Rahasia di Balik Map Merah: Saat Sahabat Terbaikku Menjadi Racun di Dalam Rumah Tanggaku...
Malam itu Jakarta sedang diguyur hujan deras, jenis hujan yang membuat suara klakson kendaraan di kejauhan terdengar samar dan menyedihkan. Aku, Maya, baru saja melangkah masuk ke lobi kantor pusat perusahaanku sendiri, sebuah biro arsitektur ternama yang aku bangun dengan keringat dan air mata bersama Dion, suamiku. Seharusnya aku masih berada di Bandung untuk urusan proyek resort, tapi hatiku tidak tenang. Ada firasat yang terus-menerus mencubit nuraniku, menyuruhku pulang lebih awal tanpa memberi tahu siapa pun.
Suasana kantor sudah sepi, hanya ada beberapa lampu lorong yang menyala redup. Aku berjalan menuju ruang kerja Dion, berniat memberikan kejutan manis dengan membawa kopi kesukaannya. Namun, langkahku terhenti tepat di depan pintu kayu jati yang sedikit terbuka. Cahaya lampu dari dalam ruangan membiaskan bayangan dua orang yang sangat aku kenali di atas karpet abu-abu itu. Suara tawa kecil yang sangat familiar menusuk telingaku. Itu suara Sarah, sahabat terbaikku sejak bangku SMA, orang yang selalu ada saat aku kehilangan calon bayiku enam bulan lalu.
Aku menahan napas, dadaku terasa sesak seolah oksigen di koridor itu mendadak hilang. Aku mendekat perlahan, mengintip melalui celah pintu yang terbuka sekitar lima sentimeter. Di sana, di atas meja kerja yang biasanya penuh dengan cetakan biru bangunan, Sarah duduk dengan anggunnya. Dia tidak memakai seragam kantor biasanya, melainkan dress satin merah yang sangat kontras dengan suasana ruang kerja yang formal. Dion berdiri di hadapannya, tangannya melingkar di pinggang Sarah dengan posesif, sesuatu yang sudah jarang dia lakukan padaku dalam setahun terakhir.
Kamu yakin Maya nggak bakal curiga soal dana proyek itu, Dion? suara Sarah terdengar sangat renyah, nyaris seperti melodi yang mematikan. Dion terkekeh, lalu mengecup kening Sarah dengan lembut. Maya itu terlalu baik, atau mungkin terlalu bodoh untuk menyadari kalau uang itu sudah mengalir ke rekening bersama kita. Dia masih sibuk meratapi kegugurannya itu, jadi dia nggak akan sadar kalau kita pelan-pelan sedang mengosongkan asetnya. Lagi pula, siapa yang menyuruh dia memberikan hak kuasa penuh padaku? Itu kesalahannya sendiri, sayang.
Duniaku seolah runtuh seketika. Bukan hanya perselingkuhan yang menghancurkan hatiku, tapi kenyataan bahwa mereka telah merencanakan kejatuhan finansialku di saat aku sedang berada di titik terendah hidupku. Air mata mulai mengalir deras, membasahi pipiku, tapi aku membekap mulutku sendiri agar tidak ada suara isak tangis yang keluar. Aku merasa seperti orang asing di kantorku sendiri, di dalam hidupku sendiri. Bagaimana mungkin orang-orang yang paling aku percayai bisa sekejam ini? Sarah, yang menyuapiku bubur saat aku depresi, dan Dion, yang berjanji akan menjagaku sampai maut memisahkan.
Aku teringat map merah yang sering dibawa Dion belakangan ini. Dia bilang itu berkas rahasia untuk investor baru. Dengan tangan gemetar, aku mundur perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di atas lantai marmer. Aku menuju meja sekretaris Dion, mencari-cari keberadaan map itu. Di sanalah map itu berada, terselip di bawah tumpukan majalah properti. Aku membukanya dengan tangan yang terus bergetar hebat. Di dalamnya, aku menemukan dokumen pemindahan aset, tanda tangan palsu atas namaku, dan yang paling menyakitkan: sebuah polis asuransi jiwa atas namaku dengan nilai fantastis, di mana penerima manfaatnya adalah Dion dan Sarah sebagai wali.
Pikiranku melayang pada kejadian enam bulan lalu. Saat itu aku sedang hamil tiga bulan. Sarah selalu memberiku vitamin tambahan yang dia bilang dari dokter spesialis ternama. Setelah mengonsumsi vitamin itu selama dua minggu, aku mengalami pendarahan hebat di tengah malam dan kehilangan bayiku. Apakah mungkin? Apakah kebengisan mereka sampai ke tahap itu? Aku merasakan mual yang luar biasa. Perutku bergejolak membayangkan bahwa selama ini aku memelihara ular di dalam rumahku sendiri.
Aku segera mengeluarkan ponselku, memotret setiap lembar dokumen di dalam map merah itu dengan kecepatan kilat. Setiap jepretan kamera terasa seperti hantaman palu di hatiku. Aku harus kuat. Aku tidak boleh hancur sekarang. Jika mereka ingin bermain kotor, maka aku akan menunjukkan bagaimana cara bermain yang sebenarnya. Aku bukan lagi Maya yang lemah dan penuh duka. Aku adalah wanita yang dikhianati, dan tidak ada yang lebih berbahaya daripada itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam ruangan Dion. Mereka akan keluar! Aku panik, segera mengembalikan map itu ke tempat semula dan bersembunyi di balik pilar besar di area pantry. Aku melihat mereka keluar dari ruangan dengan tangan bertautan, tampak seperti pasangan bahagia yang baru saja memenangkan lotre. Mereka berjalan menuju lift sambil bercanda mesra, mengabaikan fakta bahwa di balik pilar itu, ada seorang wanita yang sedang mengumpulkan kepingan hatinya yang hancur untuk dijadikan senjata.
Setelah pintu lift tertutup, aku jatuh terduduk di lantai pantry yang dingin. Aku menangis tanpa suara, membiarkan rasa sakit itu membakar habis sisa-sisa cintaku pada Dion. Besok, aku akan menghubungi pengacara terbaik yang aku kenal. Aku akan melacak setiap sen yang mereka curi. Aku juga akan membawa sisa vitamin yang masih kusimpan di laci meja riasku ke laboratorium. Jika benar mereka terlibat dalam kematian bayiku, aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak akan membiarkan mereka melihat matahari dengan bebas lagi.
Keesokan harinya, aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku pulang ke rumah saat subuh, berpura-pura baru saja sampai dari Bandung. Dion menyambutku dengan senyum palsu yang dulu selalu membuatku merasa aman. Dia mencium pipiku dan bertanya bagaimana perjalananku. Aku menatap matanya, mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin tersisa, tapi yang kutemukan hanyalah kekosongan dan kerakusan. Sarah datang ke rumah kami saat sarapan, membawa roti kesukaanku. Aku menerima roti itu dengan senyum yang dipaksakan, meski rasanya aku ingin melemparkannya ke wajahnya.
Maya, kamu pucat sekali. Kamu kecapekan ya setelah dari Bandung? tanya Sarah dengan nada penuh perhatian yang sangat munafik. Aku menyesap kopiku perlahan, merasakan pahitnya kafein yang menyatu dengan pahitnya kenyataan. Iya, Sarah. Aku cuma kurang tidur aja. Kayaknya aku harus mulai lebih waspada sama kesehatan aku, kan kita nggak pernah tahu siapa yang sebenarnya peduli dan siapa yang cuma pura-pura, kataku sambil menatapnya tajam. Sarah tampak sedikit tersentak, tapi dia segera menguasai diri dengan tawa kecilnya yang memuakkan.
Selama seminggu berikutnya, aku bekerja dalam bayang-bayang. Aku menyewa detektif swasta untuk mengikuti setiap gerak-gerik mereka. Hasilnya mengejutkan. Ternyata mereka sudah menyewa sebuah apartemen mewah di pusat kota menggunakan uang perusahaan. Tidak hanya itu, Sarah juga sedang menjalin komunikasi dengan kompetitor bisnisku untuk menjual rahasia desain proyek terbaru kami. Mereka benar-benar ingin menghancurkanku sampai ke akar-akarnya. Mereka tidak hanya menginginkan uangku, mereka ingin menghapus keberadaanku dari industri ini.
Puncak dari segalanya terjadi di acara ulang tahun perusahaan yang ke-10. Semua rekan bisnis, investor, dan media hadir. Aku memakai gaun hitam elegan yang memancarkan kekuatan. Dion berdiri di sampingku, berakting sebagai suami teladan di depan kamera. Sarah ada di sana juga, mengenakan kalung berlian yang aku tahu dibeli dengan uang hasil penggelapan dana proyek resort di Bandung. Aku menunggu momen yang tepat, saat Dion memberikan sambutan di atas panggung.
Ketika Dion mulai berbicara tentang kesuksesan bersama dan dedikasi, aku memberi kode kepada operator multimedia di belakang ruangan. Layar besar yang seharusnya menampilkan video perjalanan perusahaan tiba-tiba berubah. Bukan foto-foto proyek yang muncul, melainkan rekaman CCTV dari apartemen rahasia mereka, tangkapan layar percakapan WhatsApp tentang rencana pengosongan rekening, dan yang paling menggemparkan: hasil lab vitamin yang menyatakan adanya kandungan zat yang memicu kontraksi rahim secara paksa.
Seluruh ruangan mendadak hening. Napas semua orang seolah tertahan. Aku melihat wajah Dion berubah pucat pasi, matanya membelalak menatap layar itu. Sarah mencoba lari menuju pintu keluar, tapi beberapa petugas keamanan yang sudah aku siapkan langsung mencegatnya. Aku melangkah maju ke depan panggung, mengambil mikrofon dari tangan Dion yang gemetar. Aku menatapnya tepat di mata, tidak ada lagi air mata, yang ada hanyalah api kemarahan yang dingin.
Pesta ini belum berakhir, Dion. Ini baru pembukaannya, bisikku cukup keras hingga terdengar lewat pengeras suara. Aku melihat polisi masuk ke dalam ballroom, membawa surat penangkapan atas tuduhan penggelapan dana, pencucian uang, dan konspirasi tindak kriminal yang membahayakan nyawa. Saat borgol dikunci di pergelangan tangan mereka, aku merasakan beban berat di pundakku sedikit terangkat, namun lubang di hatiku tetap ada. Pengkhianatan ini meninggalkan luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh, tapi setidaknya, aku tidak akan membiarkan mereka menang.
Dion menatapku dengan tatapan memohon saat dia digiring keluar, tapi aku memalingkan wajah. Aku melihat Sarah yang berteriak histeris, menyalahkan Dion atas semua ide gila itu. Aku hanya berdiri di sana, di tengah kerumunan orang yang berbisik-bisik, menyadari bahwa hidupku yang dulu telah berakhir. Sekarang, aku harus membangun segalanya dari nol, tanpa bayang-bayang mereka. Malam itu, di bawah lampu kristal yang mewah, aku menyadari satu hal: pengkhianatan mungkin menghancurkan hatimu, tapi itu juga akan melahirkan versi dirimu yang paling kuat yang pernah ada.