Saldo OVO-ku Ludes Bukan Buat Jajan, Tapi Buat Bayarin 'Lunch Date' Rahasia Pacarku di Kantin Teknik
Aku selalu percaya bahwa aroma kopi sachet dan debu di perpustakaan pusat adalah saksi bisu perjuangan kami. Renjana, dengan kacamata berbingkai tipis dan rambut yang selalu diikat asal, adalah alasan utamaku tetap waras menghadapi revisi dosen pembimbing yang tak ada habisnya. Kami adalah pasangan 'teladan' di Fakultas Teknik; dia si jenius dari Teknik Sipil, dan aku si ambisius dari Teknik Elektro. Namun, sore itu, di bawah langit kampus yang mendung dan berat seperti beban skripsiku, segalanya runtuh hanya karena sebuah notifikasi yang seharusnya tidak aku lihat.
Waskita, kamu sudah submit bab empat? Suara Renjana terdengar merdu di seberang telepon, namun ada nada terburu-buru yang berusaha ia sembunyikan. Aku sedang berada di depan laptop, jemariku kaku karena kedinginan di ruang AC lab yang suhunya tidak manusiawi. 'Belum, Ren. Masih ada error di simulasi. Kamu di mana? Katanya tadi mau ke toko buku?' tanyaku sembari mengusap wajah yang kusam. Ia menjawab cepat, 'Iya, ini masih di jalan. Agak macet, jangan lupa makan ya, sayang.' Klik. Telepon ditutup bahkan sebelum aku sempat membalas dengan kata-kata manis.
Aku menghela napas, meraih ponselku untuk memesan camilan lewat aplikasi ojek online karena perutku sudah mulai meronta. Namun, saat membuka aplikasi, mataku terpaku pada satu hal yang ganjil. Akun Grab-ku masih tertaut di ponsel Renjana karena seminggu lalu ia meminjamnya saat ponselnya rusak. Di sana, di bagian 'Pesanan Terakhir', muncul sebuah riwayat yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Pesanan dua porsi 'Ayam Geprek Spesial Level 10' dan dua 'Es Teh Manis' dikirimkan sepuluh menit yang lalu ke Gazebo belakang Fakultas Arsitektur.
Masalahnya bukan pada ayam gepreknya. Masalahnya adalah Renjana benci pedas. Dia memiliki maag akut yang membuatnya hanya bisa menyentuh makanan hambar. Dan yang lebih menyakitkan, lokasi pengiriman itu—Gazebo Arsitektur—adalah tempat yang sangat jauh dari toko buku yang ia klaim sedang ia kunjungi. Dengan tangan gemetar, aku melihat rincian pembayarannya. Dipotong langsung dari saldo OVO-ku yang memang sengaja aku sisihkan untuk biaya print skripsi kami berdua. Namaku tertera sebagai pemesan, tapi penerimanya tertulis jelas: 'Kak Jatmiko'.
Jatmiko. Nama itu seperti duri dalam daging. Dia adalah asisten laboratorium yang dulu pernah dikabarkan dekat dengan Renjana sebelum kami jadian. Aku berusaha menenangkan diri, mungkin dia hanya menolong Jatmiko memesan makanan? Tapi kenapa memakai saldoku? Dan kenapa berbohong sedang di toko buku? Rasa penasaran yang bercampur dengan amarah membuatku menutup laptop dengan kasar. Aku tidak peduli pada simulasi yang sedang berjalan. Aku harus melihat dengan mataku sendiri.
Aku berjalan menembus koridor kampus yang mulai sepi. Angin sore meniupkan aroma tanah basah, menambah kesan melankolis pada langkahku yang tergesa. Setiap pasang mata mahasiswa yang berpapasan denganku seolah menatap iba, atau mungkin itu hanya halusinasiku saja. Sesampainya di perbatasan Fakultas Teknik dan Arsitektur, aku memperlambat langkah. Gazebo itu tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja dan deretan karya maket mahasiswa yang belum sempat dirapikan.
Dari kejauhan, aku melihat punggung seorang wanita yang sangat aku kenali. Jaket almamater biru tua itu, cara dia menyandarkan kepalanya saat tertawa... itu Renjana. Di hadapannya duduk seorang pria berambut agak gondrong dengan gaya santai yang khas, Jatmiko. Mereka tidak sedang belajar. Mereka sedang berbagi satu kotak ayam geprek yang sama, sesekali Renjana menyuapkan sepotong kecil daging ayam ke mulut pria itu sembari tertawa lepas, tawa yang tidak pernah aku dengar selama sebulan terakhir karena dia selalu mengeluh stres dengan skripsinya.
Duniaku seakan runtuh di detik itu juga. Bukan karena uang tiga puluh ribu yang terpakai, tapi karena kepercayaan yang aku bangun selama tiga tahun ini ternyata lebih rapuh dari maket kertas di samping gazebo itu. Aku berdiri terpaku di balik pilar beton, menyaksikan bagaimana wanita yang kuanggap masa depanku, sedang asyik merajut masa lalu dengan orang lain menggunakan fasilitas dariku. Renjana terlihat begitu bahagia, jauh lebih hidup daripada saat ia duduk di sampingku membahas masa depan pernikahan kami setelah wisuda nanti.
Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan mengetik sebuah pesan singkat. 'Gimana bukunya, Ren? Ketemu yang dicari?'. Aku melihat dari kejauhan, Renjana meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia membacanya, lalu tersenyum licik ke arah Jatmiko sebelum mengetik balasan. Ponselku bergetar dalam hitungan detik. 'Belum ketemu nih sayang, bukunya langka banget. Aku mungkin pulang agak malem ya, mau nyoba cari ke Gramedia pusat. Kamu semangat ya ngerjain skripsinya! Love you'.
Kalimat 'Love you' itu terasa seperti ludah yang dilemparkan tepat ke wajahku. Aku ingin berteriak, ingin menghampiri mereka dan membalikkan meja kayu itu, tapi kakiku terasa berat. Aku menyadari satu hal yang lebih menyakitkan: Jatmiko menggunakan kaos yang pernah aku belikan untuk ulang tahun Renjana tahun lalu. Kaos itu terlalu besar untuk Renjana, katanya dia suka memakainya untuk tidur. Ternyata, dia suka memberikannya pada orang lain untuk dipakai berkencan di depanku.
Aku tidak langsung melabraknya. Tidak di sana, tidak di depan umum. Aku memilih untuk berbalik dan berjalan kembali ke lab Elektro dengan langkah gontai. Air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya jatuh juga, mengaburkan pandanganku pada gedung-gedung kampus yang mendadak terasa asing. Aku membuka laptopku kembali, tapi kali ini bukan untuk mengerjakan simulasi bab empat. Aku membuka folder 'Rencana Masa Depan' yang berisi daftar vendor pernikahan, cicilan rumah, hingga nama-nama calon anak kami yang pernah kami susun bersama di sela-sela waktu praktikum.
Dengan jari yang masih bergetar, aku menekan tombol delete pada seluruh isi folder itu. Satu per satu impian yang kami bangun secara kolektif menghilang dari layar monitor, sama seperti rasa hormatku padanya yang menguap begitu saja. Namun, aku tahu ini belum selesai. Renjana adalah tipe orang yang pandai bersilat lidah. Jika aku hanya membawa bukti riwayat GrabFood, dia pasti punya seribu alasan untuk mengelak. Aku butuh sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan membuatnya tidak bisa lagi menatap wajahku tanpa rasa malu.
Malam itu, aku tidak pulang ke kost. Aku menginap di lab, menunggu pagi tiba. Aku merencanakan sesuatu untuk sidang progres esok hari, di mana Renjana dan Jatmiko kebetulan berada di ruangan yang sama karena Jatmiko adalah asisten yang bertugas mencatat hasil sidang. Aku akan memberikan mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Bukan dengan kekerasan fisik, melainkan dengan kebenaran yang akan diputar di depan layar proyektor utama fakultas.
Saat fajar menyingsing di ufuk timur kampus, aku sudah selesai menyiapkan presentasiku. Di slide terakhir, aku tidak memasukkan kesimpulan simulasi. Aku memasukkan tangkapan layar riwayat pesanan makanan, foto mereka di gazebo yang sempat aku ambil secara diam-diam semalam, dan satu rekaman audio singkat saat Renjana berjanji akan selalu setia padaku di bawah pohon beringin depan rektorat dua tahun lalu. Aku tahu ini mungkin akan menghancurkan reputasiku juga, tapi aku lebih baik hancur dengan kepala tegak daripada terus hidup dalam kebohongan yang manis.
Renjana datang ke ruang sidang dengan wajah segar, seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Dia bahkan sempat mencium pipiku dan memberiku semangat. 'Semangat ya, Waskita sayang. Kamu pasti bisa lewat sidang progres ini,' bisiknya lembut. Di pojok ruangan, Jatmiko menatapku dengan seringai tipis yang meremehkan. Dia merasa menang. Dia merasa telah berhasil mencuri permata milikku tepat di bawah hidungku sendiri. Tapi dia tidak tahu, bahwa hari ini, aku bukan sedang mempresentasikan skripsi. Aku sedang mempresentasikan akhir dari sebuah pengkhianatan.
Dosen penguji sudah duduk rapi. Ruangan mulai penuh oleh mahasiswa lain yang ingin menyaksikan jalannya sidang. Jatmiko mulai menyiapkan lembar penilaian. Aku melangkah ke depan, menghubungkan laptopku ke proyektor. Layar besar di depan kelas menyala terang. Aku menarik napas panjang, menatap Renjana yang duduk di barisan depan dengan senyum palsunya. Permainan dimulai sekarang, batinku dalam hati sembari menekan tombol 'Next' pada slide pembuka yang berjudul: 'Analisis Ketidakteraturan Frekuensi Hati dalam Sistem Hubungan Jarak Dekat'.