Martabak Keju Jam Sebelas Malam: Saat Riwayat GoFood Membongkar Rahasia Paling Busuk di Balik Pernikahanku

Martabak Keju Jam Sebelas Malam: Saat Riwayat GoFood Membongkar Rahasia Paling Busuk di Balik Pernikahanku

Skandal & Pengkhianatan

Martabak Keju Jam Sebelas Malam: Saat Riwayat GoFood Membongkar Rahasia Paling Busuk di Balik Pernikahanku



'Mas, aku menginap di rumah Ibu ya semalam ini saja. Masih pusing banget, butuh tenang,' pesan itu masih menghuni kolom chat WhatsApp Galang Dananjaya sejak pukul delapan malam tadi. Galang, yang saat itu baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta setelah perjalanan dinas dari Singapura, hanya bisa menghela napas panjang. Ia ingin sekali segera memeluk Sekar Wangi, istrinya yang sedang hamil muda, namun rasa lelah dan pengertian terhadap kondisi hormon ibu hamil membuatnya mengalah. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah mereka di kawasan Bintaro sendirian.

Keheningan stasiun MRT Dukuh Atas di jam sepuluh malam terasa mencekam. Galang duduk di bangku peron, menunggu kereta terakhir. Sambil membunuh waktu, ia membuka tablet kerjanya untuk memeriksa laporan bulanan. Namun, sebuah notifikasi email masuk ke akun Gmail lamanya—akun yang sudah jarang ia gunakan kecuali untuk layanan-layanan sekunder. Notifikasi itu adalah tanda terima digital dari sebuah aplikasi ojek daring. Penasaran, Galang mengetuk layar. Matanya menyipit saat membaca rinciannya.

'Terima kasih telah memesan Martabak Manis Keju Spesial - Adonan Pandan'. Waktu pemesanan: 22.15 WIB. Alamat pengiriman: The Elements Apartment, Tower C, Lantai 22. Pemesan: Biru Atmaja. Galang tertegun. Biru adalah rekan bisnis sekaligus sahabat karibnya sejak masa kuliah. Mengapa notifikasi pesanan Biru masuk ke email Galang? Ia baru teringat, setahun lalu saat mereka merintis startup bersama, Biru meminjam akun lamanya untuk mendaftarkan akun korporat karena ponsel Biru sedang bermasalah. Rupanya, akun itu belum pernah dikeluarkan dari aplikasi di ponsel Biru.

Darah Galang mendidih, bukan karena martabak itu, melainkan karena alamatnya. The Elements Apartment. Itu adalah unit pribadi milik Biru yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu eksklusif atau sekadar tempat pelarian dari penatnya Jakarta. Namun, hal yang paling membuat jantung Galang berdegup kencang adalah menu pesanannya. Martabak Keju Adonan Pandan. Itu bukan selera Biru. Biru membenci keju. Tapi itu adalah makanan kesukaan Sekar, terutama saat dia sedang merasa mual di awal kehamilan ini. Sekar selalu bilang, hanya martabak itu yang bisa meredakan pusingnya.

Galang merasa dunianya miring. Logikanya beradu dengan insting. Mungkinkah hanya kebetulan? Apakah Biru sedang bersama wanita lain yang juga menyukai martabak itu? Tapi mengapa di saat yang sama Sekar mengaku sedang berada di rumah ibunya di Bogor? Tanpa berpikir panjang, Galang tidak jadi naik kereta ke arah Bintaro. Ia berbalik arah, menaiki tangga keluar stasiun dengan tergesa, dan mencegat taksi pertama yang ia temui di pinggir jalan Sudirman. 'Ke Elements Apartment, Pak. Cepat,' suaranya serak, penuh dengan kecemasan yang berusaha ia tekan ke dasar perut.

Sepanjang perjalanan, kenangan tentang Biru dan Sekar berputar seperti film rusak di kepala Galang. Biru yang selalu ada saat Galang sedang sibuk bekerja. Biru yang menawarkan diri mengantar Sekar kontrol ke dokter kandungan saat mobil Galang mogok. Biru yang selalu tahu warna bunga favorit Sekar lebih baik daripada Galang sendiri. 'Gue cuma jagain aset berharga lo, Lang,' kata Biru waktu itu sambil tertawa renyah. Kini, tawa itu terdengar seperti ejekan iblis di telinga Galang.

Taksi berhenti tepat di depan lobby mewah apartemen tersebut. Galang melangkah masuk dengan langkah yang berat namun pasti. Sebagai pemegang akses darurat untuk kantor mereka yang terdaftar di beberapa unit apartemen tersebut, Galang memiliki kartu akses cadangan di dompetnya. Ia menekan tombol angka 22 di dalam lift yang berdinding cermin. Ia melihat pantulan dirinya; wajah yang pucat, mata yang merah, dan tangan yang gemetar hebat. Ia merasa seperti seorang asing yang sedang menuju ke medan perang tanpa senjata.

Lantai 22 sunyi. Galang berdiri di depan pintu unit 22-B. Ia bisa mendengar suara samar musik jazz dari dalam—musik favorit Biru. Dengan tangan yang masih bergetar, ia menempelkan kartu akses. Bunyi 'klik' pelan itu terasa seperti dentuman meriam. Galang mendorong pintu itu perlahan. Aroma martabak manis yang baru saja dibuka tercium menyengat, bercampur dengan aroma parfum yang sangat ia kenali. Parfum mawar liar yang ia belikan untuk Sekar sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu.

Di ruang tengah yang remang-remang, di atas sofa beludru berwarna biru gelap, ia melihat mereka. Tidak ada adegan syur yang eksplisit, namun apa yang ia lihat jauh lebih menyakitkan. Sekar sedang bersandar di bahu Biru, menyuapkan sepotong martabak ke mulut pria itu sambil tertawa kecil. Biru mengelus perut Sekar yang mulai membuncit dengan gerakan yang sangat intim, sebuah gerakan yang seharusnya hanya menjadi hak Galang. 'Anak ini bakal lebih mirip aku atau kamu ya, Kar?' bisik Biru yang masih bisa didengar Galang di ambang pintu.

Sekar menjawab dengan nada manja yang tidak pernah ia tunjukkan lagi pada Galang selama berbulan-bulan, 'Asal jangan mirip Galang yang kaku itu saja, aku sudah bersyukur.' Kalimat itu seperti belati yang dihunus tepat ke jantung Galang. Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Galang justru merasakan kekosongan yang luar biasa. Ia merogoh ponselnya, menyalakan lampu flash, dan mengambil satu foto mereka berdua yang sedang membeku karena terkejut melihat kehadirannya.

'Jadi ini alasan kenapa Ibu tidak menjawab teleponku tadi?' suara Galang keluar begitu tenang, sangat tenang hingga ia sendiri merasa takut. Sekar langsung berdiri, wajahnya pucat pasi, hampir jatuh jika tidak ditangkap oleh Biru. 'Galang... ini nggak seperti yang kamu lihat...' kalimat klise itu keluar dari bibir Sekar. Biru bangkit berdiri, mencoba memasang wajah tegar meskipun matanya memancarkan ketakutan yang nyata. 'Lang, dengerin dulu. Kita bisa omongin ini sebagai partner bisnis.'

Galang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. 'Partner bisnis? Oh, benar. Kita memang partner. Dan aku baru saja menyadari kalau investasi terbesarku ternyata dikelola oleh orang lain di belakangku.' Galang menatap perut Sekar. 'Itu anakku, Kar? Atau bagian dari kesepakatan bisnis kalian juga?' Sekar mulai terisak, air matanya tumpah, namun Galang tidak merasakan simpati sedikit pun. Rasa cinta yang tadi membuncah kini menguap, berganti menjadi abu yang dingin.

Galang berbalik, meninggalkan unit itu tanpa kata lagi. Ia tidak butuh penjelasan. Notifikasi GoFood itu sudah memberitahunya lebih banyak daripada yang bisa dikatakan oleh kata-kata mereka. Sambil berjalan menuju lift, Galang menelepon pengacaranya. 'Siapkan berkas perceraian dan pembubaran CV. Kita lakukan besok pagi. Oh, satu lagi, aku punya bukti foto untuk gugatan perzinaan.' Ia mematikan ponselnya, melangkah keluar ke udara malam Jakarta yang polutif, merasa untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia benar-benar bisa bernapas meski dadanya terasa hancur lebur.

Pagi harinya, Galang tidak pulang ke rumah. Ia menginap di hotel murah di dekat kantor. Ia membuka laptopnya lagi, melihat kembali riwayat GoFood itu. Ternyata, ini bukan yang pertama. Ada belasan pesanan serupa dalam tiga bulan terakhir. Semua dikirim ke alamat yang sama. Semua di jam-jam saat Galang sedang lembur atau dinas luar kota. Ia merasa bodoh, namun sekaligus merasa merdeka. Rahasia itu bukan lagi beban yang harus ia pikul sendirian.

Beberapa jam kemudian, ponselnya meledak dengan panggilan dari Biru dan Sekar. Pesan-pesan penuh permohonan maaf, ancaman, hingga tangisan memenuhi layar. Galang tidak membalas satu pun. Ia hanya mengirim satu pesan singkat ke grup kantor yang berisi dia dan Biru: 'Aku mengundurkan diri. Segala aset yang atas namaku akan ditarik per hari ini. Selamat menikmati martabaknya, Biru. Semoga harganya sepadan dengan apa yang baru saja kamu hilangkan.'

Drama ini baru saja dimulai. Galang tahu, menghancurkan Biru secara finansial akan sangat mudah karena hampir seluruh modal startup mereka berasal dari keluarga Galang. Namun, luka di hatinya tidak akan sembuh hanya dengan melihat Biru jatuh miskin. Galang duduk di kursi kerjanya, menatap pemandangan kota dari lantai tinggi, merencanakan langkah selanjutnya. Ia bukan lagi Galang yang kaku dan penuh pengertian. Ia adalah pria yang baru saja dikhianati oleh dua orang terpenting dalam hidupnya, dan ia tidak akan membiarkan mereka pergi dengan tenang.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya singkat namun membuat bulu kuduk Galang berdiri: 'Kamu pikir hanya Biru yang menyimpan rahasia tentang Sekar? Datanglah ke alamat ini kalau kamu mau tahu siapa sebenarnya ayah dari bayi itu.' Galang mengerutkan kening. Apakah ada pengkhianatan di dalam pengkhianatan? Ia merasa berada di dalam labirin yang tidak ada ujungnya. Namun, rasa penasaran yang membakar membuatnya kembali beranjak. Permainan ini jauh lebih besar dari sekadar martabak keju di jam sebelas malam.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url