Pesta Anniversary Paling Mewah Tahun Ini Berubah Menjadi Neraka Setelah Aku Menemukan Kado 'Terlarang' di Laci Rahasia Suamiku...

Pesta Anniversary Paling Mewah Tahun Ini Berubah Menjadi Neraka Setelah Aku Menemukan Kado 'Terlarang' di Laci Rahasia Suamiku...

Skandal & Pengkhianatan

Pesta Anniversary Paling Mewah Tahun Ini Berubah Menjadi Neraka Setelah Aku Menemukan Kado 'Terlarang' di Laci Rahasia Suamiku...



Malam itu, Jakarta terlihat begitu indah dari lantai lima puluh tujuh hotel bintang lima tempat kami merayakan hari jadi pernikahan yang ketujuh. Cahaya lampu kota berkelap-kelip seperti taburan berlian di atas kain beludru hitam, persis seperti gaun malam yang sedang aku kenakan. Suara denting gelas kristal dan obrolan ringan dari para tamu undangan memenuhi ballroom mewah itu. Wangi bunga lily putih yang diimpor langsung dari Belanda menyeruak di setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang begitu elegan dan romantis. Aku, Maya, merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia malam ini. Di sampingku berdiri Adit, laki-laki yang selama tujuh tahun ini menjadi pelabuhanku. Dia tampak begitu gagah dengan setelan tuksedo pesanan khusus, senyumnya tidak pernah luntur saat menyapa rekan bisnis dan sahabat-sahabat kami yang hadir.

Semuanya tampak sempurna, terlalu sempurna bahkan untuk sebuah kenyataan. Adit menggenggam tanganku erat, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku adalah miliknya yang paling berharga. Namun, entah kenapa, ada rasa dingin yang merayap di tengkukku setiap kali mataku beradu dengan Sarah, sahabat karibku sejak zaman kuliah. Malam ini Sarah tampak sangat memukau dengan gaun satin berwarna merah menyala. Dia selalu tahu cara menjadi pusat perhatian, dan sebagai sahabatnya, aku selalu bangga padanya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari cara dia menatap Adit, atau mungkin itu hanya perasaan tidak amanku saja? Aku mencoba menepis pikiran negatif itu. Ini adalah malam kebahagiaanku, tidak boleh ada satu pun prasangka yang merusaknya.

Acara terus berlanjut hingga tengah malam. Saat berdansa di tengah lantai dansa, tumit sepatu stiletto-ku tiba-tiba terasa goyah dan sedikit sakit. Aku berbisik pada Adit bahwa aku ingin ke atas sebentar, ke suite pribadi yang sudah kami pesan untuk menginap malam ini, hanya untuk mengganti sepatu atau sekadar mengistirahatkan kaki sejenak. Adit mengecup keningku dengan lembut, menyuruhku berhati-hati dan berjanji akan menyusul setelah dia selesai mengobrol dengan klien penting dari Singapura. Aku tersenyum, merasa sangat dicintai, lalu melangkah menuju lift dengan hati yang ringan.

Begitu sampai di suite, suasana sunyi langsung menyambutku. Kontras sekali dengan hiruk-pikuk di bawah sana. Aku melepas sepatuku dengan lega, merasakan karpet tebal yang lembut menyentuh telapak kakiku. Saat berjalan menuju walk-in closet, mataku tertuju pada meja kerja kayu mahoni milik Adit yang biasanya selalu rapi. Namun malam ini, ada sebuah laci kecil di sudut bawah yang sedikit terbuka, seolah-olah seseorang baru saja membukanya dengan terburu-buru dan lupa menutupnya dengan sempurna. Sifat ingin tahuku muncul. Adit selalu bilang dia tidak punya rahasia dariku, tapi laci itu terlihat begitu mencurigakan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku menarik laci itu sepenuhnya. Di dalamnya, tidak ada dokumen perusahaan atau kunci mobil cadangan. Hanya ada sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru hitam dengan logo toko perhiasan ternama di Paris. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini kejutan lain dari Adit? Apakah dia membelikanku perhiasan lagi meskipun tadi sudah memberiku kalung berlian di depan tamu-tamu? Aku membukanya dengan harapan yang meluap, namun yang kutemukan di dalamnya bukan hanya perhiasan, melainkan sebuah kehancuran yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Di dalam kotak itu terdapat sebuah gelang emas dengan inisial nama yang bukan namaku. S dan A. Sarah dan Adit. Dan yang paling menyakitkan adalah selembar kartu kecil yang terselip di bawah gelang itu. Tulisan tangannya sangat aku kenali, itu tulisan tangan Sarah. Isinya singkat namun mampu menghancurkan seluruh duniaku dalam sekejap: 'Tujuh tahun kamu pura-pura bahagia sama dia, sekarang waktunya kita yang bahagia, Mas. Hadiah ini untuk merayakan rencana kita yang hampir selesai. Aku tunggu di tempat biasa setelah pesta membosankan ini berakhir. Love, S.' Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepalaku di tengah ruangan yang sunyi ini.

Napas daku mendadak sesak. Aku mencengkeram pinggiran meja mahoni itu agar tidak terjatuh. Bayangan-bayangan masa lalu berputar cepat di benakku. Bagaimana Sarah selalu ada di setiap liburan keluarga kami, bagaimana Adit sering pulang terlambat dengan alasan meeting tapi bajunya beraroma parfum yang sangat mirip dengan milik Sarah, dan bagaimana mereka berdua sering bertukar pandang di meja makan yang selama ini aku anggap sebagai keakraban biasa. Ternyata, selama tujuh tahun ini, aku hanyalah penonton dalam sebuah sandiwara yang mereka susun dengan sangat rapi. Pesta mewah di bawah sana bukan untuk merayakan pernikahan kami, tapi mungkin sebuah pesta perpisahan bagi mereka untuk membuangku.

Aku melihat bayanganku di cermin besar di kamar itu. Wajahku pucat pasi, mataku mulai memerah karena air mata yang belum sempat jatuh. Gaun mewah ini tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang menyesakkan. Aku mendengar suara pintu suite terbuka dari luar. Langkah kaki yang sangat aku kenali terdengar mendekat. Itu Adit. Aku segera memasukkan kembali kotak itu dan menutup laci dengan kasar, meskipun aku tahu dia pasti akan menyadari ada yang berubah. Aku berdiri tegak, menghapus air mata dengan cepat, dan berbalik menghadap pintu. Aku tidak akan menangis di depannya sekarang. Jika mereka ingin bermain peran, maka aku akan menjadi aktris terbaik yang pernah ada sebelum aku menghancurkan mereka berdua di puncak kemenangan mereka.

Adit masuk dengan wajah ceria, namun senyumnya sedikit memudar saat melihat ekspresiku yang kaku. 'Sayang, kamu kok lama banget? Tamu-tamu sudah mulai bertanya,' katanya sambil mendekat ingin memelukku. Aku menghindar dengan halus, berpura-pura sedang mencari sesuatu di tasku. 'Kakiku masih agak sakit, Mas. Kamu duluan saja ke bawah, aku perlu memperbaiki riasanku sebentar,' jawabku dengan nada sedatar mungkin. Dia menatapku curiga selama beberapa detik, namun kemudian mengangguk. 'Oke, jangan lama-lama ya. Sarah juga nanyain kamu terus dari tadi,' ucapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Nama itu, Sarah, terdengar seperti racun di telingaku sekarang.

Setelah Adit pergi, aku terduduk di lantai yang dingin. Rencana mereka yang hampir selesai? Apa maksudnya? Apakah mereka akan mengambil hartaku? Ataukah ada yang lebih buruk dari itu? Aku menyadari bahwa aku tidak bisa hanya diam dan meratap. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku teringat pada Sarah yang tadi memakai kalung yang sangat mirip dengan desain gelang di laci ini. Mereka bahkan tidak mencoba bersembunyi dengan benar. Mereka merasa aku terlalu bodoh untuk menyadari pengkhianatan ini karena selama ini aku terlalu mempercayai mereka.

Malam yang seharusnya menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupku kini berubah menjadi misi pengintaian yang berbahaya. Aku mengganti sepatuku dengan flat shoes yang aku ambil dari lemari, mengambil ponselku, dan memutuskan untuk tidak kembali ke ballroom. Aku akan mengikuti Adit. Aku harus tahu di mana 'tempat biasa' yang dimaksud Sarah dalam surat itu. Dengan hati yang hancur namun tekad yang sekeras baja, aku keluar dari kamar melalui pintu servis agar tidak berpapasan dengan tamu lain. Permainan ini baru saja dimulai, dan aku tidak akan membiarkan mereka menang dengan mudah setelah mencuri tujuh tahun hidupku.

Aku turun menggunakan lift barang dan langsung menuju basement parkiran. Aku tahu Adit selalu membawa mobil cadangan yang jarang ia gunakan untuk urusan-urusan pribadinya. Benar saja, mobil sedan hitam itu sudah tidak ada di slot parkirnya. Aku segera memanggil taksi online, menyuruhnya menunggu di luar area hotel. Tak lama kemudian, aku melihat mobil Adit keluar dari lobi hotel dengan terburu-buru. Aku menyuruh sopir taksi untuk mengikutinya dengan jarak yang aman. Jantungku terus berpacu, setiap detik terasa seperti siksaan. Kami melewati jalanan Jakarta yang mulai lengang, menuju sebuah kawasan apartemen mewah di Jakarta Selatan yang aku tahu salah satu unitnya adalah milik Sarah.

Sesampainya di sana, aku melihat Adit turun dari mobil dan masuk ke lobby apartemen tanpa sedikit pun keraguan. Dia punya akses, dia punya kunci. Aku merasa dunia benar-benar berhenti berputar. Aku membayar sopir taksi dan berjalan perlahan menuju gedung itu. Pikiranku kalut, namun langkahku tetap pasti. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri. Aku harus memiliki bukti yang tak terbantahkan sebelum aku melancarkan serangan balik yang akan membuat mereka menyesal telah mengenalku. Di lobi, aku berpura-pura menjadi penghuni dan berhasil masuk mengikuti penghuni lain yang sedang tapping kartu akses.

Aku berdiri di depan pintu unit Sarah, lantai 22 nomor 07. Angka yang sama dengan usia pernikahanku. Ironi yang sangat menyakitkan. Aku menempelkan telingaku di pintu yang kokoh itu. Suara tawa terdengar dari dalam. Suara tawa yang sangat aku kenal, tawa Sarah yang manja dan tawa Adit yang renyah. Tawa yang selama ini aku anggap sebagai musik dalam hidupku, kini terdengar seperti suara kematian. 'Sudah kubilang kan, dia nggak akan curiga. Maya itu terlalu naif,' suara Sarah terdengar jelas melalui celah udara di bawah pintu. 'Sabar ya sayang, sebentar lagi semua aset atas nama dia akan berpindah ke perusahaan cangkang kita. Setelah itu, kita bisa pergi jauh dari sini,' balas suara Adit yang terdengar begitu dingin dan penuh perhitungan.

Tubuhku lemas. Ternyata ini bukan sekadar perselingkuhan biasa. Ini adalah perampokan berencana. Mereka ingin mengambil segalanya dariku—cinta, kepercayaan, dan harta yang selama ini aku bangun bersama keluargaku. Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. Amarah yang luar biasa mulai membakar rasa sedihku. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Aku akan membuat mereka membayar setiap tetes air mata yang jatuh malam ini. Aku mengeluarkan ponsel, merekam percakapan mereka dari balik pintu, dan bersumpah bahwa pesta anniversary ini akan menjadi hari terakhir mereka bisa tertawa di atas penderitaanku.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url