Bayar Tagihan Listrik Apartemen Padahal Kami Tinggal di Rumah Dinas? Iseng Bongkar Email Sampah Suami, Dunia Rasanya Runtuh Saat Tahu Siapa Penghuninya
Nirmala tidak pernah menyangka bahwa rasa penasaran yang muncul di hari Selasa yang membosankan itu akan menjadi awal dari kehancuran dunianya yang selama ini ia anggap sempurna. Pagi itu, Kalandra—suaminya yang sudah ia nikahi selama tujuh tahun—meninggalkan laptop kerjanya di meja makan karena terburu-buru mengejar penerbangan pagi ke Balikpapan. Kalandra adalah tipe pria yang sangat rapi, disiplin, dan nyaris tanpa cela. Sebagai seorang manajer di perusahaan logistik ternama, hidupnya adalah soal efisiensi dan ketepatan waktu. Namun, pagi itu, semesta tampaknya ingin menunjukkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik lapisan-lapisan kebohongan yang tersusun rapi.
Nirmala awalnya hanya ingin menggunakan laptop itu untuk mencari file foto lama yang tertinggal di hard drive eksternal. Namun, sebuah notifikasi pop-up dari email pribadi Kalandra muncul di pojok kanan bawah layar. 'Pemberitahuan Tagihan Listrik PLN - Unit 22-05, Kalibata'. Kening Nirmala berkerut. Sejauh yang ia tahu, mereka hanya memiliki satu rumah, yaitu rumah dinas yang mereka tempati di kawasan Jakarta Selatan. Mereka tidak pernah berdiskusi soal investasi properti, apalagi sebuah unit apartemen. Nirmala mencoba menepis pikiran buruknya. 'Mungkin itu milik kantor,' bisiknya dalam hati, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai berdetak tidak beraturan.
Namun, jemarinya seolah memiliki nyawanya sendiri. Ia mengklik notifikasi itu. Alih-alih menemukan nama perusahaan, ia menemukan nama Kalandra sebagai pemilik akun pelanggan tersebut. Lebih mengejutkan lagi, email-email sebelumnya menunjukkan transaksi rutin setiap bulan selama setahun terakhir. Tidak hanya listrik, tapi juga iuran pemeliharaan lingkungan, tagihan internet kabel kecepatan tinggi, hingga pemesanan rutin layanan kebersihan profesional. Semuanya mengarah pada satu unit yang sama. Rasa mual mulai mengaduk perut Nirmala. Ia merasa seperti baru saja dipukul benda tumpul tepat di ulu hatinya. Udara di ruang makan yang luas itu mendadak terasa tipis dan mencekik.
Nirmala adalah seorang arsitek yang terbiasa dengan detail. Ia tidak bisa berhenti begitu saja. Ia mulai mencari lebih dalam di kotak masuk email Kalandra, masuk ke folder 'Sampah' yang seringkali menjadi tempat persembunyian rahasia yang terlupakan. Di sana, ia menemukan bukti pemesanan buket bunga mawar merah setiap bulan dengan catatan yang sama: 'Untuk penyemangat harimu, Sayang.' Bukan untuknya. Nirmala tidak pernah menerima mawar merah selama tiga tahun terakhir. Kalandra selalu beralasan bahwa mawar itu klise dan pemborosan. Ternyata, mawar itu tidak klise bagi orang lain.
Nama penerima mawar itu tidak tercantum dengan jelas, hanya inisial 'S'. Seketika, bayangan Sekar, sepupu jauh Nirmala yang baru setahun ini menetap di Jakarta untuk mencari kerja, muncul di kepalanya. Sekar yang cantik, yang sering datang ke rumah mereka untuk makan malam, yang selalu memuji betapa beruntungnya Nirmala memiliki suami sesempurna Kalandra. Sekar yang seringkali bermanja-manja pada Kalandra dengan alasan 'sudah dianggap seperti kakak sendiri'. Nirmala menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir pikiran itu. 'Tidak mungkin Sekar. Dia keluargaku,' gumamnya dengan suara bergetar.
Nirmala memutuskan untuk tidak menelepon Kalandra. Ia tahu, suaminya adalah ahli dalam bersilat lidah. Jika ia bertanya sekarang, Kalandra akan menyiapkan seribu satu alasan logis yang akan membuatnya terlihat seperti istri yang paranoid. Nirmala memilih cara yang lebih menyakitkan: ia akan mendatangi unit itu. Dengan tangan gemetar, ia mencatat alamat lengkap dan nomor unit apartemen tersebut. Ia mengganti daster rumahan yang dipakainya dengan pakaian yang paling tidak mencolok yang ia miliki—sebuah hoodie besar dan celana jeans, lengkap dengan masker dan kacamata hitam.
Perjalanan dari rumah mereka di Jakarta Selatan menuju kawasan Kalibata terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Setiap lampu merah terasa sangat lama, dan setiap klakson kendaraan di sekitarnya terdengar seperti ejekan. Nirmala menggenggam kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, kenangan demi kenangan berputar seperti film rusak. Kenangan saat Kalandra memintanya untuk meminjamkan uang tabungan mereka demi 'modal investasi' yang tidak pernah dijelaskan secara detail. Kenangan saat Sekar tiba-tiba memiliki tas desainer baru yang katanya adalah barang tiruan murah.
Sesampainya di lobi apartemen, jantung Nirmala berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Ia beruntung, resepsionis sedang sibuk melayani penghuni lain, sehingga ia bisa menyelinap masuk mengikuti seorang penghuni yang menggunakan kartu akses menuju lift. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Nirmala menatap pantulan dirinya. Matanya sembab, wajahnya pucat pasi. Ia terlihat seperti orang asing bagi dirinya sendiri. Angka-angka di layar lift bergerak perlahan. 10... 15... 20... 22. Ting!
Lantai 22 terasa sangat sunyi. Karpet tebal di koridor meredam suara langkah kakinya. Nirmala berjalan menyusuri nomor-nomor pintu hingga ia berhenti di depan unit 22-05. Ia berdiri di sana selama beberapa menit, hanya menatap pintu kayu berwarna cokelat gelap itu. Ia berharap pintu itu tidak akan pernah terbuka, ia berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir saat ia terbangun nanti. Namun, aroma parfum yang sangat ia kenal—parfum vanilla manis yang selalu dipakai Sekar—menyeruak dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Nirmala mendorong pintu itu perlahan. Pintu itu tidak dikunci. Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang sepatu pantofel pria milik Kalandra yang diletakkan sembarangan di dekat pintu masuk, bersandingan dengan sepatu hak tinggi berwarna merah menyala milik Sekar. Di ruang tamu yang mungil namun tertata mewah, suara tawa kecil terdengar dari arah dapur. Itu suara Kalandra. Kalandra yang seharusnya berada dalam pesawat menuju Balikpapan saat ini.
'Jangan nakal, Mas. Nanti kalau Nirmala tahu gimana?' Itu suara Sekar. Manja, menggoda, sama sekali tidak terdengar seperti sepupu yang butuh perlindungan.
'Dia nggak akan tahu. Dia itu terlalu percaya sama aku, Sekar. Baginya, aku ini pahlawan tanpa celah. Lagipula, dia terlalu sibuk dengan proyek-proyek bangunannya sampai lupa cara melayani suaminya sendiri,' balas Kalandra dengan nada suara yang penuh penghinaan, nada yang tidak pernah Nirmala dengar sebelumnya.
Nirmala merasa dunianya runtuh seketika. Setiap kata yang diucapkan Kalandra terasa seperti belati yang dihunus ke jantungnya. Ia melangkah masuk lebih dalam, tangannya yang memegang ponsel sudah siap untuk merekam. Pemandangan di depan matanya jauh lebih buruk dari apa yang ia bayangkan. Kalandra sedang memeluk pinggang Sekar dari belakang sambil menunggu air di teko listrik mendidih. Keduanya tampak seperti pasangan suami istri muda yang sedang dimabuk cinta, di atas penderitaan dan kepercayaan yang Nirmala berikan sepenuh hati.
'Oh, jadi ini alasan investasi itu? Membangun istana untuk selingkuhan dengan uang hasil keringat istrimu sendiri?' Suara Nirmala pecah, namun terdengar sangat tajam di ruangan yang sempit itu.
Kalandra dan Sekar tersentak hebat. Kalandra melepaskan pelukannya seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini pucat pasi, penuh ketakutan yang belum pernah Nirmala lihat sebelumnya. Sekar langsung bersembunyi di balik punggung Kalandra, menunduk dengan wajah yang ditutupi rambut panjangnya. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik, hanya menyisakan suara teko listrik yang mendidih, seolah-olah mewakili kemarahan Nirmala yang sudah mencapai puncaknya.
'Nirmala... aku... ini nggak seperti yang kamu lihat,' kata Kalandra terbata-bata. Kalimat klise yang selalu diucapkan oleh para pengkhianat ketika mereka tertangkap basah. Nirmala tertawa hambar, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti tangisan. Ia menatap Kalandra dengan tatapan paling dingin yang pernah ia berikan pada manusia manapun.
'Nggak seperti yang aku lihat? Aku melihat suamiku yang katanya ke Balikpapan ternyata sedang berpelukan dengan sepupuku di apartemen yang dibayar dengan uang tabungan kami. Bagian mana yang aku salah lihat, Kalandra?' Nirmala melangkah maju, membuat Kalandra mundur selangkah demi selangkah hingga terbentur meja dapur.
Sekar mencoba bicara, 'Mbak, maafin aku... Mas Kalan yang maksa aku...'
'Diam kamu, Sekar! Jangan pernah panggil aku Mbak lagi. Kamu bukan bagian dari keluargaku. Mulai detik ini, kalian berdua adalah sampah yang harus dibuang,' potong Nirmala dengan suara bergetar namun penuh penekanan. Ia membalikkan badan, berniat pergi dari tempat terkutuk itu. Namun, Kalandra mengejarnya dan menarik lengannya.
'Nirmala, dengerin dulu! Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Pikirkan reputasi kita, pikirkan orang tua kita!' Kalandra memohon, tapi yang Nirmala lihat hanyalah seorang pengecut yang takut kehilangan kenyamanan hidupnya.
Nirmala menyentakkan tangannya dengan kasar. 'Reputasi? Kamu yang menghancurkannya sendiri saat kamu memutuskan untuk membayar tagihan listrik di sini, Kalan. Dan soal orang tua... biar mereka yang melihat sendiri video yang baru saja aku rekam ini. Selamat tinggal, Kalandra. Jangan pernah pulang ke rumahku lagi, karena kuncinya sudah aku ganti sebelum aku sampai di sini.'
Nirmala berjalan keluar dengan kepala tegak, meskipun di dalam dadanya, hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, namun satu hal yang pasti: ia tidak akan pernah lagi menjadi wanita yang bisa dibodohi. Saat pintu lift tertutup, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Bukan air mata kesedihan karena kehilangan Kalandra, tapi air mata syukur karena semesta masih menyayanginya dengan menunjukkan kebenaran yang pahit, tepat sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya sendiri dalam kebohongan mereka.