Pria yang Tak Boleh Aku Sentuh: Tatapan Itu Adalah Racun Manis

Pria yang Tak Boleh Aku Sentuh: Tatapan Itu Adalah Racun Manis

Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan bau kertas baru dan sedikit wewangian sandalwood dari meja kerja Adrian menyusup ke setiap sudut ruanganku. Ini sudah lewat pukul delapan malam, dan lampu-lampu di lantai eksekutif satu per satu mulai padam, meninggalkan kami berdua—aku, Anya, sang asisten eksekutif yang malang, dan Adrian, CEO baru yang mendominasi setiap napas di gedung ini—dalam isolasi yang mewah, diselimuti bayangan panjang dan kesunyian yang mencekam. Angin malam berdesir di balik jendela kaca yang membentang dari lantai ke langit-langit, seolah ikut membisikkan sesuatu yang tak terucap. Udara dingin itu tak mampu menembus ketegangan yang justru terasa semakin membara.

“Kau yakin semua poin revisi sudah tercatat, Anya?” Suara Adrian, bariton rendah yang selalu mampu menciptakan riak halus di dadaku, memecah keheningan. Dia tidak menatapku. Pandangannya terpaku pada layar monitor ultra-lebar di depannya, jari-jarinya yang panjang dan ramping bergerak gesit di atas keyboard, mengetik dengan presisi seorang maestro. Kemeja putihnya yang digulung sebatas siku menampakkan urat-urat halus di lengannya, sebuah detail yang terlalu sering tertangkap mataku dan kemudian buru-buru kusingkirkan dari benak.

Aku menarik napas perlahan, mencoba menstabilkan detak jantung yang mendadak lebih cepat. “Tentu, Tuan Adrian. Semua poin revisi untuk presentasi ‘Project Zenith’ sudah saya rangkum dan siapkan untuk rapat besok pagi. Saya sudah menggarisbawahi bagian-bagian krusial seperti yang Anda minta.” Tanganku merapikan tumpukan kertas di meja, sebuah upaya kecil untuk menenangkan diri dan mengalihkan fokus dari keberadaannya yang begitu… menindas. Entah kenapa, sejak Adrian mengambil alih kursi CEO tiga bulan lalu, setiap tugas yang diberikannya terasa seperti ujian yang berbeda. Bukan hanya soal profesionalisme, tapi juga ketahanan mentalku.

Dia akhirnya mengangkat kepala, tatapannya beralih dari layar ke arahku. Dan di sinilah racun itu dimulai. Sepasang mata hitam pekat, dalam seperti jurang, namun setajam elang, menelanjangiku dari balik lensa kacamata bacanya yang berbingkai tipis. Bukan tatapan yang vulgar, bukan pula yang terang-terangan menggoda. Ini adalah tatapan seorang predator yang menilai mangsanya, atau seorang seniman yang mengamati karyanya, mencari cela, menimbang setiap detail. Ini adalah tatapan yang membuatku merasa telanjang tanpa harus melepas sehelai pun benang.

“Bagus,” gumamnya, suaranya mengandung nada persetujuan yang jarang kudengar. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di sudut bibirnya. Senyum itu tidak menjangkau matanya. “Terkadang, Anya, detail kecil adalah segalanya. Terutama dalam kesepakatan bernilai miliaran dolar seperti Project Zenith.”

Aku menelan ludah. “Saya mengerti, Tuan Adrian. Saya selalu berusaha untuk tidak melewatkan detail sekecil apa pun.” Kata ‘selalu’ itu terdengar hampa di telingaku sendiri. Seolah aku sedang meyakinkan diriku sendiri, bukan dia. Kenyataannya, sejak Adrian datang, setiap sel sarafku selalu dalam kondisi siaga penuh, takut membuat kesalahan, takut mengecewakannya. Tapi lebih dari itu, takut terperangkap dalam jaring tatapan intensnya.

Dia menyandarkan punggung ke kursi putar kulit hitamnya yang mahal, menciptakan bunyi desiran lembut. Ruangan ini, kantor CEO yang dulu terasa hangat dan familier di bawah kepemimpinan Pak Harun, kini terasa dingin dan asing. Adrian telah mengubahnya, menyingkirkan semua pernak-pernik pribadi, menggantinya dengan furnitur minimalis modern berwarna monokrom. Hanya ada satu lukisan abstrak besar di dinding belakang mejanya, sebuah ledakan warna gelap yang anehnya justru menambah kesan suram dan misterius pada sosok pemiliknya.

“Terkadang, usaha saja tidak cukup, Anya. Terkadang, kita harus memiliki insting,” katanya, suaranya kini sedikit melunak, nadanya lebih personal dari biasanya. “Insting untuk membaca situasi, membaca orang, membaca apa yang tidak terucap.”

Matanya tak putus menatapku, seolah mencoba menembus lapis demi lapis pertahananku. Aku merasa seperti sebuah buku yang terbuka, dan dia sedang membaca setiap halaman, setiap rahasia, setiap emosi yang coba kusembunyikan. Aku membalas tatapannya, sebuah keberanian kecil yang jarang kumiliki. Ada sesuatu di sana, di kedalaman matanya, sesuatu yang gelap dan menarik. Sebuah janji yang tidak diucapkan, atau mungkin sebuah peringatan.

“Saya belajar setiap hari, Tuan Adrian,” jawabku, suaraku nyaris tak terdengar. Aku merasakan panas menjalar di pipiku, rasa yang kubenci. Kenapa dia selalu bisa membuatku merasa seperti ini? Gugup, terintimidasi, namun anehnya, juga… tertantang?

Adrian menghela napas, sebuah gestur yang tak biasa darinya. Kemudian, ia bangkit dari kursinya, gerakannya tenang namun penuh otoritas. Kakinya yang jenjang, dibalut celana bahan berwarna abu-abu gelap, melangkah mendekatiku. Jantungku berdebar tak karuan, seperti genderang perang di telingaku sendiri. Bau sandalwood dan mint dari parfumnya semakin kuat, memenuhi ruang pribadiku, memabukkan.

Dia berhenti beberapa langkah di depanku, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Jarak itu, meskipun tidak terlalu dekat, sudah terlalu intim. Terlalu dekat untuk seorang atasan dan asisten. Terlalu dekat untuk dua orang yang seharusnya hanya berinteraksi secara profesional.

“Kau tahu, Anya, aku mendengar banyak hal tentangmu sebelum aku datang ke sini,” ujarnya, nada suaranya kini lebih rendah, lebih mendesak. “Bagaimana kau mengelola departemen ini selama masa transisi, bagaimana kau bisa menyelesaikan setiap masalah yang muncul, bahkan yang bukan bagian dari tugasmu.”

Aku menunduk, mencoba menyembunyikan ekspresiku. Pujian dari Adrian adalah hal yang langka, dan entah kenapa, itu terasa lebih membebaniku daripada kritiknya. “Saya hanya melakukan tugas saya, Tuan Adrian. Saya tidak ingin mengecewakan perusahaan.”

“Tidak ingin mengecewakan perusahaan, atau tidak ingin mengecewakan dirimu sendiri?” Dia mengangkat satu alisnya, sebuah ekspresi yang selalu membuatku merasa seperti sedang diinterogasi. “Ada perbedaan besar di antara keduanya, bukan?”

Aku mendongak, kembali beradu pandang dengannya. Kali ini, ada kerentanan kecil di mataku, sesuatu yang tak bisa kusembunyikan. Dia melihatnya. Aku tahu dia melihatnya. Dan dia tersenyum lagi, senyum tipis itu, kali ini dengan sedikit kilatan di matanya yang gelap.

“Kau ambisius, Anya. Aku bisa melihatnya,” lanjutnya. “Ada api di dalam dirimu yang kau coba padamkan dengan semua kesempurnaan ini. Aku mengenali api itu, karena aku juga memilikinya.”

Kata-katanya menamparku. Aku selalu berpikir aku berhasil menyembunyikan ambisiku, menyamarkannya di balik profesionalisme yang kaku. Aku tidak ingin terlihat haus kekuasaan, apalagi di dunia korporat yang kejam ini. Aku hanya ingin berhasil, ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri, tanpa bantuan siapa pun, setelah semua yang terjadi di masa lalu.

“Setiap orang punya ambisi, Tuan Adrian,” kataku, mencoba terdengar tenang, meskipun suaraku bergetar tipis. “Itu normal.”

“Normal, ya?” Dia melangkah selangkah lagi, semakin mempersempit jarak di antara kami. Tangannya terangkat, bukan untuk menyentuhku, tapi untuk menyentuh tumpukan laporan yang ada di mejaku, membelai sampulnya dengan ibu jari. Sebuah gerakan kecil, tapi dampaknya pada sarafku jauh dari kecil. Aku bisa merasakan panas tubuhnya dari jarak itu, merasakan energi yang memancar darinya.

“Apa yang tidak normal,” bisiknya, suaranya nyaris berbisik, “adalah ketika ambisi itu menjadi satu-satunya hal yang membuatmu terus bergerak. Satu-satunya alasanmu untuk bangun di pagi hari. Satu-satunya alasanmu bertahan di tempat ini, meskipun kau tahu ada risiko yang jauh lebih besar dari sekadar kegagalan proyek.”

Mataku melebar. Risiko apa yang dia maksud? Apakah dia tahu tentang rumor-rumor gelap yang mengelilinginya? Rumor tentang bagaimana dia naik secepat kilat, meninggalkan jejak pesaing yang hancur, bahkan beberapa cerita tentang bagaimana dia memanfaatkan orang-orang terdekatnya untuk mencapai puncak. Aku selalu menolak mempercayai gosip murahan itu, mencoba tetap objektif dan profesional. Namun, saat ini, berdiri begitu dekat dengannya, mendengar kata-kata ambigu itu, aku merasa merinding.

“Saya… saya tidak mengerti maksud Anda, Tuan Adrian,” kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap datar. Tapi aku tahu, aku gagal.

Adrian akhirnya menarik tangannya dari meja, namun tatapannya tak beralih dariku. Dia tersenyum lagi, senyum misterius yang membuatku merasa seperti sedang berada di ujung jurang, antara ketertarikan dan ketakutan. “Kau akan mengerti, Anya. Cepat atau lambat. Terutama dengan Project Zenith yang akan segera dimulai.”

Lampu neon di langit-langit kantor berdengung pelan, satu-satunya suara di antara keheningan yang menyesakkan. Malam semakin larut, namun udara di antara kami justru terasa semakin panas, semakin padat. Aku bisa merasakan setiap napasnya, setiap pergerakan kecil di dadanya. Sebuah daya tarik aneh, liar, tak terucap, bergelombang di antara kami, mengancam untuk menenggelamkan semua batasan profesionalisme yang selama ini kujunjung tinggi.

“Besok pagi, rapatnya pukul delapan, Tuan Adrian,” kataku, mencoba mengembalikan situasi ke ranah profesional. Aku mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. “Saya akan memastikan semua materi siap. Apakah ada hal lain yang perlu saya siapkan malam ini?”

Adrian menggelengkan kepala pelan, tatapannya masih menelanjangiku. “Tidak ada, Anya. Kau sudah melakukan lebih dari yang kuperkirakan.” Ada penekanan aneh pada kata ‘lebih’, seolah dia merujuk pada sesuatu yang lain, sesuatu yang bukan bagian dari daftar tugas resmiku.

Dia berbalik, kembali ke mejanya, namun tidak langsung duduk. Ia mengambil cangkir kopinya yang sudah dingin, menyesapnya perlahan. Punggungnya menghadapku, namun aku masih bisa merasakan intensitas kehadirannya, seolah ada medan magnet tak kasat mata yang terus menarikku. Aku ingin pergi, ingin lari dari ruangan ini, dari kehadirannya yang memusingkan, tapi kakiku terasa terpaku di lantai.

“Anya,” panggilnya lagi, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Dia tidak berbalik. “Apa kau pernah merasa… terjebak?”

Pertanyaan itu menusuk langsung ke ulu hatiku. Terjebak? Aku? Rasanya, seluruh hidupku adalah jebakan. Sejak insiden yang menghancurkan karier ayahku, sejak aku harus memikul semua beban keluarga di usia yang sangat muda, aku selalu merasa seperti sedang berlari di labirin tanpa ujung, berusaha mencari jalan keluar. Aku terjebak oleh tanggung jawab, oleh ekspektasi, oleh mimpi-mimpi yang nyaris tak tergapai. Dan sekarang, aku merasa terjebak oleh tatapan seorang pria yang seharusnya hanya menjadi atasan profesional.

Aku ragu sejenak. Bolehkah aku menjawab jujur? Haruskah aku membuka sedikit saja celah kerentanan itu di hadapannya? Tidak. Aku harus tetap profesional. Aku harus tetap menjadi Anya, asisten yang efisien, yang tidak pernah mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan.

“Saya selalu berusaha untuk menemukan solusi, Tuan Adrian,” kataku, memilih jawaban yang aman, yang terdengar diplomatis. “Dalam setiap situasi, pasti ada jalan keluar.”

Adrian terdiam. Kemudian, bahunya bergetar sedikit, seolah dia sedang menahan tawa. Atau mungkin, itu adalah kekecewaan. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa membacanya.

“Kau memang tangguh, Anya,” ucapnya, akhirnya berbalik menghadapku lagi. Sebuah senyum geli tersungging di bibirnya. Kali ini, senyum itu mencapai matanya, namun justru terlihat lebih gelap, lebih mengancam. “Sangat tangguh. Terkadang, ketangguhan itu bisa menjadi pedang bermata dua, bukan?”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, bibirku tertutup rapat. Aku tahu dia sedang memprovokasiku, sedang mengujiku, mendorong batas-batas kesabaranku. Tapi untuk apa? Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?

Dia berjalan lagi mendekat, kali ini ia berhenti tepat di samping mejaku. Tangannya diletakkan di sandaran kursi kerjaku, tepat di belakang kepalaku. Punggungnya menghadap jendela kota yang berkilauan. Posisinya membuatku merasa terkepung, terjebak di antara tubuhnya yang tinggi dan meja kerja. Aku bisa merasakan napasnya berembus perlahan di rambutku, meski ia tidak menyentuh. Sebuah sensasi yang aneh, dingin sekaligus panas, yang membuat kulitku merinding.

“Anya,” bisiknya lagi, suaranya serak, dekat sekali di telingaku. Aku bisa mencium aroma samar mint dan sandalwood itu lagi, kini begitu kuat hingga membuatku pusing. “Besok, di rapat, apa pun yang terjadi, tatap aku. Jangan pernah mengalihkan pandanganmu dariku. Bisakah kau melakukan itu untukku?”

Pertanyaan itu bukan lagi tentang Project Zenith. Itu tentang kami. Tentang dia dan aku, dan sebuah permainan berbahaya yang baru saja dia mulai. Jantungku berdebar tak terkendali, bergemuruh di dadaku seolah ingin melarikan diri. Aku merasakan gairah dan ketakutan berpilin menjadi satu dalam diriku. Mataku terangkat, bertemu dengan tatapan hitamnya yang intens. Di sana, aku melihat percikan api, sebuah janji, sebuah ancaman. Sebuah undangan ke dalam jurang yang gelap.

“Ya, Tuan Adrian,” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, sebuah pengakuan kalah yang terlalu cepat. Atau mungkin, itu adalah janji.

Dia tersenyum, senyum penuh kemenangan yang membuatku merasa seperti dia baru saja memenangkan pertarungan yang bahkan aku tidak sadar sedang kulawan. Dia menarik tangannya dari sandaran kursi, memutus kontak fisik yang hampir terjadi, namun meninggalkan jejak sensasi yang membakar di seluruh tubuhku. Dia berbalik, berjalan menuju pintu, dan membuka kenopnya.

“Sampai besok pagi, Anya,” katanya, suaranya kembali ke nada profesional yang dingin, seolah tak ada apa pun yang terjadi beberapa saat lalu. Seolah dia tidak baru saja mengoyak pertahananku dengan kata-kata dan tatapannya.

Aku hanya mengangguk, masih terpaku di tempatku. Ketika pintu kantornya tertutup di belakangnya, suara ‘klik’ pelan itu seperti membunyikan lonceng peringatan di kepalaku. Aku sendirian lagi di lantai eksekutif yang gelap, dikelilingi oleh kesunyian yang tebal, namun gema dari kata-katanya dan intensitas tatapannya masih bergema di benakku. Aku tahu, besok pagi, di rapat yang krusial itu, bukan hanya nasib Project Zenith yang akan dipertaruhkan. Tapi juga batas-batas diriku, dan mungkin, hatiku.

Aku menatap ke luar jendela, ke arah kota yang berkilauan. Lampu-lampu gedung pencakar langit tampak seperti bintang-bintang yang jatuh, menari di kegelapan. Aku merasakan embusan napas panjang keluar dari dadaku, lega sekaligus cemas. Malam ini, Adrian telah menanamkan benih keraguan, benih ketertarikan, benih bahaya. Dan aku tahu, entah bagaimana, benih itu akan tumbuh, berakar dalam-dalam, dan mengubah segalanya.

Esok adalah hari yang baru, pikirku, namun hatiku tahu itu tidak benar. Esok adalah kelanjutan dari malam ini, kelanjutan dari permainan yang baru saja dimulai, permainan di mana aku tidak yakin apakah aku adalah pemainnya, atau hanya pionnya. Aku meraih tas kerjaku, berbalik, dan melangkah keluar dari kantornya, meninggalkan aroma sandalwood dan janji yang belum terucap, menggantung di udara.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url