Duri dalam Ambisi: Rahasia di Balik Beasiswa Emas
Bau debu perpustakaan tua selalu memiliki cara tersendiri untuk menenangkan sarafku, namun sore itu, aroma kertas lapuk itu justru terasa mencekik. Aku duduk di sudut paling tersembunyi, di antara jajaran rak buku hukum yang tebalnya mampu mematahkan pergelangan tangan. Di hadapanku, sebuah map biru tua bertuliskan 'Global Excellence Scholarship' tergeletak seperti bom waktu yang siap meledak. Ini adalah tiket emasku menuju London, mimpi yang telah kurajut sejak semester pertama, mimpi yang membuatku merelakan jam tidur, kehidupan sosial, dan mungkin saja, nuraniku.
Lampu neon di langit-langit berkedip sekali, menciptakan bayangan panjang di atas meja kayu yang penuh coretan tangan mahasiswa dari dekade lalu. Aku menghela napas panjang, merasakan getaran halus di jemariku saat aku membuka lembar demi lembar berkas administrasiku. Semuanya sempurna. Indeks Prestasi Kumulatif yang nyaris menyentuh angka empat, sertifikat organisasi yang berderet, dan surat rekomendasi dari Dekan yang kuraih dengan jerih payah luar biasa. Namun, ada satu hal yang mengganjal, sebuah nama yang selalu muncul tepat di bawah namaku dalam setiap pemeringkatan paralel: Reihan.
Suara langkah kaki yang ritmis memecah kesunyian lantai tiga. Aku mengenali bunyi itu. Sepatu kets yang sedikit menyeret, langkah yang penuh percaya diri namun memiliki nada keraguan yang hanya bisa kutangkap karena aku telah mengamatinya selama tiga tahun terakhir. Reihan muncul dari balik rak, mengenakan jaket almamater yang tersampir sembarangan di bahunya. Ia tersenyum, tipe senyuman yang membuat banyak mahasiswi tingkat satu tersipu, namun bagiku, senyuman itu hanyalah tirai yang menutupi ambisi yang sama besarnya dengan milikku.
'Aku tahu aku akan menemukanmu di sini, Al,' katanya dengan suara bariton yang tenang. Ia menarik kursi di hadapanku tanpa izin, menimbulkan suara decitan yang memilukan di tengah keheningan. 'Kamu selalu bersembunyi di balik buku-buku besar ini saat sedang cemas. Apakah berkasmu sudah selesai?'
Aku menutup map biru itu dengan gerakan yang mungkin terlihat terlalu protektif. 'Hampir. Tinggal menunggu tanda tangan terakhir dari Prof. Handoko. Kamu sendiri?'
Reihan menyandarkan punggungnya, matanya menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin memalingkan wajah. 'Sudah kuserahkan tadi pagi. Prof. Handoko sangat kooperatif. Dia bilang, tahun ini kuota untuk fakultas kita hanya satu orang. Kamu tahu artinya itu, kan?'
Kalimat itu menggantung di udara seperti kabut dingin. Hanya satu orang. Artinya, persahabatan yang kami bangun di ruang senat mahasiswa, kopi-kopi yang kami minum saat lembur mengerjakan program kerja, dan tatapan-tatapan penuh makna di bawah lampu jalan kampus, semuanya harus berakhir di meja seleksi. Kami bukan lagi rekan, kami adalah rival dalam permainan zero-sum. Kemenanganku adalah kehancurannya, dan keberhasilannya adalah kegagalanku.
'Aku tahu,' jawabku pendek. Aku mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil, meskipun jantungku berdegup kencang. 'Dan aku tidak berencana untuk mengalah, Rei. Kamu tahu seberapa besar artinya beasiswa ini untuk keluargaku.'
Reihan mengangguk perlahan. Ia meraih sebuah bolpoin di atas meja, memainkannya dengan jemari yang panjang. 'Aku juga tidak memintamu mengalah. Aku hanya ingin kita jujur. Apa pun hasilnya nanti, aku harap kita tetap bisa bicara seperti ini. Tapi, Al, ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang proses seleksi tahun ini. Sesuatu yang tidak tertulis di panduan.'
Aku mengerutkan kening. 'Apa maksudmu?'
Ia mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. 'Prof. Handoko tidak hanya melihat prestasi. Dia mencari 'kontribusi' nyata untuk proyek penelitiannya yang tertunda. Aku mendengar dia menawarkan 'jalur cepat' bagi siapa pun yang bersedia membantu menyelesaikan laporannya yang bermasalah di kementerian. Kamu sudah bicara dengannya?'
Rasa mual tiba-tiba meluap di perutku. Prof. Handoko adalah dosen pembimbingku, sosok yang selalu kupuja karena integritasnya. Mendengar spekulasi seperti itu dari mulut Reihan terasa seperti penghianatan ganda. 'Jangan bicara sembarangan, Rei. Itu tuduhan serius. Prof. Handoko tidak mungkin melakukan itu.'
'Mungkin kamu benar, atau mungkin kamu terlalu naif,' Reihan bangkit dari duduknya, memberikan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan peringatan. 'Hati-hati, Al. Di kampus ini, dinding pun punya telinga, dan setiap senyuman punya harga.'
Setelah Reihan pergi, aku tidak bisa lagi berkonsentrasi. Kata-katanya terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Malam itu, aku memutuskan untuk kembali ke ruang organisasi di lantai dasar untuk mengambil flashdisk yang tertinggal. Gedung pusat mahasiswa sudah sepi, hanya ada lampu remang-remang di koridor. Saat aku melewati ruang kerja Prof. Handoko yang letaknya tak jauh dari ruang senat, aku melihat celah cahaya dari pintu yang tidak tertutup rapat.
Aku seharusnya terus berjalan, namun rasa ingin tahu yang beracun mendorongku untuk mendekat. Di dalam sana, aku mendengar suara dua orang yang sangat kukenal. Prof. Handoko dan... Reihan.
'Data ini cukup untuk menutupi selisih anggaran itu, Prof,' suara Reihan terdengar sangat berbeda sekarang, lebih tajam dan penuh perhitungan. 'Jika ini masuk ke laporan kementerian, posisi Anda aman. Dan saya rasa, aplikasi beasiswa saya juga akan berada di urutan teratas, bukan?'
Suara tawa kecil Prof. Handoko menyusul. 'Kamu memang cerdik, Reihan. Jauh lebih pragmatis daripada Alya. Dia terlalu idealis, terlalu banyak bertanya. Mahasiswa seperti dia sulit untuk dikendalikan dalam proyek seperti ini. Jangan khawatir, rekomendasi untuknya akan kubuat sedikit... kurang meyakinkan dibandingkan milikmu.'
Duniaku seolah runtuh seketika. Rasa sakit karena dikhianati oleh mentor yang kuhormati dan pria yang diam-diam kucintai menghantamku lebih keras daripada kegagalan mana pun. Aku berdiri mematung di kegelapan koridor, merasakan air mata panas mulai mengalir di pipiku. Semua kerja keras itu, semua malam-malam tanpa tidur, semuanya disingkirkan hanya karena aku dianggap 'terlalu jujur'.
Aku mundur perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Otakku bekerja dengan kecepatan cahaya. Aku punya dua pilihan: menyerah dan membiarkan mereka menang, atau melawan dengan cara yang tidak pernah mereka duga. Aku teringat pada rekaman suara di ponselku yang selalu aktif secara otomatis saat aku berada di area kampus untuk keperluan wawancara penelitian. Aku merogoh saku, jemariku gemetar saat memeriksa layar ponsel. Merah. Lampu perekam itu menyala. Ia menangkap setiap kata, setiap rencana busuk yang mereka susun.
Keesokan harinya, suasana kampus terasa biasa saja bagi orang lain, namun bagiku, atmosfernya terasa seperti medan perang. Aku bertemu Reihan di depan kafetaria. Ia menyapa dengan lambaian tangan yang santai, seolah pembicaraan di perpustakaan kemarin tidak pernah terjadi. Aku membalasnya dengan senyuman yang paling manis yang pernah kubuat, sebuah topeng yang kupelajari darinya.
'Sudah siap untuk wawancara panel besok, Al?' tanyanya sambil menyesap kopinya.
'Tentu saja, Rei. Aku baru saja menemukan 'data tambahan' yang sangat menarik untuk memperkuat argumenku nanti. Kamu pasti akan terkejut melihat betapa komprehensifnya persiapanku kali ini,' jawabku dengan nada yang penuh teka-teki.
Reihan tampak sedikit terusik, namun ia segera menguasai diri. 'Baguslah. Aku suka persaingan yang sehat.'
Sehat? Aku hampir tertawa mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Malam itu, aku tidak belajar untuk wawancara. Aku menghabiskan waktu di depan laptop, menyusun sebuah email yang ditujukan langsung kepada Komite Disiplin Universitas dan Dewan Pemberi Beasiswa Internasional. Aku melampirkan file audio tersebut, beserta beberapa dokumen pendukung yang kukumpulkan secara diam-diam dari tempat sampah di depan ruangan Prof. Handoko—potongan draf laporan anggaran yang tidak sinkron.
Hari wawancara tiba. Aku duduk di ruang tunggu, bersebelahan dengan Reihan. Ia terlihat gelisah, berkali-kali memeriksa ponselnya. Mungkin ia merasa ada sesuatu yang salah. Prof. Handoko belum muncul, padahal ia seharusnya menjadi salah satu panelis internal.
Tiba-tiba, pintu ruang sidang terbuka. Bukan petugas administrasi yang keluar, melainkan Rektor Universitas bersama dua orang petugas keamanan. Mereka berjalan lurus ke arah kami, atau lebih tepatnya, ke arah Reihan.
'Saudara Reihan, silakan ikut kami ke ruang Rektorat sekarang. Ada hal mendesak yang perlu diklarifikasi terkait integritas akademik Anda,' suara Rektor terdengar berat dan tidak terbantahkan.
Wajah Reihan memucat seketika. Ia menoleh ke arahku, matanya membelalak mencari jawaban. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar, tanpa kebencian, namun juga tanpa belas kasihan. Saat ia ditarik pergi, ia sempat berbisik pelan, 'Kamu yang melakukan ini, Al?'
Aku berdiri, merapikan blazer hitamku yang tak bercela. 'Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa yang idealis, Rei. Seperti katamu, dinding punya telinga.'
Prof. Handoko diberhentikan secara tidak hormat minggu berikutnya. Reihan dikeluarkan dari daftar kandidat beasiswa dan dikenakan sanksi akademik yang berat. Namun, kemenanganku terasa hambar. Saat aku akhirnya berdiri di bandara Soekarno-Hatta dengan map biru di tangan—tiket emasku ke London—aku menyadari satu hal yang pahit. Dalam perjuangan meraih mimpi ini, aku telah kehilangan kepercayaan pada orang lain, dan mungkin, aku telah kehilangan sedikit dari diriku yang lama.
Aku melihat ke luar jendela pesawat yang mulai bergerak perlahan di landasan pacu. Kampus dengan segala intriknya kini tertinggal di bawah sana. Aku menang, namun di dalam hati, aku bertanya-tanya: apakah harga dari sebuah ambisi memang selalu berupa kehancuran orang-orang yang pernah kita anggap berharga? Di antara awan yang mulai menutupi pandangan, aku berjanji pada diri sendiri bahwa di London nanti, aku akan membangun kembali integritas yang sempat retak ini, jauh dari duri-duri ambisi yang beracun itu.