Kertas Kecil dari Saku Jas Sahabatku Menyingkap Skenario Terkejam yang Dirancang Istriku Sendiri
Gelas ocha dingin di hadapan Dananjaya sudah berembun hingga membasahi permukaan meja kayu jati yang dipelitur halus. Di sekelilingnya, keriuhan makan siang di restoran Jepang kelas atas di kawasan Senopati itu terdengar seperti dengung lebah yang jauh dan tidak penting. Matanya terpaku pada secarik kertas termal kecil yang agak kusut, sebuah struk dari butik laundry premium di daerah Sentul. Kertas tipis itu baru saja jatuh dari saku dalam jas wol navy miliknya—jas yang tiga hari lalu dipinjam oleh Baskara, sahabat masa kecil sekaligus rekan bisnisnya, untuk menghadiri konferensi pers mendadak.
Bukan fakta bahwa Baskara pergi ke Sentul yang membuat darah Dananjaya mendadak terasa dingin seperti es balok. Melainkan nama pelanggan yang tertera pada struk laundry tersebut: Kirana Dananjaya. Di bawahnya, tertulis rincian barang yang dicuci dengan instruksi khusus: 'Sutra emerald, dry cleaning sangat lembut, parfum sandalwood'. Dan alamat pengirimannya bukan ke rumah mereka di Kebayoran Baru, melainkan ke Pine Hill Residence, Cluster Aster, Unit 12B, Sentul. Sebuah griya tawang mewah milik perusahaan holding mereka, yang selama ini dilaporkan oleh Baskara dalam laporan keuangan sebagai aset kosong yang sedang dalam tahap renovasi total karena kerusakan struktural.
Dananjaya merasakan jantungnya berdegup dalam ritme yang ganjil dan menyakitkan. Sandalwood adalah wewangian khas Kirana, parfum langka yang dipesan istrinya langsung dari Grasse, Prancis, yang aromanya akan langsung dikenali Dananjaya bahkan dalam kondisi mata terpejam. Sementara sutra emerald itu adalah gaun tidur yang ia belikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang keenam, dua bulan lalu. Gaun yang menurut Kirana hilang di bandara saat mereka kembali dari liburan singkat di Bali. Kehilangan yang sempat membuat Kirana menangis semalaman di pelukan Dananjaya, menuntut ditenangkan dengan kebohongan-kebohongan manis yang kini terasa seperti racun arsenik yang disuntikkan langsung ke pembuluh darahnya.
Ia menatap Baskara yang baru saja kembali dari toilet, merapikan lengan kemeja linennya yang mahal dengan senyum lebar yang selalu berhasil memikat para investor. Baskara adalah tipe pria yang memancarkan karisma tanpa usaha; berwajah tegas khas pria Jawa-Sunda, bermata elang, dan selalu memiliki kata-kata penenang untuk setiap masalah. Selama lima belas tahun, sejak mereka masih sama-sama merintis biro arsitektur dari sebuah garasi sempit yang panas di Bandung, Dananjaya mempercayai pria ini lebih dari ia mempercayai dirinya sendiri. Ketika Dananjaya didiagnosis menderita infeksi paru-paru berat setahun lalu yang memaksanya mendekam di sanatorium selama empat bulan, Baskara-lah yang memegang kendali penuh atas perusahaan. Dan Kirana-lah yang setia mendampingi setiap proses administrasinya.
'Sori agak lama, Jay. Perut gue agak rewel gara-gara wasabi tadi,' kata Baskara santai, langsung meraih sumpitnya dan mengambil potongan sashimi salmon terakhir. 'Oh ya, jas lo udah gue laundry-in ya kemarin. Wangi banget, thanks banget bro. Penampilan gue kemarin dipuji habis-habisan sama klien Singapura.'
Dananjaya tersenyum tipis, sebuah masker wajah yang ia paksakan dengan seluruh sisa kekuatan yang dimilikinya. Ia melipat kertas laundry kecil itu dengan sangat tenang, memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri tanpa menimbulkan kecurigaan. 'Santai, Bas. Jas itu emang selalu bawa hoki. Omong-omong, gimana progres renovasi penthouse kita di Sentul? Kemarin tim legal nanya, kapan unit itu bisa kita sewakan ke ekspatriat Jepang yang kemarin berminat?'
Gerakan tangan Baskara yang sedang mencelupkan salmon ke dalam kecap asin sempat terhenti selama satu fraksi detik. Sangat halus, hampir tidak terlihat jika saja Dananjaya tidak mengamatinya dengan ketajaman seorang arsitek yang terbiasa melihat pergeseran milimeter pada struktur bangunan. 'Ah, itu. Masih agak mandek, Jay. Kontraktornya bilang ada rembesan air dari dak beton atas. Kalau dipaksain disewakan sekarang, ntar reputasi kita taruhannya. Gue minta waktu sebulan lagi buat beresin. Lagian, pasar ekspatriat lagi agak lesu, kan?'
'Benar juga,' jawab Dananjaya, suaranya terdengar sangat datar dan tenang di telinganya sendiri, padahal di dalam kepalanya, badai kategori lima sedang berkecamuk menghantam seluruh fondasi hidup yang telah ia bangun. 'Gue rasa kita nggak usah buru-buru. Yang penting hasilnya sempurna.'
Setelah makan siang yang terasa seperti siksaan abadi itu selesai, Dananjaya tidak langsung kembali ke kantor mereka di SCBD. Ia mengendarai mobilnya menyusuri jalan tol Jagorawi menuju selatan. Pikirannya melayang pada perubahan sikap Kirana selama beberapa bulan terakhir. Istrinya, seorang desainer interior berbakat yang biasanya sangat vokal tentang proyek-proyek mereka, perlahan menarik diri. Kirana menjadi lebih sering menghabiskan akhir pekan di Bogor, dengan alasan menemani ibunya yang mulai pikun dan menjalani terapi alternatif. Dananjaya, yang selalu merasa bersalah karena fisiknya yang sempat melemah akibat sakit, selalu mengizinkannya tanpa curiga. Ia bahkan sering membekali Kirana dengan supir pribadi, yang selalu ditolak Kirana dengan alasan 'ingin menikmati waktu menyetir sendiri untuk terapi stres'.
Kini, potongan-potongan teka-teki itu mulai jatuh ke tempatnya dengan presisi yang mengerikan. Setiap hari Kamis, Kirana akan berangkat ke Bogor. Dan setiap hari Kamis pula, dari riwayat mutasi rekening bersama yang baru saja diperiksa Dananjaya melalui ponselnya di bahu jalan tol, selalu ada transaksi penarikan tunai dalam jumlah konsisten di ATM area peristirahatan Sentul, disusul dengan pembelian bahan makanan organik premium di sebuah supermarket estetik di dekat keluar tol Sentul Selatan.
Ketika Dananjaya tiba di gerbang Pine Hill Residence, matahari sore mulai tenggelam, memancarkan cahaya oranye kemerahan yang dramatis di langit Sentul yang berbukit-bukit. Udara di sini dingin dan bersih, sangat kontras dengan dadanya yang terasa sesak dan terbakar. Penjaga gerbang mengenali mobilnya, namun tampak sedikit terkejut melihat Dananjaya datang sendiri tanpa Baskara atau Kirana yang biasanya mengendarai mobil SUV hitam milik perusahaan.
'Sore, Pak Dananjaya. Mau meninjau unit 12B juga? Ibu Kirana sudah di atas sejak siang tadi, Pak,' kata petugas keamanan itu dengan sikap sopan yang ramah, tanpa menyadari bahwa setiap kata yang diucapkannya baru saja menusuk jantung Dananjaya seperti belati berkarat.
'Iya, saya mau menyusul. Ada dokumen yang ketinggalan,' jawab Dananjaya, suaranya tetap terkendali, menunjukkan kemampuan akting yang tidak pernah ia sangka ia miliki. 'Ibu... sering ke sini akhir-akhir ini?'
'Oh, lumayan sering, Pak. Biasanya bareng Pak Baskara juga buat ngecek material interior, katanya. Kadang sampai malam sekali baru pulang. Kami sih senang, Pak, unitnya jadi terawat terus,' tambah si petugas keamanan dengan senyum polos.
Dananjaya mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu perlahan melajukan mobilnya menuju gedung griya tawang yang menjulang megah di latar belakang bukit pinus. Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam lift yang bergerak naik dengan sunyi, ia menatap bayangan dirinya di cermin dinding lift. Wajahnya tampak pucat, namun matanya memancarkan dingin yang belum pernah ada sebelumnya. Rasa sakit yang luar biasa itu kini telah bermutasi menjadi kemarahan yang tenang, taktis, dan mematikan.
Ia keluar di lantai dua belas. Koridor itu sangat sepi, berkarpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya. Ia berjalan menuju pintu Unit 12B. Pintu kayu ek solid itu tertutup rapat. Dananjaya tidak langsung mengetuk atau menggunakan kartu akses cadangan yang selalu ia simpan di dompetnya. Ia berdiri di sana selama beberapa menit, mendengarkan. Dari dalam, sayup-sayup terdengar suara tawa Kirana—tawa lepas, renyah, dan penuh kebahagiaan yang sudah hampir setahun ini tidak pernah ia dengar di rumah mereka. Disusul oleh gumaman suara rendah Baskara yang terdengar begitu akrab.
Dananjaya menempelkan kartu aksesnya ke panel digital. Bunyi klik pelan terdengar seperti ledakan granat di keheningan koridor. Ia mendorong pintu itu perlahan, melangkah masuk ke dalam foyer berlantai marmer abu-abu yang dingin.
Penthouse itu didekorasi dengan sangat indah—jelas hasil sentuhan tangan dingin Kirana. Tidak ada tanda-tanda renovasi atau kerusakan struktural seperti yang dilaporkan Baskara. Sebaliknya, tempat itu adalah sebuah sarang cinta yang sempurna, lengkap dengan lukisan-lukisan mahal, pencahayaan hangat yang romantis, dan aroma sandalwood yang kuat bercampur dengan aroma kopi segar. Di atas sofa beludru di ruang tengah, berserakan beberapa berkas dokumen dengan logo perusahaan mereka, berdampingan dengan sebuah botol anggur merah yang sudah setengah kosong.
Dananjaya melangkah lebih dalam, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. Ketika ia sampai di pembatas ruang tengah dan ruang makan, matanya menangkap pemandangan yang membuat dunianya runtuh sepenuhnya, namun sekaligus memberikan kejelasan yang mutlak tentang apa yang harus ia lakukan berikutnya.
Di atas meja makan marmer, selain sisa makanan dan lilin yang menyala redup, terdapat tumpukan dokumen hukum berkover biru tua. Di halaman paling atas yang terbuka, Dananjaya bisa melihat dengan jelas judul dokumen tersebut: 'Perjanjian Pengalihan Hak Kekayaan Intelektual dan Aset Kepemilikan Saham'. Di bawahnya, tertera tanda tangan Kirana sebagai pemegang kuasa penuh atas nama Dananjaya—sebuah surat kuasa mutlak yang ditandatanganinya setahun lalu saat ia berada dalam kondisi kritis di rumah sakit, di bawah pengaruh obat-obatan bius kuat yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Mereka tidak hanya mengkhianati pernikahannya. Mereka sedang dalam proses menghapus keberadaan Dananjaya dari perusahaan yang ia bangun dengan darah dan air matanya sendiri, mengalihkan seluruh aset dan hak paten desain arsitekturnya ke sebuah perusahaan cangkang baru yang terdaftar di Singapura atas nama Baskara dan Kirana.
Dari arah kamar tidur utama, pintu terbuka. Kirana keluar hanya dengan mengenakan gaun tidur sutra emerald yang sempat dinyatakan hilang itu, rambutnya agak berantakan, wajahnya merona bahagia. Di belakangnya, Baskara menyusul dengan handuk yang tersampir di bahunya, hanya mengenakan celana pendek hitam.
Langkah kaki Kirana mendadak terhenti. Seluruh warna kulit di wajah cantiknya langsung lenyap, menyisakan pucat pasi yang mengerikan saat matanya berbenturan langsung dengan tatapan mata Dananjaya yang dingin dan tak bergeming di ujung ruangan.
'Mas... Danan?' bisik Kirana, suaranya bergetar hebat, tangannya refleks bergerak mencoba menutupi tubuhnya, sebuah reaksi naluriah yang sia-sia.
Baskara yang berada di belakangnya membeku seketika. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun mengenal pria itu, Dananjaya melihat ketakutan yang murni dan tanpa filter di mata sahabatnya. Karisma yang biasanya diagung-agungkan itu menguap tanpa bekas dalam hitungan detik, menyisakan seorang pengecut yang tertangkap basah di tengah konspirasi kotornya.
Dananjaya tidak berteriak. Ia tidak menyerang Baskara, ataupun memaki Kirana dengan kata-kata kasar. Ia hanya berjalan perlahan menuju meja makan, mengambil dokumen hukum berkover biru tua itu, melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam tas jinjing kulit yang ia bawa. Ia menatap kedua orang di hadapannya itu bergantian dengan senyum yang sangat tipis, namun begitu dingin hingga mampu membekukan udara di dalam ruangan tersebut.
'Desain interior yang sangat bagus, Kirana,' kata Dananjaya dengan nada suara yang sangat tenang, hampir seperti seorang kurator seni yang sedang memuji sebuah galeri. 'Dan skenario bisnis yang sangat rapi, Baskara. Tapi kalian lupa satu detail kecil dalam struktur bangunan ini. Fondasi yang kalian gali terlalu dalam... justru akan meruntuhkan seluruh gedung ini tepat di atas kepala kalian.'