Tagihan AC Apartemen Misterius Ini Membongkar Sisi Gelap Suamiku yang Paling Rapi Disembunyikan
Tangan Larasati gemetar saat ujung jemarinya menyentuh permukaan layar ponsel Dananjaya yang masih menyala di atas meja marmer. Di tengah riuh rendah gelak tawa teman-teman arisannya di cafe kelas atas kawasan Senopati, suara denting notifikasi itu terasa seperti hantaman palu godam di dadanya. Sebuah pesan dari aplikasi layanan rumah tangga digital, HomeCare, muncul tanpa permisi: 'Jadwal Servis AC Rutin untuk Unit 12B, Menteng Park Residence akan dilaksanakan besok pukul 10.00. Pastikan ada orang di lokasi.'
Larasati menarik napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya yang mendadak liar. Menteng Park Residence? Mereka tidak memiliki aset di sana. Rumah mereka yang megah di Lebak Bulus sudah cukup menyita biaya perawatan bulanan, dan Dananjaya tidak pernah sekali pun menyebutkan soal investasi properti di pusat kota. Dananjaya, suaminya yang dikenal sebagai arsitek perfeksionis dengan citra keluarga harmonis, saat ini sedang berada di toilet, meninggalkan ponselnya begitu saja karena merasa aman. Keamanan yang dibangun di atas fondasi kebohongan yang rapi.
Dengan gerakan cepat namun waspada, Larasati mencoba mengintip lebih dalam. Beruntung, Dananjaya belum sempat mengubah kata sandi yang merupakan tanggal pernikahan mereka—sebuah ironi yang menyakitkan. Di dalam aplikasi itu, Larasati menemukan riwayat pemesanan yang panjang. Bukan hanya servis AC. Ada pembersihan tungau kasur setiap dua bulan sekali, jasa laundry gordyn, hingga pengiriman air mineral galon secara rutin ke unit yang sama. Semua pembayaran dilakukan menggunakan kartu kredit atas nama Dananjaya, namun nomor kontak penerima di lokasi tertulis dengan nama yang asing: 'Aru'.
Siapa Aru? Nama itu tidak pernah ada dalam daftar relasi bisnis suaminya. Larasati merasa dunianya yang selama ini terlihat simetris dan indah tiba-tiba miring. Ia teringat enam bulan terakhir ini Dananjaya sering mengeluh tentang proyek luar kota yang melelahkan. Proyek di Surabaya, di Bali, di Medan. Namun, mutasi kartu kredit yang baru saja ia periksa secara sekilas melalui email yang juga terbuka di ponsel itu menunjukkan transaksi harian di supermarket dekat Menteng Park. Suaminya tidak pernah ke luar kota. Ia hanya pindah ke 'kota' lain yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah mereka.
Hening yang mencekik menyergap Larasati ketika Dananjaya kembali ke meja dengan senyum lebarnya yang biasa. 'Maaf ya, Sayang, agak lama. Tadi ada telepon sebentar dari klien,' ucapnya sembari meraih ponsel dan memasukkannya ke saku jas tanpa curiga. Larasati hanya bisa tersenyum kaku, memaksakan diri untuk menyeruput teh earl grey yang kini rasanya sepahit empedu. Di matanya, sosok pria yang telah menemaninya selama delapan tahun itu tiba-tiba berubah menjadi orang asing yang mengerikan.
Malam itu, di rumah mereka yang sunyi, Larasati tidak bisa memejamkan mata. Ia memandangi punggung Dananjaya yang tertidur pulas di sampingnya. Pria itu tampak begitu tenang, seolah tidak ada beban dosa yang menghimpit pundaknya. Larasati mulai merangkai kepingan-kepingan memori yang selama ini ia abaikan. Wangi parfum wanita yang samar di kerah kemeja yang ia anggap sebagai sisa bau di lift kantor. Kemeja baru yang tidak pernah ia belikan namun tiba-tiba ada di lemari. Dan yang paling menyakitkan adalah frekuensi kemesraan mereka yang justru meningkat, seolah Dananjaya sedang menutupi rasa bersalahnya dengan afeksi yang berlebihan.
Keesokan harinya, Larasati memutuskan untuk tidak pergi ke butik miliknya. Dengan mengenakan kacamata hitam besar dan syal yang menutupi sebagian wajahnya, ia memesan taksi online menuju Menteng Park Residence. Jantungnya berdegup kencang saat ia melangkah masuk ke lobi apartemen yang mewah itu. Ia menunggu di sebuah sudut tersembunyi dekat lift, tepat sebelum pukul sepuluh pagi. Benar saja, petugas servis AC berseragam biru masuk ke dalam lift setelah melapor di resepsionis. Larasati mengikuti dengan lift berikutnya, jantungnya serasa ingin melompat keluar saat angka digital di atas pintu lift berhenti di lantai 12.
Larasati mengintip dari balik pilar koridor. Petugas itu mengetuk pintu unit 12B. Pintu terbuka. Seorang wanita muda dengan daster satin tipis menyambutnya dengan ramah. Wajahnya cantik, sangat muda, mungkin baru awal dua puluhan. Dan yang membuat Larasati hampir jatuh terduduk adalah sebuah gantungan kunci yang tergantung di pintu itu: sebuah miniatur Menara Eiffel yang sama persis dengan yang dibeli Dananjaya saat perjalanan dinas 'palsu' ke Paris tahun lalu.
Wanita itu, 'Aru' atau mungkin Aruna, tampak begitu nyaman di sana. Larasati merasakan gelombang kemarahan yang panas membakar dadanya, namun ia menahan diri. Ia tidak ingin melakukan drama murahan di lorong apartemen. Ia butuh lebih dari sekadar melihat. Ia butuh bukti yang tidak bisa dibantah. Larasati mengeluarkan ponselnya, mengambil foto wanita itu secara diam-diam. Saat itulah, pintu unit 12B kembali terbuka sedikit lebih lebar, dan dari dalam terdengar suara tangisan bayi yang kencang.
Larasati membeku. Bayi? Pengkhianatan ini bukan sekadar perselingkuhan biasa. Ini adalah sebuah kehidupan kedua yang lengkap. Napasnya tersengal. Ia mundur perlahan, air mata mulai mengalir membasahi pipinya di balik kacamata hitam itu. Ia keluar dari gedung apartemen dengan langkah gontai, merasa seolah seluruh tulang di tubuhnya telah dilolosi. Di dalam taksi menuju rumah, ia terus memikirkan bagaimana mungkin Dananjaya sanggup membagi kasih, waktu, dan uangnya dengan begitu presisi tanpa ia sadari selama ini.
Sesampainya di rumah, Larasati tidak langsung masuk. Ia duduk di taman belakang, memandangi kolam renang yang airnya tenang. Ia mulai menyusun rencana. Ia bukan wanita yang akan hancur begitu saja karena seorang pria. Ia memiliki martabat, ia memiliki harga diri, dan ia memiliki bukti. Larasati menghubungi pengacaranya, Dananjaya harus membayar setiap detik kebohongan ini. Namun, sebuah pikiran jahat melintas di benaknya: menghancurkan Dananjaya secara finansial mungkin terlalu mudah. Ia ingin pria itu merasakan kehilangan yang sesungguhnya.
Sore harinya, Dananjaya pulang dengan wajah ceria seperti biasanya. Ia membawa sebungkus martabak kesukaan Larasati. 'Sayang, tebak aku bawa apa? Martabak manis spesial!' serunya dari ruang tengah. Larasati muncul dari arah dapur, wajahnya datar tanpa emosi. Ia menaruh sebuah amplop cokelat di atas meja makan. 'Aku juga punya sesuatu yang spesial untukmu, Danan,' ucap Larasati dingin.
Dananjaya mengernyitkan dahi, membuka amplop itu dengan santai. Namun, seketika wajahnya pucat pasi. Di dalamnya bukan surat cerai, melainkan foto-foto unit 12B, foto Aruna, dan sebuah dokumen hasil cetak mutasi rekening yang menyoroti setiap rupiah yang ia keluarkan untuk 'keluarga' rahasianya. 'Laras... ini... aku bisa jelaskan,' suara Dananjaya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba meraih tangan Larasati, namun wanita itu menghindar dengan jijik.
'Jelaskan apa, Danan? Tentang bagaimana kamu membiayai apartemen mewah itu sementara kamu bilang kita harus berhemat untuk renovasi rumah ini? Atau tentang bayi yang menangis di dalam sana? Apakah itu anakmu?' tanya Larasati dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan. Dananjaya terdiam, kepalanya tertunduk lesu. Keangkuhannya runtuh seketika.
'Dia tidak punya siapa-siapa, Laras. Aruna itu anak dari mendiang teman kantorku yang dulu menolongku saat aku hampir bangkrut. Aku hanya ingin menjaganya,' dalih Dananjaya, sebuah kebohongan yang sangat klise di telinga Larasati. Larasati tertawa sinis, tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. 'Menjaga? Sampai membelikannya daster satin dan tidur di sana setiap kali kamu bilang sedang di luar kota? Jangan hina kecerdasanku, Danan.'
Pertengkaran itu berlangsung hingga larut malam, namun bagi Larasati, semuanya sudah selesai sejak ia melihat notifikasi servis AC itu. Ia tidak butuh penjelasan. Ia hanya butuh kepastian bahwa Dananjaya akan kehilangan segalanya—termasuk hak atas rumah ini dan reputasinya sebagai arsitek terhormat. Larasati telah menyiapkan langkah-langkah hukum yang akan menyeret Dananjaya ke titik terendah dalam hidupnya. Namun, di tengah kemarahan itu, Larasati merasa ada kekosongan yang sangat besar. Delapan tahun hidupnya ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara yang ia sutradarai sendiri tanpa tahu bahwa aktor utamanya sedang bermain di film lain.
Beberapa hari kemudian, Larasati memutuskan untuk menemui Aruna. Ia ingin tahu siapa sebenarnya wanita yang telah merusak mimpinya. Tanpa sepengetahuan Dananjaya, ia kembali ke unit 12B. Saat pintu terbuka, Aruna tampak terkejut melihat Larasati. Namun, yang mengejutkan Larasati bukanlah kecantikan wanita itu, melainkan kesedihan yang terpancar dari matanya. 'Saya tahu Anda akan datang,' ucap Aruna pelan. Ia mempersilakan Larasati masuk ke dalam apartemen yang didekorasi dengan gaya minimalis, persis seperti selera Dananjaya.
Di dalam apartemen itu, tidak ada foto Dananjaya. Yang ada hanya foto Aruna dengan seorang bayi laki-laki. Aruna kemudian menceritakan sebuah kebenaran yang jauh lebih gelap. Dananjaya tidak pernah mencintainya. Aruna hanyalah pion dalam sebuah permainan kekuasaan dan balas dendam masa lalu antara keluarga Dananjaya dan ayah Aruna. Dananjaya menahan Aruna di sana, memberikan semua kemewahan itu sebagai bentuk 'penjara' agar Aruna tidak pernah membongkar skandal korupsi yang dilakukan ayah Dananjaya bertahun-tahun lalu. Bayi itu? Bukan anak Dananjaya, melainkan anak dari kekasih Aruna yang dipaksa Dananjaya untuk pergi.
Larasati terhenyak. Pengkhianatan ini ternyata jauh lebih dalam dan rumit daripada sekadar urusan ranjang. Dananjaya bukan hanya seorang pezina, ia adalah seorang manipulator yang kejam. Larasati menatap Aruna, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan kebencian. Ia merasakan solidaritas antara sesama korban. 'Kita harus mengakhiri ini bersama,' bisik Larasati. Sebuah aliansi tak terduga terbentuk di antara dua wanita yang seharusnya bermusuhan. Mereka mulai mengumpulkan semua bukti korupsi dan manipulasi yang selama ini disembunyikan Dananjaya di brankas tersembunyi di unit itu.
Kehidupan Dananjaya yang sempurna mulai retak dari dua arah sekaligus. Ia tidak tahu bahwa istri sah dan 'simpanan' yang ia anggap tak berdaya kini sedang merancang kejatuhannya. Dananjaya masih terus bersandiwara, mencoba meminta maaf pada Larasati dengan bunga dan perhiasan, sementara di sisi lain ia tetap mengontrol Aruna dengan ancaman. Namun, waktu baginya sudah hampir habis. Larasati dan Aruna telah menyerahkan semua bukti ke pihak berwajib dan media massa secara anonim.
Puncak drama itu terjadi saat Dananjaya sedang memberikan pidato dalam sebuah gala penghargaan arsitek terbaik tahun ini. Di tengah gemerlap lampu kristal dan tepuk tangan meriah, layar besar di belakang panggung yang seharusnya menampilkan karya-karyanya tiba-tiba berubah. Foto-foto dokumen korupsi, bukti transfer apartemen, dan rekaman suara Dananjaya yang sedang mengancam Aruna terpampang nyata di depan ratusan kolega dan wartawan. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya suara rekaman Dananjaya yang menggema, membongkar sosok aslinya yang monster.
Larasati berdiri di barisan depan, menatap suaminya dengan tatapan paling dingin yang pernah ia berikan. Dananjaya terpaku di atas panggung, wajahnya pucat seputih kertas. Ia menatap Larasati, mencoba mencari setitik belas kasihan, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan. Larasati berbalik badan, melangkah keluar dari gedung itu tanpa menoleh sedikit pun. Ia meninggalkan semua kemewahan palsu itu di belakangnya. Aruna sudah menunggunya di luar dengan bayi dalam dekapannya. Mereka bebas. Pengkhianatan itu memang menghancurkan hati Larasati, namun dari reruntuhan itu, ia membangun kekuatan baru yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun lagi.