Tangan Kanan dan Suamiku Bersekongkol: Rahasia di Balik Brankas Kantor yang Menghancurkan Segalanya...
Malam itu, Jakarta lagi nggak bersahabat. Hujan deras mengguyur kawasan Sudirman, bikin bunyi klakson kendaraan yang terjebak macet terdengar seperti simfoni kecemasan di telinga Maya. Di lantai 22 gedung perkantoran mewah itu, Maya masih duduk di kursi kerjanya. Lampu ruangan sengaja ia redupkan, hanya menyisakan pendar dari layar monitor yang menampilkan desain resort terbaru di Bali. Sebagai CEO sekaligus founder PT Arsitekta Global, Maya dikenal sebagai sosok yang perfeksionis. Baginya, setiap garis harus punya jiwa, dan setiap ruang harus punya cerita.
Maya memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Sudah jam sembilan malam. Dion, suaminya, tadi sempat mengirim pesan singkat: 'Sayang, aku ada meeting dadakan sama klien dari Singapura. Mungkin pulang telat. Jangan lupa makan ya.' Maya tersenyum tipis membaca pesan itu. Dion memang selalu perhatian, tipe suami idaman yang jarang ditemui di tengah hiruk pikuk kota sebesar Jakarta. Mereka sudah menikah selama tujuh tahun, dan sejauh ini, semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna, mungkin?
Tiba-tiba, suara notifikasi dari iPad yang tertinggal di meja tamu mengejutkan Maya. Itu iPad milik Arini, Chief Financial Officer sekaligus sahabat karib Maya sejak zaman kuliah. Arini sepertinya lupa membawanya saat pulang dua jam yang lalu. Maya awalnya nggak berniat menyentuh barang itu, tapi notifikasi yang muncul di layar kunci membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Ada pesan masuk dari kontak yang diberi nama 'D'.
'Uang dari rekening proyek Menteng udah masuk ke akun bayangan kita. Maya nggak curiga sedikit pun. Dia terlalu sibuk sama resort Bali-nya. Sabtu ini jadi ke villa Bogor kan, Sayang? Aku kangen banget.'
Dunia seolah berputar. Maya merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. 'D'? Dan 'Sayang'? Tangannya gemetar saat mencoba membuka iPad itu. Arini tipe orang yang ceroboh, dia nggak pernah mengunci iPad-nya kalau cuma di kantor. Dengan jari yang dingin, Maya membuka folder galeri foto yang tersinkronisasi otomatis dengan iCloud. Di sana, di dalam folder tersembunyi yang dilindungi password (yang untungnya menggunakan tanggal lahir Arini yang sangat dihapal Maya), semua kebenaran itu terbongkar.
Foto-foto itu... bukan sekadar foto biasa. Ada ratusan foto Dion dan Arini. Mulai dari mereka yang sedang makan malam romantis, berpelukan di depan sebuah rumah mewah yang baru saja Maya desain, hingga foto-foto di dalam kamar hotel yang membuat perut Maya mual. Tapi yang paling menghancurkan bukan cuma perselingkuhan itu. Maya menemukan tangkapan layar transaksi perbankan. Selama tiga tahun terakhir, Arini dan Dion telah memindahkan dana operasional perusahaan secara perlahan ke sebuah rekening di luar negeri.
Maya terduduk lemas di lantai. Air matanya nggak kunjung keluar, tergantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Dia ingat betul betapa dia mempercayai Arini. Arini adalah orang yang dia rangkul saat pertama kali merintis kantor ini dari sebuah garasi sempit. Dan Dion? Dion adalah pria yang berjanji akan menjaganya saat ayahnya meninggal dunia lima tahun lalu. Ternyata, orang-orang terdekatnya sedang menenun jaring laba-laba untuk menjerat dan menghisap habis hidupnya.
Ia mulai mengingat kembali hal-hal kecil yang dulu ia anggap biasa. Kenapa Dion sering sekali meeting ke luar kota di saat yang bersamaan dengan Arini yang izin cuti untuk alasan keluarga? Kenapa laporan keuangan proyek Menteng selalu tampak sedikit janggal tapi Arini selalu punya penjelasan yang masuk akal? Maya merasa bodoh. Dia begitu fokus pada keindahan desain-desainnya sampai dia buta terhadap busuknya orang-orang di sekitarnya.
Maya bangkit, langkahnya limbung menuju brankas di balik lukisan abstrak di ruangannya. Dia mengambil sebuah flashdisk hitam yang selama ini ia simpan untuk keadaan darurat. Ia mulai menyalin semua data dari iPad Arini. Semua bukti chat, semua foto, semua riwayat transaksi. Sambil menunggu proses penyalinan, Maya menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang basah oleh hujan. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak pucat dan rapuh.
Tapi di balik kerapuhan itu, ada amarah yang mulai membara. Maya bukan tipe wanita yang akan menangis di pojokan dan meratapi nasib. Jika mereka ingin bermain kotor, maka Maya akan menunjukkan bagaimana seorang arsitek meruntuhkan sebuah bangunan sampai ke fondasinya. Dia tahu bahwa villa di Bogor yang disebutkan dalam chat tadi adalah villa rahasia yang dibeli Dion atas nama orang lain. Dan sabtu ini, Maya akan memastikan bahwa kunjungan mereka ke sana menjadi kunjungan terakhir yang tak akan pernah mereka lupakan.
Suara lift berdenting di kejauhan. Maya buru-buru memasukkan iPad Arini kembali ke tempat semula dan menyimpan flashdisk-nya di dalam saku blazer. Dia mematikan lampu meja dan duduk kembali di kursinya, berpura-pura masih sibuk dengan laptopnya. Pintu ruangan terbuka perlahan. Itu Arini. Dia kembali dengan wajah yang tampak cemas, nafasnya agak tersenggal.
'Eh, May? Belum pulang? Sorry banget, iPad-ku ketinggalan di meja tamu kayaknya,' kata Arini dengan nada suara yang dibuat senatural mungkin. Dia tersenyum, senyum manis yang selama ini Maya anggap sebagai dukungan tulus seorang sahabat.
Maya menoleh, memaksakan sebuah senyuman yang paling meyakinkan dalam hidupnya. 'Iya nih, Ni. Sedikit lagi kelar. iPad-mu ada di meja itu kok. Untung belum kubawa pulang, soalnya tadi bunyi terus, banyak notifikasi masuk,' pancing Maya sambil memperhatikan ekspresi wajah Arini.
Wajah Arini mendadak kaku. Dia segera menyambar iPad-nya dan memeriksa layar. 'Oh... iya, grup keluarga biasa lah, berisik banget. Ya udah, aku duluan ya, May. Kamu jangan terlalu capek, inget kesehatan,' Arini bergegas keluar tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Begitu pintu tertutup, Maya menarik nafas panjang. Permainan baru saja dimulai.
Sepanjang perjalanan pulang dengan taksi online, Maya hanya diam menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang temaram. Sesampainya di apartemen, Dion sudah ada di sana, sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV. Dia menyambut Maya dengan kecupan di kening dan pelukan hangat. Pelukan yang dulu terasa menenangkan, kini terasa seperti lilitan ular sanca yang mematikan.
'Gimana meeting-nya, Sayang? Capek banget ya?' tanya Dion dengan suara baritonnya yang lembut. Dia mengambil tas Maya, menunjukkan perhatian yang luar biasa konsisten.
'Lumayan, Mas. Kliennya banyak mau. Kamu sendiri gimana? Meeting sama orang Singapura-nya lancar?' jawab Maya sambil berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Dia melepaskan blazer mahalnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
'Lancar kok. Mereka tertarik buat investasi di proyek kita yang selanjutnya. Oh ya, besok Sabtu aku mungkin harus ke Bandung seharian ya, ada urusan teknis di lapangan yang nggak bisa ditunda,' kata Dion tanpa dosa. Bohong. Maya tahu itu bohong besar. Tujuannya bukan Bandung, tapi Bogor. Dan tujuannya bukan urusan teknis, tapi pengkhianatan.
Maya meneguk air dingin itu perlahan, membiarkan rasa dinginnya menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. 'Oke, Mas. Kebetulan hari Sabtu aku juga ada janji sama mama mau ke butik.' Maya berbalik dan menatap mata Dion dalam-dalam. Dion tampak tenang, tidak ada sedikit pun kilat rasa bersalah di sana. Benar-benar seorang aktor yang hebat.
Malam itu, Maya tidak bisa tidur. Dia berbaring di samping pria yang selama tujuh tahun ini dia cintai, namun terasa seperti orang asing yang paling berbahaya. Dalam kegelapan kamar, Maya mulai menyusun rencana. Dia akan menghubungi pengacara terbaik yang dia kenal secara diam-diam. Dia akan memastikan bahwa saat dia menggugat cerai dan melaporkan Arini atas penggelapan dana, mereka berdua tidak akan punya satu sen pun yang tersisa. Dia akan mengambil kembali semua yang telah mereka curi darinya, termasuk harga dirinya.
Pagi harinya, Maya berangkat ke kantor lebih awal. Dia menghubungi seorang detektif swasta yang direkomendasikan oleh salah satu kolega bisnisnya. Dia memberikan detail tentang villa di Bogor itu. 'Saya ingin foto dan video mereka di sana. Semuanya. Tanpa kecuali,' perintah Maya dengan nada dingin.
Hari-hari menuju Sabtu terasa seperti selamanya bagi Maya. Di kantor, dia harus tetap bersikap biasa saja di depan Arini. Mereka bahkan sempat makan siang bersama, membicarakan rencana masa depan perusahaan. Maya harus menahan mual setiap kali Arini memuji kepemimpinannya. Bagaimana bisa seseorang menusuk dari belakang sambil tersenyum begitu lebar?
Jumat sore, Maya mendapatkan kiriman email dari detektif tersebut. Isinya adalah konfirmasi bahwa Dion telah memesan layanan katering mewah dan bunga-bunga eksotis untuk dikirim ke villa di Bogor besok pagi. Ternyata, Sabtu itu adalah hari jadi ke-3 hubungan gelap mereka. Maya tertawa getir. Jadi selama ini dia merayakan hari jadi pernikahannya dengan Dion, sementara Dion merayakan hari jadi perselingkuhannya dengan sahabatnya sendiri.
Sabtu pagi tiba. Dion berangkat lebih awal dengan alasan mengejar waktu agar tidak terjebak macet ke Bandung. Setelah Dion pergi, Maya tidak pergi ke rumah mamanya. Dia memakai pakaian serba hitam, kacamata hitam, dan membawa semua dokumen asli perusahaan yang berhasil dia amankan dari brankas rahasia Arini kemarin sore. Dia meluncur menuju Bogor dengan mobil sewaan agar tidak terlacak.
Villa itu terletak di daerah terpencil yang sangat asri. Dari kejauhan, Maya bisa melihat mobil Dion terparkir di halaman. Hatinya hancur berkeping-keping saat melihat Arini keluar dari pintu depan hanya dengan mengenakan jubah mandi, menyambut Dion dengan pelukan yang sangat mesra. Maya mendokumentasikan semuanya dari kejauhan. Tapi dia tidak akan berhenti di situ. Dia punya kejutan yang jauh lebih besar.
Maya mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan konferensi yang sudah dia jadwalkan. Panggilan itu terhubung ke seluruh pemegang saham PT Arsitekta Global dan juga beberapa wartawan media bisnis yang selama ini menjadi rekanan kantornya. 'Halo semuanya, maaf mengganggu waktu akhir pekan Anda. Saya hanya ingin menunjukkan sebuah presentasi langsung mengenai integritas dan masa depan perusahaan kita...'
Maya berjalan mendekat ke arah villa sambil tetap memegang ponselnya yang melakukan siaran langsung. Jantungnya berdegup kencang, tangannya dingin, tapi langkahnya tidak ragu. Saat dia sampai di depan pintu kaca besar yang menghadap ke kolam renang, dia melihat Dion dan Arini sedang bersulang dengan segelas wine di tangan mereka. Mereka tampak sangat bahagia, tertawa lepas di atas penderitaan yang selama ini Maya tanggung tanpa sadar.
Maya mengetuk pintu kaca itu dengan keras. Dion dan Arini menoleh serentak. Ekspresi wajah mereka berubah seketika, dari penuh tawa menjadi pucat pasi seperti melihat hantu. Maya memberikan senyuman paling tajam yang pernah ia miliki. 'Selamat hari jadi yang ketiga, Mas... Arini. Apakah wine-nya terasa enak jika dibeli dengan uang curian?'
Dion berdiri dengan gemetar, mencoba mencari kata-kata yang tidak akan pernah keluar. Arini hanya bisa terpaku, menutupi tubuhnya yang hanya terbalut jubah mandi. Mereka tidak sadar bahwa di tangan kiri Maya, ponselnya masih menyiarkan wajah-wajah ketakutan mereka ke hadapan dewan komisaris dan media. Inilah awal dari kehancuran yang sudah mereka bangun sendiri garis demi garis, batu demi batu.