Suamiku Bilang Sedang Meeting di Singapura, Tapi Notifikasi 'Find My Device' Menunjukkan Dia Ada di Perumahan Elit Tempat Sahabatku Tinggal!

Suamiku Bilang Sedang Meeting di Singapura, Tapi Notifikasi 'Find My Device' Menunjukkan Dia Ada di Perumahan Elit Tempat Sahabatku Tinggal!

Skandal & Pengkhianatan

Suamiku Bilang Sedang Meeting di Singapura, Tapi Notifikasi 'Find My Device' Menunjukkan Dia Ada di Perumahan Elit Tempat Sahabatku Tinggal!



'Jangan lupa makan siang ya, Sayang. Jakarta lagi panas-panasnya, jangan sampai dehidrasi,' pesan singkat dari Ardhito masuk tepat pukul dua belas siang. Di bawah namanya, tertera label 'Roaming' yang menandakan dia benar-benar sedang berada di luar negeri. Setidaknya, itulah yang ingin dia percayai.

Kaluna menyesap es kopi susunya perlahan. Di depannya, layar iPad yang biasa digunakan Ardhito untuk bekerja di rumah tergeletak pasrah. Ardhito lupa membawanya dalam perjalanan dinas tiga hari ke Singapura. Sebagai istri yang tadinya menganggap privasi adalah fondasi kepercayaan, Kaluna tidak pernah menyentuh gawai itu. Namun, sore itu, sebuah notifikasi muncul. Bukan pesan singkat, melainkan peringatan dari aplikasi 'Find My Device' yang berbunyi: 'Your MacBook Pro is now at Home'.

Dahi Kaluna berkerut. 'Home'? Dia sedang berada di rumah mereka di Bintaro, dan MacBook Ardhito seharusnya berada di tas ransel suaminya di Marina Bay Sands. Rasa penasaran yang awalnya hanya percikan kecil, tiba-tiba tersulut menjadi api yang membara. Dengan tangan gemetar, dia membuka aplikasi tersebut. Peta digital itu membesar, menunjukkan sebuah titik biru yang berdenyut tenang. Lokasinya bukan di Singapura. Bukan pula di Bintaro. Titik itu berada di Cluster Akasia, sebuah perumahan mewah di Jakarta Timur yang jaraknya hampir dua jam dari posisi Kaluna saat ini.

Yang membuat jantung Kaluna seolah berhenti berdetak bukanlah fakta bahwa Ardhito berbohong soal Singapura. Melainkan fakta bahwa titik biru itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat dia kenal. Itu adalah rumah Sekar, sahabat karibnya sejak masa SMA yang baru saja bercerai setahun lalu. Kaluna merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dia mencoba mencari pembenaran. Mungkin Ardhito menitipkan laptopnya? Tapi untuk apa? Ardhito bilang dia berangkat dari kantor langsung ke bandara.

Kaluna tidak menangis. Belum. Dia justru merasakan ketenangan yang mengerikan, jenis ketenangan yang muncul sebelum badai besar menghancurkan segalanya. Dia menyambar kunci mobil, mengenakan kemeja linennya yang kusut, dan memacu kendaraannya menuju Jakarta Timur. Sepanjang perjalanan, otaknya memutar ulang setiap memori dalam dua tahun terakhir. Bagaimana Sekar selalu ada di setiap acara makan malam mereka. Bagaimana Sekar sering memuji Ardhito sebagai 'suami idaman'. Dan bagaimana Ardhito selalu membela Sekar setiap kali Kaluna merasa Sekar terlalu bergantung pada mereka.

Setibanya di depan gerbang Cluster Akasia, Kaluna tidak kesulitan masuk. Satpam mengenalnya karena dia memang sering berkunjung ke rumah Sekar. 'Eh, Ibu Kaluna. Mau ketemu Bu Sekar ya? Tadi ada tamu laki-laki juga baru masuk, mobilnya mirip punya Pak Ardhito,' ujar satpam itu dengan nada ramah yang tanpa sengaja menjadi sembilu bagi hati Kaluna. Kaluna hanya tersenyum tipis, senyum yang terasa seperti tarikan luka di wajahnya.

Mobil Ardhito, SUV hitam yang selalu dirawatnya dengan teliti, terparkir manis di garasi rumah Sekar. Tidak ada usaha untuk menyembunyikannya. Seolah-olah mereka sudah merasa sangat aman dalam kebohongan ini. Kaluna mematikan mesin mobilnya. Dia duduk di sana selama sepuluh menit, menatap pintu kayu jati yang tertutup rapat itu. Dia membayangkan apa yang terjadi di dalam. Apakah mereka sedang tertawa? Apakah Ardhito sedang memeluk Sekar dengan pelukan yang biasanya hanya menjadi miliknya?

Kaluna melangkah keluar. Kakinya terasa ringan, seolah dia tidak lagi menapak di bumi. Dia tidak mengetuk pintu. Dia tahu Sekar selalu menyimpan kunci cadangan di bawah pot bunga melati di teras. Benar saja, kunci itu ada di sana. Dingin dan berat. Dengan satu putaran lembut, pintu terbuka. Keheningan menyambutnya, namun aroma yang memenuhi ruangan itu sangat familiar. Itu adalah aroma parfum Ardhito yang bercampur dengan lilin aromaterapi vanila kesukaan Sekar.

Langkah Kaluna terhenti di ambang ruang tengah. Di sana, di atas sofa beludru yang dulu dia bantu pilihkan untuk Sekar, Ardhito sedang duduk santai dengan kaos oblong, memangku seorang balita laki-laki yang baru berusia sekitar satu tahun. Sekar ada di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Ardhito sambil menyuapi anak itu. Mereka terlihat seperti potret keluarga kecil yang sempurna. Terlalu sempurna sampai-sampai rasa sakit di dada Kaluna berubah menjadi tawa getir yang tertahan di tenggorokan.

'Ardhito, sepertinya kita harus beli mainan baru buat Elang,' suara Sekar terdengar begitu lembut, penuh kasih sayang yang belum pernah Kaluna dengar sebelumnya. 'Iya, nanti kalau aku balik dari 'Singapura' gadungan ini, kita mampir ke mal ya,' jawab Ardhito sambil mengecup kening Sekar. Elang. Nama anak itu Elang. Kaluna ingat Sekar bilang anak itu adalah hasil hubungannya dengan mantan suaminya sebelum mereka resmi berpisah. Tapi sekarang, melihat Elang dari dekat, Kaluna melihat garis rahang yang sama, hidung yang sama, dan sorot mata yang sama dengan laki-laki yang sudah dinikahinya selama tujuh tahun.

Kaluna sengaja menjatuhkan kunci mobilnya ke lantai marmer. Suara denting logam itu memecah kehangatan palsu di ruangan tersebut. Ardhito dan Sekar menoleh serentak. Wajah Ardhito berubah pucat pasi, seperti darah baru saja disedot habis dari tubuhnya. Sekar langsung berdiri, tangannya gemetar, hampir menjatuhkan mangkuk bubur yang dipegangnya.

'Kaluna... kamu... kenapa bisa di sini?' suara Ardhito tercekat. Dia mencoba berdiri, namun kakinya seolah tidak bertenaga. Dia tidak lagi terlihat seperti pengacara hebat yang disegani di pengadilan. Dia terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah di bawah lampu sorot.

'Singapura ternyata dekat ya, Mas? Cuma dua jam dari Bintaro kalau nggak macet,' Kaluna berujar datar. Suaranya tidak melengking, tidak ada teriakan histeris. Hanya ada kekosongan yang dalam. Dia berjalan mendekat, menatap anak kecil itu. Elang menatapnya dengan polos. Anak ini tidak berdosa, namun dia adalah monumen dari pengkhianatan paling kejam yang pernah Kaluna bayangkan.

Sekar mencoba mendekat, air mata mulai mengalir di pipinya. 'Luna, aku bisa jelasin... ini nggak seperti yang kamu lihat...' Kaluna mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Sekar diam. 'Jangan sebut namaku dengan mulut yang sama yang kamu gunakan untuk mencium suamiku, Sekar. Dan jangan sebut ini 'nggak seperti yang kulihat' ketika ada anak kecil yang wajahnya adalah fotokopi suamiku di depan mataku.'

Ardhito mencoba meraih tangan Kaluna, namun Kaluna menghindar dengan jijik. 'Selama ini aku pikir aku yang kurang, Mas. Aku pikir karena kita belum dikasih keturunan, kamu jadi sering kerja lembur. Ternyata kamu bukan kerja. Kamu lagi bikin 'cabang' di sini. Dan yang paling hebat, kamu melakukannya dengan orang yang aku anggap saudara sendiri.'

Kaluna berbalik, tidak sudi berlama-lama menghirup udara yang sama dengan mereka. Dia merasa mual. 'Simpan penjelasan kalian untuk pengadilan nanti. Dan Ardhito, jangan pulang ke rumah. Barang-barangmu sudah aku suruh orang kantor untuk dipindahkan ke gudang. Kamu bisa tinggal di sini sekarang, di rumah impian yang kamu bangun di atas air mataku.'

Dia melangkah keluar dengan kepala tegak, meskipun dunianya baru saja runtuh berkeping-keping. Di dalam mobil, barulah pertahanannya hancur. Kaluna menangis sejadi-jadinya, memukul kemudi mobil sampai tangannya memar. Dia tidak menangisi Ardhito. Dia menangisi dirinya sendiri yang begitu bodoh, yang begitu percaya pada kata 'selamanya'. Namun di tengah isak tangisnya, dia menyadari satu hal: dia lebih baik hancur karena kebenaran daripada hidup utuh di dalam kebohongan. Dan ini baru awal dari pembalasannya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url