Dua Belas Tahun Aku Menafkahi Sosok Rahasia di Hidup Suamiku, Ternyata Dia Orang yang Paling Sering Memelukku

Dua Belas Tahun Aku Menafkahi Sosok Rahasia di Hidup Suamiku, Ternyata Dia Orang yang Paling Sering Memelukku

Skandal & Pengkhianatan

Dua Belas Tahun Aku Menafkahi Sosok Rahasia di Hidup Suamiku, Ternyata Dia Orang yang Paling Sering Memelukku



'Mas Danan, kok ada tagihan asuransi atas nama Laras di rekening bersama kita? Bukannya Laras bilang dia sudah bayar sendiri dari gaji magangnya?' Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sekar saat mereka sedang menikmati kopi sore di teras belakang. Dananjaya, pria yang selama dua belas tahun ini menjadi sandaran hidupnya, hanya terdiam sejenak. Matanya tetap terpaku pada tablet di tangannya, meski Sekar bisa melihat otot rahang suaminya itu mengeras tiba-tiba.

'Mungkin itu tagihan lama yang belum terhapus sistem, Kar. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu kan tahu Laras itu kadang ceroboh kalau soal administrasi,' jawab Dananjaya tenang, terlalu tenang bahkan untuk ukuran pria yang baru saja dikonfrontasi soal aliran dana keluar. Sekar mencoba memercayai jawaban itu. Laras adalah adik kandungnya, satu-satunya keluarga yang tersisa setelah orang tua mereka berpulang dalam kecelakaan tragis sepuluh tahun silam. Sejak saat itu, Dananjaya-lah yang membantu Sekar membiayai kuliah Laras hingga gadis itu kini bisa bekerja di sebuah firma hukum ternama.

Namun, rasa janggal itu tidak mau pergi. Sekar bukan wanita yang mudah curiga, tapi instingnya sebagai seorang auditor keuangan bergejolak. Malam itu, saat Dananjaya sudah terlelap, Sekar memberanikan diri membuka laptop kerja suaminya yang tertinggal di ruang kerja. Ia tahu password-nya—tanggal pernikahan mereka. Sebuah klise yang dulu ia anggap romantis, kini terasa seperti ironi yang pahit. Di sana, ia tidak menemukan folder berjudul 'Pekerjaan' atau 'Proyek'. Ia menemukan sebuah file tersembunyi dengan nama 'Investasi Masa Depan'.

Isinya bukan saham atau reksadana. Isinya adalah ribuan foto, catatan medis, hingga bukti pembayaran apartemen mewah di pusat kota Jakarta. Dan yang membuat jantung Sekar seolah berhenti berdetak adalah nama yang tertera di setiap lembar dokumen itu: Larasati Paramita. Adiknya. Namun, pengkhianatan ini jauh lebih dalam dari sekadar perselingkuhan biasa. Di dalam folder itu, ada foto-foto seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang memiliki mata persis seperti Dananjaya. Anak itu dipanggil 'Bumi'.

Sekar merasa paru-parunya menyempit. Selama ini, ia dan Dananjaya berjuang keras untuk mendapatkan keturunan. Mereka sudah menjalani tiga kali program bayi tabung yang semuanya gagal. Dananjaya selalu memeluknya, membisikkan kata-kata penenang bahwa 'Mungkin Tuhan ingin kita berdua saja'. Ternyata, di luar sana, suaminya telah memiliki sebuah keluarga yang utuh dengan adik kandungnya sendiri. Dunia Sekar runtuh seketika. Ia teringat bagaimana setiap akhir pekan Laras sering datang ke rumah mereka, mengeluh lelah dengan pekerjaannya, lalu Dananjaya akan dengan lembut menyuruh Laras beristirahat di kamar tamu.

Keesokan harinya, Sekar tidak menangis. Ia bangun dengan dingin yang membeku di dalam jiwanya. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, menggoreng nasi dengan bumbu yang paling disukai Dananjaya. Saat sarapan berlangsung, Sekar meletakkan sebuah struk pembayaran pajak apartemen yang ia cetak semalam di depan piring suaminya. 'Bagus ya, Mas, unit di Menteng itu. View-nya langsung ke Monas. Bumi pasti suka main di balkonnya,' ucap Sekar dengan nada sedatar air di sumur tua.

Dananjaya tersedak. Wajahnya yang biasanya berwibawa seketika pucat pasi. 'Sekar... aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan,' gagapnya. Sekar hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang lebih menyakitkan daripada makian. 'Tidak perlu dijelaskan, Mas. Aku sudah melihat semuanya. Dari biaya persalinan Laras di Singapura lima tahun lalu, sampai uang saku bulanan yang kamu ambil dari dana pendidikan yang harusnya buat anak kita nanti—kalau saja aku bisa hamil.'

Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Laras datang dengan keceriaan palsunya yang biasa. 'Mbak Sekar! Aku bawain martabak manis kesukaan Mbak nih!' seru Laras dari depan pintu. Sekar berdiri, membukakan pintu, dan menatap adiknya dalam-dalam. Laras tampak cantik, mengenakan dress pemberian Dananjaya yang Sekar kira adalah hadiah ulang tahun dari kantor. Sekar mempersilakan Laras masuk, menuntunnya ke ruang makan di mana Dananjaya masih terduduk lemas.

'Laras, duduklah. Kita baru saja membicarakan Bumi. Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau Bumi sudah bisa baca sekarang?' tanya Sekar, matanya tajam menusuk netra adiknya. Laras membeku. Martabak di tangannya terjatuh ke lantai, isinya berhamburan sama seperti rahasia mereka yang kini berserakan tak tentu arah. Ruangan itu seketika menjadi sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti vonis hukuman mati bagi hubungan mereka bertiga.

'Mbak... maafkan aku. Mas Danan yang memintaku merahasiakannya. Dia bilang Mbak akan sedih kalau tahu dia punya anak dari perempuan lain,' isak Laras, mulai mengeluarkan senjata andalannya: air mata. Tapi kali ini, Sekar tidak luluh. Ia merasa jijik. Bagaimana bisa darah dagingnya sendiri membangun kebahagiaan di atas reruntuhan hatinya? Dan bagaimana bisa pria yang ia cintai dengan sepenuh jiwa menjadikannya 'bank' untuk membiayai kehidupan rahasianya?

Sekar mengeluarkan sebuah map cokelat dari bawah meja. 'Ini adalah surat gugatan cerai dan surat penyerahan hak asuh atas seluruh aset yang kita miliki. Aku sudah memindahkan semua dana di rekening bersama ke panti asuhan pagi ini. Dan untuk apartemen itu... itu atas namaku, Mas. Karena kamu menggunakan uang perusahaan pribadiku untuk membelinya atas namaku. Besok, aku ingin kalian berdua dan anak hasil pengkhianatan itu keluar dari sana.'

Dananjaya mencoba meraih tangan Sekar, namun Sekar menghindar. 'Jangan sentuh aku dengan tangan yang juga menyentuh adikku. Kalian berdua adalah dua orang paling suci yang pernah kukenal, ternyata kalian hanyalah parasit. Mas, kamu mencintai Laras? Silakan ambil dia. Tapi ingat, kamu memulai ini dengan uangku. Dan sekarang, kamu akan merawatnya dengan tangan kosongmu sendiri. Mari kita lihat seberapa lama cinta kalian bertahan tanpa fasilitas mewah yang aku sediakan.'

Laras menangis histeris, memohon ampunan, sementara Dananjaya hanya bisa menunduk malu. Sekar berjalan keluar rumah, menghirup udara pagi yang terasa lebih ringan meski hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan besok, tapi yang ia tahu pasti, pengkhianatan ini telah berakhir. Ia tidak lagi menafkahi kehancurannya sendiri. Ia berjalan menuju mobilnya, meninggalkan rumah yang selama ini ia anggap istana, namun ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara yang usang.

Di dalam mobil, barulah air mata Sekar tumpah. Ia menangisi sepuluh tahun yang hilang, menangisi kasih sayang seorang kakak yang dikhianati, dan menangisi pria yang ternyata tidak pernah benar-benar ia kenal. Namun di balik tangis itu, ada secercah kekuatan. Ia sadar bahwa harga dirinya jauh lebih mahal daripada seluruh aset yang ia tinggalkan. Malam itu, Sekar memesan tiket pesawat menuju kota kelahirannya, tempat di mana ia akan memulai hidup baru, jauh dari bayang-bayang Dananjaya dan Laras.

Skandal ini mungkin akan menjadi buah bibir di kalangan rekan bisnis mereka, tapi Sekar tidak peduli. Ia sudah selesai dengan drama. Ia sudah selesai menjadi figuran dalam hidupnya sendiri. Kini, ia adalah tokoh utama yang akan menulis narasinya sendiri, tanpa ada lagi pengkhianatan yang bersembunyi di balik senyum orang-orang terdekatnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url