Playlist Spotify Itu Awalnya Milik Kami Berdua, Sampai Aku Melihat Nama Sahabatku Menyelinap Di Sana

Playlist Spotify Itu Awalnya Milik Kami Berdua, Sampai Aku Melihat Nama Sahabatku Menyelinap Di Sana

Skandal & Pengkhianatan

Playlist Spotify Itu Awalnya Milik Kami Berdua, Sampai Aku Melihat Nama Sahabatku Menyelinap Di Sana



Tangan Kirana gemetar saat ia berdiri di depan rak pendingin supermarket, jemarinya yang dingin memegang sebuah kemasan yogurt stroberi yang mulai berembun. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk pengunjung yang berburu diskon sore hari terasa seperti dengung lebah yang jauh dan tak berarti. Fokusnya hanya tertuju pada layar ponsel yang menyala di tangan kirinya. Sebuah notifikasi kecil, hampir tidak mencolok, namun mampu meruntuhkan fondasi hidupnya yang telah dibangun selama tujuh tahun: 'Dananjaya added Sekar Ayu to Our Sanctuary'.

'Our Sanctuary' bukan sekadar playlist biasa. Itu adalah arsip digital berisi perjalanan cinta Kirana dan Dananjaya sejak mereka masih berstatus mahasiswa baru di Yogyakarta. Di sana ada lagu yang mereka dengarkan saat terjebak hujan di emperan toko buku, lagu yang diputar saat Dananjaya melamarnya di puncak bukit, hingga lagu nina bobo yang mereka pilih untuk calon buah hati yang masih mereka impikan. Playlist itu adalah ruang paling privat, sebuah kuil digital yang hanya dihuni oleh mereka berdua. Tapi sore ini, tanpa pemberitahuan, nama Sekar masuk ke sana.

Sekar Ayu. Sahabat yang sudah Kirana anggap seperti saudara kandung sendiri. Perempuan yang menangis paling keras saat Kirana menikah, dan orang yang selalu ada saat Kirana merasa lelah menghadapi kesibukan Dananjaya sebagai arsitek papan atas. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu dipercaya bisa masuk ke dalam ruang paling intim dalam hubungannya?

Kirana mencoba menarik napas panjang, namun dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menghimpit. Ia meletakkan kembali yogurt itu ke rak dengan gerakan mekanis yang kaku. Pikirannya berlari ke arah yang liar. Apakah ini hanya kesalahan teknis? Mungkin Dananjaya salah tekan? Namun, saat ia membuka playlist tersebut, kenyataan menyergapnya lebih kejam. Sekar tidak hanya ditambahkan sebagai kolaborator, ia baru saja menambahkan sebuah lagu baru berjudul 'Interlude: For Him'. Sebuah lagu balada melankolis yang liriknya menceritakan tentang cinta tersembunyi yang akhirnya menemukan muaranya.

Lutut Kirana terasa lemas. Ia berjalan gontai menuju deretan kursi kayu di sudut area bakery, mengabaikan tatapan heran dari seorang ibu yang hampir ia tabrak. Ia kembali menatap layar ponselnya. Fitur 'Listening Together' menunjukkan simbol hijau kecil yang berkedip. Dananjaya dan Sekar sedang mendengarkan lagu itu bersama-sama. Saat ini juga. Di jam empat sore, saat Dananjaya seharusnya sedang mempresentasikan desain gedung di pusat kota, dan Sekar seharusnya sedang mengajar kelas tari tradisionalnya.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti sayatan halus di kulit Kirana. Ia teringat kejadian seminggu yang lalu, saat Dananjaya mengeluh harus bekerja lembur dan Sekar tiba-tiba mengirimkan pesan bahwa ia sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa ikut makan malam bersama. Apakah saat itu mereka juga sedang berbagi playlist yang sama? Apakah setiap tawa yang ia dengar dari mulut Dananjaya belakangan ini sebenarnya dipicu oleh pesan singkat dari Sekar?

Bayangan-bayangan masa lalu mulai berputar seperti film lama di kepala Kirana. Ia teringat betapa seringnya Sekar bertanya tentang kebiasaan tidur Dananjaya, atau parfum apa yang sedang disukai suaminya itu. Dulu, Kirana menganggapnya sebagai bentuk perhatian seorang sahabat yang ingin membantu mencarikan hadiah ulang tahun. Kini, setiap pertanyaan itu terasa seperti misi pengintaian untuk mencuri potongan-potongan hidupnya.

Ia mencoba menelepon Dananjaya, namun jarinya ragu di atas ikon hijau itu. Apa yang akan ia katakan? 'Kenapa kamu menambahkan Sekar ke playlist kita?' Terdengar sangat kekanak-kanakan, pikirnya. Namun, pengkhianatan sering kali bersembunyi di balik hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Playlist itu adalah simbol kepemilikan. Dengan mengundang Sekar ke sana, Dananjaya secara simbolis telah mengizinkan perempuan lain untuk menempati ruang yang seharusnya eksklusif milik istrinya.

Kirana memutuskan untuk tidak menelepon. Ia bangkit berdiri, meninggalkan keranjang belanjaannya yang masih kosong di sudut kursi. Ia berjalan keluar dari supermarket menuju parkiran, matahari sore yang berwarna jingga pekat terasa menyengat matanya. Ia menyalakan mesin mobilnya, namun tidak segera berangkat. Ia hanya duduk diam, membiarkan AC mendinginkan kulitnya yang terasa panas karena amarah dan kesedihan yang bercampur aduk.

Ia membuka akun Instagram milik Sekar melalui akun cadangan yang jarang ia gunakan. Tidak ada unggahan baru di feed, namun ada sebuah Instagram Story yang baru saja diunggah lima menit yang lalu. Hanya sebuah foto pemandangan dari balik jendela kaca yang menunjukkan deretan gedung tinggi, dengan pantulan samar seseorang yang sedang duduk di kursi kerja. Kirana mengenali kursi itu. Itu adalah kursi kerja di kantor pribadi Dananjaya yang terletak di lantai dua rumah studio mereka, tempat yang seharusnya menjadi zona terlarang bagi siapa pun kecuali Kirana dan asisten pribadi Dananjaya.

Rasa mual menyerang perut Kirana. Ia segera menjalankan mobilnya, bukan menuju rumah, melainkan ke arah kantor studio suaminya. Jalanan Jakarta yang macet sore itu seolah sengaja ingin memperlambat langkahnya menuju kebenaran yang menyakitkan. Di setiap lampu merah, ia terus memandangi layar ponselnya. Lagu di playlist itu berganti lagi. Kali ini lagu jazz favorit Dananjaya yang selalu ia putar setiap kali ia merasa bahagia setelah menyelesaikan sebuah proyek besar.

Setibanya di depan studio, Kirana melihat mobil Sekar terparkir rapi di sudut garasi, tepat di samping mobil operasional kantor Dananjaya. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan denyut di pelipisnya. Ia keluar dari mobil dengan langkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Penjaga gerbang sedang tidak ada di posnya, kemungkinan sedang berada di belakang untuk menunaikan salat asar.

Kirana masuk ke dalam lobi studio yang sunyi. Bau aromaterapi kayu cendana yang biasa menenangkan hatinya kini terasa mencekik. Ia menaiki tangga menuju lantai dua. Pintu ruangan Dananjaya sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang cukup untuk mengintip. Di dalam sana, ia melihat suaminya sedang duduk di meja gambarnya, namun ia tidak sedang menggambar. Dananjaya sedang tertawa, sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak Kirana dengar di rumah.

Dan di sampingnya, Sekar berdiri dengan tangan yang menyentuh bahu Dananjaya secara akrab. Mereka berdua menatap layar laptop yang sama, namun bukan denah bangunan yang terpampang di sana. Itu adalah antarmuka Spotify dengan daftar lagu 'Our Sanctuary' yang terbuka lebar. Kirana melihat bagaimana Sekar dengan lembut merapikan kerah kemeja Dananjaya yang sedikit berantakan, dan suaminya itu tidak menolak. Sebaliknya, Dananjaya justru menggenggam tangan Sekar sejenak, memberikan sebuah kecupan singkat di punggung tangan perempuan itu.

Dunia Kirana berhenti berputar. Semua kenangan tentang persahabatan mereka, tentang janji setia di depan altar, dan tentang masa depan yang mereka rencanakan bersama, menguap begitu saja seperti embun di bawah sinar matahari yang kejam. Ia tidak berteriak. Ia tidak mendobrak pintu itu. Ia hanya berdiri di sana, di balik bayang-bayang pintu, merasakan hatinya pecah menjadi ribuan kepingan tajam yang menusuk ke dalam nadinya sendiri.

Kirana menyadari bahwa pengkhianatan ini bukan terjadi secara mendadak. Ini adalah sebuah konstruksi yang rapi, yang dibangun bata demi bata di bawah hidungnya sendiri. Setiap kali Sekar datang ke rumah mereka untuk sekadar 'curhat', setiap kali Dananjaya pulang terlambat dengan alasan 'deadline', mereka sebenarnya sedang menenun jaring pengkhianatan ini. Dan playlist itu hanyalah puncak gunung es dari sebuah skandal yang jauh lebih dalam.

Ia membalikkan badan, berjalan menuruni tangga dengan hati-hati agar tidak terdengar. Saat ia kembali ke dalam mobilnya, Kirana baru menyadari bahwa air matanya telah membasahi pipinya tanpa henti. Ia menghapusnya dengan kasar. Kesedihan itu perlahan digantikan oleh sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam: sebuah tekad. Jika mereka mengira bisa menghancurkan hidupnya lewat sebuah playlist sederhana, mereka salah besar.

Kirana mengambil ponselnya sekali lagi. Ia tidak menghapus Sekar dari playlist tersebut. Ia justru menambahkan satu lagu baru ke dalam 'Our Sanctuary'. Sebuah lagu lama yang liriknya menceritakan tentang perpisahan yang elegan dan pembalasan dendam yang sunyi. Ia memutar volume di ponselnya hingga maksimal, lalu menekan tombol 'Play'. Suara musik itu segera memenuhi kabin mobilnya, dan ia tahu, perang ini baru saja dimulai.

Ia akan memastikan bahwa setiap lagu yang mereka dengarkan bersama setelah ini akan selalu mengingatkan mereka pada dosa yang mereka lakukan. Dananjaya dan Sekar mungkin merasa mereka telah menang karena berhasil menyembunyikan hubungan ini begitu lama, namun mereka lupa satu hal: Kirana adalah seorang interior designer yang ahli dalam melihat celah sekecil apa pun di dalam sebuah struktur bangunan—dan sekarang, ia siap meruntuhkan seluruh bangunan kebohongan mereka tanpa menyisakan satu batu pun di atas batu lainnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url