Pouch Kulit Buatan Tanganku Ada di Tas Adikku: Kebohongan Danan dan Gendis yang Akhirnya Runtuh Malam Ini
Harusnya malam itu menjadi perayaan yang hangat, sampai ketika Ibu mendadak mengeluh pening di tengah riuhnya restoran keluarga di kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Gendis, adik perempuanku, langsung panik dan menyuruhku mencari obat tensi Ibu yang tertinggal di mobil. Tanpa berpikir panjang, aku menyambar tas selempang kulit milik Gendis yang tergeletak di kursi kosong sebelahku, mencari kunci mobilnya yang biasa dia taruh di kantong dalam. Namun, jemariku justru membentur sebuah benda bertekstur kasar yang sangat kukenal. Sebuah pouch kulit kecil berwarna cokelat tan, dengan cetakan inisial D dan K yang diukir manual menggunakan teknik tooling kayu.
Jantungku serasa berhenti berdetak di tempat. Pouch itu adalah karya pertamaku saat belajar kerajinan kulit tiga tahun lalu, sebuah hadiah ulang tahun pernikahan yang kubuat dengan tangan yang gemetar dan penuh cinta untuk suamiku, Dananjaya. Aku ingat betul bagaimana ujung jariku sempat teriris pisau beveler saat merapikan pinggirannya, meninggalkan noda darah samar di bagian dalam lipatan kulitnya yang sengaja tidak kuhapus sebagai penanda rahasia kami. Danan selalu bilang dia menyimpan pouch itu di laci kerja kantornya untuk menyimpan koin dan token parkir khusus. Mengapa benda yang sangat personal ini bisa berada di dalam tas kerja Gendis, terselip di antara kosmetik mahal dan tumpukan struk belanja?
Dengan tangan yang mulai gemetar hebat, aku membuka kancing tekan kuningan pouch tersebut. Di dalamnya tidak ada koin kuno atau token parkir kantor Danan. Hanya ada satu buah anak kunci berwarna perak dengan gantungan karet bertuliskan sebuah nama apartemen mewah di daerah Sleman, lengkap dengan nomor unit yang tercetak jelas: 12A-03. Kepalaku langsung berputar hebat. Gendis baru satu tahun lulus kuliah dan bekerja sebagai staf pemasaran biasa dengan gaji yang sering kali harus kutambahi untuk membayar sewa kostnya yang menunggak. Bagaimana mungkin dia memiliki akses ke sebuah unit apartemen mewah di Sleman? Dan mengapa kunci itu disimpan di dalam pouch milik suamiku?
Aku memaksakan diri menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan gemuruh di dadaku sebelum melangkah kembali ke meja makan. Di sana, Danan sedang tertawa renyah, mendengarkan cerita Ibu tentang masa kecil kami. Di sampingnya, Gendis duduk dengan anggun, sesekali menyodorkan tisu dengan gerakan yang terlampau natural, terlampau biasa, seolah mereka adalah sepasang suami istri yang sesungguhnya sementara aku hanyalah tamu asing yang kebetulan lewat. Aku meletakkan kunci mobil Gendis di atas meja dengan denting halus yang sengaja kubuat sedikit keras. Gendis mendongak, matanya yang bulat langsung beralih ke tasnya yang kini sedikit terbuka di pundakku. Ada kilat kepanikan yang sangat tipis di matanya, yang jika aku tidak memperhatikannya dengan jeli, pasti akan terlewatkan.
Malam itu, aku memilih diam. Aku mengantarkan Ibu pulang ke rumahnya di Bantul, sementara Danan menawarkan diri untuk mengantar Gendis kembali ke kostnya karena searah dengan rute pulang kami. Biasanya, aku akan tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan suamiku yang begitu peduli pada adikku. Namun kali ini, aku hanya mengangguk kaku, membiarkan mereka pergi berdua dalam satu mobil, sementara aku memilih mengemudikan mobil Ibu secara perlahan di belakang mereka, menjaga jarak aman agar tidak dicurigai. Aku memperhatikan dari jauh bagaimana mobil Danan tidak berbelok ke arah daerah kost Gendis di Condongcatur, melainkan lurus menuju arah utara, tempat apartemen mewah itu berdiri kokoh di bawah temaram lampu jalanan Yogyakarta.
Keesokan harinya, aku memulai penyelidikanku sendiri tanpa melibatkan siapa pun. Menggunakan koneksi lamaku di komunitas perajin kulit, aku berhasil melacak agen properti yang mengelola unit 12A-03 di apartemen tersebut. Berpura-pura sebagai kerabat yang ingin mengirimkan paket kejutan berukuran besar, aku meminta konfirmasi nama penyewa unit tersebut agar tidak salah kirim. Jantungku bagai dihantam godam besar ketika staf administrasi dengan ramah menyebutkan nama penyewanya: Dananjaya Baskara. Unit itu telah disewa atas nama suamiku sejak delapan bulan yang lalu, tepat ketika Gendis pamit pindah dari kost lamanya dengan alasan ingin hidup lebih mandiri dan dekat dengan kantor barunya.
Setiap potongan puzzle yang selama ini berserakan di kepalaku mulai menyatu dengan kejam. Aku teringat bagaimana Danan sering kali pulang terlambat dengan alasan rapat proyek luar kota yang mendadak, bagaimana aroma parfum maskulinnya kerap kali bercampur dengan aroma vanilla lembut yang sangat khas milik Gendis, dan bagaimana adik kesayanganku itu tiba-tiba bisa membeli tas-tas bermerek yang selalu diklaimnya sebagai barang tiruan murah dari pasar daring. Semua pengorbananku selama ini, mulai dari membiayai kuliah Gendis sejak ayah kami meninggal, hingga merelakan tabungan pribadiku dipakai Danan untuk modal usaha pertamanya, rasanya seperti menguap menjadi lelucon paling hambar di dunia.
Aku memutuskan untuk mendatangi apartemen itu pada hari Selasa siang, saat Danan berpamitan pergi ke Solo untuk urusan bisnis selama dua hari, dan Gendis izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit tipis. Aku membawa kunci duplikat yang diam-diam sempat kubuat dari kunci yang kutemukan di tas Gendis malam itu. Koridor lantai dua belas terasa sangat sunyi, hanya ada deru halus dari pendingin ruangan sentral. Langkah kakiku terasa begitu berat, seolah setiap jengkal lantai dilapisi lem yang menahan tubuhku untuk tidak melangkah lebih jauh menuju kenyataan yang mengerikan. Namun, harga diriku yang telah diinjak-injak menolak untuk membiarkanku mundur.
Dengan tangan yang dingin seperti es, aku memasukkan kunci ke lubang pintu unit 12A-03. Bunyi klik pelan terdengar, disusul dengan gagang pintu yang berputar dengan mudah. Aku mendorong pintu kayu berat itu secara perlahan. Harum ruangan itu langsung menyeruak menyapa penciumanku—aroma diffuser lavender bercampur kopi hangat, persis seperti suasana rumah impian yang selalu digambarkan Gendis dalam obrolan santai kami di teras rumah dulu. Ruang tamu itu ditata dengan sangat estetis, jauh lebih rapi dan hangat dibanding rumah kami sendiri yang selalu sibuk dan dipenuhi barang-barang pekerjaan Danan.
Aku melangkah masuk lebih dalam, mataku menyapu setiap sudut ruangan. Tidak ada pemandangan vulgar yang mengagetkan, tidak ada adegan klise yang membuatku harus berteriak histeris. Yang kutemukan justru sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: sebuah bukti kehidupan bersama yang sangat matang dan terencana. Di atas meja makan kayu pinus, terdapat dua buah cangkir keramik buatan tangan yang pernah kubeli bersama Danan di Kasihan, Bantul. Di dinding ruang tengah, terpajang sebuah foto kanvas besar yang memperlihatkan Danan dan Gendis sedang tertawa lepas berlatar belakang hamparan kebun teh di Kemuning, Karanganyar. Foto itu diambil pada tanggal yang sama saat Danan mengirimiku pesan singkat bahwa dia sedang terjebak banjir di proyek Semarang dan harus menginap di mess pekerja.
Rasa mual yang hebat mendadak naik ke tenggorokanku. Aku menyandarkan tubuhku pada dinding lorong, berusaha keras menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Di atas meja konsol dekat dapur bersih, pandanganku tertumpu pada sebuah kotak perhiasan beludru merah yang terbuka setengah. Di dalamnya, berkilau sebuah gelang emas putih dengan inisial nama yang sangat kukenal. Bukan namaku, melainkan nama Gendis. Di samping kotak perhiasan itu, terletak sebuah buku catatan kehamilan berwarna pastel dengan slip hasil USG yang menyembul dari sela-selanya. Aku membuka buku tersebut dengan jari-jari yang gemetar tanpa terkendali. Di sana tertera nama pasien: Gendis Kirana Baskara—menggunakan nama belakang suamiku—dengan usia kandungan yang kini memasuki minggu kedua belas.
Air mataku akhirnya tumpah, namun tanpa suara. Rasa sakit ini begitu pekat hingga tidak mampu menghasilkan teriakan. Aku merasa seperti orang asing yang baru saja menerobos masuk ke dalam kehidupan indah sepasang kekasih yang saling mencintai, sementara akulah yang sebenarnya memegang surat nikah sah di mata hukum dan agama. Gendis, adik kecil yang kurawat dengan penuh kasih sayang sejak dia masih belajar berjalan, dan Danan, pria yang kupercayai untuk menjaga sisa hidupku, telah membangun sebuah surga kecil di atas puing-puing kebahagiaanku yang mereka hancurkan secara perlahan dan sistematis.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa renyah dari arah pintu depan yang mulai terbuka. Itu suara tawa Gendis yang sangat manja, disusul oleh suara bariton Danan yang menenangkan. Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendadak membakar habis seluruh rasa sedihku. Aku berdiri tegak di tengah ruang tamu, melipat kedua tanganku di dada, menatap langsung ke arah pintu yang perlahan terbuka lebar. Saat sosok Danan dan Gendis melangkah masuk dengan tangan yang saling bertautan erat, tawa mereka mendadak membeku di udara ketika mata kami bertemu.