Di Balik Harum yang Tak Kukenali
Jarum pendek arloji di pergelangan tanganku sudah menunjuk angka sembilan malam ketika lengang semakin mencengkeram apartemen. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk, membelai kulit telanjang lenganku, namun sensasi ngilu itu tak sebanding dengan kegelisahan yang merayap di ulu hati. Aku duduk di sofa beludru abu-abu, buku novel setebal kamus tergeletak di pangkuan, halamannya terbuka pada kalimat yang sudah kubaca berulang kali tanpa benar-benar meresap. Mataku terus melirik ke arah pintu utama, ke bayangan cermin di dinding seberangnya, berharap menangkap siluet yang kukenal.
Arya belum pulang. Sekali lagi. Malam ini adalah yang ketiga kalinya dalam seminggu. Alasan klasik yang sama: rapat mendadak dengan klien penting, tumpukan pekerjaan yang tak bisa ditunda. Aku ingin percaya, seperti yang selalu kulakukan dalam lima tahun pernikahan kami. Aku ingin memercayai setiap kata yang meluncur dari bibirnya, setiap janji yang ia ukir dengan sepenuh hati. Namun, ada kerikil tajam yang mulai mengganjal di dasar hatiku, menghadirkan rasa tidak nyaman yang terus berputar seperti pusaran air.
Aku memejamkan mata, mencoba mengusir bayang-bayang pikiran buruk yang tanpa henti menggedor dinding pertahanan akal sehatku. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan jadwal Arya yang tak menentu sebagai arsitek muda yang sedang meniti karier. Dulu, aku justru bangga dengan ambisinya, dengan semangatnya yang tak pernah padam. Tapi belakangan, ada yang berbeda. Ada kerapuhan dalam alasan-alasannya, ada celah kecil yang mulai terlihat, dan itu membuatku bertanya-tanya.
Bunyi derit kunci memecah keheningan yang menyesakkan, membuatku terlonjak dari lamunan. Jantungku berdebar kencang, antara lega dan antisipasi. Arya melangkah masuk, menjinjing tas kerjanya yang biasa, ekspresinya lelah namun mencoba tersenyum padaku. Cahaya temaram dari lampu ruang tamu memeluk siluetnya, menciptakan aura misterius yang tak biasa. Entah mengapa, senyumnya kali ini terasa dingin, tidak sehangat biasanya.
"Maaf, Sayang. Aku pulang telat lagi," ucapnya, suaranya serak. Ia meletakkan tasnya di atas meja konsol dekat pintu, lalu melonggarkan dasi yang masih melingkar rapi di lehernya.
Aku mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa kaku di bibirku. "Tidak apa-apa, Arya. Aku tahu kamu sibuk."
Tapi bibirku berbohong. Ada banyak 'apa-apa' yang mengumpul di benakku. Aku bangkit, mencoba bersikap normal. Aroma kopi pahit yang selalu menempel di baju kerjanya kali ini bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang asing. Harum manis, lembut, dan sedikit provokatif. Wangi yang bukan miliknya, bukan juga wangiku.
Aroma itu menyeruak dari kemejanya yang kusut. Aku menelan ludah, berusaha mati-matian agar ekspresiku tidak berubah. Arya sudah melangkah mendekat, hendak memelukku. Saat itulah, indraku semakin tajam menangkap aroma itu. Sebuah wangi parfum wanita yang elegan, namun tak pernah kukenali.
Tangannya melingkar di pinggangku, dan kepalanya bersandar di bahuku. Aku merasakan kekakuan yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku membalas pelukannya, namun hatiku terasa mencelos. Aku tidak bisa merasakan kehangatan yang sama. Wangi parfum itu seolah menjadi dinding tak kasat mata yang memisahkan kami.
"Kamu sudah makan?" tanyaku, mencoba mengalihkan perhatian dari aroma yang menusuk ini.
Arya mengangguk, suaranya terdengar sedikit teredam. "Sudah. Tadi ada makan malam bersama klien. Sangat penting, Sayang. Proyek besar."
Aku menarik diri perlahan dari pelukannya, berusaha melepaskan diri tanpa menimbulkan kecurigaan. Mataku jatuh pada kerah kemejanya, lalu ke lengannya yang sedikit kusut. Tidak ada noda aneh, tidak ada jejak mencurigakan. Tapi aroma itu... aroma itu tidak mau pergi. Ia menempel kuat, seolah hendak membuktikan keberadaannya.
"Kamu terlihat lelah sekali," ujarku, mencoba memindai ekspresi di wajahnya. Ada garis kelelahan yang lebih dalam di sekitar matanya, juga sedikit kemerahan yang mencurigakan.
"Ya, tentu saja. Rapatnya panjang, diskusinya alot. Tapi aku senang, progresnya bagus," jawabnya, mencoba menunjukkan antusiasme yang terasa dipaksakan. Matanya bergerak cepat, tidak menetap padaku seperti biasanya. Ia menghindari tatapanku.
Dan di situlah, celah itu semakin melebar.
Arya tidak pernah menghindari tatapanku. Matanya selalu menjadi cermin bagi hatinya, penuh kejujuran dan cinta yang tak terhingga. Kini, ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya. Sesuatu yang gelap.
Aku mencoba menekan gejolak emosi yang mulai membuncah. "Kalau begitu, lebih baik kamu segera mandi dan istirahat. Aku akan siapkan air hangat."
Ia mengangguk, melepaskan dasinya dan mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Setiap kancing yang terbuka seolah membuka tirai kecil, memperlihatkan sedikit demi sedikit kebenaran yang mengerikan. Saat kemejanya terlepas dari tubuhnya, Arya melemparkannya ke keranjang pakaian kotor di dekat pintu kamar mandi. Ia melakukannya dengan sedikit tergesa, seolah ingin segera menyingkirkan benda itu dari pandanganku.
Aku tahu Arya tidak pernah seceroboh itu. Ia selalu melipat rapi pakaiannya, atau setidaknya menggantungnya di kursi. Tindakan kecil ini, yang terkesan buru-buru, memicu alarm di kepalaku. Aku menatap keranjang itu, pada kemeja putih yang kini teronggok di sana. Aroma parfum asing itu masih menguar, menelikung indraku.
Aku mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Jangan gegabah, Dara. Jangan menyimpulkan. Mungkin itu hanya parfum salah satu rekan kerja wanita. Mungkin aroma itu menempel secara tidak sengaja. Pikiranku mencoba mencari seribu satu pembenaran, berusaha mempertahankan benteng kepercayaanku yang mulai retak.
Namun, sebuah ingatan muncul: Arya punya kebiasaan. Ia selalu mengirimkan pesan singkat padaku, sekadar memberitahu bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang, atau sudah berada di dalam lift. Malam ini, tidak ada. Telepon terakhir darinya adalah sekitar jam tujuh malam, memberitahu bahwa ia akan makan malam di luar. Setelah itu, senyap.
Aku berjalan ke dapur, menyalakan kompor gas untuk menghangatkan kembali sisa makanan yang tadi ku masak. Suara gemericik air dalam panci terdengar nyaring di tengah keheningan apartemen yang kembali mencengkeram. Punggungku terasa tegang. Aku bisa mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, menandakan Arya sudah mulai membersihkan diri. Ini adalah kesempatanku.
Dengan langkah senyap, aku kembali ke ruang tamu. Mataku langsung tertuju pada keranjang pakaian kotor. Tangan kananku gemetar saat meraih kemeja Arya. Kain katun yang masih hangat itu terasa aneh di sentuhanku. Aku mengangkatnya perlahan, membiarkan cahayaku menangkap setiap detail. Kerahnya, lengannya, bagian dadanya.
Tidak ada yang tampak. Tapi aroma itu... aroma itu jelas ada. Seperti bisikan rahasia yang tersembunyi, menantangku untuk menemukan kebenarannya.
Kemudian, mataku menangkap sesuatu. Sebuah benang halus, berwarna merah marun, tersangkut di salah satu kancing kemeja Arya. Benang itu sangat kecil, hampir tidak terlihat, seolah menyatu dengan serat kain. Tapi aku mengenali warna itu. Aku mengingatnya. Itu adalah warna blazer yang sering dipakai Clara, sekretaris pribadi Arya. Wanita muda, cantik, selalu mengenakan pakaian rapi dengan sentuhan warna yang berani.
Dunia seolah berhenti berputar. Udara di sekitarku menipis, membuatku sesak. Benang merah marun itu, sehelai benda mati yang begitu kecil, kini menjelma menjadi bukti yang tak terbantahkan. Sebuah bisikan tajam bergema di telingaku, mengalahkan segala upaya rasionalisasi yang telah kubangun susah payah.
Aku menjatuhkan kemeja itu kembali ke keranjang, seolah itu adalah benda panas yang membakar telapak tanganku. Rasa mual melanda, perutku bergolak hebat. Aku terhuyung mundur, punggungku membentur dinding dingin. Kepalaku pening, pikiran-pikiran kacau balau saling bertabrakan.
Clara. Sekretaris baru Arya yang baru bekerja tiga bulan. Ia selalu menatap Arya dengan tatapan penuh kekaguman. Arya sendiri selalu memujinya sebagai karyawan yang cerdas dan efisien. Dulu, pujian itu terdengar seperti pengakuan profesional. Kini, setiap pujian itu berubah menjadi panah beracun yang menghujam jantungku.
Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti. Detik berikutnya, pintu kamar mandi terbuka. Arya keluar dengan handuk melilit pinggangnya, rambutnya basah dan meneteskan air. Ia terlihat segar, seolah baru saja membersihkan segala penat dan... segala jejak.
Matanya bertemu dengan mataku. Ada kerutan samar di dahinya, seolah ia merasakan ketegangan yang tiba-tiba memenuhi ruangan. Aku mencoba membaca matanya, mencari kejujuran yang dulu selalu ada. Tapi yang kutemukan hanyalah sebuah tirai tipis, sebuah dinding yang ia bangun untuk melindunginya dari tatapanku.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya, suaranya kini terdengar lebih jernih, lebih tenang. Terlalu tenang.
Aku tidak bisa menjawab. Lidahku terasa kelu, tenggorokanku tercekat. Benang merah marun itu, aroma parfum itu, dan matanya yang kini seperti orang asing. Semuanya membentuk simfoni pengkhianatan yang paling memilukan.
Aku hanya bisa menatapnya, pandanganku tidak berkedip. Ada badai emosi yang mengamuk di dalam diriku. Marah, kecewa, sedih, dan sebuah rasa takut yang luar biasa. Takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Takut akan kehancuran yang terbayang di depan mata.
"Dara? Kamu baik-baik saja?" Ia melangkah mendekat, perlahan. Setiap langkahnya terasa seperti pukulan ke jantungku. Aku ingin berteriak, ingin menanyakan segala hal yang bergelora di benakku. Tapi suara itu tak mau keluar.
Aku hanya menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Ini bukan lagi tentang lelah. Ini bukan lagi tentang pekerjaan. Ini tentang kepercayaan yang hancur berkeping-keping, di bawah tumpukan aroma manis dan sehelai benang merah marun.
Tangannya terulur, hendak menyentuh pipiku. Tapi aku menarik diri, selangkah mundur. Jarak fisik yang tercipta antara kami kini terasa begitu jauh, tak terjangkau. Seolah ada jurang tak terlihat yang tiba-tiba menganga di antara kami berdua.
Arya berhenti. Tangannya melayang di udara, ekspresinya berubah menjadi bingung, lalu sedikit terluka. Namun, di balik itu, aku bisa melihat sedikit rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Secercah kilatan yang membuatku semakin yakin.
"Dara, ada apa sebenarnya? Katakan padaku," desaknya, suaranya sedikit meninggi. Ada nada kepanikan yang samar di sana.
Aku menatapnya, menahan isak tangis yang siap meledak. Mataku menyapu seluruh ruangan, dari keranjang pakaian kotor yang kini tampak seperti kotak pandora, hingga ke matanya yang kini memancarkan seribu pertanyaan. Pertanyaan yang sebenarnya ia tahu jawabannya.
"Wangimu," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, pecah. "Ada wangi lain yang menempel padamu, Arya. Dan... aku tahu siapa pemiliknya."
Kalimat itu keluar dari bibirku dengan sangat berat, terasa seperti bara api yang membakar tenggorokanku. Ekspresi Arya langsung membeku. Wajahnya memucat, dan matanya melebar. Kilatan rasa bersalah itu kini semakin jelas, tak bisa disembunyikan lagi. Ia menelan ludah, berusaha mencari kata-kata, namun tak ada yang keluar. Hanya keheningan yang semakin pekat, sebuah keheningan yang kini terasa seperti vonis mati bagi cinta kami.
Aku memalingkan wajah, tidak sanggup lagi menatapnya. Setiap inci tubuhku bergetar. Rasanya seperti seluruh duniaku runtuh dalam sekejap. Lima tahun kebersamaan, janji-janji yang terucap, mimpi-mimpi yang kami bangun bersama... semua kini terancam hancur, oleh sehelai benang merah marun dan sebotol parfum wanita yang asing. Malam itu, di tengah heningnya apartemen, aku tahu. Segalanya tak akan pernah sama lagi.