Suamiku Bilang Tabungannya Habis untuk Cicilan Rumah, Tapi Mutasi Rekening Rahasianya Bicara Lain Soal Sosok Mentari
Tangan Galuh gemetar hebat saat layar ponsel di genggamannya menunjukkan deretan angka yang tidak masuk akal. Di sana, di dalam aplikasi mobile banking milik Dananjaya yang terbuka tanpa sengaja karena pria itu lupa mengunci ponselnya saat masuk ke kamar mandi, tertera sebuah transaksi rutin setiap bulan. Bukan untuk cicilan mobil, bukan pula untuk asuransi orang tua mereka. 'Autodebet: Tabungan Pendidikan Mentari'.
Mentari. Nama itu asing, namun terasa seperti sembilu yang menyayat ulu hati Galuh. Selama delapan tahun pernikahan mereka, Dananjaya selalu mengeluh tentang betapa ketatnya keuangan mereka. Setiap kali Galuh membahas tentang program bayi tabung atau sekadar ingin berlibur ke Bali, Dananjaya selalu punya alasan yang sama: 'Sabar ya, Sayang. Kita harus hemat untuk masa depan rumah kita sendiri.' Namun ternyata, di balik topeng kesederhanaan itu, Dananjaya membangun masa depan untuk seseorang yang bahkan namanya tidak pernah disebut dalam doa-doa mereka.
Galuh mencoba menarik napas dalam-dalam, namun paru-parunya terasa menyempit. Ia teringat bagaimana Dananjaya selalu pulang terlambat setiap hari Selasa dengan alasan rapat koordinasi. Ia teringat bagaimana suaminya itu begitu protektif terhadap tas kerjanya. Semua kepingan puzzle yang tadinya berantakan, kini mulai menyatu membentuk gambaran yang mengerikan. Galuh bukan satu-satunya prioritas di hidup Dananjaya. Ada 'Mentari' yang jauh lebih penting hingga mendapatkan jatah bulanan yang besarnya separuh dari gaji Dananjaya.
Pintu kamar mandi berderit terbuka. Dananjaya keluar dengan handuk melilit pinggang, wajahnya tampak segar dan tanpa beban. Ia tersenyum tipis melihat Galuh yang duduk di tepi ranjang. Namun senyum itu perlahan memudar saat matanya menangkap ponsel yang berada di tangan istrinya. Suasana kamar yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sedingin es. Keheningan yang tercipta di antara mereka begitu pekat, seolah-olah suara detak jantung Galuh bisa terdengar hingga ke ujung ruangan.
'Mas, siapa Mentari?' Suara Galuh nyaris berbisik, namun getarannya mengandung amarah yang tertahan. Dananjaya terdiam. Ia tidak mencoba merebut ponselnya, tidak pula berteriak. Ia hanya berdiri di sana, mematung dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, namun ada juga sesuatu yang tampak seperti kelegaan yang aneh di matanya. 'Galuh, aku bisa jelaskan,' jawabnya lirih, sebuah kalimat klise yang selalu mengawali kehancuran sebuah hubungan.
'Jelaskan apa? Bahwa selama delapan tahun aku berhemat, makan seadanya, dan menunda punya anak karena kamu bilang kita belum mampu, ternyata kamu membiayai anak orang lain?' Galuh bangkit berdiri, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. 'Atau jangan-jangan... itu anak kamu, Mas? Jawab aku!'
Dananjaya melangkah mendekat, namun Galuh mundur dengan jijik. 'Dia bukan anakku dari perempuan lain, Galuh. Demi Allah, aku tidak pernah selingkuh.' Kalimat itu seharusnya menenangkan, namun bagi Galuh, ketidakjujuran tetaplah pengkhianatan, apa pun bentuknya. 'Lalu siapa? Kenapa namanya ada di rekening rahasiamu? Kenapa kamu menyembunyikan ini dariku selama bertahun-tahun?'
Dananjaya menghela napas panjang, ia duduk di kursi rias, menundukkan kepala sedalam-dalamnya. 'Mentari adalah anak almarhum kakakku. Kamu tahu Kak Baskara meninggal karena kecelakaan sepuluh tahun lalu, kan? Tapi yang tidak kamu tahu, dia meninggalkan seorang anak di luar nikah. Ibu anak itu pergi entah ke mana setelah melahirkan. Hanya aku yang tahu keberadaannya. Aku berjanji pada almarhum untuk menjaganya, membesarkannya tanpa ada yang tahu, termasuk Ibu dan kamu.'
Galuh tertegun. Cerita itu terdengar seperti plot film drama yang picisan, namun sorot mata Dananjaya menunjukkan kebenaran yang pahit. 'Kenapa harus rahasia, Mas? Aku istrimu. Kita bisa membesarkannya bersama. Kenapa kamu membiarkan aku merasa bersalah setiap kali ingin membeli baju baru karena takut membebani keuanganmu, sementara kamu punya beban lain yang kamu tanggung sendiri?'
'Karena aku takut kamu akan meninggalkanku kalau tahu aku punya 'tanggungan' seperti itu sebelum kita menikah,' suara Dananjaya pecah. 'Aku tahu kamu mendambakan pernikahan yang sempurna tanpa drama keluarga. Aku egois, aku ingin memilikimu tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Mentari. Dia sekarang sudah kelas satu SD, Galuh. Dia mirip sekali dengan Kak Baskara.'
Hati Galuh terasa remuk. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: kenyataan bahwa suaminya memiliki keponakan rahasia, atau kenyataan bahwa Dananjaya tidak cukup mempercayainya selama hampir satu dekade. Kepercayaan yang ia bangun dengan susah payah, kini runtuh dalam satu malam hanya karena sebuah mutasi rekening. Galuh memandang suaminya yang masih tertunduk, pria yang ia anggap sebagai pelindungnya ternyata adalah orang asing yang menyimpan ribuan rahasia di bawah bantal mereka.
'Antar aku menemuinya,' ucap Galuh tegas. Ia harus melihat dengan matanya sendiri. Ia harus tahu siapa Mentari yang telah merampas kejujuran dalam rumah tangganya. Dananjaya mendongak, wajahnya pucat. 'Galuh, jangan sekarang. Dia sedang di panti asuhan, dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dia hanya tahu aku adalah 'Paman Baik' yang sesekali berkunjung.'
'Sekarang, Dananjaya! Atau aku pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah kembali lagi,' ancam Galuh. Tanpa banyak bicara, Dananjaya akhirnya mengangguk. Mereka berangkat menembus dinginnya malam Jakarta. Perjalanan itu terasa sangat panjang. Galuh menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalanan yang kabur oleh air matanya. Ia bertanya-tanya, apakah setelah malam ini, rumah mereka akan tetap menjadi rumah, atau hanya sekadar bangunan penuh kebohongan.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan sederhana dengan cat tembok yang sudah mengelupas di beberapa sisi. Sebuah panti asuhan di pinggiran kota. Dananjaya membimbing Galuh masuk ke dalam. Di sana, di sebuah ruang tengah yang hanya beralaskan tikar, seorang anak perempuan kecil sedang tertidur pulas dengan buku gambar di pelukannya. Wajahnya begitu damai, begitu polos.
Galuh mendekat, ia berlutut di samping anak itu. Wajahnya memang mirip dengan foto almarhum Baskara yang pernah ia lihat di rumah mertuanya. Namun, saat Galuh melihat lebih dekat ke arah buku gambar yang didekap anak itu, dunianya benar-benar berhenti berputar. Di halaman depan buku itu, tertulis nama lengkap sang anak dengan tulisan tangan anak-anak yang belum rapi: 'Mentari Dananjaya'.
Nama belakang itu... Dananjaya. Bukan Baskara. Galuh menoleh ke arah suaminya dengan tatapan yang mematikan. 'Kamu bilang dia anak kakakmu? Lalu kenapa dia memakai namamu sebagai nama ayahnya di sekolah? Dan kenapa di foto ini...' Galuh menarik sebuah foto yang terselip di buku itu. Foto Dananjaya sedang menggendong Mentari bayi, dan di sampingnya ada seorang wanita yang sangat Galuh kenal. Wanita itu adalah sahabat baik Galuh sendiri yang menghilang tanpa kabar tujuh tahun lalu.
Napas Galuh memburu. Ini bukan sekadar tentang amanah kakak yang sudah meninggal. Ini adalah pengkhianatan berlapis yang direncanakan dengan sangat rapi. Dananjaya bersimpuh di kaki Galuh, mencoba meraih tangannya, namun Galuh menepisnya dengan kasar. 'Siapa Mentari sebenarnya, Dananjaya? Katakan yang jujur sebelum aku melakukan hal yang akan kita sesali seumur hidup!'
Di bawah temaram lampu panti asuhan, rahasia terdalam Dananjaya akhirnya terkuak, dan itu jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan oleh Galuh. Ternyata, Mentari bukan sekadar anak keponakan. Mentari adalah bukti hidup dari sebuah malam yang seharusnya tidak pernah terjadi, melibatkan orang-orang terdekat Galuh. Dan yang paling menyakitkan, semua orang di sekitar Galuh seolah telah sepakat untuk menjadikannya orang bodoh selama delapan tahun ini.