Menabung Luka di Atas Lantai Marmer

Menabung Luka di Atas Lantai Marmer

Drama Rumah Tangga

Menabung Luka di Atas Lantai Marmer



Malam itu, hujan turun dengan ritme yang lambat dan berat, seperti sedang menyeret beban di atas atap rumah kami yang megah. Aku berdiri di ambang jendela ruang tamu, menatap pantulan diriku di kaca yang dingin. Di usia tiga puluh lima tahun, orang-orang mengenalku sebagai istri dari Bramantyo, seorang pengusaha muda sukses yang wajahnya kerap menghiasi kolom bisnis surat kabar nasional. Kami tinggal di sebuah hunian yang lebih mirip istana daripada sebuah rumah, dengan lantai marmer Carrara yang selalu berkilau dan lampu kristal yang menggantung angkuh di langit-langit setinggi enam meter. Namun, di balik semua kemewahan ini, aku merasakan sesuatu yang ganjil, sebuah kekosongan yang perlahan-lahan mulai merayapi dinding-dinding hati yang selama ini kupikir kokoh.

Suara detak jam dinding antik pemberian mertuaku, Ibu Ratna, terdengar seperti palu hakim yang menghantam meja. Setiap detiknya terasa seperti penghakiman. Aku menghela napas panjang, aroma bunga sedap malam yang diletakkan asisten rumah tangga di sudut ruangan menusuk hidungku, memberikan sensasi dingin yang tidak menyenangkan. Aku menunggu Bram. Ia berjanji akan pulang lebih awal untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh, namun jarum jam sudah melewati angka sebelas malam dan siluet mobilnya belum juga nampak di halaman depan yang luas itu.

Langkahku membawaku ke ruang kerja Bram, sebuah ruangan yang biasanya terlarang bagiku untuk masuk tanpa izin. Namun malam ini, rasa ingin tahu yang lahir dari kegelisahan yang tak beralasan mendorong tanganku untuk memutar kenop pintu. Ruangan itu gelap, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu jalan yang menembus celah gorden. Aku berjalan mendekati meja mahogani besar milik suamiku. Di sana, tertumpuk rapi berkas-berkas yang biasanya selalu tertutup rapat. Mataku tertuju pada sebuah amplop cokelat besar yang terselip di bawah tumpukan majalah bisnis. Tanganku gemetar saat menariknya keluar. Di dalamnya, aku menemukan sebuah dokumen yang membuat duniaku seolah berhenti berputar. Sebuah surat peringatan lelang dari bank, menyatakan bahwa rumah ini, istanaku, tempat aku membesarkan mimpiku, telah dijadikan jaminan utang dan kini berada di ambang penyitaan.

Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ia ingin melompat keluar dari dadaku. Bagaimana mungkin? Bram selalu mengatakan bahwa bisnisnya berkembang pesat. Ia bahkan baru saja membelikanku kalung berlian sebulan yang lalu. Aku terus membolak-balik lembaran dokumen itu, dan di sana, di lembar terakhir, aku menemukan tanda tangan yang sangat kukenal. Bukan hanya tanda tangan Bram, tapi juga tanda tangan Ibu Ratna sebagai penjamin. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, bukan karena rasa takut kehilangan harta, tapi karena rasa dikhianati yang begitu mendalam. Mereka merahasiakan ini dariku. Mereka membiarkanku hidup dalam kebohongan yang berkilauan selama bertahun-tahun.

Suara deru mobil di luar mengejutkanku. Aku segera merapikan berkas-berkas itu dan keluar dari ruang kerja dengan langkah terburu-buru, mencoba menenangkan diriku di sofa ruang tamu. Pintu depan terbuka, menampakkan sosok Bram yang terlihat lelah dengan jas yang tersampir di lengannya. Ia terkejut melihatku masih terjaga. 'Aruna? Kenapa belum tidur? Ini sudah sangat malam, Sayang,' ucapnya dengan suara bariton yang biasanya menenangkan, namun kini terdengar seperti sembilu di telingaku. Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, mencari setitik kejujuran di matanya yang sayu itu.

'Ada apa? Kamu marah karena aku telat lagi? Maafkan aku, rapat pemegang saham tadi berlangsung sangat alot,' lanjut Bram sembari mendekat, mencoba mengelus pipiku. Aku menghindar, membuat tangannya tertahan di udara. Ekspresi wajahnya berubah, dari kelelahan menjadi kebingungan yang dibuat-buat. Aku bangkit berdiri, menatapnya lurus-lurus. 'Bram, berapa lama lagi kamu akan membiarkanku hidup dalam sandiwara ini? Berapa banyak utang yang sebenarnya kita miliki?' tanyaku dengan nada suara yang bergetar namun tajam.

Bram terdiam. Wajahnya seketika pucat pasi, seperti seluruh darahnya tersedot keluar. Ia mencoba tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang justru semakin menegaskan kecurigaanku. 'Apa yang kamu bicarakan, Aruna? Kamu pasti terlalu lelah. Ayo, kita istirahat saja.' Namun aku tidak bergeming. 'Aku melihat dokumen itu, Bram. Dokumen lelang rumah ini. Kamu menjaminkan rumah ini untuk pinjaman miliaran rupiah tanpa memberitahuku. Dan Ibu... kenapa Ibu harus ikut menandatanganinya?' tanyaku lagi, kali ini dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.

Bram menjatuhkan jasnya ke lantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menunjukkan tanda-tengah frustrasi yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesuksesannya. 'Aruna, aku melakukannya untuk kita. Bisnisku sedang mengalami masa sulit sejak dua tahun lalu. Aku tidak ingin kamu khawatir. Aku tidak ingin kamu kehilangan gaya hidupmu yang sekarang. Ibu hanya membantuku agar bank mau memberikan pinjaman itu,' akunya dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan yang penuh penyesalan. Aku menggelengkan kepala. 'Gaya hidup? Kamu pikir aku hanya peduli pada kemewahan ini? Aku istrimu, Bram! Kita seharusnya menghadapi ini bersama, bukan malah bersekongkol dengan Ibu di belakangku!' teriakku, melepaskan sesak yang sedari tadi menghimpit paru-paruku.

Tepat saat itu, pintu depan kembali terbuka. Ibu Ratna melangkah masuk dengan keanggunan yang selalu terasa mengintimidasi. Ia mengenakan gaun sutra berwarna marun dan selendang batik yang tersampir sempurna. Ia menatapku dengan tatapan yang dingin, seolah-olah aku hanyalah orang asing yang sedang membuat keributan di rumahnya. 'Berhenti berteriak, Aruna. Suaramu bisa terdengar sampai ke tetangga. Kamu seharusnya bersyukur memiliki suami seperti Bram yang berjuang mati-matian menjaga kehormatan keluarga ini,' ucap Ibu Ratna dengan nada datar namun penuh otoritas.

Aku menatap mertuaku itu dengan rasa tidak percaya. 'Kehormatan keluarga? Menipu istri sendiri demi menjaga penampilan luar adalah kehormatan bagi Ibu? Kalian membiarkan aku hidup di atas tumpukan utang yang bisa meruntuhkan segalanya kapan saja!' balasku. Ibu Ratna mendekat, langkah sepatunya di atas lantai marmer menghasilkan suara 'klik-klik' yang mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depanku, aromanya yang khas—campuran melati dan rempah-rempah—memenuhi indra penciumanku. 'Dengarkan baik-baik, Aruna. Kamu berasal dari keluarga biasa. Kamu tidak akan mengerti bagaimana sulitnya membangun nama besar keluarga ini. Rumah ini, perusahaan ini, semuanya adalah warisan yang harus dipertahankan. Jika Bram gagal, maka itu adalah kegagalanku juga. Karena itu aku turun tangan. Kamu? Kamu hanya perlu duduk manis dan menjadi istri yang mendukung, bukan malah menginterogasi suami seperti polisi,' ucapnya dengan senyum tipis yang merendahkan.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Bram hanya tertunduk, tidak berani membela diri di hadapan ibunya, pun tidak berani menatapku. Di saat itulah aku menyadari bahwa pernikahan kami selama ini bukanlah kemitraan yang setara. Aku hanyalah hiasan di rumah mewah ini, pelengkap citra sukses yang diinginkan Ibu Ratna untuk putranya. Segala kemewahan yang selama ini aku banggakan ternyata hanyalah tumpukan luka yang ditabung sedikit demi sedikit, dan malam ini, tabungan itu telah penuh dan tumpah tak terbendung.

'Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?' tanyaku setelah berhasil menguasai diriku. 'Menunggu sampai pihak bank datang mengusir kita? Atau Ibu punya rencana manipulatif lainnya?' Ibu Ratna mendengus. 'Jangan kurang ajar, Aruna. Aku sedang berusaha menjual salah satu tanahku di luar kota untuk menutupi sebagian utang Bram. Tapi sampai saat itu tiba, aku ingin kamu tetap diam. Jangan sampai ada teman-teman sosialitamu yang tahu soal ini. Mengerti?' perintahnya. Aku menatap Bram, berharap ia akan mengatakan sesuatu, berharap ia akan memegang tanganku dan berkata bahwa kami akan keluar dari sini dan memulai hidup baru yang lebih jujur. Namun ia tetap bungkam, sosok pria gagah yang aku cintai itu kini terlihat begitu kerdil di bawah bayang-bayang ibunya.

'Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Bram,' ucapku dengan suara yang kini lebih tenang, namun penuh ketegasan yang mengejutkan diriku sendiri. 'Aku tidak bisa tinggal di rumah yang dibangun di atas kebohongan. Aku tidak bisa menjadi bagian dari sandiwara keluarga kalian.' Aku berbalik, berjalan menuju tangga untuk mengemas barang-barangku yang paling penting. Bram akhirnya bereaksi. Ia mengejarku dan memegang lenganku. 'Aruna, tunggu! Kamu mau ke mana? Ini tengah malam, hujan deras! Jangan bertindak bodoh!' serunya. Aku melepaskan tangannya dengan lembut namun pasti. 'Yang bodoh adalah bertahan di sini selama sepuluh tahun tanpa benar-benar mengenal siapa suamiku yang sebenarnya,' jawabku.

Aku masuk ke kamar, mengambil koper kecil dan memasukkan beberapa helai pakaian serta dokumen pribadiku. Aku tidak menyentuh satu pun perhiasan mahal yang diberikan Bram padaku. Bagiku, permata-permata itu sekarang terasa seperti belenggu yang dingin. Saat aku kembali turun ke lantai bawah, Ibu Ratna masih berdiri di sana, menatapku dengan kebencian yang terang-terangan. 'Pergilah jika itu yang kamu mau. Tapi ingat satu hal, sekali kamu keluar dari pintu itu, jangan pernah berpikir untuk kembali merangkak meminta perlindungan dari keluarga kami saat kamu menyadari betapa kerasnya dunia di luar sana tanpa uang Bram,' ancamnya.

Aku berhenti sejenak di depan pintu besar itu. Aku menoleh ke arah mereka, melihat Bram yang masih berdiri mematung di samping ibunya. 'Ibu salah. Dunia di luar sana memang keras, tapi setidaknya aku tidak perlu takut bahwa lantai yang kupijak akan runtuh kapan saja karena dibangun di atas kebohongan. Dan untukmu, Bram... aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai harga diriku yang telah kalian injak-injak selama ini. Selamat tinggal.' Dengan itu, aku melangkah keluar menuju kegelapan malam dan guyuran hujan yang deras. Dinginnya air hujan yang menerpa kulitku terasa jauh lebih jujur daripada kehangatan palsu di dalam rumah itu. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, atau bagaimana aku akan melanjutkan hidupku esok hari. Namun, saat aku menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan gerbang megah itu, aku merasakan sebuah beban berat terangkat dari pundakku. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku benar-benar bisa bernapas dengan lega, meskipun aku harus memulai segalanya dari titik nol di atas puing-puing kehancuran hatiku sendiri.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url