Perjamuan Terakhir di Meja Kaca: Saat Sahabat dan Tunanganku Menulis Skenario Kehancuranku
Hujan di Jakarta malam ini terasa lebih dingin dari biasanya, seolah tetesan air yang menghantam kaca jendela kantor di lantai empat puluh dua ini membawa pesan tentang sesuatu yang akan patah. Aku masih duduk di kursi kerja ergonomis yang harganya setara dengan gaji satu tahun karyawan magangku, menatap layar monitor yang masih menyala terang di tengah kegelapan ruangan. Aroma kopi yang sudah mendingin di atas meja kaca berpadu dengan wangi kayu cendana dari pengharum ruangan otomatis, menciptakan atmosfer yang biasanya menenangkan, namun malam ini terasa menyesakkan. Namaku Aris, dan aku selalu percaya bahwa kejujuran adalah fondasi dari setiap struktur bangunan yang aku rancang sebagai seorang arsitek. Namun, malam ini, aku menyadari bahwa struktur hidupku sendiri dibangun di atas pasir hisap yang siap menelan segalanya.
Di hadapanku, sebuah flashdisk berwarna perak tergeletak seperti belati yang baru saja ditarik dari punggungku. Aku menemukannya secara tidak sengaja di balik tumpukan berkas cetak biru proyek Grand Nusantara. Bram, sahabatku sejak masa kuliah, rekan bisnisku selama sepuluh tahun, dan orang yang aku anggap sebagai saudara kandung, tertinggal benda kecil ini di meja rapat sore tadi. Kami baru saja merayakan keberhasilan memenangkan tender proyek terbesar dalam sejarah biro arsitek kami, Abhipraya & Partners. Kami tertawa, bersulang dengan jus jeruk karena aku tidak minum alkohol, dan ia memeluk bahuku dengan erat sembari berbisik bahwa kita akan menjadi raja di industri ini. Tapi, isi di dalam flashdisk ini menceritakan narasi yang sepenuhnya berbeda.
Aku menggerakkan kursor dengan tangan yang sedikit bergetar. Folder bertajuk 'Proyek Phoenix' terbuka, menampilkan puluhan dokumen PDF dan foto-foto yang tidak seharusnya ada di sana. Di dalamnya terdapat salinan kontrak rahasia, pengalihan aset perusahaan ke sebuah entitas baru bernama 'Archi-Bram & Co', dan yang paling menghancurkan adalah log percakapan surat elektronik selama dua tahun terakhir. Aku membaca baris demi baris dengan napas yang semakin pendek. Bram tidak hanya berencana meninggalkanku dan mencuri klien-klien utama kami, tapi ia sudah melakukan sabotase halus pada setiap proyek yang aku tangani agar citraku di depan dewan komisaris perlahan membusuk. Setiap detail kegagalan kecil yang aku alami setahun terakhir ternyata bukan karena ketidaksengajaanku, melainkan hasil rancangan teliti dari orang yang aku panggil saudara.
Namun, rasa sakit itu belum mencapai puncaknya hingga aku membuka sub-folder bertanda 'Private'. Di sana, ada rangkaian foto-foto candid di sebuah vila di Bali, di sebuah restoran tersembunyi di Paris, dan di apartemen yang sangat aku kenal. Di dalam foto-foto itu, Bram tidak sendirian. Ia bersama Elena. Elena, wanita yang telah mengenakan cincin pertunangan dariku selama delapan bulan terakhir. Wanita yang selalu menungguku pulang dengan senyuman hangat saat aku lembur hingga dini hari. Dalam foto-foto itu, Elena tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang ia perlihatkan padaku akhir-akhir ini karena alasan 'stres pekerjaan'. Mereka tampak begitu serasi, begitu bahagia di atas penderitaanku yang tidak aku sadari. Dadaku terasa seperti dihantam palu godam, sesak, panas, dan kosong secara bersamaan.
Suara pintu lift yang berdenting di kejauhan memecah keheningan. Aku tahu itu siapa. Hanya ada dua orang yang memiliki akses masuk ke lantai ini setelah jam operasional berakhir selain aku. Aku mematikan lampu monitor, membiarkan ruangan tenggelam dalam bayang-bayang cahaya lampu kota yang masuk dari balik jendela. Langkah kaki itu mendekat, mantap dan penuh percaya diri. Aku bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam—parfum yang aku hadiahkan untuk ulang tahunnya tahun lalu. Bram masuk ke ruangan, tidak menyadari keberadaanku di balik kursi tinggi yang membelakanginya.
'Sial, di mana aku meletakkannya,' gumamnya pelan, terdengar sedikit panik. Ia menyalakan lampu meja, dan saat itulah aku memutar kursiku secara perlahan. Bram tersentak, wajahnya yang tadinya tampak terburu-buru seketika memucat, berubah menjadi putih porselen yang kaku. Kami saling menatap dalam keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum perang. Aku bisa melihat jakunnya naik turun, tanda ia sedang menelan ludah dengan susah payah.
'Aris? Kau belum pulang? Aku... aku hanya tertinggal flashdisk kerjaku,' ucapnya dengan suara yang dipaksakan tenang, meski matanya terus melirik ke arah flashdisk yang kini berada di genggamanku. Aku mengangkat benda perak itu ke udara, membiarkannya berkilau terkena cahaya lampu meja yang temaram. 'Kau mencari ini, Bram? Atau kau mencari masa depan yang sudah kau curi dariku selama dua tahun ini?' tanyaku dengan nada suara yang begitu datar, bahkan aku sendiri terkejut betapa dinginnya suaraku saat hatiku sedang hancur berkeping-keping.
Bram terdiam. Ia tidak mencoba membela diri, tidak juga mencoba tertawa dan menganggap ini sebagai lelucon. Dia mengenalku dengan sangat baik, sama baiknya seperti aku yang dulu merasa mengenalnya. Ia menarik kursi di hadapanku, duduk dengan helaan napas panjang seolah-olah beban rahasia yang selama ini ia pikul akhirnya terangkat. 'Sejak kapan kau tahu?' tanyanya, suaranya kini terdengar lebih berani, lebih tidak peduli. Perubahan sikapnya yang begitu cepat dari sahabat yang hangat menjadi musuh yang dingin membuatku mual.
'Baru saja. Tapi cukup lama untuk membuatku menyadari bahwa aku sedang memelihara ular di dalam rumahku sendiri,' jawabku sembari melemparkan flashdisk itu ke atas meja kaca. Benda itu berdentang nyaring, memicu gema di ruangan yang luas ini. 'Kenapa, Bram? Kita membangun semua ini dari nol. Kita makan mi instan di studio kos-kosan demi membeli lisensi software pertama kita. Kita berjanji untuk sukses bersama. Apa yang kurang dari semua ini?'
Bram tertawa kecil, tawa yang penuh dengan sinisme. 'Sukses bersama? Tidak, Aris. Selamanya ini adalah tentang kamu. Aris yang jenius, Aris yang visioer, Aris yang dipuji semua klien. Aku hanya bayanganmu. Aku yang mengurus kontrak, aku yang mengurus keluhan klien, aku yang memastikan ide-ide gila kamu bisa dibangun, tapi siapa yang namanya tertulis di majalah? Selalu kamu. Aku lelah menjadi pelengkap. Aku butuh panggungku sendiri, dan Elena... Elena adalah satu-satunya orang yang melihatku bukan sebagai bayanganmu.'
Mendengar nama Elena keluar dari mulutnya membuat darahku mendidih. 'Jadi itu alasanmu? Ego? Dan kau harus menyeret Elena ke dalam pengkhianatan murahan ini? Berapa lama kalian sudah menertawakanku di belakang punggungku, Bram? Saat aku sibuk merancang rumah masa depan kami, apa kalian sedang sibuk merancang cara untuk menghancurkanku?' Aku berdiri, menumpukan kedua tanganku di atas meja, menatapnya dengan tajam. Air mata mulai menggenang di sudut mataku, namun aku menolak untuk membiarkannya jatuh di depan pria ini.
'Elena mencintaku, Aris. Dia lelah dengan pria yang lebih mencintai sketsa bangunan daripada wanita di sampingnya. Dia merasa kesepian, dan aku ada di sana. Kami tidak merencanakannya di awal, tapi keadaan yang membuat segalanya terjadi. Proyek Phoenix hanyalah cara agar kami bisa memulai hidup baru tanpa harus terus berada di bawah bayang-bayang namamu. Kami akan pergi ke Singapura setelah tender Grand Nusantara cair sepenuhnya,' ucap Bram tanpa sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Pengkhianatan itu kini lengkap; sebuah belati di punggung dari sahabat, dan sebuah racun di hati dari wanita yang ingin kunikahi.
Aku terdiam sejenak, membiarkan setiap kata-katanya meresap ke dalam jiwaku, menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang pernah aku miliki untuknya. Aku berjalan menuju jendela besar, menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang merayap seperti semut di bawah sana. 'Kau pikir kau sudah menang, Bram? Kau pikir dengan mencuri aset dan calon istriku, kau akan menjadi lebih besar dariku?' Aku berbalik dan memberikan senyuman kecil yang membuat Bram tampak gelisah. 'Kau lupa satu hal yang paling krusial. Aku yang merancang seluruh sistem keamanan digital dan struktur hukum Abhipraya & Partners. Kau memang hebat dalam negosiasi, tapi kau tidak pernah benar-benar membaca detail teknis yang aku buat.'
Wajah Bram kembali memucat. 'Apa maksudmu?'
'Flashdisk itu... isinya sudah terunggah otomatis ke server pusat firma hukum yang kita gunakan sejak lima menit lalu ketika aku memasukkannya ke komputer ini. Setiap kontrak ilegal, setiap bukti penggelapan dana, dan setiap email yang kau kirim sudah ada di tangan pengacara perusahaan. Dan tentang Elena... kau bisa memilikinya. Seorang pengkhianat memang paling cocok bersanding dengan sesama pengkhianat. Aku sudah membatalkan seluruh polis asuransi dan akses rekening bersama yang tadinya disiapkan untuk pernikahan kami. Dia akan segera menyadari bahwa pria yang dia pilih tidak memiliki apa-apa selain hutang tuntutan hukum yang akan segera datang.'
Bram berdiri dengan kasar, kursinya terjatuh ke lantai. Ia mencoba merampas flashdisk itu, namun aku sudah lebih dulu menjauhkannya. 'Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Aris! Kita ini saudara!' teriaknya, suaranya kini dipenuhi ketakutan yang nyata.
'Kita bukan saudara sejak kau memutuskan untuk menjual persahabatan kita demi ambisi yang cacat,' jawabku dingin. Aku mengambil tas kerjaku, meninggalkan meja yang selama ini menjadi saksi bisu mimpi-mimpi kami. Di ambang pintu, aku berhenti dan menoleh sedikit. 'Oh, satu lagi. Proyek Grand Nusantara? Aku sudah berbicara dengan klien utama tadi sore sebelum rapat berakhir. Mereka tidak menginginkan perusahaan baru. Mereka menginginkan namaku. Jadi, selamat menikmati keruntuhan kerajaan yang kau bangun di atas kebohongan, Bram.'
Aku melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Di dalam lift yang bergerak turun, aku akhirnya membiarkan satu tetes air mata jatuh. Bukan karena kehilangan perusahaan, bukan karena kehilangan Elena, tapi karena kehilangan kenangan masa muda yang kini terasa basi. Aku keluar dari lobi gedung, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhku. Dinginnya air hujan terasa menyegarkan, seolah-olah sedang membasuh luka yang menganga di hatiku. Malam ini, Aris yang lama memang telah mati dikhianati, namun di bawah guyuran hujan Jakarta, aku tahu bahwa aku akan membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh pengkhianatan mana pun.