Suamiku Membayar Premi Asuransi Jiwa Atas Namaku Tapi Nama Penerima Warisannya Adalah Wanita yang Aku Kenal

Suamiku Membayar Premi Asuransi Jiwa Atas Namaku Tapi Nama Penerima Warisannya Adalah Wanita yang Aku Kenal

Skandal & Pengkhianatan

Suamiku Membayar Premi Asuransi Jiwa Atas Namaku Tapi Nama Penerima Warisannya Adalah Wanita yang Aku Kenal



'Mas, kamu lupa bawa kunci mobil kamu di atas meja makan,' ucapku lirih, menatap punggung Elang yang sedang terburu-buru merapikan dasinya di depan cermin besar ruang tamu. Pagi itu terasa seperti pagi-pagi biasanya di kediaman kami di kawasan BSD yang asri. Wangi roti panggang dan kopi Arabika masih menggantung di udara, menciptakan ilusi kebahagiaan yang sempurna. Elang berbalik, tersenyum tipis, lalu mengecup keningku singkat. Senyum itu, yang dulu membuatku jatuh cinta setengah mati di kantin kampus Universitas Indonesia sepuluh tahun lalu, kini entah mengapa terasa sedikit lebih dingin. Seperti ada lapisan es tipis yang menghalangi kehangatannya mencapai hatiku.

Setelah Elang berangkat dengan deru mesin SUV hitamnya, aku berniat merapikan ruang kerjanya yang berantakan. Sebagai seorang arsitek ternama, Elang memang punya kebiasaan meninggalkan sketsa dan dokumen berserakan. Namun, saat aku menggeser tumpukan cetak biru untuk membersihkan debu di meja kayu mahoninya, sebuah amplop cokelat besar terjatuh dari selipan laci yang tidak tertutup rapat. Amplop itu bertanda resmi dari sebuah perusahaan asuransi jiwa internasional. Rasa penasaran yang liar membuncah di dadaku. Bukankah kami sudah punya asuransi keluarga yang diurus bersama?

Tanganku gemetar saat merobek segelnya. Di dalamnya terdapat polis asuransi jiwa atas namaku, Sekar Anindita, dengan nilai pertanggungan yang sangat fantastis—sepuluh miliar rupiah. Jantungku berdegup kencang. Mengapa Elang membuatkan asuransi sebesar ini tanpa memberitahuku? Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai. Mataku terpaku pada kolom 'Penerima Manfaat atau Ahli Waris'. Di sana, bukan nama Elang yang tertulis, bukan pula nama anak kami yang belum hadir. Nama itu tertulis dengan jelas, tegas, dan dingin: Widuri Pramesti.

Lututku lemas. Aku terduduk di lantai yang dingin. Widuri adalah sahabat karibku sejak SMA. Dia adalah orang yang memegang tanganku saat aku kehilangan ibuku dua tahun lalu. Dia adalah orang yang selalu ada di setiap perayaan ulang tahun pernikahan kami. Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi kepalaku. Mengapa Elang ingin Widuri menerima sepuluh miliar rupiah jika terjadi sesuatu padaku? Apakah cintaku selama ini hanya sebuah proyek investasi yang menunggu masa jatuh tempo?

Aku tidak menangis. Belum. Ada rasa mual yang hebat merayap naik ke tenggorokanku. Aku teringat kembali kejadian sebulan lalu saat kami bertiga makan malam di sebuah restoran mewah di Senopati. Widuri mengenakan bros berlian yang sangat indah, dan dia bilang itu adalah hadiah dari 'seseorang yang spesial'. Saat itu aku ikut bahagia, bahkan menggoda Widuri agar segera mengenalkan pria itu padaku. Sekarang, potongan-potongan puzzle itu mulai menyatu dengan cara yang sangat menyakitkan. Aku teringat bagaimana Elang selalu tahu jadwal yoga Widuri, atau bagaimana Widuri tiba-tiba punya selera parfum yang sama dengan yang sering dibelikan Elang untukku.

Aku harus memastikan ini. Aku tidak bisa hanya diam dan membusuk dalam kecurigaan. Aku mengambil ponselku, jariku menari di atas layar, membuka aplikasi M-Banking milik Elang yang untungnya sandinya masih tanggal lahir pernikahan kami—sesuatu yang kini terasa seperti ironi paling pahit. Aku memeriksa mutasi rekeningnya untuk tiga bulan terakhir. Mataku membelalak melihat rentetan transaksi di jam-jam ganjil. Pembayaran tagihan listrik di sebuah apartemen di kawasan Kuningan. Apartemen itu bukan milik kami. Dan yang paling menghancurkan, ada transaksi rutin setiap tanggal 15 dengan keterangan 'Biaya Program Bayi Tabung'.

Duniaku seolah runtuh. Kami sudah menikah delapan tahun dan aku divonis sulit memiliki keturunan karena endometriosis yang parah. Elang selalu bilang bahwa dia tidak keberatan, bahwa hidup berdua denganku sudah cukup. Tapi di sini, di layar ponsel yang dingin ini, ada bukti nyata bahwa dia sedang membangun masa depan dengan wanita lain, menggunakan rahim wanita lain, dan mungkin... sedang merencanakan ketiadaanku untuk membiayai semua itu dengan uang asuransi jiwaku sendiri.

Aku mendengar suara gerbang terbuka. Elang kembali. Mungkin dia tersadar kunci mobilnya tertinggal atau ada dokumen yang lupa diambil. Aku dengan cepat memasukkan kembali polis itu ke dalam amplop dan menyelipkannya ke tempat semula. Aku berdiri, menyeka keringat dingin di dahiku, dan berjalan menuju pintu ruang kerja dengan jantung yang masih berpacu gila. Saat Elang muncul di ambang pintu, dia tampak sedikit terkejut melihatku berada di ruang kerjanya.

'Sekar? Sedang apa kamu di sini?' tanyanya dengan nada suara yang berusaha terdengar biasa saja, tapi matanya dengan cepat memindai meja kerjanya. Dia mencari amplop itu. Dia takut aku sudah melihatnya. Aku tersenyum, senyuman paling palsu yang pernah kubuat sepanjang hidupku. Senyuman yang mungkin akan membuat aktris pemenang Oscar sekalipun merasa minder.

'Hanya merapikan sedikit, Mas. Oh iya, Widuri baru saja menelepon, katanya dia mau mampir sore ini untuk mengantar kue hantaran. Kamu ada di rumah kan sore nanti?' tanyaku, memperhatikan setiap perubahan mikro di wajahnya. Ada kilatan kepanikan di matanya yang hanya muncul selama sepersekian detik sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. Dia tidak tahu bahwa aku baru saja memasang perangkap. Dia tidak tahu bahwa istrinya yang selama ini dia anggap lugu, kini sedang merencanakan sebuah pembalasan yang akan menghancurkan hidupnya dan Widuri berkeping-keping.

Hari itu, aku belajar satu hal: pengkhianatan paling kejam bukanlah saat seseorang pergi meninggalkanmu, tapi saat mereka tinggal di sampingmu, mencium keningmu setiap pagi, sambil perlahan-lahan menggali liang lahat untukmu. Widuri akan datang sore ini, dan aku sudah menyiapkan 'hadiah' spesial untuk sahabat terbaikku itu. Sebuah kejutan yang tidak melibatkan berlian, melainkan kebenaran yang akan membakar semua jembatan yang pernah mereka bangun di belakang punggungku.

Aku berjalan ke dapur, mengambil pisau pemotong daging yang baru diasah. Bukan, aku tidak akan menggunakannya untuk kekerasan. Aku hanya butuh sesuatu yang tajam untuk memotong kue hantaran Widuri nanti, sekaligus sebagai simbol bahwa hubungan kami sudah resmi terputus. Aku akan bermain cantik. Aku akan menjadi sutradara dalam skenario penghancuran mereka sendiri. Karena jika Elang menginginkan kematianku untuk mendapatkan sepuluh miliar itu, maka aku akan memastikan bahwa dialah yang akan kehilangan segalanya sebelum napas terakhirku benar-benar berhenti.

Sore itu tiba lebih cepat dari yang kubayangkan. Widuri datang dengan dress floral yang tampak sangat manis, membawa sekotak croissant mahal. Elang duduk di sofa ruang tamu, tampak gelisah. Aku menyambut Widuri dengan pelukan hangat—pelukan yang mungkin terasa seperti lilitan ular piton jika dia bisa merasakan niat di balik lenganku. Kami duduk di meja makan, suasana terasa canggung bagi mereka, tapi sangat tenang bagiku. Aku mengambil amplop cokelat dari laci kerja Elang yang tadi sempat kuambil diam-diam dan meletakkannya di tengah meja, di samping kotak croissant itu.

'Eh, ini apa Sekar?' tanya Widuri dengan suara lembutnya yang selama ini selalu kudengar sebagai nyanyian malaikat, tapi sekarang terdengar seperti desisan iblis. Elang langsung berdiri, wajahnya pucat pasi. 'Sekar, jangan...' suaranya bergetar, memohon. Aku membuka amplop itu perlahan, mengeluarkan polis asuransi tersebut, dan mengarahkannya ke depan wajah Widuri. 'Ini kado dariku untuk persahabatan kita, Wid. Elang sudah menyiapkan segalanya untukmu, bahkan nilai nyawaku pun sudah dia taksir harganya. Tapi ada satu hal yang lupa kalian cek di klausul kecil di halaman belakang...'

Aku melihat tangan Widuri mulai gemetar saat dia membaca dokumen itu. Elang hanya bisa mematung, seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah disedot keluar. Kebenaran yang aku temukan di halaman terakhir polis itu jauh lebih mengerikan dari sekadar pengkhianatan cinta. Ini bukan hanya soal uang asuransi, ini soal bagaimana mereka sebenarnya sudah saling mengenal jauh sebelum aku bertemu Elang. Dan ada sebuah rahasia besar tentang kematian orang tuaku yang ternyata melibatkan keluarga Widuri. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos tanpa luka yang permanen.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url