Tagihan 'Saved Address' di Aplikasi Ojol Itu Ternyata Surga Tersembunyi Galih dan Adik Kandungku
'Kenapa pesanan martabaknya belum sampai juga, Kal?' Suara Galih terdengar begitu renyah dari arah ruang tengah, berbaur dengan tawa adikku, Sekar Ayumi. Aku masih terpaku di depan layar ponsel, jempolku gemetar hebat di atas menu 'Saved Addresses' aplikasi GoFood. Di sana, di bawah alamat rumah kami dan kantor, terselip satu alamat baru bertajuk 'Paviliun Senja' di sebuah klaster elit di Jakarta Selatan yang sama sekali tidak pernah kukunjungi. Yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak bukan sekadar nama alamatnya, melainkan histori pemesanan yang menunjukkan bahwa Galih telah memesan makanan ke sana hampir setiap malam selama tiga bulan terakhir, tepat di saat dia pamit lembur di kantor.
Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, namun paru-paruku terasa menyempit. Malam itu seharusnya menjadi perayaan lima tahun berdirinya biro arsitek yang aku dan Galih bangun dari nol. Kami memulai segalanya dari sebuah garasi sempit, makan mie instan dibagi dua, hingga sekarang mampu menyewa satu lantai di gedung perkantoran bergengsi. Galih Daniswara adalah separuh jiwaku, atau begitulah pikirku selama ini. Sementara Sekar, adik bungsu yang selalu kumanjakan sejak orang tua kami meninggal, kini sedang asyik memamerkan kuku barunya di depan Galih tanpa rasa canggung sedikit pun.
Aku sengaja tidak langsung bertanya. Aku memilih untuk menyimpan kecamuk ini dalam diam yang menyiksa. 'Sinyalnya agak susah, Gal. Bentar ya, aku coba pesan ulang,' jawabku dengan nada suara yang kupaksa terdengar senormal mungkin. Aku menatap pantulan wajahku di layar ponsel yang hitam. Mataku sembab, bukan karena menangis, tapi karena kurang tidur mengurus proyek besar yang sebenarnya dikerjakan oleh Galih di balik layar bersama Sekar—yang baru saja kutahu menjabat sebagai asisten pribadinya tanpa persetujuanku.
Keesokan harinya, aku melakukan hal yang mungkin akan kusesali seumur hidup. Bukannya pergi ke kantor, aku memesan taksi online menuju 'Paviliun Senja'. Alamat itu mengarah ke sebuah townhouse eksklusif dengan keamanan berlapis. Dengan bermodalkan nekat, aku menunggu di sebuah kafe seberang gerbang utama selama berjam-jam. Hingga akhirnya, pada pukul dua siang, mobil SUV hitam milik Galih meluncur masuk. Hatiku hancur berkeping-keping. Itu adalah jam kerja, dan dia bilang padaku ada meeting dengan klien di Jakarta Utara. Mengapa dia malah ke sini?
Lebih menyakitkan lagi, lima menit kemudian, Sekar turun dari taksi lain dan disambut oleh satpam komplek dengan begitu akrab, seolah dia adalah penghuni tetap di sana. Aku merasa dunia berputar dengan cara yang salah. Pengkhianatan ini bukan hanya soal perselingkuhan, tapi soal pengkhianatan darah. Sekar adalah darah dagingku. Aku yang membiayai kuliahnya, aku yang memberikan dia kehidupan mewah, dan inikah balasannya? Mereka membangun surga kecil di atas penderitaanku dan uang perusahaan yang selama ini aku percayakan pengelolaannya pada Galih.
Aku turun dari taksi dan berjalan mendekati gerbang. Aku tidak peduli jika aku terlihat gila. Satpam mencoba menahanku, namun aku menunjukkan foto Galih dan Sekar di ponselku, mengaku sebagai interior desainer yang diundang untuk meninjau rumah tersebut. Beruntung, satpam itu percaya. Aku berjalan menuju unit nomor 12B. Pintu depan tidak terkunci rapat. Dari sela-sela pintu, aku mendengar suara tawa yang sangat kukenal. Suara Sekar.
'Mas, kalau Mbak Kalila tahu kita beli rumah ini pakai dana proyek Cipete, dia bakal marah nggak ya?' Suara Sekar terdengar manja, jauh berbeda dari suaranya yang biasa terdengar polos di depanku. Aku membeku di balik pilar. Dana proyek Cipete? Itu adalah proyek terbesar kami tahun ini, dan aku baru saja menandatangani laporannya yang katanya 'rugi' karena kenaikan harga material. Ternyata, rugi itu adalah investasi mereka untuk rumah ini.
'Tenang saja, Sekar. Kalila itu terlalu sibuk dengan idealismenya sebagai arsitek. Dia nggak akan sadar soal mutasi rekening kalau aku yang pegang tokennya. Lagian, dia terlalu sayang sama kamu, dia nggak akan curiga,' jawab Galih. Kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat tepat di ulu hatiku. Galih, pria yang berjanji akan menikahiku akhir tahun ini, sedang merancang kehancuranku bersama adikku sendiri.
Aku melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat seperti diseret timah. Di dalam sana, dekorasinya sangat elegan, didominasi warna krem dan emas—selera yang sangat aku benci, tapi sangat disukai Sekar. Mereka berdua sedang duduk di sofa mewah, menatap katalog furnitur. Galih merangkul bahu Sekar dengan posesif. Pemandangan itu membuatku ingin muntah. Rasa mual yang hebat menjalar dari perut hingga ke tenggorokan.
'Bagus ya rumahnya? Pakai uang hasil menipu kakaknya sendiri memang rasanya beda ya, Sekar?' Suaraku memecah keheningan ruangan itu. Keduanya melonjak kaget. Wajah Galih seketika pucat pasi, seperti melihat hantu di siang bolong. Sementara Sekar, dia langsung melepaskan rangkulan Galih dan berdiri dengan tubuh gemetar, namun matanya memancarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan: sebuah tantangan.
'Mbak... sejak kapan di sini?' tanya Sekar terbata-bata. Aku tidak menjawabnya. Aku menatap Galih yang sekarang mencoba mendekatiku dengan tangan terulur, seolah ingin menenangkanku. 'Kal, ini nggak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelasin semuanya. Ini cuma... investasi kantor,' bualnya. Aku tertawa getir. Tawa yang terdengar sangat asing bahkan di telingaku sendiri.
'Investasi kantor atas nama kamu dan Sekar? Aku sudah cek histori GoFood kamu, Galih. Aku sudah tahu kamu di sini setiap malam. Dan barusan aku dengar soal dana proyek Cipete. Penjelasan apa lagi yang mau kamu karang?' Aku melempar ponselku ke arah meja kaca hingga menimbulkan bunyi dentang yang keras. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kami. Aku melihat perubahan di wajah Galih. Ketakutannya perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang tidak pernah kulihat selama sepuluh tahun mengenalnya.
'Oke, kalau kamu sudah tahu, buat apa aku pura-pura lagi?' Galih berdiri tegak, merapikan kemejanya. 'Lagian kamu itu terlalu dominan, Kalila. Di kantor kamu bos, di rumah kamu yang mengatur semuanya. Aku capek jadi bayang-bayang kamu. Sekar memberikan apa yang nggak bisa kamu kasih: rasa dihormati sebagai laki-laki.' Aku tertegun. Jadi ini alasannya? Karena egonya yang terluka oleh kesuksesanku?
Sekar tiba-tiba melangkah maju, kini dia tidak lagi gemetar. Dia menatapku dengan tatapan tajam. 'Mbak selalu merasa paling hebat karena Mbak yang kasih aku makan, kan? Mbak selalu mengatur hidupku seolah aku ini boneka. Mas Galih mengerti aku, Mbak. Dia mencintaiku bukan karena aku berguna, tapi karena aku Sekar. Dan soal uang itu... itu hak Mas Galih juga, dia yang kerja keras cari klien!'
Rasanya seperti ada sesuatu yang patah di dalam dadaku. Bukan lagi hati yang patah, tapi seluruh pondasi hidupku runtuh. Aku telah membesarkan seekor ular di dalam rumahku sendiri. Aku telah memberikan seluruh cintaku pada pria yang ternyata hanyalah seorang parasit berdarah dingin. Aku tidak menangis. Anehnya, aku merasa sangat tenang. Ketenangan yang muncul sebelum badai besar menghantam.
'Kalian pikir ini akan berakhir manis?' tanyaku pelan, namun penuh penekanan. 'Rumah ini, karier kalian, dan semua yang kalian curi dari aku... aku akan pastikan kalian mengembalikannya sampai sen terakhir. Dan Galih, jangan lupa, seluruh aset biro arsitek itu secara legal masih atas namaku karena modal awal sepenuhnya dari warisan orang tuaku. Kamu hanya punya hak kelola, bukan hak milik.'
Wajah Galih kembali berubah panik. Dia sepertinya baru menyadari lubang yang dia gali sendiri. Aku berbalik, tidak sudi menatap mereka lebih lama lagi. Aku berjalan keluar dari rumah itu dengan kepala tegak, meskipun di dalam hati aku merasa hancur lebur. Aku tahu, mulai detik ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Aku akan memulai perang, dan aku tidak berencana untuk kalah. Aku akan menghancurkan mereka dengan cara yang paling elegan yang pernah mereka bayangkan.
Sesampainya di mobil, aku langsung menelepon pengacara pribadiku, Bapak Dananjaya. 'Pak, siapkan gugatan penggelapan dana dan pembatalan seluruh kontrak kerja sama dengan Galih Daniswara. Dan satu lagi, tolong lacak semua aliran dana ke rekening adik saya, Sekar Ayumi. Saya ingin semuanya beres sebelum matahari terbenam besok.' Aku menutup telepon dan akhirnya, setetes air mata jatuh di pipiku. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata pelepasan dari belenggu kepalsuan yang selama ini kupuja sebagai cinta.