Saldo 500 Juta Lenyap Tanpa Jejak, Ternyata Suamiku Membiayai Persalinan Rahasia Sahabatku di Luar Negeri
'Kamu tidak seharusnya ada di sini, Lintang. Bukannya kamu bilang akan menemui kurator dari Jakarta sampai malam?' Suara itu berat, tenang, namun ada getaran halus yang mencoba menyembunyikan badai di baliknya. Lintang Prameswari hanya berdiri mematung di sudut galeri lukisannya sendiri, ponsel di tangannya masih menyala terang, menampilkan baris-baris angka yang membuatnya merasa seperti baru saja ditikam di ulu hati. Bukan lipstik di kemeja, bukan pula aroma parfum asing yang membongkar semuanya. Melainkan sebuah notifikasi gagal bayar otomatis untuk asuransi hari tua ibunya. Saldo di rekening bersama mereka, yang seharusnya berisi lima ratus juta rupiah sebagai dana pendidikan anak yang belum juga hadir di rahimnya, kini hanya menyisakan angka nol yang memuakkan.
Lintang menoleh perlahan, menatap laki-laki yang telah menemaninya selama tujuh tahun terakhir. Adiguna Mahendra, seorang arsitek ternama dengan reputasi tanpa cela. Di hadapan publik, mereka adalah 'power couple' yang membuat iri siapa pun. Namun, di bawah lampu galeri yang temaram, Lintang melihat sesosok asing. 'Dana pendidikan itu, Mas. Ke mana perginya? Aku baru saja mengecek mutasi rekeningnya. Ada pengiriman rutin selama enam bulan terakhir ke sebuah klinik spesialis di Mount Elizabeth, Singapura. Nama pasiennya bukan ibumu, bukan juga kamu.'
Adiguna terdiam. Keheningan itu mencekik, lebih menyakitkan daripada teriakan kemarahan. Lintang melangkah mendekat, matanya yang biasa teduh kini berkilat tajam oleh rasa sakit yang luar biasa. 'Nama pasiennya adalah Sekar Arum. Sahabatku sendiri. Asisten pribadiku yang kamu bilang sedang cuti panjang untuk merawat ibunya di kampung. Kenapa kamu membiayai pengobatan kehamilannya di Singapura, Mas? Kenapa nominalnya persis dengan biaya persalinan eksklusif dan sewa apartemen di sana?'
Kebohongan yang dibangun dengan rapi selama bertahun-tahun itu mulai runtuh seperti kastil pasir yang diterjang ombak. Lintang teringat bagaimana Sekar selalu ada di setiap momen penting hidupnya. Sekar yang menemaninya saat ia keguguran dua tahun lalu. Sekar yang memeluknya erat saat ia menangis karena merasa gagal menjadi seorang istri. Ternyata, di balik pelukan itu, Sekar sedang merencanakan pencurian terbesar dalam hidup Lintang: suaminya, masa depannya, dan seluruh harga dirinya.
Adiguna akhirnya mengembuskan napas panjang, sebuah pengakuan yang tak terucap namun nyata. 'Dia membutuhkanku, Lintang. Kamu punya segalanya. Kamu punya galeri ini, kamu punya nama besar keluarga Prameswari, kamu punya kemandirian. Tapi Sekar... dia tidak punya siapa-siapa. Dia mengandung anakku, anak yang selama ini tidak bisa kamu berikan.'
Kalimat itu menghantam Lintang lebih keras dari apa pun. Mandul. Kata yang tak pernah diucapkan Adiguna secara langsung, namun kini dilemparkan tepat ke wajahnya sebagai pembenaran atas pengkhianatan ini. Lintang merasakan dunianya berputar. Ia teringat setiap suplemen kesuburan yang ia minum, setiap prosedur medis menyakitkan yang ia jalani demi menyenangkan Adiguna, sementara laki-laki itu justru menanam benih di rahim wanita lain.
Namun, Lintang bukan wanita yang akan pingsan karena patah hati. Darah Prameswari yang mengalir di tubuhnya tidak membiarkannya menyerah begitu saja. Ia mengusap air mata yang nyaris jatuh dengan punggung tangannya yang gemetar. 'Jadi, menurutmu aku tidak butuh apa-apa karena aku kuat? Kamu menguras hartaku, menguras hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun untuk menghidupi gundikmu dan calon anakmu, hanya karena aku mandiri?'
Lintang mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya. Ia sudah menyiapkan ini sejak sejam yang lalu, setelah melakukan panggilan telepon singkat dengan pengacara keluarganya. 'Galeri ini berdiri di atas tanah warisan ayahku. Rumah yang kita tempati adalah atas namaku. Dan kontrak proyek besar yang akan kamu tanda tangani besok pagi dengan klien dari Dubai? Itu melalui koneksi paman aku. Kamu pikir aku akan diam saja setelah kamu mencuri dana pendidikanku?'
Adiguna tampak panik. Wajahnya yang semula tenang berubah menjadi pucat pasi. 'Lintang, tolong, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Sekar sedang dalam kondisi lemah pasca persalinan. Dia butuh biaya untuk perawatan bayinya yang prematur. Kamu tidak setega itu membiarkan bayi tak berdosa menderita, kan?'
Lintang tersenyum, sebuah senyuman yang lebih dingin dari es di kutub utara. 'Bayi itu tidak berdosa, Mas. Tapi kamu dan Sekar? Kalian berlumuran dosa. Kamu ingin menjadi pahlawan bagi dia? Silakan. Tapi mulailah dari nol. Karena malam ini, aku sudah membekukan semua akses rekeningmu yang terhubung dengan aset keluargaku. Dan besok pagi, seluruh dunia akan tahu siapa sebenarnya Adiguna Mahendra di balik topeng arsitek santunnya.'
Lintang berjalan melewati suaminya tanpa menoleh sedikit pun. Ia menuju meja resepsionis galeri, mengambil kunci mobilnya, dan meninggalkan Adiguna yang terpaku di tengah ruangan yang penuh dengan lukisan-lukisan indah yang kini terasa seperti ejekan. Di luar, hujan mulai turun membasahi aspal kota Jogja yang sibuk, namun di dalam dada Lintang, sebuah api baru saja menyala. Api yang tidak akan padam sampai ia mendapatkan kembali setiap tetes keringat dan harga diri yang telah dirampas darinya. Pengkhianatan ini bukan akhir dari ceritanya, melainkan babak pembuka dari sebuah pembalasan yang akan diingat Adiguna seumur hidupnya.