Dibalik Skripsi Sempurnanya, Ada Jejak Digital yang Membongkar Kebusukan Danu di Lab Terpadu

Dibalik Skripsi Sempurnanya, Ada Jejak Digital yang Membongkar Kebusukan Danu di Lab Terpadu

Kisah Kampus

Dibalik Skripsi Sempurnanya, Ada Jejak Digital yang Membongkar Kebusukan Danu di Lab Terpadu



'Kamu nggak seharusnya ada di sini jam segini, Laksmi,' suara itu dingin, memecah kesunyian Laboratorium Komputer Terpadu yang hanya diisi oleh dengung AC dan pendar lampu indikator server. Laksmi tidak berbalik. Jari-jarinya gemetar hebat di atas mouse pad. Di layar iMac 27 inci itu, terpampang sejarah log-in cloud storage pribadinya. Seseorang telah mengakses draf mentah novel sekaligus riset skripsinya selama enam bulan terakhir. Dan orang itu menggunakan akun universitas milik Danu Dananjaya—lelaki yang tiga jam lalu masih mengecup keningnya dan membisikkan kata 'semangat' untuk revisi malam ini.

Suasana kampus di malam hari biasanya menenangkan bagi Laksmi. Aroma tanah basah setelah hujan sore hari di Malang selalu memberinya inspirasi. Namun malam ini, udara terasa seperti mencekik. Laksmi, mahasiswi Sastra yang dikenal karena kecerdasannya yang melankolis, merasa dunianya runtuh hanya dalam satu klik history log-in. Ia menemukan bahwa Danu, mahasiswa Arsitektur berprestasi yang digadang-gadang akan lulus dengan predikat terbaik, telah mencuri seluruh konsep estetika ruang yang ia bangun dalam tulisannya untuk dijadikan landasan desain proyek akhir Danu.

Selama ini, Danu adalah sandaran. Saat Laksmi kesulitan merangkai kata, Danu akan membawakan kopi susu gula aren dari kedai favorit mereka di dekat gerbang belakang kampus. Mereka sering menghabiskan waktu di perpustakaan pusat, duduk bersila di antara rak-rak buku tua, bertukar mimpi tentang masa depan. Laksmi ingin menjadi penulis besar, dan Danu ingin membangun museum yang puitis. Siapa sangka, kepuitisan yang Danu tawarkan adalah hasil jarahan dari otak Laksmi sendiri.

'Kenapa, Nu?' akhirnya Laksmi bersuara. Suaranya serak, hampir hilang ditelan dinginnya ruangan. 'Kenapa harus pakai cara ini? Kalau kamu butuh referensi, aku pasti kasih. Kenapa harus masuk diam-diam ke akunku?' Laksmi berbalik, menatap lelaki yang berdiri di ambang pintu lab. Danu masih mengenakan jaket himpunannya, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak asing, keras, dan penuh perhitungan. Tidak ada guratan penyesalan di sana, hanya ada kekecewaan karena ia tertangkap basah.

Danu melangkah maju, langkah sepatunya bergema di lantai granit. 'Kamu nggak paham persaingan di departemenku, Laks. Dosen pengujiku minta sesuatu yang lebih dari sekadar struktur beton. Mereka minta 'jiwa'. Dan tulisanmu... tulisanmu punya jiwa itu. Aku cuma meminjamnya.' Kata 'meminjam' terasa seperti tamparan bagi Laksmi. Selama berbulan-bulan, Laksmi merasa buntu (writer's block), padahal sebenarnya ide-idenya terus mengalir keluar melalui akses ilegal yang dilakukan kekasihnya sendiri.

Laksmi teringat saat-saat mereka makan bakso di pinggir jalan, di mana ia dengan antusias menceritakan bab demi bab novelnya. Tentang bagaimana ia membayangkan sebuah bangunan yang bisa 'bernapas' mengikuti emosi penghuninya. Seminggu kemudian, Danu memenangkan sayembara desain nasional dengan tema yang identik. Saat itu, Laksmi begitu bangga hingga menangis haru. Kini, tangis itu kembali, tapi rasanya pahit dan membakar tenggorokan.

Pengkhianatan di kampus bukan hal baru. Laksmi sering mendengar cerita tentang teman yang menikung pacar atau rekan satu kelompok yang hanya numpang nama. Tapi ini berbeda. Ini adalah pencurian intelektual sekaligus pengkhianatan emosional yang terencana. Danu tahu persis kata sandi Laksmi karena ia pernah melihat Laksmi mengetiknya saat mereka mengerjakan tugas bersama di kafetaria. Kepercayaan itu kini menjadi senjata yang ditikamkan tepat ke jantung Laksmi.

'Aku akan melaporkan ini ke Dekanat,' kata Laksmi tegas, meski hatinya remuk. Ia berdiri, mengemasi laptopnya dengan tangan yang masih gemetar. Namun Danu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang belum pernah Laksmi lihat sebelumnya—senyum seorang predator. 'Silakan, Laksmi. Tapi ingat, semua bukti fisik ada di laptopku, dan aku sudah menghapus jejak akses aslinya dari server pusat sepuluh menit yang lalu melalui akses admin himpunan. Yang kamu lihat di layar itu... sebentar lagi juga akan hilang.'

Laksmi terperangah. Ia segera menoleh ke layar iMac, dan benar saja, layar itu tiba-tiba melakukan refresh otomatis dan catatan log-in itu lenyap. Danu telah merencanakannya dengan sangat rapi. Ia bukan hanya seorang pencuri ide, tapi juga seorang manipulator ulung yang memanfaatkan posisinya di birokrasi mahasiswa untuk menutupi kejahatannya. Laksmi merasa kecil, tak berdaya di tengah ruang laboratorium yang luas itu.

Namun, Danu lupa satu hal kecil. Laksmi adalah seorang penulis. Dan seorang penulis tidak pernah benar-benar membiarkan detail penting terlepas begitu saja. Sebelum Danu masuk ke ruangan, Laksmi tidak hanya melihat history itu. Ia telah melakukan sesuatu yang lebih cerdik. Laksmi menarik napas panjang, menatap Danu dengan keberanian yang baru saja ia kumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya.

'Kamu pikir aku cuma sekadar mahasiswi sastra yang naif, Nu?' Laksmi berjalan mendekat, melewati Danu yang masih berdiri mematung. 'Aku sudah merekam seluruh percakapan kita sejak kamu masuk ke pintu itu lewat handphone-ku yang terhubung ke speaker bluetooth lab yang masih menyala. Dan tebak apa? Aku juga sudah melakukan screen record pakai aplikasi pihak ketiga yang nggak terdeteksi sistem pembersihanmu.'

Wajah Danu mendadak pucat. Keangkuhannya runtuh seketika. Ia mencoba meraih tas Laksmi, tapi Laksmi dengan gesit menghindar. 'Jangan sentuh aku! Kita selesai, Nu. Bukan cuma hubungan kita, tapi juga karir akademikmu yang 'sempurna' itu. Aku nggak peduli seberapa besar pengaruh bapakmu di universitas ini, pengkhianatan ini akan sampai ke meja rektor.'

Laksmi berlari keluar dari laboratorium, menuruni tangga darurat dengan air mata yang mengalir deras. Ia tidak menyangka bahwa tempat yang seharusnya menjadi saksi bisu perjuangan mereka meraih gelar sarjana justru menjadi pemakaman bagi cinta mereka. Di bawah lampu jalan kampus yang temaram, Laksmi melihat motor Danu terparkir dengan helm kembar yang mereka beli bulan lalu. Ia merasa mual.

Malam itu, Laksmi tidak pulang ke kosnya. Ia pergi ke rumah Sekar, sahabat paling setianya yang mengambil jurusan Hukum. Di sana, Laksmi menceritakan semuanya. Sekar, dengan ketenangan yang mematikan, langsung menyusun strategi. 'Ini bukan cuma soal skripsi, Laks. Ini soal plagiarisme dan akses ilegal data pribadi. Kita bisa bawa ini ke ranah hukum kalau kampus nggak bertindak tegas.'

Keesokan harinya, kabar tentang perselisihan Laksmi dan Danu menyebar cepat di antara mahasiswa tingkat akhir. Danu mencoba menghubungi Laksmi berkali-kali, mengirimkan pesan penuh permohonan maaf yang berbau ancaman terselubung. Namun Laksmi tetap bergeming. Ia tahu, jika ia memaafkan Danu kali ini, ia akan kehilangan dirinya sendiri selamanya.

Sidang skripsi yang seharusnya menjadi momen penuh suka cita berubah menjadi arena pembuktian. Laksmi maju lebih dulu, mempresentasikan risetnya dengan sangat emosional namun logis. Para penguji terpukau. Namun, saat giliran Danu, suasana berubah tegang. Salah satu penguji, yang ternyata sudah menerima bukti-bukti dari Laksmi dan Sekar, mulai mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik tentang asal-usul konsep 'bangunan bernapas' dalam desain Danu.

Danu tergagap. Ia tidak mampu menjelaskan filosofi di balik desain itu karena memang bukan dia yang menciptakannya. Di kursi penonton paling belakang, Laksmi duduk dengan tenang. Ia melihat bagaimana kebohongan yang dibangun setinggi langit itu perlahan-lahan runtuh berantakan. Rasa sakit itu masih ada, namun ada rasa lega yang mulai menyelinap di sela-sela sesak dadanya.

Kisah ini bukan hanya tentang cinta yang kandas di tengah jalan menuju wisuda. Ini tentang keberanian seorang perempuan untuk membela karyanya, membela jati dirinya, bahkan jika itu berarti harus menghancurkan orang yang paling ia cintai. Laksmi belajar bahwa di dunia kampus yang tampak idealis pun, serigala berbulu domba bisa bersembunyi di balik senyum paling manis dan bantuan paling tulus.

Setelah sidang yang penuh drama itu, Danu dinyatakan harus mengulang seluruh proyek akhirnya dan mendapat sanksi akademik berat. Sementara Laksmi, ia berhasil menyelesaikan novelnya. Novel itu bukan lagi tentang cinta yang indah, tapi tentang seorang mahasiswi yang menemukan kekuatannya di tengah pengkhianatan. Ia menamai bab pertamanya dengan judul yang sama dengan kejadian malam itu: 'Log-in Terakhir di Lab Terpadu'.

Beberapa tahun kemudian, Laksmi berdiri di depan sebuah toko buku besar, melihat novelnya menjadi best-seller. Di depannya, sebuah bangunan perpustakaan kota baru saja diresmikan. Desainnya sangat berbeda dengan apa yang pernah Danu curi. Bangunan itu kokoh, jujur, dan memiliki karakter yang kuat. Laksmi tersenyum tipis. Ia sadar bahwa ide mungkin bisa dicuri, tapi jiwa seorang pencipta takkan pernah bisa digandakan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url