Bayangan Aroma Anggrek di Balik Jaketnya

Bayangan Aroma Anggrek di Balik Jaketnya

BAYANGAN AROMA ANGGREK DI BALIK JAKETNYA



Langit di luar jendela dapur telah meredup menjadi ungu kehitaman, namun di dalam sini, sepasang mataku masih terpaku pada jam dinding bermotif batik yang menggantung tenang. Pukul delapan lewat sepuluh menit. Lagi. Desir suara pisau yang memotong paprika, seolah ikut mengukir retakan senyap di jantungku. Rutinitas makan malam yang dulu selalu hangat, kini terasa seperti medan perang dingin, di mana setiap detik adalah penantian, setiap keheningan adalah peluru yang tersembunyi.

Aku, Nara, menarik napas dalam, mencoba menenggelamkan gumpalan sesak yang selalu muncul setiap kali Arga terlambat pulang. Ini bukan tentang lapar, bukan tentang dinginnya makanan yang tersaji. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental, lebih rapuh. Kehadiran. Kehadiran yang kini terasa seperti bayangan, sekelebat aroma yang sulit kuidentifikasi di antara tumpukan dokumen kerjanya, atau sentuhan dingin di sisi ranjang di pagi hari.

Lampu gantung di atas meja makan memancarkan cahaya kuning keemasan, memantul pada piring-piring keramik yang sengaja kupilihkan sesuai selera Arga. Ayam panggang madu kesukaannya, tumis asparagus yang renyah, dan semangkuk nasi hangat. Semuanya sempurna, seperti sketsa pernikahan impian yang kami rajut tujuh tahun lalu. Namun, kini, aku merasa seperti seniman yang mencoba menyelesaikan lukisan dengan palet warna yang sudah mengering, menyisakan guratan-guratan hampa.

Suara detak jam dinding itu terdengar semakin keras, bergaung di keheningan rumah kami yang terlalu besar untuk dihuni dua orang dewasa yang kini lebih sering berkomunikasi lewat pesan teks singkat. Dulu, rumah ini selalu riuh. Tawa kami, debat kecil tentang film, atau bahkan suara decitan gitar Arga yang melantunkan lagu-lagu lama. Kini, hanya ada suara napasku sendiri, berpacu dengan detak jantung yang tak pernah tenang.

Aku mematikan kompor, membiarkan aroma gurih ayam panggang memenuhi udara, seolah berusaha menarik Arga pulang. Aroma yang dulu adalah janji, kini hanya sebuah harapan yang tergantung di ujung benang. Aku meraih gelas air, menatap pantulanku sendiri di permukaan air bening itu. Wajahku, dengan sedikit kerutan halus di sudut mata, seolah menceritakan kisah-kisah tak terucap. Apakah aku terlalu banyak berpikir? Apakah aku hanya mencari-cari masalah?

Tiba-tiba, suara putaran kunci terdengar dari pintu depan. Jantungku seketika berdebar lebih cepat, campuran lega dan kecemasan yang tak bisa kuuraikan. Itu dia. Arga. Aku berusaha menata ekspresiku, menyunggingkan senyum tipis yang terasa begitu berat. "Mas Arga?" suaraku terdengar sedikit lebih tinggi dari yang kuharapkan.

Sosok Arga muncul dari balik ambang pintu dapur. Kemeja birunya sedikit kusut, dasinya longgar, dan rambutnya agak berantakan. Wajahnya tampak lelah, garis-garis samar di keningnya semakin dalam. Namun, bukan kelelahan itu yang menarik perhatianku. Ada sesuatu yang lain. Sebuah aroma. Bukan aroma cologne Arga yang biasa, atau aroma kertas dan kopi dari kantornya. Ini lebih floral, lebih lembut, dan... asing. Samar-samar, seperti hembusan angin yang membawa wangi bunga anggrek yang baru saja mekar.

"Maaf, sayang. Ada rapat mendadak yang tak bisa kutunda," katanya, suaranya serak. Matanya melirik ke meja makan yang penuh hidangan, lalu beralih padaku, namun tidak bertemu pandang. Tatapannya hanya sekilas, seperti melewati sebuah objek yang sudah sangat familiar hingga tak perlu lagi diamati detailnya.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah menunggumu," jawabku, berusaha agar suaraku terdengar normal. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Dia meletakkan tas kerjanya di kursi sudut, tidak seperti biasanya yang selalu langsung meletakkannya di meja kerjanya di ruang baca. Kemudian, dia melonggarkan dasinya lagi, seolah ingin melepaskan beban yang berat. Saat dia melepas jaketnya, menggantungkannya di sandaran kursi, aroma anggrek itu menyeruak lagi, sedikit lebih kuat, sedikit lebih jelas.

Aku menelan ludah. Anggrek? Arga tidak pernah menyukai bunga. Ia selalu bilang bunga itu terlalu... feminin. Selama pernikahan kami, ia lebih sering memberiku cokelat atau buku. Pikiran-pikiran liar mulai menari-nari di kepalaku, mencoba mencari penjelasan rasional. Mungkin dari salah satu rekan kerjanya? Mungkin ruangan rapatnya penuh dengan bunga?

"Mas mau makan sekarang? Atau mandi dulu?" tanyaku, mencoba mengalihkan fokus dari aroma yang kini terasa mencekik.

Arga menghela napas panjang. "Mandi dulu, sepertinya. Badanku lengket sekali." Dia bergerak menuju kamar mandi, dan aku bisa merasakan bayangan kehadirannya yang menjauh. Keheningan kembali merayapi ruang makan, namun kali ini ia diisi oleh gemuruh pertanyaan yang berputar di benakku.

Aku mencoba membersihkan meja, tanganku gemetar sedikit saat menyentuh jaket Arga. Rasa penasaran itu mendorongku. Dengan gerakan seolah tak sengaja, aku mengendus bagian kerah jaketnya. Ya. Itu dia. Aroma anggrek yang manis, berpadu samar dengan sedikit sentuhan parfum pria. Bukan parfum Arga. Ini... wangi lain.

Jantungku berdebar semakin kencang, memukul-mukul rusukku seperti genderang perang. Aku tahu aku tidak seharusnya melakukannya, tapi naluriku berteriak. Perlahan, aku menyelipkan tanganku ke saku jaket bagian dalam. Jari-jariku menyentuh sesuatu. Sebuah benda kecil, licin, dan keras. Aku menariknya keluar.

Sebuah penjepit rambut berhiaskan mutiara kecil. Bukan milikku. Aku tidak pernah memakai aksesori seperti itu. Penjepit rambutku selalu sederhana, tanpa hiasan yang mencolok. Mataku terpaku pada benda mungil itu, seolah ia adalah bukti bisu dari sebuah cerita yang tak kuketahui, sebuah bayangan yang kini menjelma menjadi nyata.

Suara gemericik air dari kamar mandi tiba-tiba terdengar berhenti. Arga akan segera keluar. Aku merasakan kepanikan merayap naik, membalut sekujur tubuhku. Apa yang harus kulakukan? Menyembunyikannya? Menanyakannya langsung? Pertanyaan itu berputar dalam kekacauan pikiranku.

Aku buru-buru menyembunyikan penjepit rambut itu di balik punggung, menggenggamnya erat, mutiara kecilnya menusuk telapak tanganku. Rasa dingin menjalari seluruh tubuhku, seperti es yang mencair di dalam dada. Mataku tanpa sadar menatap kembali ke jaket Arga yang menggantung. Sebuah kain kecil, seperti serpihan kelopak bunga, tersangkut di antara serat-seratnya. Putih gading, lembut, dan aromanya... persis seperti anggrek itu.

Aku tidak bisa lagi menyangkalnya. Kepingan-kepingan puzzle yang selama ini tersebar acak di benakku, kini mulai menyatu, membentuk gambaran yang mengerikan. Dinginnya tatapan Arga, teleponnya yang selalu menempel di tangannya, pesan-pesan singkatnya yang samar, kepulangannya yang semakin larut, dan kini... aroma anggrek ini, serta bukti bisu berupa penjepit rambut. Semua itu adalah nyanyian sunyi sebuah perpisahan yang tak pernah kami ucapkan.

Ketika Arga melangkah keluar dari kamar mandi, mengenakan piama tidur, rambutnya basah dan wajahnya sedikit lebih segar, aku menatapnya. Kali ini, mataku menatap langsung ke matanya, mencari sesuatu di sana. Ada kelelahan, ya. Tapi juga ada semacam ketidaknyamanan yang samar, sebuah penghindaran yang nyaris tak terlihat. Apakah ia tahu bahwa aku telah melihat? Apakah ia tahu bahwa dinding yang selama ini ia bangun, kini telah runtuh di hadapanku?

"Sudah segar, Mas?" tanyaku, suaraku nyaris berbisik, serak karena emosi yang menumpuk di tenggorokanku. Aku berusaha tersenyum, tapi yang keluar hanyalah sebuah garis tipis yang kaku di bibirku.

Arga mengangguk, mengambil posisi di meja makan. Ia menyendok nasi ke piringnya, gerakannya lambat dan penuh pertimbangan. "Ya. Lumayan. Maaf ya, sayang. Kau pasti sudah sangat menunggu."

"Tidak apa-apa," ujarku, lalu menambahkan, "Aku hanya... khawatir." Kata 'khawatir' itu mengambang di udara, sarat makna yang lebih dalam dari sekadar kekhawatiran biasa. Itu adalah pertanyaan, tuduhan, dan permohonan yang tersembunyi.

Arga mengangkat kepalanya, menatapku, kali ini pandangannya sedikit lebih lama. Ada kilatan aneh di matanya, seperti pengakuan yang tertahan, atau mungkin hanya proyeksi dari ketakutanku sendiri. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja." Nada suaranya datar, tanpa emosi, seperti dia sedang membacakan baris-baris skenario. Aku tahu dia tidak baik-baik saja. Aku tahu kami tidak baik-baik saja.

Malam itu, makan malam terasa seperti adegan dalam sebuah drama bisu. Setiap suapan, setiap gerakan, setiap napas adalah bagian dari pertunjukan yang kami berdua mainkan. Aku mencoba memecah keheningan yang menyesakkan dengan menceritakan tentang hariku, tentang drama di kantor, tentang rencana liburan yang pernah kami bicarakan. Arga hanya merespons dengan gumaman singkat, tatapannya seringkali kosong, menerawang.

Rasa perih itu menjalar, semakin dalam, semakin sakit. Bukan hanya rasa cemburu, tapi juga rasa kehilangan. Kehilangan seseorang yang pernah begitu dekat, yang pernah begitu transparan. Kini, ia adalah teka-teki, sebuah siluet di balik kabut tebal yang tak bisa kugapai.

Setelah makan malam selesai, Arga segera beranjak ke ruang baca, beralasan ada email penting yang harus ia balas. Aku membersihkan meja, mencuci piring, setiap gerakan terasa hampa. Genggaman tanganku pada penjepit rambut mutiara itu masih terasa, meskipun sudah kusembunyikan di laci lemari pakaian kami, di antara lipatan-lipatan kain sutra yang dulu sering Arga belikan untukku.

Aku berdiri di ambang pintu ruang baca, menatap punggung Arga yang tegap, memunggungi laptop yang menyala. Cahaya biru dari layar itu memantul di kacamatanya, menyembunyikan ekspresi matanya. Ruangan itu terasa dingin, padahal AC tidak dinyalakan. Dinginnya bukan dari suhu, melainkan dari jarak yang terbentang di antara kami, jarak yang kini terasa seperti jurang tak berdasar.

"Mas Arga..." panggilku pelan, suaraku bergetar.

Dia tidak bergeming. Hanya bahunya yang sedikit terangkat, menandakan ia mendengar. Aku menarik napas dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanianku.

"Apakah kita masih... kita, Mas?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tak tertahankan lagi. Pertanyaan yang telah bersarang di benakku selama berminggu-minggu, kini akhirnya terucap. Itu bukan tuduhan, bukan kemarahan, tapi sebuah ratapan, sebuah pencarian akan kepastian di tengah badai keraguan.

Arga akhirnya menoleh, perlahan. Matanya tampak samar dalam cahaya redup ruangan. Ada kebingungan, sedikit rasa bersalah, dan sebuah kesedihan yang mendalam di sana. Namun, ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku, tatapan itu seolah menelanjangiku, melihat semua ketakutan dan kerapuhan yang kusembunyikan.

Keheningan kembali menyelimuti kami, lebih berat, lebih pekat dari sebelumnya. Rasanya seperti kami berdiri di dua ujung tebing yang berbeda, terpisah oleh jurang yang semakin lebar. Air mataku mulai menggenang, kabur memandang sosoknya. Aku menunggu. Menunggu jawaban, menunggu penjelasan, menunggu sedikit saja tanda bahwa pernikahan ini, kami, masih bisa diselamatkan.

Namun, yang kudapat hanyalah tatapan kosong itu, dan kemudian, ia kembali menatap layar laptopnya, seolah pertanyaan yang baru saja kuajukan hanyalah bisikan angin yang tak berarti. Detik itu, aku tahu. Aku tahu bahwa aku sedang sendirian di tengah badai ini, dan aroma anggrek itu, bersama penjepit rambut mutiara itu, adalah penanda dari akhir yang tak terhindarkan. Atau setidaknya, awal dari sebuah pertempuran yang tak pernah aku duga akan kuhadapi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url