History Pesanan Sate Maranggi di iPad Anakku Ternyata Menjadi Surat Cerai Paling Menyakitkan

History Pesanan Sate Maranggi di iPad Anakku Ternyata Menjadi Surat Cerai Paling Menyakitkan

Skandal & Pengkhianatan

History Pesanan Sate Maranggi di iPad Anakku Ternyata Menjadi Surat Cerai Paling Menyakitkan



'Mas, kamu lupa hapus cache di iPad Laras,' ucapku lirih, suaraku nyaris tenggelam oleh suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen di ruang makan kami yang mewah. Di seberang meja, Sekar sedang menyesap teh chamomile kesukaannya dengan anggun. Rambutnya yang hitam legam disanggul asal, namun tetap memperlihatkan leher jenjangnya yang biasanya menjadi tempatku menyandarkan lelah. Di sisi kiriku, Dwiantoro, sahabat karibku sejak masa kuliah di Teknik Sipil, sedang asyik memotong steak wagyu yang baru saja kuhidangkan. Kami bertiga sedang merayakan keberhasilan firma arsitektur kami memenangkan tender proyek reklamasi di Pantai Utara.

Sekar menatapku dengan kening berkerut halus, matanya yang jernih seolah tak menyimpan rahasia apa pun. 'Maksud kamu apa, Bas? iPad Laras kan memang sering dia pakai buat main game sama nonton YouTube. Kamu baru beli game baru buat dia?' tanyanya ringan, disusul tawa kecil yang terdengar sangat tulus di telingaku. Dwiantoro ikut tertawa, menepuk bahuku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang garpu. 'Jangan terlalu kaku sama anak sendiri, Bas. Sesekali biarin Laras eksplor gadget-nya,' timpal Dwiantoro dengan nada akrab yang selama sepuluh tahun ini selalu kuanggap sebagai saudara.

Aku meletakkan ponselku di atas meja dengan posisi layar menghadap ke atas. Di sana, terbuka sebuah history pesanan dari aplikasi layanan pesan antar makanan yang tersambung dengan akun Google perusahaan kami—akun yang juga digunakan di iPad Laras karena kami sering membelikan anak itu makanan lewat sana saat kami sedang lembur di kantor. 'Sate Maranggi, dua porsi. Tambah es jeruk dua. Alamat pengiriman: Villa Amerta, Cisarua. Waktu pemesanan: Selasa malam, jam sebelas lewat lima belas menit,' aku membacakan rincian itu dengan nada datar, seolah-olah sedang membacakan spesifikasi material bangunan.

Suasana meja makan yang hangat mendadak membeku. Aku bisa melihat gerakan tangan Dwiantoro yang hendak menyuap daging terhenti di udara. Sekar, yang tadi tampak begitu tenang, perlahan meletakkan cangkir tehnya. Ada getaran halus di jemarinya yang lentik. Selasa malam yang lalu, Sekar pamit padaku untuk menghadiri seminar pemberdayaan perempuan di sebuah hotel di pusat Jakarta. Dia bilang acara itu berlangsung hingga larut malam dan dia memutuskan untuk menginap di sana agar tidak kelelahan menyetir pulang ke Serpong. Sementara Dwiantoro, dia bilang padaku harus meninjau proyek di Bandung selama dua hari.

'Itu... mungkin kesalahan sistem, Bas. Kamu tahu sendiri kan aplikasi kadang error,' suara Dwiantoro terdengar sedikit serak. Dia mencoba tertawa, namun tawanya terdengar sumbang dan dipaksakan. Aku menatapnya tajam, menembus kacamata frame hitam yang selalu ia banggakan. 'Kesalahan sistem tidak akan mencatat nomor plat mobil yang masuk ke area villa itu, Dwi. Di kolom catatan untuk driver, tertulis jelas: 'Masuk saja, gerbang tidak dikunci. Mobil Mitsubishi Xpander putih B 1234 XXX ada di depan'.'

Mobil itu adalah mobil operasional kantor yang malam itu dibawa oleh Dwiantoro. Darahku terasa mendidih, namun aku memaksakan diri untuk tetap duduk tegak. Aku telah membangun hidup ini dari nol bersama mereka berdua. Sekar adalah wanita yang kucintai sejak kami masih sama-sama menumpang angkot untuk ke kampus, dan Dwiantoro adalah orang yang meminjamiku modal pertama saat aku ingin membuka studio arsitek sendiri. Pengkhianatan ini terasa lebih tajam daripada mata pisau mana pun.

Sekar mulai terisak tanpa suara. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. 'Bas, aku bisa jelasin semuanya. Itu nggak seperti yang kamu bayangkan. Kita cuma... kita cuma butuh bicara soal masalah kantor yang kamu nggak tahu,' ucapnya dengan suara bergetar. Aku tertawa pahit. 'Bicara soal kantor di sebuah villa di Cisarua jam sebelas malam sambil makan sate maranggi? Seromantis itu kah dinamika pekerjaan kalian di belakangku?'

Aku berdiri, menarik napas dalam-dalam untuk menahan sesak yang menghimpit dada. Aku berjalan menuju lemari pajangan di sudut ruangan, mengambil sebuah map cokelat yang sudah kupersiapkan sejak dua jam yang lalu, tepat setelah aku secara tidak sengaja membuka iPad Laras untuk mengecek tugas sekolahnya dan malah menemukan notifikasi email konfirmasi pesanan itu. 'Ini bukan cuma soal sate, Sekar. Ini soal kepercayaan yang kalian injak-injak seperti keset di depan pintu rumah ini,' kataku sambil melemparkan map itu ke tengah meja makan, tepat di depan mereka berdua.

Map itu terbuka, memperlihatkan beberapa lembar foto hasil tangkapan layar kamera dashboard mobil operasional yang ternyata GPS-nya tetap menyala meski coba dinonaktifkan secara manual. Di sana terlihat jelas bayangan dua orang yang sangat kukenal sedang masuk ke dalam villa dengan tangan yang saling bertautan. Dwiantoro tertunduk lesu, wajahnya pucat pasi. Dia tidak berani menatap mataku. Sementara Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat oleh tangisan penyesalan yang menurutku sudah sangat terlambat.

Selama tujuh tahun pernikahan, aku selalu berusaha menjadi suami yang sempurna. Aku memberikan segala yang dia butuhkan, mulai dari rumah di klaster eksklusif, butik yang ia impikan, hingga waktu yang selalu kusempatkan meski jadwal kerjaku menggila. Dan kepada Dwiantoro, aku memberikan saham tiga puluh persen di firma ini cuma-cuma karena aku menganggapnya sebagai adik kandung. Namun, ternyata dunia memang tidak pernah memberikan jaminan bahwa kebaikan akan dibalas dengan kesetiaan.

'Kenapa, Dwi? Kenapa harus istriku?' tanyaku dengan nada yang kini lebih terdengar seperti rintihan daripada amarah. Dwiantoro mendongak sebentar, matanya merah. 'Kamu punya segalanya, Bas. Keberhasilan, cinta Sekar, rasa hormat orang-orang. Aku cuma bayanganmu. Selama bertahun-tahun aku cuma orang yang berdiri di belakang punggungmu. Aku cuma ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kamu, walau cuma sebentar.' Jawaban itu membuatku ingin muntah. Rasa iri yang dipelihara di balik topeng persahabatan adalah racun yang paling mematikan.

Aku menatap mereka berdua untuk terakhir kalinya dengan perasaan hampa. 'Malam ini, kalian berdua silakan pergi dari rumah ini. Sekar, surat cerai akan dikirim oleh pengacaraku besok pagi. Dan Dwi, perihal penggelapan dana proyek di BSD yang juga aku temukan saat menelusuri pengeluaranmu minggu lalu, akan segera diproses oleh kepolisian. Aku tidak akan lagi menjadi orang baik yang bisa kalian bodohi.'

Sekar mencoba meraih tanganku, memohon dengan kata-kata yang tidak lagi masuk ke logikaku. Namun aku menepisnya perlahan. Aku berjalan menuju kamar Laras yang berada di lantai atas. Anak itu sedang tidur terlelap dengan iPad di samping bantalnya—gadget yang tanpa sengaja menjadi perantara kebenaran yang pahit. Aku mencium keningnya, berjanji dalam hati bahwa meski dunianya kini akan berubah, aku tidak akan membiarkan satu helai rambut pun di kepalanya terluka oleh kebusukan orang-orang dewasa di sekitarnya.

Di bawah, aku mendengar suara pintu depan tertutup dengan keras. Sunyi kemudian menyergap rumah besar ini. Aku duduk di tepi tempat tidur Laras, menatap kegelapan di luar jendela. Langit Serpong malam itu tidak berbintang, seolah ikut berduka atas matanya sebuah kepercayaan yang telah kubangun belasan tahun. Aku tahu, hari esok tidak akan pernah sama lagi. Namun, setidaknya aku tidak lagi hidup dalam sebuah panggung sandiwara yang dirancang oleh orang-orang yang paling aku sayangi.

Rasa perih itu masih ada, menjalar di setiap jengkal nadiku. Namun di balik rasa perih itu, ada sebuah kelegaan aneh. Kebenaran, seburuk apa pun bentuknya, selalu memiliki cara untuk memerdekakan jiwa. Aku akan memulai segalanya dari awal, hanya aku dan Laras. Tanpa sate maranggi di tengah malam, tanpa penghianatan berselimut tawa, dan tanpa sahabat yang ternyata adalah serigala berbulu domba.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url