Pesanan GoFood Jam Dua Siang dan Kebohongan Dananjaya yang Rapi Selama Lima Tahun Pernikahan Kami
'Mas, kamu lupa hapus history GoFood minggu lalu ya?' Suara Anindita terdengar datar, namun ada getaran halus di ujung kalimatnya. Dia meletakkan ponsel Dananjaya di atas meja makan yang masih bersih, kontras dengan kekacauan yang mulai merayap di dadanya. Di layar ponsel itu, terpampang jelas sebuah pesanan: dua porsi Bubur Ayam Spesial dan satu kotak susu ibu hamil, dikirimkan ke sebuah alamat di pinggiran kota yang sama sekali tidak Anindita kenali. Cluster Melati, Nomor 12B. Itu bukan alamat kantor Dananjaya, bukan pula rumah teman-temannya yang sering mereka kunjungi.
Dananjaya, yang sedang menyesap kopi hitamnya, mendongak. Matanya yang biasanya teduh dan menenangkan, seketika berubah. Ada kilatan kepanikan yang berusaha diredam dengan cepat. 'Oh, itu... itu pesanan buat staf kantor, Nin. Ada yang istrinya lagi ngidam, terus minta tolong dipesenin lewat akunku karena dia lagi ada masalah sama aplikasinya. Kenapa? Kamu mau bubur juga?' Jawabannya terlalu lancar. Terlalu teknis. Dan yang paling menyakitkan bagi Anindita, suaminya bahkan tidak berani menatap matanya lebih dari dua detik.
Selama lima tahun membangun biduk rumah tangga, Anindita mengenal Dananjaya sebagai pria yang nyaris tanpa cela. Seorang arsitek sukses dengan reputasi cemerlang, suami yang selalu ingat tanggal ulang tahun pernikahan, dan pria yang tidak pernah absen memberinya kecupan di kening sebelum berangkat kerja. Namun, 'Cluster Melati' mulai menghantui pikiran Anindita. Dia bukan tipe wanita yang senang melabrak tanpa bukti, tapi intuisi seorang istri adalah kompas yang jarang sekali salah arah. Alamat itu terletak di daerah pinggiran yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota tempat kantor Dananjaya berada.
Keesokan harinya, Anindita memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya: membuntuti suaminya sendiri. Dia menyewa mobil sewaan agar tidak dikenali. Saat jam menunjukkan pukul dua siang, tepat seperti pola di riwayat GoFood yang dia lihat diam-diam di ponsel cadangan Dananjaya, mobil suaminya keluar dari gedung kantor. Dananjaya tidak pergi ke proyek. Dia membelah kemacetan, menuju ke arah timur. Menuju Cluster Melati.
Jantung Anindita berdegup kencang saat melihat mobil Dananjaya berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar tanaman yang terawat. Seorang wanita keluar dari rumah itu. Dia tidak tampak seperti model atau wanita simpanan kelas atas dalam film-film drama. Wanita itu tampak sederhana, mengenakan daster batik yang longgar, dan perutnya terlihat membuncit. Dia sedang hamil besar. Dananjaya turun dari mobil dengan senyum yang belum pernah Anindita lihat sebelumnya—sebuah senyum yang penuh dengan kelembutan, namun sekaligus sarat dengan beban rasa bersalah.
Anindita mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. Apakah ini akhirnya? Apakah Dananjaya memiliki keluarga kedua? Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi benaknya. Namun, alih-alih memeluk wanita itu, Dananjaya justru memberikan sebuah bungkusan obat dan beberapa lembar uang, lalu dia duduk di teras sambil menunduk dalam, seperti seorang pesakitan yang sedang memohon ampunan. Anindita tidak tahan lagi. Dia keluar dari mobilnya, berjalan dengan langkah gemetar menuju pagar rumah itu.
'Jadi, ini alasan kamu sering lembur hari Selasa, Mas?' Suara Anindita memecah keheningan sore itu. Dananjaya tersentak. Dia berdiri dengan wajah pucat pasi, seolah baru saja melihat hantu. Wanita hamil itu juga tampak ketakutan, dia mundur selangkah dan memegangi perutnya. 'Nin... Anin, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan,' gagap Dananjaya. Anindita tertawa getir, sebuah tawa yang pecah menjadi isak tangis. 'Apa yang perlu dijelaskan? Kamu membelikan susu hamil untuk wanita lain saat kita sendiri sedang berjuang selama tiga tahun untuk punya anak? Kamu jahat, Mas!'
Namun, fakta yang terungkap sore itu jauh lebih mengerikan daripada sekadar perselingkuhan. Wanita itu, yang bernama Arini, bukanlah selingkuhan Dananjaya. Dia adalah janda dari seorang pria bernama Jatmiko. Nama yang seketika membuat Anindita membeku. Jatmiko adalah rekan kerja Dananjaya yang meninggal lima tahun lalu dalam sebuah kecelakaan konstruksi yang secara resmi dinyatakan sebagai kesalahan prosedur teknis. Selama ini, Anindita tahu Dananjaya merasa sangat kehilangan, tapi dia tidak pernah tahu bahwa Dananjaya-lah yang secara tidak langsung menyebabkan kematian itu karena kelalaian dalam pengecekan struktur bangunan.
'Aku membunuh suaminya, Nin,' bisik Dananjaya dengan suara serak, air mata kini mengalir di pipinya yang kasar. 'Secara hukum, perusahaan yang bertanggung jawab. Tapi secara moral, itu salahku. Aku yang menandatangani laporan pengecekan itu tanpa melihat langsung ke lapangan hari itu karena aku terburu-buru ingin pulang untuk merayakan ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Aku merusak hidup Arini, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjaganya dan anaknya tanpa memberi tahu siapapun. Termasuk kamu.'
Arini menunduk, dia mengakui bahwa selama ini Dananjaya hanya datang sebagai sosok penjamin hidupnya sebagai bentuk penebusan dosa. Namun, bagi Anindita, kejujuran yang tertunda selama lima tahun terasa sama perihnya dengan pengkhianatan fisik. Rumah tangga mereka dibangun di atas fondasi kebohongan dan rasa bersalah yang disembunyikan rapat-rapat. Dananjaya tidak hanya membagi uang mereka, tapi dia membagi jiwanya antara dua rumah. Satu rumah yang dia cintai, dan satu rumah yang dia gunakan sebagai penjara atas dosanya sendiri.
'Kenapa kamu tidak bilang, Mas? Kita bisa menanggung ini bersama,' isak Anindita. Dananjaya hanya menggeleng lemah. 'Karena aku takut kamu akan melihatku sebagai seorang pembunuh, Nin. Aku ingin tetap menjadi pahlawan di matamu.' Sore itu, di depan rumah di Cluster Melati, Anindita menyadari bahwa suaminya bukan sekadar pembohong, dia adalah pria yang hancur oleh bayang-bayangnya sendiri. Dan kini, Anindita harus memilih: tetap tinggal di reruntuhan pernikahan mereka, atau pergi membawa kepingan hatinya yang sudah tak berbentuk lagi.
Ketegangan semakin memuncak ketika Arini tiba-tiba mengeluh kesakitan di bagian perutnya. Air ketubannya pecah di depan mata mereka. Dananjaya panik, sementara Anindita terpaku dalam dilema yang luar biasa. Haruskah dia menolong wanita yang selama ini menjadi simbol ketidakjujuran suaminya, atau dia harus pergi meninggalkan kekacauan ini? Di saat itulah, rahasia lain yang lebih besar mulai terkuak. Arini bukan hanya sekadar janda dari rekan kerjanya. Ada alasan kenapa Dananjaya sangat terobsesi melindungi bayi dalam kandungan Arini, sebuah alasan yang berkaitan dengan hasil tes kesuburan Dananjaya yang pernah dia palsukan kepada Anindita setahun yang lalu.