Saldo Rekening Bayi Tabung Nol Rupiah, Jejak Stroller Mewah di Riwayat Belanja Suamiku Mengarah ke Pintu Rumah Sahabat Paling Terpercaya

Saldo Rekening Bayi Tabung Nol Rupiah, Jejak Stroller Mewah di Riwayat Belanja Suamiku Mengarah ke Pintu Rumah Sahabat Paling Terpercaya

Skandal & Pengkhianatan

Saldo Rekening Bayi Tabung Nol Rupiah, Jejak Stroller Mewah di Riwayat Belanja Suamiku Mengarah ke Pintu Rumah Sahabat Paling Terpercaya



'Kamu nggak lupa kan, Mas? Jadwal konsultasi dr. Binsar jam sepuluh pagi ini?' Suara Kinanti terdengar renyah, kontras dengan gemuruh di dadanya yang tiba-tiba muncul tanpa alasan. Dia sedang menata piring sarapan di meja makan marmer mereka yang dingin. Mahendra, suaminya yang selalu terlihat rapi dengan kemeja slim-fit warna charcaol, hanya mendehem pelan. Matanya tidak lepas dari layar ponsel, sebuah kebiasaan baru yang mulai Kinanti sadari sejak tiga bulan terakhir. 'Aku ada meeting mendadak sama klien dari Surabaya, Nan. Kamu pergi sendiri dulu ya? Nanti kabari aku apa kata dokternya,' jawab Mahendra tanpa sedikitpun menoleh. Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah jadwal bayi tabung yang sudah mereka nantikan selama tujuh tahun hanyalah sebuah janji temu servis mobil biasa.

Kinanti terdiam. Dia mematung memegang sendok nasi, merasakan sesuatu yang janggal mulai menggerogoti logika sehatnya. Bukan soal pembatalan sepihak itu yang menyakitkan, tapi getaran ponsel Mahendra yang tertinggal di atas meja saat pria itu bergegas ke kamar mandi untuk membilas sisa kopi yang tumpah di jarinya. Sebuah notifikasi muncul. Bukan pesan WhatsApp yang mencurigakan, bukan juga panggilan telepon dari nomor tanpa nama. Itu adalah notifikasi dari sebuah aplikasi marketplace oranye yang selama ini akunnya terhubung dengan email bersama mereka untuk keperluan belanja rumah tangga. 'Pesanan Selesai: Stroller Silver Cross Reef - Jet Black. Diterima oleh: Ibu Elora.'

Dunia seolah berhenti berputar. Elora? Nama itu menghantam ulu hati Kinanti seperti palu godam. Elora adalah sahabat karibnya sejak SMA, orang yang paling tahu betapa hancurnya Kinanti setiap kali hasil testpack-nya menunjukkan garis satu. Elora yang selalu memeluknya saat Kinanti menangis karena mertuanya mulai bertanya soal 'penerus'. Dan sekarang, Mahendra membeli sebuah stroller seharga tiga puluh juta rupiah untuk Elora? Kinanti dengan tangan gemetar membuka detail pesanan itu. Alamat pengirimannya bukan ke rumah mereka di Jakarta Selatan, melainkan sebuah klaster perumahan elit di wilayah Sentul, Bogor. Alamat yang sama sekali tidak pernah Kinanti ketahui sebelumnya.

Dengan napas yang mulai memburu, Kinanti meraih ponselnya sendiri, mengecek aplikasi m-banking mereka. Tabungan 'Masa Depan' yang mereka kumpulkan berdarah-darah untuk prosedur IVF (bayi tabung) bulan ini telah terkuras habis. Ada belasan transaksi mutasi keluar dalam jumlah besar selama dua bulan terakhir ke sebuah rekening yang tidak dia kenali, namun keterangan transaksinya selalu ditulis dengan kode-kode proyek kantor yang tampak normal. Air mata Kinanti tumpah, namun bukan air mata kesedihan yang lemah. Ini adalah air mata kemarahan yang membakar. Dia tidak meledak saat Mahendra keluar dari kamar mandi. Dia justru tersenyum tipis, menyimpan semua amarah itu di bawah permukaan, layaknya laut yang tenang sebelum tsunami menyapu daratan.

'Oh ya sudah kalau sibuk, Mas. Aku berangkat sendiri saja,' ucap Kinanti tenang, suaranya nyaris tidak bergetar. Mahendra tampak lega, dia mengecup kening Kinanti dengan rutinitas yang terasa sangat palsu sekarang. Begitu pintu depan tertutup dan suara mesin mobil Mahendra menjauh, Kinanti langsung mengambil kunci mobilnya sendiri. Dia tidak pergi ke rumah sakit. Dia memacu kendaraannya menuju Bogor, menyusuri jalan tol dengan kecepatan yang tidak masuk akal, hanya dipandu oleh alamat yang dia screenshot dari ponsel suaminya tadi.

Perjalanan satu jam itu terasa seperti seumur hidup. Kinanti mengenang kembali semua momen kebersamaan mereka bertiga. Bagaimana Elora sering datang ke rumah mereka, menginap, bahkan ikut berlibur bersama. Elora yang selalu bilang bahwa dia 'betah sendiri' dan belum ingin menikah lagi setelah perceraiannya dua tahun lalu. 'Aku tuh iri sama kalian, Kin. Harmonis banget,' kata-kata Elora terngiang-ngiang di telinga Kinanti, terdengar seperti ejekan yang sangat menjijikkan sekarang. Setibanya di klaster mewah di Sentul, Kinanti tidak kesulitan masuk. Satpam di depan langsung membukakan gerbang saat dia menyebutkan nomor rumah yang dimaksud, mengira dia adalah tamu dari sang pemilik rumah yang 'baik hati' itu.

Rumah itu bergaya minimalis modern dengan taman depan yang asri. Di terasnya, terparkir sebuah mobil SUV yang sangat Kinanti kenal. Itu adalah mobil operasional kantor Mahendra yang katanya sedang diservis di bengkel resmi. Kinanti mematikan mesin mobilnya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Dia melangkah menuju pintu utama yang terbuat dari kayu jati solid. Sebelum dia sempat mengetuk, pintu itu terbuka dari dalam. Seorang wanita dengan daster sutra berwarna pastel keluar sambil menggendong seorang bayi yang mungkin baru berusia tiga bulan. Wanita itu adalah Elora. Dia tampak lebih cantik, lebih segar, dan terlihat sangat bahagia.

'Kinanti?' Suara Elora tercekat. Wajahnya yang tadinya cerah seketika memucat, seperti seluruh darah di tubuhnya tersedot keluar. Dia mundur selangkah, mencoba menutup pintu, namun Kinanti lebih cepat. Dia menahan pintu itu dengan sebelah tangannya, kekuatannya muncul dari rasa sakit yang tak terlukiskan. 'Bagus ya rumahnya, Ra? Bagus juga stroller yang dibeliin Mas Mahendra pakai uang bayi tabungku,' desis Kinanti dengan nada yang sangat dingin hingga Elora gemetar hebat. Bayi di pelukannya mulai menangis, sebuah suara yang selama ini Kinanti impikan untuk ada di rumahnya sendiri, namun kini suara itu terdengar seperti lonceng kematian bagi pernikahannya.

'Kin, ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku bisa jelasin...' Elora mencoba bicara, namun suaranya hilang saat Mahendra muncul dari arah dapur dengan hanya mengenakan kaos dalam dan celana santai, membawa sebuah botol susu yang sudah hangat. Mahendra mematung di tempat. Botol susu di tangannya jatuh ke lantai, pecah, menyebarkan aroma susu formula ke seluruh ruangan. Suasana seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan tangisan bayi yang semakin kencang dan deru napas Kinanti yang penuh kebencian. Mahendra tidak bisa berkata apa-apa. Kebohongan yang dia bangun dengan sangat rapi selama hampir dua tahun ini runtuh hanya dalam hitungan detik karena sebuah notifikasi belanja online yang dia lupakan.

Kinanti melangkah masuk tanpa diundang. Dia melihat sekeliling rumah itu. Foto-foto di dinding bukan lagi foto pernikahan Kinanti dan Mahendra, melainkan foto Mahendra, Elora, dan bayi itu. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sempurna. Mahendra tampak begitu protektif memeluk Elora dalam foto tersebut, sebuah pelukan yang sudah lama tidak Kinanti rasakan. Kinanti merasa mual. Dia menatap bayi itu, yang memiliki garis rahang dan bentuk mata yang sangat mirip dengan Mahendra. Pengkhianatan ini bukan hanya soal perselingkuhan, tapi soal pencurian hidup. Mahendra telah mencuri mimpinya, mencuri uangnya, dan memberikan semua itu kepada orang yang dia anggap sebagai saudara.

'Jadi ini alasan kenapa kamu selalu bilang proyek di luar kota tiap akhir pekan?' tanya Kinanti, suaranya sekarang datar, tanpa emosi, yang justru membuatnya terasa lebih mengerikan bagi Mahendra. Mahendra mencoba mendekat, hendak menyentuh bahu Kinanti. 'Nan, maafin aku. Aku cuma pengen punya anak... Ibuku terus-terusan menekan aku, dan Elora... dia hadir di saat aku bener-bener kalut.' Alasan itu keluar dari mulut Mahendra seperti sampah yang busuk. Kinanti tertawa kecil, tawa yang penuh dengan luka. 'Kamu pengen punya anak? Kita sedang berusaha, Mahendra! Kita sudah bayar DP untuk bayi tabung bulan ini! Tapi kamu malah menghabiskan uang itu untuk membiayai wanita ini dan anak harammu?'

Elora menangis tersedu-sedu, memohon ampun sambil memeluk bayinya erat-erat. 'Aku nggak bermaksud nyakitin kamu, Kin. Kami saling mencintai.' Kata 'cinta' yang keluar dari mulut Elora membuat Kinanti ingin muntah. Kinanti mengambil ponselnya, dia tidak berteriak, dia tidak menjambak rambut Elora, dan dia tidak memukul Mahendra. Dia justru melakukan sesuatu yang jauh lebih tak terduga. Dia mulai memotret setiap sudut rumah itu, memotret foto-foto di dinding, memotret Mahendra yang tampak menyedihkan, dan memotret Elora yang sedang ketakutan. 'Apa yang kamu lakukan, Kin?' tanya Mahendra panik.

'Aku sedang mendokumentasikan investasi terbesarku, Mas. Karena rumah ini dibeli pakai uangku, atas nama perusahaan yang sebagian sahamnya milik ayahku, maka rumah ini akan segera kosong. Begitu juga dengan hidupmu,' jawab Kinanti tenang. Dia berbalik, berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Di dalam kepalanya, dia sudah menyusun rencana yang jauh lebih besar dari sekadar perceraian. Dia akan memastikan Mahendra kehilangan posisinya di perusahaan, dan dia akan memastikan Elora merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa sepeser pun uang haram yang selama ini dia nikmati. Kinanti masuk ke mobilnya, menghapus air matanya untuk terakhir kali, dan menginjak gas. Permainan baru saja dimulai, dan dia tidak akan berhenti sampai kedua orang itu merasakan dinginnya aspal jalanan tanpa tempat berteduh.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url