PESANAN TERAKHIR DI JALAN DAMAI: KETIKA RIWAYAT GOFOOD MEMBONGKAR DRAMA DUA WAJAH
Jari Gendis Larasati membeku di atas layar ponselnya yang masih menyala terang, membiarkan cahaya biru itu menyulut perih di matanya yang lelah. Di dalam lift apartemen yang bergerak naik dengan sunyi, Gendis hanya ingin memesan secangkir kopi hangat untuk menemaninya lembur menyelesaikan kurasi pameran seni bulan depan. Namun, aplikasi layanan antar makanan itu justru menyuguhkan sesuatu yang jauh lebih pahit dari kafein paling pekat sekalipun.
Di kolom 'Pesan Lagi', terpampang sebuah alamat yang belum pernah ia kunjungi: Jalan Damai Nomor 14, Kompleks Griya Asri. Alamat itu bukan kantor Baskara, bukan pula rumah orang tua suaminya. Yang membuat jantung Gendis berdegup tak beraturan adalah rincian pesanannya. Seblak level lima dan sate padang ekstra bumbu, dipesan tadi malam pukul 02.14 WIB. Jam di mana Baskara mengirimkan pesan WhatsApp padanya, mengatakan bahwa dia masih terjebak rapat maraton di kantor dan mungkin akan tidur di sofa ruang kerja karena terlalu lelah untuk menyetir pulang ke apartemen mereka di Senopati.
Gendis menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang mendadak terasa sesak. Baskara Aditama bukan tipe pria yang menyukai makanan pedas, apalagi seblak. Perut suaminya itu sensitif, dia adalah penganut diet bersih yang sangat disiplin. Satu-satunya orang yang sangat terobsesi dengan seblak level maksimal adalah Kirana Prameswari, sahabat karib Gendis sejak masa orientasi mahasiswa di Bandung sepuluh tahun silam. Kirana, yang tiga hari lalu berpamitan akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis fashion-nya, tiba-tiba terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh dalam benak Gendis.
Pintu lift berdenting terbuka di lantai 22. Gendis melangkah keluar dengan tungkai yang terasa seperti jeli. Apartemen mereka yang biasanya terasa hangat dan artistik, kini tampak seperti galeri benda mati yang dingin. Ia melempar tas desainer-nya ke sofa kulit, lalu kembali menatap layar ponsel. Ia mulai menggulir riwayat pesanan selama sebulan terakhir. Nafasnya tercekat. Ada dua belas pesanan ke alamat yang sama dalam tiga puluh hari terakhir. Semuanya di jam-jam yang tidak wajar. Semuanya adalah makanan kesukaan Kirana.
Baskara belum pulang. Gendis memutuskan untuk tidak menelepon. Ia duduk di kegelapan ruang tamu, hanya ditemani cahaya lampu kota yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Ingatannya berputar pada momen-momen kecil yang dulu ia anggap remeh. Bagaimana Baskara tiba-tiba mengganti kata sandi ponselnya dengan alasan privasi pekerjaan. Bagaimana Kirana seringkali secara tidak sengaja memakai parfum yang aromanya sangat mirip dengan aroma maskulin yang tertinggal di kemeja Baskara setiap kali suaminya itu pulang telat. Gendis merasa seperti orang bodoh yang baru saja bangun dari koma panjang.
Rasa mual mulai mengaduk perutnya. Bukan karena lapar, tapi karena bayangan Baskara dan Kirana duduk bersama di sebuah ruang tamu asing di Jalan Damai, berbagi seblak dan tawa sementara ia di sini merindukan kehadiran suaminya. Gendis mengenal Kirana lebih dari siapapun. Kirana adalah orang yang memegang tangannya saat ayahnya meninggal. Kirana adalah orang yang memilihkan gaun pengantinnya. Dan kini, mungkinkah Kirana juga yang sedang mencoba melepaskan cincin pernikahan dari jari Gendis?
Esok paginya, Gendis tidak bertanya apa-apa saat Baskara pulang dengan wajah segar namun mata yang menghindari kontak langsung. Baskara mencium keningnya dengan cara yang terasa sangat mekanis, seolah-olah itu adalah kewajiban yang tertulis dalam kontrak kerja. 'Rapatnya sangat melelahkan, Sayang. Maaf aku nggak sempat kasih kabar lagi semalam,' ucap Baskara dengan nada bariton yang biasanya menenangkan, tapi kini terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca bagi telinga Gendis.
Gendis hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang ia latih di depan cermin kamar mandi selama satu jam sebelumnya. 'Nggak apa-apa, Mas. Oh ya, Kirana titip salam, katanya dia masih di Surabaya ya?' pancing Gendis dengan suara yang diatur sedatar mungkin. Baskara tertegun sejenak, gerakan tangannya yang sedang melonggarkan dasi terhenti selama sepersekian detik. 'Oh, iya... mungkin. Aku nggak terlalu perhatikan update-nya dia,' jawab Baskara, kembali normal dengan terlalu cepat. Kebohongan itu terasa begitu licin, begitu terampil.
Siang itu, Gendis membatalkan semua janji temu dengan kolektor seninya. Ia mengendarai mobilnya menuju alamat di Jalan Damai. Kompleks itu terletak di pinggiran Jakarta, sebuah kawasan perumahan kelas menengah yang tenang dan tersembunyi dari hiruk pikuk pusat kota. Jantungnya berpacu saat ia menemukan rumah nomor 14. Sebuah rumah bergaya minimalis dengan pagar hitam dan tanaman merambat yang tampak terawat. Di depan rumah itu, terparkir sebuah mobil yang sangat ia kenal. Bukan mobil Baskara, melainkan mobil Kirana yang seharusnya berada di parkiran bandara atau di Surabaya.
Gendis memarkirkan mobilnya agak jauh, mengamati dari balik kaca film yang gelap. Ia melihat seorang kurir ojek online berhenti di depan pagar nomor 14. Tak lama kemudian, gerbang terbuka sedikit. Seorang wanita keluar dengan mengenakan daster satin berwarna krem. Itu Kirana. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini digelung asal-asalan, wajahnya polos tanpa riasan, namun ia tampak sangat santai dan... bahagia. Kirana menerima kantong plastik dari kurir itu, memberikan tip, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Gendis merasa dunianya runtuh dalam satu kedipan mata. Daster satin itu. Gendis ingat pernah membelinya bersama Kirana saat mereka berlibur ke Bali tahun lalu. 'Beli dua ya, buat kita couple-an,' kata Kirana saat itu. Kini, daster itu menjadi saksi bisu pengkhianatan yang paling keji. Gendis ingin keluar dari mobil, melabrak mereka, berteriak sekencang mungkin sampai paru-parunya habis. Namun, ia terdiam. Ia melihat sebuah mobil lain masuk ke pekarangan rumah itu. Mobil Baskara.
Pria itu turun dari mobil dengan setelan kantor yang masih rapi, membawa satu buket bunga lily putih—bunga favorit Gendis. Namun, bunga itu bukan untuk Gendis. Baskara melangkah masuk ke rumah itu tanpa mengetuk pintu, seolah-olah itu adalah rumahnya sendiri. Gendis merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun. Rasa sakit itu kini berubah menjadi kemarahan yang tenang dan dingin. Sebuah kemarahan yang lebih berbahaya dari sekadar ledakan emosi.
Gendis mengambil ponselnya, memotret pemandangan di depannya dengan tangan yang sekarang sangat stabil. Ia tidak akan menangis. Tidak di sini, tidak di depan rumah yang dibangun dari puing-puing kepercayaannya. Ia mulai menyusun rencana. Jika mereka ingin bermain di belakangnya, maka Gendis akan memastikan panggung yang mereka bangun akan runtuh tepat di atas kepala mereka. Ia teringat akan pesta perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5 yang akan diadakan minggu depan, di mana seluruh keluarga besar Aditama dan kolega bisnis Baskara akan hadir.
Ia memutar kemudi, meninggalkan Jalan Damai dengan satu tujuan pasti. Sepanjang perjalanan pulang, Gendis mulai menghubungi pengacara perceraian terbaik di kota itu, serta seorang detektif swasta untuk mengumpulkan bukti-bukti yang lebih eksplisit. Ia ingin setiap sen dari harta gono-gini, setiap inci dari apartemen mereka, dan yang paling penting, ia ingin melihat nama baik Baskara dan Kirana hancur berkeping-keping di depan publik yang selama ini memuja mereka sebagai pasangan idaman dan sahabat sejati.
Malam harinya, Baskara pulang dengan aroma parfum Kirana yang samar-samar menempel di kerah kemejanya. Ia menyapa Gendis dengan kemesraan yang palsu, bahkan sempat bertanya mengapa Gendis tampak sangat 'bersemangat' hari ini. Gendis menjawab dengan senyum paling manis yang pernah ia miliki. 'Aku baru saja merencanakan kejutan besar untuk pesta kita minggu depan, Mas. Kamu pasti nggak akan menyangka betapa spesialnya hari itu nanti,' bisik Gendis sambil membelai pipi Baskara. Baskara tertawa, tidak menyadari bahwa ia baru saja mencium maut dalam rupa istri yang dikhianatinya.
Setiap hari berikutnya adalah akting yang sempurna. Gendis tetap menjadi istri yang suportif, memasak sarapan, dan membantu memilihkan dasi. Sementara di balik layar, ia menerima laporan harian dari detektifnya. Foto-foto mereka berpegangan tangan di supermarket, video saat mereka masuk ke hotel butik, hingga rekaman suara yang memperlihatkan bagaimana mereka menertawakan 'kepolosan' Gendis. Setiap bukti yang masuk adalah bahan bakar bagi api dendam Gendis yang kini membara dengan sangat rapi.
Tiba di hari perayaan. Ballroom hotel berbintang itu sudah didekorasi dengan sangat elegan. Ratusan tamu undangan hadir, termasuk Kirana yang datang dengan gaun merah menyala, tampak sangat percaya diri sebagai sahabat mempelai wanita. Baskara berdiri di samping Gendis, menggenggam tangannya erat, memberikan pidato singkat tentang betapa Gendis adalah 'kompas' dalam hidupnya. Gendis hanya berdiri di sana, menatap layar proyektor besar di belakang mereka yang saat ini masih menampilkan foto-foto pre-wedding mereka yang romantis.
'Dan sekarang,' suara Gendis mengambil alih mikrofon setelah Baskara selesai bicara. 'Sebagai kado spesial untuk suami tercintaku dan sahabat terbaikku, Kirana... aku ingin membagikan sebuah dokumentasi perjalanan cinta kita yang mungkin belum pernah kalian lihat sebelumnya.' Suasana menjadi hening. Semua mata tertuju pada layar. Baskara mengerutkan kening, menatap Gendis dengan bingung. Kirana tersenyum tipis, menyangka ini adalah video tribut persahabatan biasa.
Lampu ballroom diredupkan. Video mulai diputar. Namun, yang muncul bukanlah foto-foto kenangan indah. Layar itu menampilkan mutasi rekening atas nama Baskara yang mengirimkan sejumlah uang besar setiap bulan ke rekening Kirana. Lalu, transisi ke foto-foto CCTV di Jalan Damai nomor 14. Puncaknya, sebuah rekaman audio yang diputar dengan volume maksimal, di mana suara Baskara terdengar jelas mengatakan, 'Aku akan segera menceraikannya setelah proyek besar ini selesai, Kirana. Sabarlah sedikit lagi. Rumah itu sudah atas namamu, kan?'
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu sebelum akhirnya pecah oleh bisik-bisik yang riuh. Wajah Baskara berubah pucat pasi, seperti mayat. Kirana mencoba menutupi wajahnya dengan tas, tubuhnya gemetar hebat. Gendis tetap berdiri tegak, memegang mikrofon dengan tenang, menatap lurus ke arah suaminya. 'Kejutan, Mas? Aku harap Jalan Damai memang benar-benar memberikanmu kedamaian, karena setelah malam ini, hidupmu tidak akan pernah damai lagi.'
Gendis meletakkan mikrofon itu di atas podium, melepaskan cincin pernikahannya dan menjatuhkannya tepat ke dalam gelas sampanye milik Baskara yang masih penuh. Tanpa menoleh ke belakang, ia melangkah keluar dari ballroom dengan kepala tegak, meninggalkan kekacauan yang ia ciptakan dengan sangat elegan. Di luar, hujan mulai turun, tapi bagi Gendis, udara malam itu terasa jauh lebih bersih dan lega dari yang pernah ia rasakan dalam lima tahun terakhir.