendis mulai menghubungi dosen pembimbingnya, Prof. Jatmiko. Ia mengirimkan pesan singkat namun padat, meminta pertemuan darurat besok pagi. Sambil menatap jalanan kota yang mulai macet, Gendis membuka kembali riwayat pesanan GrabFood tadi. Ia baru menyadari sesuatu yang lebih gila lagi. Pesanan itu bukan hanya sekali. Selama tiga bulan terakhir, hampir setiap hari ada pesanan ke alamat yang sama menggunakan akunnya. Artinya, selama ini ia telah membiayai makan siang dan malam kedua orang yang sedang menyusun rencana untuk menjatuhkannya. Amarahnya kembali naik, tapi kali ini ia mengubahnya menjadi energi untuk menyusun strategi balasan yang jauh lebih mematikan.

Sesampainya di kost, Gendis langsung mengunci pintu dan menyalakan laptopnya. Ia mengecek semua file cadangan skripsinya. Benar saja, ada jejak akses dari perangkat asing ke akun cloud-nya semalam. Untungnya, Gendis selalu menyimpan draft asli dengan sistem enkripsi yang hanya ia yang tahu kuncinya. Apa yang dicuri oleh Dananjaya dan Baskara hanyalah draft kasar yang belum direvisi total. 'Kalian pikir kalian pintar?' gumam Gendis sambil mengetik sebuah email panjang. 'Kalian baru saja masuk ke dalam jebakan yang aku buat sendiri tanpa kalian sadari'. Gendis sengaja membiarkan beberapa bagian di draft kasar itu mengandung data palsu yang akan membuat hasil penelitian tersebut menjadi cacat logika jika diuji. Dan kini, ia tinggal menunggu mereka mempresentasikan sampah itu di depan penguji.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url