Rahasia di Balik Gantungan Kunci Paris: Saat Sahabat dan Suamiku Berbagi Kunci yang Sama...
Hujan di Jakarta malam itu rasanya lebih berat dari biasanya. Bunyi rintiknya yang menghantam kaca jendela apartemen kami di lantai dua puluh tujuh terdengar seperti ribuan jarum yang jatuh bersamaan. Aku, Maya, masih terduduk di sofa beludru abu-abu yang kami beli dua tahun lalu saat perayaan ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Di tanganku ada segelas cokelat hangat yang sudah mendingin, persis seperti suasana hatiku yang entah kenapa merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
Arga belum pulang. Katanya ada meeting mendadak dengan klien dari Singapura di daerah Senopati. Hal yang lumrah sebenarnya, mengingat posisinya sebagai creative director di sebuah agensi ternama selalu menuntut waktu lebih. Tapi, malam ini ada yang beda. Ada kekosongan yang menyesakkan di dada, seolah-olah semesta sedang memberiku sinyal kalau ada sesuatu yang nggak beres di bawah permukaan hidupku yang keliatannya sempurna ini.
Aku berdiri, niatnya mau merapikan tas kerja Arga yang tadi pagi tertinggal di meja rias karena dia terburu-buru membawa tas cadangan. Saat aku mengangkat tas kulit mahal itu, sebuah benda kecil terjatuh dari kantong samping yang ritsletingnya sedikit terbuka. Bunyi denting logam di atas lantai parket kayu yang sunyi itu terdengar sangat nyaring. Aku membungkuk, memungut benda itu, dan seketika jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat.
Itu adalah sebuah gantungan kunci berbentuk Menara Eiffel kecil yang sudah agak lecet warnanya. Di sana menggantung sebuah kunci apartemen dengan kartu akses berwarna biru tua. Aku hafal betul gantungan kunci itu. Aku sendiri yang membelinya di sebuah toko suvenir pinggir jalan di Paris, tiga tahun lalu. Aku beli dua. Satu untukku, dan satu lagi untuk Sheila—sahabat terbaikku sejak zaman SMA, orang yang sudah aku anggap seperti saudara kandung sendiri.
Tanganku gemetar. Kenapa gantungan kunci milik Sheila ada di dalam tas kerja Arga? Dan kunci apa ini? Setahuku, apartemen Sheila menggunakan sistem digital lock, bukan kunci manual seperti ini. Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan mulai merayapi pikiranku. Dengan jari yang masih gemetaran, aku merogoh lebih dalam ke kantong samping tas Arga itu. Di sana, aku menemukan sesuatu yang lebih menghancurkan lagi.
Sebuah foto polaroid kecil yang terlipat. Aku membukanya pelan-pelan, berharap apa yang aku lihat hanyalah halusinasi akibat kelelahan. Tapi kenyataan memang selalu lebih pahit dari ekspektasi. Di foto itu, Arga dan Sheila sedang duduk berdekatan di sebuah balkon yang menghadap ke arah gedung-gedung tinggi Jakarta. Arga merangkul bahu Sheila dengan cara yang nggak pernah dia lakukan pada teman biasa. Mereka berdua tertawa lepas ke arah kamera, dengan latar belakang langit senja yang indah. Di pojok bawah foto itu ada tulisan tangan Sheila yang sangat aku kenali: 'Our Little Sanctuary, 14 Februari'.
14 Februari. Hari Valentine. Hari di mana Arga bilang padaku kalau dia harus dinas keluar kota ke Surabaya selama tiga hari. Hari di mana aku menghabiskan malam sendirian dengan menonton Netflix dan memesan martabak manis favoritku. Ternyata, di hari itu, suamiku sedang merayakan cinta dengan sahabatku sendiri di sebuah tempat yang mereka sebut 'Sanctuary'.
Aku merasa mual. Dunia seolah berputar dengan sangat cepat sampai aku harus berpegangan pada pinggiran meja makan agar nggak ambruk. Ingatanku mendadak terlempar pada momen-momen setahun terakhir. Gimana Sheila selalu ada di setiap acara makan malam kami. Gimana Sheila selalu bertanya dengan sangat detail tentang hubungan rumah tanggaku. Aku pikir dia peduli, aku pikir dia ingin memastikan aku bahagia. Ternyata, dia sedang memetakan celah untuk masuk dan mengambil apa yang menjadi milikku.
Nggak berselang lama, terdengar suara pintu depan terbuka. Kode akses apartemen kami berbunyi 'pip-pip-pip' dan pintu terbuka dengan dorongan pelan. Arga masuk dengan wajah lelah, dasinya sudah dilonggarkan, dan rambutnya sedikit berantakan karena angin di luar. Dia tersenyum tipis saat melihatku masih berdiri di ruang tengah.
'Loh, sayang? Kok belum tidur? Udah jam satu loh ini,' katanya dengan suara baritonnya yang lembut, suara yang selama tujuh tahun ini selalu berhasil menenangkanku. Tapi malam ini, suara itu terdengar seperti racun yang menyusup ke telingaku.
Aku nggak menjawab. Aku hanya berdiri mematung sambil mengepalkan tangan kanan yang menyembunyikan gantungan kunci dan foto polaroid itu di balik punggungku. Arga mendekat, hendak mencium keningku seperti biasanya, tapi aku refleks menghindar. Langkahnya terhenti, dahinya berkerut heran.
'Kamu kenapa? Sakit? Muka kamu pucet banget, Maya,' Arga mencoba menyentuh pipiku, tapi aku menepis tangannya dengan kasar. Kebingungan di wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi waspada.
'Meeting-nya seru, Ga?' tanyaku dengan nada suara yang aku usahakan sedatar mungkin, meski sebenarnya aku ingin berteriak sekuat tenaga. Arga terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. 'Ya gitu deh, kliennya agak rewel. Kenapa emangnya?'
Aku mengeluarkan tangan kananku dari balik punggung. Aku menjatuhkan gantungan kunci Menara Eiffel itu tepat di depan kakinya, disusul dengan foto polaroid yang kini sudah lecek karena genggamanku. Aku bisa melihat jelas bagaimana raut wajah Arga berubah dalam sekejap. Dari yang tadinya lelah dan bingung, menjadi pucat pasi seolah semua darah di tubuhnya tersedot keluar. Matanya menatap kunci itu, lalu beralih ke foto, dan akhirnya menatapku dengan tatapan yang penuh rasa bersalah sekaligus ketakutan.
'Maya, aku bisa jelasin... Ini nggak seperti yang kamu pikirin,' kalimat klise itu akhirnya keluar dari mulutnya. Kalimat yang selalu aku dengar di drama-drama televisi, dan sekarang aku mendengarnya langsung dari orang yang paling aku percayai di dunia ini.
'Nggak seperti yang aku pikirin? Terus apa? Kamu mau bilang kalau kamu dan Sheila cuma nggak sengaja nemu balkon bagus dan memutuskan buat foto mesra di hari Valentine saat kamu bilangnya lagi di Surabaya? Kamu mau bilang kunci ini cuma titipan?' suaraku mulai meninggi, pecah oleh isak tangis yang nggak bisa lagi aku bendung.
Arga mencoba mendekat lagi, tangannya terulur ingin meraih bahuku, tapi aku mundur selangkah. 'Jangan sentuh aku! Berapa lama, Ga? Berapa lama kamu main gila sama Sheila di belakangku? Sahabat aku sendiri, Ga! Kamu tahu dia segalanya buat aku!' teriakku. Air mata sudah membanjiri pipiku, membuat pandanganku kabur.
Suasana apartemen yang tadinya sunyi kini penuh dengan ketegangan yang memekakkan telinga. Arga hanya menunduk, bahunya merosot. Dia nggak membantah lagi. Kebisuannya adalah konfirmasi paling menyakitkan yang pernah aku terima. Ternyata benar, pengkhianatan yang paling dalam itu bukan datang dari musuhmu, tapi dari orang yang paling dekat dan paling tahu kelemahanmu.
Malam itu, hujan di luar belum juga reda. Dan aku tahu, hidupku yang selama ini aku bangun dengan penuh cinta, baru saja runtuh berkeping-keping di atas lantai parket yang dingin ini. Rahasia yang selama ini tersimpan rapat di balik pintu apartemen lain di Sudirman itu, akhirnya pulang ke rumah kami dengan cara yang paling menghancurkan.