Dunia Runtuh di Parkiran Mayestik: History GoFood Istriku Mengirimkan Pesanan ke Alamat yang Tidak Pernah Ada di Peta Pernikahan Kami

Dunia Runtuh di Parkiran Mayestik: History GoFood Istriku Mengirimkan Pesanan ke Alamat yang Tidak Pernah Ada di Peta Pernikahan Kami

Skandal & Pengkhianatan

Dunia Runtuh di Parkiran Mayestik: History GoFood Istriku Mengirimkan Pesanan ke Alamat yang Tidak Pernah Ada di Peta Pernikahan Kami



'Mas, kunci mobilnya jatuh ke bawah ban serep!' Suara Gendis melengking di antara keriuhan Pasar Mayestik yang pengap. Aku menghela napas, menyeka peluh yang bercucuran di dahi. Siang itu terik bukan main, dan kami baru saja selesai memborong kain untuk seragam pernikahan adik Gendis. Aku berjongkok, merogoh kolong bagasi mobil SUV kami yang penuh sesak dengan plastik belanjaan. Tanganku meraba-raba di sela-sela besi dingin, mencari kunci yang terselip. Namun, alih-alih merasakan gerigi kunci, ujung jariku menyentuh sesuatu yang kasar, terbungkus kain beludru hitam di sudut tersembunyi dekat kompartemen alat darurat.

Aku menarik benda itu keluar. Sebuah ponsel Android tipe lama, layarnya retak seribu, namun dalam keadaan menyala. Jantungku berdegup kencang saat melihat layar kunci yang tidak dipasangi sandi. Di sana, sebuah notifikasi aplikasi ojek online muncul: 'Pesanan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih - Tanpa Bawang, Ekstra Pedas - Sedang Diantar ke Lobby Apartemen Menteng Park Tower C-22.' Aku mematung. Itu adalah pesanan favoritku. Setiap detailnya. Tapi aku sedang di sini, di depan istriku, dan kami tidak sedang memesan makanan ke apartemen mana pun. Kami tinggal di rumah tapak di Bintaro, bukan di apartemen mewah di pusat kota.

Gendis mendekat, wajahnya yang semula ceria mendadak pias. 'Mas? Ketemu kuncinya?' tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar. Aku tidak menjawab. Aku membuka riwayat pesanan di ponsel itu. Nafasku tercekat. Selama enam bulan terakhir, hampir setiap hari Selasa dan Kamis—hari di mana Gendis beralasan ada rapat lembur hingga malam—ponsel ini memesan makanan ke alamat yang sama. Dan yang membuat ulu hatiku seperti dihantam palu godam adalah nama penerimanya: 'Pak Baskara'. Seseorang di apartemen itu menggunakan namaku, memesan makanan favoritku, tapi itu jelas bukan aku.

Aku berdiri perlahan, menatap Gendis yang kini berusaha merebut ponsel itu dengan gerakan kikuk. 'Gendis, ini apa?' suaraku rendah, bergetar menahan ledakan emosi yang belum sempat terdefinisi. Gendis tertawa paksa, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. 'Oh, itu... itu ponsel kantor yang hilang, Mas. Aku taruh di sana karena... karena takut jatuh kalau di tas.' Kebohongan itu begitu mentah, begitu hambar, hingga aku merasa mual. 'Sejak kapan kantor kita memesan Nasi Goreng Kambing tanpa bawang setiap Selasa malam ke Menteng Park? Atas namaku?'

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku masuk ke kursi pengemudi, memacu mobil meninggalkan keramaian pasar, mengabaikan teriakan Gendis. Pikiranku melayang pada Dananjaya, sahabatku sejak SMA, yang baru saja pindah ke Jakarta enam bulan lalu. Dananjaya yang selalu memuji selera makanku. Dananjaya yang sering datang ke rumah saat aku tidak ada untuk 'menitip barang' pada Gendis. Pikiranku mulai menyusun kepingan-kepingan yang selama ini sengaja aku abaikan karena rasa percaya yang terlalu buta.

Sesampainya di lobi Menteng Park, aku melangkah dengan kaki yang terasa seperti timah. Ponsel itu masih ada di tanganku. Aku menuju Tower C, lantai 22. Di depan pintu unit 2205, aku berhenti. Harum nasi goreng kambing yang sangat akrab di hidungku tercium dari celah pintu. Aku mengetuk pintu itu. Bukan dengan kepalan tangan, tapi dengan sisa-sisa harapan yang hampir mati. Pintu terbuka. Dan di sana, berdiri Dananjaya. Dia mengenakan kaos oblong milikku—kaos yang kukira hilang saat pindahan rumah tahun lalu. Dia memegang piring, menatapku dengan mata yang membelalak horor.

'Baskara? Lo... lo ngapain di sini?' tanya Dananjaya terbata-bata. Di belakangnya, di atas meja makan, aku melihat foto Gendis yang terbingkai rapi. Bukan foto pernikahan kami, tapi foto Gendis yang sedang tertawa lepas, memegang buket bunga yang tidak pernah kuberikan padanya. Aku melangkah masuk tanpa permisi, mataku menyapu seluruh ruangan. Apartemen ini bukan sekadar tempat perselingkuhan. Apartemen ini adalah replika dari rumahku. Warna cat dindingnya, susunan sofanya, bahkan jenis tanaman hias di pojok ruangan, semuanya persis seperti yang ada di Bintaro.

'Kalian gila,' bisikku. Suaraku nyaris tak terdengar. 'Lo nggak cuma mengambil istri gue, Jaya. Lo mencoba mencuri hidup gue.' Gendis muncul di ambang pintu, nafasnya memburu setelah rupanya mengejarku dengan taksi. Dia tidak menangis. Dia hanya berdiri di sana dengan tatapan kosong yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. 'Aku tidak mencuri apa pun, Mas,' ucap Gendis dingin. 'Aku hanya membangun dunia di mana kamu benar-benar ada untukku, bukan hanya untuk pekerjaanmu. Dananjaya memberiku waktu yang tidak pernah kamu miliki. Dia bersedia menjadi 'Baskara' yang aku butuhkan.'

Kata-kata itu merobek jiwaku lebih dalam dari pengkhianatan fisik mana pun. Mereka tidak hanya mengkhianati komitmen, mereka menciptakan sebuah teater horor di mana aku adalah naskahnya, tapi orang lain yang memerankannya. Dananjaya mencoba mendekat, tangannya hendak menyentuh bahuku, tapi aku menepisnya dengan jijik. 'Jangan sentuh gue dengan kaos itu, Jaya. Lo pikir dengan memesan makanan yang sama dan tinggal di ruangan yang sama, lo bisa menggantikan gue?'

Aku melemparkan ponsel retak itu ke atas meja, tepat di samping piring nasi goreng yang masih mengepul. 'Gendis, kamu bilang dia menjadi 'Baskara' yang kamu butuhkan? Silakan. Teruskan sandiwara ini. Tapi mulai detik ini, Baskara yang asli tidak akan pernah ada lagi di dalam skenario kalian.' Aku berbalik, berjalan keluar menuju lift dengan kepala tegak meski pandanganku mulai kabur oleh air mata yang akhirnya jatuh. Di dalam lift yang bergerak turun, aku menyadari satu hal: pengkhianatan paling kejam bukanlah saat seseorang pergi meninggalkanmu, tapi saat mereka berusaha menghapus eksistensimu dengan cara menirunya di tempat lain.

Namun, saat aku mencapai parkiran bawah tanah, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadiku dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu berisi sebuah foto mutasi rekening bank atas namaku, yang menunjukkan aliran dana sebesar ratusan juta rupiah setiap bulannya ke pemilik apartemen ini. Seseorang telah memalsukan tanda tanganku, dan itu bukan Gendis. Aku terpaku. Jika bukan Gendis yang membiayai semua kegilaan ini, dan Dananjaya hanyalah seorang pengangguran yang baru pindah, siapa sutradara sebenarnya di balik 'hidup kedua' ini? Jantungku kembali berpacu. Skandal ini jauh lebih besar dari sekadar perselingkuhan dua orang yang haus perhatian.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url