Pesanan GoFood Jam 11 Malam Itu Mengupas Siapa Suamiku Sebenarnya—Dan Sosok Di Balik Pintu Itu Adalah Sahabatku Sendiri

Pesanan GoFood Jam 11 Malam Itu Mengupas Siapa Suamiku Sebenarnya—Dan Sosok Di Balik Pintu Itu Adalah Sahabatku Sendiri

Skandal & Pengkhianatan

Pesanan GoFood Jam 11 Malam Itu Mengupas Siapa Suamiku Sebenarnya—Dan Sosok Di Balik Pintu Itu Adalah Sahabatku Sendiri



Gelas kristal di tangan Larasati berdenting pelan sebelum akhirnya terlepas dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer ruang tamu yang dingin. Suara pecahan itu memotong gelak tawa di tengah arisan kecil keluarga malam itu, tapi tak ada yang lebih hancur daripada jantung Larasati saat ini. Matanya terpaku pada layar ponsel milik Dhananjaya yang masih menyala di genggamannya. Ia hanya berniat meminjam ponsel suaminya untuk memesan martabak tambahan karena ponselnya sendiri mati total, namun apa yang ia temukan di riwayat pesanan GoFood itu lebih panas dari minyak penggorengan mana pun.

Dhananjaya, pria yang dikenal kaku, disiplin, dan sangat setia itu, ternyata memiliki kebiasaan yang tidak pernah Larasati ketahui. Selama enam bulan terakhir, hampir setiap tiga kali seminggu, ada pesanan 'Bubur Ayam Spesial Tanpa Kacang' dan 'Jus Alpukat Tanpa Gula' yang dikirimkan ke sebuah alamat di Perumahan Griya Asri, Blok C-12. Alamat yang sama sekali asing bagi Larasati, namun catatan untuk pengemudinya selalu sama: 'Tolong titipkan ke satpam kalau yang punya rumah belum bangun, jangan lupa bilang ini dari Mas Dhana'.

Napas Larasati terasa sesak. Tanpa kacang. Dhananjaya sangat tahu bahwa hanya ada dua orang di dunia ini yang alergi kacang hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Pertama adalah Dhananjaya sendiri, dan yang kedua adalah Sekar—sahabat karib Larasati sejak bangku SMA yang kini tinggal di luar kota untuk mengurus bisnis butiknya. Atau setidaknya, itulah yang Larasati percayai selama ini.

Larasati mencoba menenangkan gemuruh di dadanya saat Dhananjaya menghampirinya dengan wajah cemas, bukan karena rahasianya terbongkar, tapi karena pecahan gelas yang berserakan. 'Sayang, kamu nggak apa-apa? Biar aku yang beresin, kamu duduk dulu,' ucap Dhananjaya dengan nada baritonnya yang menenangkan, nada yang selalu membuat Larasati merasa aman selama tujuh tahun pernikahan mereka. Larasati hanya bisa mengangguk kaku, mengembalikan ponsel itu dengan tangan gemetar, seolah benda itu adalah bara api yang siap menghanguskan kulitnya.

Malam itu, Larasati tidak bisa tidur. Di sampingnya, Dhananjaya mendengkur halus, tidak menyadari bahwa fondasi rumah tangga mereka baru saja retak sedalam jurang. Larasati terus memikirkan alamat itu. Griya Asri Blok C-12. Mengapa Sekar? Jika benar itu Sekar, mengapa dia ada di kota ini? Dan mengapa suaminya harus mengirimkan sarapan secara sembunyi-sembunyi? Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi benaknya, menciptakan skenario-skenario mengerikan yang selama ini hanya ia baca di novel-novel picisan.

Keesokan harinya, Larasati memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Dengan mobil yang ia pinjam dari adiknya agar tidak dikenali, ia meluncur menuju perumahan tersebut. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan wiper mobil yang menyapu sisa gerimis pagi. Setibanya di sana, ia memarkirkan mobil agak jauh dari rumah bernomor C-12. Rumah itu tampak asri, dengan tanaman hias yang tertata rapi di teras—jenis tanaman yang sangat disukai Sekar.

Tak lama kemudian, sebuah motor ojek online berhenti di depan pagar. Larasati menahan napas. Ia melihat seorang wanita keluar dari rumah tersebut untuk mengambil pesanan. Dunia seakan berhenti berputar. Wanita itu mengenakan daster batik yang sangat familiar—daster yang pernah Larasati hadiahkan sebagai kado ulang tahun. Dan yang lebih menghancurkan lagi, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari keluar mengejar wanita itu sambil berteriak, 'Ibu, apakah itu bubur dari Papa Dhana?'

Larasati merasa bumi yang ia pijak amblas. Papa Dhana? Sejak kapan Dhananjaya menjadi ayah bagi anak Sekar? Setahu Larasati, Sekar belum pernah menikah setelah kegagalan pertunangannya lima tahun lalu. Rasa mual menjalar ke perutnya. Selama ini, Larasati berjuang mati-matian menjalani program kehamilan, menangis setiap kali melihat hasil tes pack negatif, sementara suaminya ternyata sudah memiliki keluarga lain di sudut kota yang berbeda.

Ia tidak langsung melabrak. Larasati adalah wanita yang dibesarkan dalam keluarga ningrat yang menjunjung tinggi martabat. Ia memutar balik mobilnya dengan air mata yang mulai membanjiri pipi. Ia butuh bukti lebih. Ia butuh tahu sejak kapan pengkhianatan ini dimulai. Apakah selama ini persahabatannya dengan Sekar hanyalah tameng? Apakah setiap curhatan Sekar tentang kesepiannya hanyalah akting untuk menutupi kenyataan bahwa ia sedang berbagi suami dengan sahabatnya sendiri?

Sore harinya, Larasati pulang ke rumah dan mendapati Dhananjaya sudah berada di sana, sedang membaca buku di ruang tengah. Sosoknya tampak begitu sempurna, begitu protektif. 'Kamu pucat sekali, Laras. Capek ya di kantor?' tanya Dhananjaya sambil bangkit untuk mengelus rambut istrinya. Larasati menghindar dengan halus, berpura-pura hendak mengambil air minum. 'Dhan, kamu ingat nggak terakhir kali kita ketemu Sekar?' tanya Larasati, suaranya berusaha tetap datar.

Dhananjaya tampak terdiam sejenak, namun ekspresinya tetap tenang. 'Mungkin dua bulan lalu waktu dia mampir ke kantor kamu, kan? Kenapa tiba-tiba tanya?' Jawabannya begitu lancar, tanpa cacat. Kebohongan yang telah dilatih dengan sempurna. Larasati tersenyum pahit di balik punggung suaminya. Ia menyadari bahwa pria yang ia cintai ini adalah seorang aktor watak yang luar biasa.

Larasati kemudian menghubungi seorang detektif swasta, seseorang yang ia kenal melalui relasi bisnis ayahnya. Ia memberikan alamat Griya Asri dan nama Sekar. Hanya dalam waktu tiga hari, sebuah amplop cokelat mendarat di meja kantornya. Isinya jauh lebih mengerikan dari yang ia duga. Bukan hanya foto-foto kebersamaan Dhananjaya, Sekar, dan anak itu, tapi juga dokumen-dokumen keuangan. Dhananjaya telah mengalihkan sebagian dana dari rekening perusahaan keluarga Larasati untuk membiayai gaya hidup Sekar dan pendidikan anak tersebut.

Namun, ada satu fakta yang membuat Larasati terduduk lemas: Akta kelahiran anak itu. Nama ayahnya memang tercantum Dhananjaya, namun tanggal kelahirannya menunjukkan bahwa anak itu dikonsepsi tepat satu bulan sebelum pernikahan Larasati dan Dhananjaya. Artinya, pengkhianatan ini bukan dimulai di tengah jalan. Pernikahan mereka dibangun di atas fondasi kebohongan sejak hari pertama.

Dhananjaya menikahi Larasati demi posisi di perusahaan keluarganya, sementara hatinya—dan tanggung jawabnya—tetap tinggal pada Sekar. Mereka bertiga telah memainkan drama ini selama tujuh tahun. Setiap liburan yang mereka habiskan bersama, setiap tawa dalam grup chat mereka, semuanya adalah bagian dari skenario untuk membuat Larasati tetap buta.

Kemarahan yang dingin mulai merayap di nadi Larasati. Ia tidak akan menangis lagi. Ia akan menghancurkan mereka dengan cara yang paling elegan. Ia mulai mengumpulkan semua bukti korupsi yang dilakukan Dhananjaya di perusahaan. Ia memindahkan aset-aset pribadinya ke rekening rahasia yang tidak bisa dilacak. Ia ingin melihat sejauh mana Dhananjaya bisa bertahan saat sumber keuangannya tiba-tiba kering.

Puncak dari segalanya terjadi di acara perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketujuh. Sebuah pesta mewah yang dihadiri oleh kolega bisnis dan keluarga besar. Larasati mengundang Sekar secara khusus, memintanya datang sebagai sahabat terbaiknya. Sekar datang dengan gaun anggun, tampak bersinar, tanpa menyadari bahwa itu adalah malam terakhirnya menikmati kemewahan dari uang Larasati.

Saat sesi pemutaran video perjalanan cinta mereka, layar besar di ballroom tiba-tiba berganti. Bukan foto-foto romantis di Paris atau Bali yang muncul, melainkan rekaman CCTV dari rumah di Griya Asri, foto akta kelahiran, dan mutasi rekening yang menunjukkan aliran dana ilegal. Suasana ballroom yang tadinya hangat seketika senyap seperti kuburan. Wajah Dhananjaya berubah pucat pasi, sementara Sekar tampak ingin menghilang dari bumi.

Larasati berdiri di panggung, memegang mikrofon dengan tangan yang kini sangat stabil. Ia menatap Dhananjaya yang terpaku di kursinya. 'Tujuh tahun, Dhan. Aku memberikanmu segalanya—cintaku, keluargaku, hartaku. Dan kamu memberikan bubur tanpa kacang untuk wanita lain dengan uangku.' Larasati meletakkan cincin pernikahannya di atas meja podium, dentingnya terdengar jelas di seluruh ruangan. 'Pesta ini berakhir sekarang. Begitu juga dengan hidup kalian yang nyaman.'

Malam itu, Larasati pulang ke rumah yang kini terasa sangat luas dan kosong, namun untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia bisa bernapas dengan lega. Ia tahu badai hukum dan perceraian akan segera datang, tapi ia tidak takut. Ia telah belajar bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang membencimu secara terang-terangan, melainkan orang yang memelukmu setiap malam sambil membisikkan kata-kata cinta yang sebenarnya adalah racun.

Di sudut ruangan, ia melihat ponselnya yang kini menyala. Sebuah notifikasi muncul. Itu adalah pesanan GoFood yang belum sempat ia batalkan. Martabak manis. Tanpa kacang. Larasati tersenyum tipis, lalu menghapus aplikasi itu selamanya dari hidupnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url