Simfoni Sunyi di Lantai Tiga Puluh Enam
Lantai tiga puluh enam gedung Arkananta Steel and Glass itu selalu terasa lebih dingin saat hujan mengguyur Jakarta di bulan November. Suara rintik yang menghantam kaca jendela setebal sepuluh milimeter itu menciptakan perkusi statis yang memuakkan bagi Aris. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja ergonomis seharga puluhan juta rupiah, namun tak satu pun inci dari kemewahan itu mampu meredakan ketegangan di tengkuknya. Di hadapannya, tumpukan maket proyek pengembangan kawasan terpadu di pesisir utara tampak seperti miniatur kota mati. Cahaya lampu meja yang remang memberikan bayangan panjang pada setiap gedung plastik itu, seolah mencerminkan bayang-bayang kegagalan yang terus membuntuti pikirannya selama tujuh tahun terakhir.
Detak jarum jam dinding yang terbuat dari kayu jati tua itu terdengar seperti vonis hukuman mati. Setiap detiknya mengingatkan Aris bahwa esok pagi, ia harus berdiri di ruang rapat utama untuk mempresentasikan desain ini. Namun, masalahnya bukan pada desain itu sendiri. Masalahnya adalah sosok yang akan duduk di kursi seberang sebagai perwakilan konsultan independen yang ditunjuk oleh dewan komisaris. Sosok yang namanya baru saja tertera di layar ponselnya melalui sebuah pesan singkat formal: Maya Alisya. Nama itu seperti duri yang tertanam di bawah kulit, tidak terlihat namun memberikan rasa nyeri yang konstan setiap kali Aris mencoba bergerak maju.
Pintu kaca ruangannya bergeser pelan, mengeluarkan suara desis udara yang tipis. Tanpa menoleh pun, Aris tahu siapa yang datang. Ia mengenal aroma itu—perpaduan antara melati dan hujan, sebuah aroma yang tidak pernah berubah meski waktu telah mengikis banyak hal di antara mereka. Maya berdiri di sana, mengenakan setelan blazer berwarna biru navy yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan otoritas sekaligus keanggunan yang dingin. Wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat kini tampak seperti porselen mahal; indah namun tak tersentuh. Ketegangan di antara mereka bukan sekadar soal profesionalisme, melainkan sebuah luka lama yang dibiarkan terbuka tanpa pernah dijahit dengan benar.
'Kau masih suka bekerja sampai larut, Aris,' suara Maya memecah keheningan, rendah dan stabil, tanpa sedikit pun getaran emosi yang bisa ditangkap oleh telinga Aris yang haus akan pengakuan. Aris akhirnya memutar kursinya. Ia menatap wanita itu, mencari-cari sisa-sisa gadis magang yang dulu sering tertidur di bahunya saat mereka lembur mengerjakan proyek sayembara kampus. Tidak ada. Yang ada hanyalah seorang arsitek kelas dunia yang baru saja pulang dari firma ternama di London, membawa segudang prestasi dan, mungkin, niat untuk membalas apa yang telah terjadi tujuh tahun lalu.
'Dunia tidak berhenti berputar hanya karena aku ingin tidur, Maya,' jawab Aris pendek. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. 'Dan aku tidak menyangka kau akan datang malam ini. Bukankah jadwal pertemuan kita baru besok pagi jam sembilan?' Maya melangkah mendekat ke arah meja maket. Jari-jarinya yang ramping menyentuh salah satu miniatur menara dengan lembut, sebuah gerakan yang entah mengapa membuat jantung Aris berdegup sedikit lebih kencang. Ia mengamati detail pekerjaan Aris dengan mata elang yang tidak melewatkan satu cacat pun.
'Aku ingin melihat medannya sebelum perang dimulai,' ucap Maya tanpa melepaskan pandangannya dari maket. 'Desainmu masih sama. Presisi, kaku, dan terlalu takut untuk mengambil risiko. Kau membangun benteng, Aris, bukan ruang hidup. Kau selalu membangun sesuatu untuk menjauhkan orang, bukan untuk mengundang mereka masuk.' Kalimat itu menusuk tepat di titik paling rapuh dalam ego Aris. Selama bertahun-tahun, Aris dikenal sebagai arsitek yang sangat teknis, namun seringkali dikritik karena karyanya terasa 'tak berjiwa'. Ia tidak pernah menyangka bahwa kritik paling jujur justru datang dari orang yang paling ia hindari.
Aris tertawa kecil, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. 'Benteng melindungiku dari hal-hal yang tidak perlu, Maya. Termasuk dari orang-orang yang hanya datang untuk mengacaukan rencana yang sudah disusun rapi.' Maya akhirnya mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Aris. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Aris bisa melihat kilatan di mata Maya—bukan kemarahan, tapi sesuatu yang lebih mirip dengan kekecewaan yang mendalam. 'Kau masih menganggap kejadian tujuh tahun lalu sebagai sebuah kekacauan yang kubuat dengan sengaja, bukan? Kau masih percaya bahwa aku yang membocorkan desain proyek ke kompetitor?'
Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat sesak. Aris merasa oksigen di sekitarnya menipis. 'Bukti-buktinya ada di mejamu, Maya. Email itu terkirim dari akun pribadimu. Ayahku kehilangan segalanya karena skandal itu, dan aku harus membangun firma ini dari nol sendirian. Kau pergi ke London tanpa penjelasan, membawa beasiswa yang seharusnya milik kita berdua. Apa lagi yang harus kupercaya?' Maya terdiam. Ia mengambil napas panjang, dan untuk sesaat, Aris melihat keraguan di wajah yang biasanya tampak tak terkalahkan itu. Maya berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke kerlip lampu kota Jakarta yang basah.
'Ada banyak hal yang tidak kau ketahui, Aris. Tapi aku tidak datang ke sini untuk membela diri. Aku datang untuk memastikan bahwa proyek pesisir ini tidak berakhir menjadi bencana ekologis demi ego pribadimu,' kata Maya pelan. Aris mendekat, berdiri tepat di belakang Maya, cukup dekat untuk mencium aroma rambutnya namun cukup jauh untuk tidak menyentuhnya. Jarak antara mereka hanya tiga puluh sentimeter, namun rasanya seperti ada jurang ribuan kilometer yang memisahkan dua jiwa yang pernah berjanji untuk tidak saling melepaskan.
'Jelaskan padaku, Maya,' bisik Aris, suaranya kini serak. 'Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kenapa kau pergi?' Maya berbalik dengan cepat, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari Aris. Keintiman yang tidak terduga ini menciptakan gelombang listrik yang membuat bulu kuduk Aris berdiri. Ia bisa melihat setiap detail kecil di wajah Maya; tahi lalat kecil di sudut matanya, dan bibir yang sedikit bergetar. 'Jika aku mengatakannya, kau tidak akan mempercayainya. Kau terlalu memuja ayahmu, Aris. Kau terlalu takut untuk melihat bahwa pahlawanmu adalah seorang penipu.'
Aris mengerutkan kening, rasa bingung bercampur amarah mulai mendidih. 'Apa maksudmu? Ayahku adalah orang yang paling berintegritas di industri ini.' Maya mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua dari tasnya dan meletakkannya di atas meja kerja Aris. 'Bacalah. Itu adalah laporan audit internal dari firma ayahmu yang sebenarnya. Email itu bukan aku yang mengirimnya, Aris. Ayahmu sendiri yang melakukannya dari laptopku saat aku pergi membeli kopi. Dia butuh uang untuk menutupi kerugian judi kasinonya di Singapura, dan dia menjual desain itu kepada kompetitor, lalu mengambinghitamkan aku agar dia bisa mengklaim asuransi kerugian intelektual.'
Dunia seolah runtuh di bawah kaki Aris. Ia meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen yang selama ini ia anggap tidak pernah ada. Transaksi bank, log aktivitas server, dan sebuah surat pengakuan yang ditandatangani oleh almarhum ayahnya sebulan sebelum meninggal—sebuah surat yang dititipkan pada pengacara yang selama ini disuap. Aris membaca setiap barisnya dengan rasa mual yang membuncah. Ternyata, selama tujuh tahun ini, ia telah membenci orang yang paling mencintainya, dan memuja orang yang telah mengkhianatinya paling dalam.
'Kenapa kau tidak mengatakannya dulu?' tanya Aris, suaranya nyaris hilang. Maya tersenyum sedih. 'Karena aku tahu seberapa besar kau mencintainya. Dan saat itu, kau tidak punya siapa-siapa lagi selain dia. Jika aku menghancurkan imej ayahmu, aku akan menghancurkanmu juga. Aku lebih baik dibenci olehmu daripada melihatmu hancur karena kenyataan pahit itu. Jadi aku pergi. Aku membangun karirku sendiri agar suatu hari nanti, aku punya kekuatan yang cukup untuk kembali dan memperbaiki segalanya.'
Aris jatuh terduduk di kursinya, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangis yang tertahan selama bertahun-tahun kini meledak tanpa suara. Ia merasa sangat bodoh, sangat kecil, dan sangat kejam. Maya berjalan mendekat, dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, ia meletakkan tangannya di bahu Aris. Sentuhan itu hangat, begitu kontras dengan dinginnya ruangan AC dan kerasnya kehidupan yang mereka lalui masing-masing. 'Kita bukan lagi anak-anak yang bermimpi mengubah dunia dengan satu garis sketsa, Aris. Kita adalah dua orang dewasa yang penuh luka. Tapi luka ini bisa sembuh, jika kita berhenti saling menyerang.'
Malam itu, di lantai tiga puluh enam, persaingan karir yang selama ini menjadi tembok besar di antara mereka mulai retak. Aris menyadari bahwa jabatan direktur utama atau proyek triliunan rupiah tidak ada artinya jika ia harus terus hidup dalam kebohongan. Ia menatap Maya, dan kali ini, ia tidak melihat seorang rival. Ia melihat rumah yang selama ini ia cari namun tak pernah ia temukan dalam desain-desain arsitekturnya. Ternyata, cinta sejati tidak selalu tentang kebersamaan yang manis, melainkan tentang pengorbanan yang tak terucap dan kesediaan untuk tetap tinggal meski dalam kebencian yang salah alamat.
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan genangan yang memantulkan cahaya neon kota. Aris berdiri, mengambil napas panjang, dan menyingkirkan maket yang kaku itu ke sudut ruangan. Ia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pensil 2B. Ia mulai menggambar, namun kali ini garisnya lebih mengalir, lebih lembut, dan lebih berani. Maya berdiri di sampingnya, memberikan saran-saran kecil seperti yang dulu sering ia lakukan. Mereka mulai bekerja sama, bukan sebagai atasan dan bawahan, bukan sebagai peserta tender dan konsultan, melainkan sebagai dua orang yang sedang membangun kembali jembatan yang telah lama putus.
Esok pagi memang akan ada rapat dewan komisaris yang menentukan nasib karir mereka. Namun bagi Aris, pemenang dari pertemuan itu sudah ditentukan malam ini. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi dendam yang disembunyikan di balik jas formal yang rapi. Di antara tumpukan dokumen dan bau kopi yang telah mendingin, sebuah awal baru sedang dirancang. Sebuah struktur yang tidak dibangun di atas semen dan baja, melainkan di atas kejujuran yang menyakitkan namun membebaskan. Dan di gedung tinggi itu, di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Aris akhirnya mengerti bahwa desain terbaik dalam hidup adalah desain yang membiarkan hatinya kembali merasa.