Saldo E-Toll Lima Puluh Ribu Terakhir Yang Membongkar Sandiwara Mahesa Dan Adik Kandungku Di Solo

Saldo E-Toll Lima Puluh Ribu Terakhir Yang Membongkar Sandiwara Mahesa Dan Adik Kandungku Di Solo

Skandal & Pengkhianatan

Saldo E-Toll Lima Puluh Ribu Terakhir Yang Membongkar Sandiwara Mahesa Dan Adik Kandungku Di Solo



'Aku tidak tahu kalau rasa sakit bisa sebeku ini,' gumam Laksmi dalam hati, sementara jemarinya yang gemetar menggenggam ponsel yang baru saja bergetar pelan di balik saku kebaya hitamnya. Di hadapannya, gundukan tanah makam Eyang Subrata masih basah, ditaburi bunga mawar dan melati yang wanginya mendadak terasa mencekik. Semua pelayat sudah mulai beranjak, menyisakan kerabat dekat yang masih terisak pelan. Namun, perhatian Laksmi teralihkan sepenuhnya oleh sebuah notifikasi sederhana dari aplikasi perbankan di ponselnya: 'Transaksi Berhasil: Gerbang Tol Colomadu - Rp 12.500'.

Detak jantung Laksmi seolah berhenti mendadak. Colomadu? Itu hanya berjarak dua puluh menit dari pemakaman ini. Masalahnya, Mahesa—suaminya—seharusnya sedang berada di Jakarta, terjebak dalam rapat maraton proyek pembangunan jembatan di Kalimantan. Mahesa bahkan mengirimkan foto selfie dirinya yang tampak lelah di ruang rapat dua jam yang lalu. Lebih aneh lagi, mobil SUV putih mereka seharusnya sedang menginap di bengkel resmi di Jakarta Timur untuk servis rutin selama seminggu ke depan. Lantas, siapa yang menggunakan kartu e-toll yang tertempel di kaca spion mobil itu? Dan kenapa mobil itu ada di Solo?

Laksmi menoleh ke samping, mencari sosok Anindya, adik semata wayangnya yang sangat ia sayangi. Anindya tidak datang ke pemakaman Eyang dengan alasan sakit tipes dan harus bed rest di apartemennya di Jakarta. Laksmi bahkan sempat mengirimkan bubur dan suplemen via ojek online tadi pagi ke sana. Namun, saat tatapan Laksmi menyapu area parkir makam yang mulai sepi, ia melihat sebuah siluet mobil yang sangat ia kenali. SUV putih dengan stiker kecil bertuliskan 'Family First' di sudut kaca belakang. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan area pemakaman, menuju arah jalan raya utama.

Tanpa pamit pada kerabat yang lain, Laksmi setengah berlari menuju mobil sewaannya. Pikirannya kalut, seolah ada ribuan jarum yang menusuk kepalanya secara bersamaan. Ia mengikuti SUV putih itu dari jarak yang aman. Mahesa adalah sosok suami yang sempurna di mata semua orang. Mahesa yang lembut, Mahesa yang selalu membawakan bunga setiap tanggal pernikahan mereka, dan Mahesa yang selalu membela Anindya setiap kali Laksmi mengeluh tentang sifat adiknya yang manja. 'Dia itu adikmu satu-satunya, Laks. Kita harus menjaganya,' begitu kata Mahesa selalu.

Mobil itu berhenti di sebuah rumah makan ayam goreng legendaris di pinggiran Solo. Dari kejauhan, Laksmi melihat pintu mobil terbuka. Seorang pria turun dengan kemeja batik yang sangat Laksmi kenali—batik yang ia pilihkan sendiri sebagai hadiah ulang tahun Mahesa bulan lalu. Dan dari pintu penumpang, seorang wanita turun dengan langkah ringan, mengenakan dress hitam simpel dan kacamata hitam besar. Itu Anindya. Tidak ada raut pucat karena tipes. Tidak ada lemas karena sakit. Anindya justru terlihat sangat segar, bahkan ia sempat tertawa lebar sambil merangkul lengan Mahesa dengan sangat akrab—terlalu akrab untuk ukuran seorang adik ipar.

Laksmi merasa dunianya runtuh seketika. Ia tetap berada di dalam mobil, mematikan mesin, dan membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Ia melihat mereka masuk ke dalam rumah makan, memilih meja paling pojok yang tersembunyi oleh pilar besar. Laksmi mengambil ponselnya, jarinya gemetar hebat saat ia membuka aplikasi pelacak mobil yang selama ini Mahesa pikir sudah dinonaktifkan. Benar saja, titik merah kecil itu berhenti tepat di lokasi rumah makan tersebut. Mahesa berbohong. Anindya berbohong. Mereka berdua membangun panggung sandiwara yang sangat rapi di atas penderitaan Laksmi yang sedang berduka kehilangan anggota keluarga tertua.

Setengah jam berlalu, Laksmi akhirnya memberanikan diri keluar. Ia mengenakan kacamata hitam dan kerudung lebar yang tadi ia pakai di makam untuk menutupi wajahnya yang sembab. Ia masuk ke rumah makan itu, berjalan pelan melewati meja-meja pengunjung yang ramai. Saat ia sudah cukup dekat dengan meja pojok itu, ia mendengar suara Anindya yang manja, 'Mas, nanti kalau surat tanah Eyang sudah jatuh ke tangan Mbak Laksmi, kita harus cepat-cepat urus penjualannya. Aku sudah nggak sabar pengen pindah ke Bali sama kamu.'

Suara Mahesa terdengar dalam dan penuh keyakinan, 'Sabar, Sayang. Laksmi itu gampang dikelabui. Dia terlalu percaya sama aku. Begitu akta warisnya turun minggu depan, aku akan pastikan dia menandatangani surat kuasa jual tanpa curiga. Setelah itu, kita pergi. Dia nggak akan pernah tahu kalau tabungan pribadinya juga sudah aku alihkan pelan-pelan ke rekening atas namamu.'

Napas Laksmi tercekat. Ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini adalah perampokan berencana. Mahesa dan Anindya bukan hanya mengkhianati ranjang pernikahannya, tapi juga sedang berusaha menjarah seluruh hidupnya. Laksmi teringat betapa ia selalu mendahulukan kebutuhan Anindya, membiayai kuliahnya, bahkan memberikan modal usaha yang akhirnya hangus entah ke mana. Ternyata, uang-uang itu digunakan untuk membiayai pertemuan rahasia mereka di belakangnya.

Laksmi mengeluarkan ponselnya lagi. Kali ini bukan untuk melihat notifikasi, melainkan untuk mengaktifkan perekam suara. Ia berdiri tepat di balik pilar, hanya beberapa jengkal dari punggung Mahesa. 'Oh, jadi begitu rencana kalian?' Suara Laksmi keluar dengan tenang, namun setiap kata yang terucap mengandung getaran amarah yang luar biasa dingin. Mahesa dan Anindya tersentak hebat. Mahesa hampir menjatuhkan gelas teh manisnya, sementara Anindya langsung pucat pasi, wajahnya kini benar-benar terlihat seperti orang sakit, namun sakit karena ketakutan.

'Laks... Laksmi? Kamu... kamu harusnya masih di makam,' gagap Mahesa, wajahnya berubah dari tenang menjadi penuh kepanikan. Ia mencoba berdiri, hendak menyentuh tangan Laksmi, namun Laksmi mundur satu langkah dengan jijik. 'Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja membelai adikku sendiri, Mahesa. Dan Anindya... kamu bilang kamu tipes? Ternyata penyakitmu jauh lebih menjijikkan dari itu ya?'

Anindya mulai menangis, sebuah tangisan yang Laksmi tahu persis adalah senjata andalannya untuk mendapatkan simpati. 'Mbak, ini nggak seperti yang Mbak lihat. Mas Mahesa cuma mau menenangkan aku karena aku sedih Eyang meninggal...' 'Menenangkanmu di Solo? Sambil merencanakan menjual tanah warisanku?' potong Laksmi tajam. 'Aku mendengar semuanya. Semuanya, Mahesa. Dari saldo e-toll yang kau pakai tadi sampai rencana pindah ke Bali kalian.'

Mahesa mencoba mengubah taktik. 'Laksmi, dengar dulu. Aku melakukan ini karena perusahaan kita sedang goyah. Aku butuh modal, dan Anindya hanya membantuku berdiskusi...' Laksmi tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. 'Berdiskusi di atas tempat tidur? Berdiskusi dengan membohongiku berbulan-bulan? Aku bukan wanita bodoh yang bisa kau suap dengan kata-kata manis lagi. Mulai detik ini, tidak ada lagi Mahesa dalam hidupku, dan tidak ada lagi adik bernama Anindya.'

Laksmi berbalik pergi, namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pria paruh baya berdiri di pintu masuk rumah makan. Itu adalah Pak Baskoro, pengacara keluarga Eyang Subrata. Laksmi ternyata tidak hanya datang sendirian; ia sudah mengirimkan pesan singkat pada Pak Baskoro sesaat sebelum ia turun dari mobil tadi. 'Pak Baskoro, tolong catat kejadian hari ini. Saya ingin membatalkan semua hak waris yang melibatkan nama Mahesa dan saya ingin mengajukan gugatan cerai serta pelaporan atas dugaan penggelapan dana hari ini juga,' ucap Laksmi dengan suara lantang yang membuat seluruh pengunjung rumah makan menoleh.

Mahesa mencoba mengejar Laksmi ke parkiran, namun Laksmi sudah masuk ke dalam mobilnya dan mengunci pintu. Dari dalam kaca yang gelap, ia melihat Mahesa yang berlutut di aspal, memohon-mohon, sementara Anindya berdiri mematung di kejauhan dengan wajah hancur. Laksmi menginjak pedal gas dalam-dalam. Hatinya memang hancur berkeping-keping, namun ia tahu, ia tidak akan membiarkan mereka mengambil satu butir debu pun dari apa yang menjadi haknya. Perjalanan pulang ke Jakarta akan terasa sangat panjang, tapi bagi Laksmi, ini adalah perjalanan pertamanya menuju kebebasan yang sesungguhnya.

Malam itu, di sebuah hotel kecil di tengah kota Solo, Laksmi duduk sendirian menatap layar laptopnya. Ia mulai membedah semua mutasi rekening suaminya yang selama ini ia abaikan. Ternyata benar, pengkhianatan itu sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Ada banyak transaksi di butik mewah, hotel berbintang di luar kota, dan bahkan sebuah deposit untuk sebuah unit apartemen atas nama Anindya. Semakin ia melihat datanya, semakin dingin hati Laksmi. Ia tidak akan menangis lagi. Ia akan memastikan bahwa Mahesa dan Anindya mendapatkan balasan yang setimpal, bukan hanya kehilangan dirinya, tapi juga kehilangan harga diri mereka di mata hukum dan keluarga besar.

Keesokan harinya, Laksmi mengunggah sebuah foto di akun media sosialnya. Foto sebuah kunci rumah yang ia taruh di atas meja kayu tua, dengan caption singkat: 'Beberapa orang diciptakan sebagai saudara, tapi memilih bertindak sebagai pencuri. Beberapa orang berjanji sebagai pelindung, tapi bertindak sebagai pengkhianat. Terima kasih Solo, untuk notifikasi e-toll lima puluh ribu yang menyelamatkan hidupku.' Unggahan itu dalam sekejap menjadi viral, membuat Mahesa dan Anindya tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di balik topeng kesantunan mereka selama ini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url