Aplikasi Ojek Online Suamiku Mengirim Sup Ibu Hamil ke Apartemen Margonda, Padahal Kami Sudah Dua Tahun Berhenti Berusaha

Aplikasi Ojek Online Suamiku Mengirim Sup Ibu Hamil ke Apartemen Margonda, Padahal Kami Sudah Dua Tahun Berhenti Berusaha

Drama Rumah Tangga

Aplikasi Ojek Online Suamiku Mengirim Sup Ibu Hamil ke Apartemen Margonda, Padahal Kami Sudah Dua Tahun Berhenti Berusaha



Arimbi memandangi layar ponsel pintar milik suaminya yang tergeletak di atas meja rias dengan napas yang tiba-tiba terasa menyempit di tenggorokan. Malam itu, Baskara sedang mandi, meninggalkan gawai itu tanpa pengawasan—sebuah kelengahan langka dari seorang pria yang biasanya sangat protektif terhadap privasi digitalnya. Niat awal Arimbi sederhana, ia hanya ingin memesan martabak manis kesukaannya menggunakan akun Baskara karena promo gila-gilaan yang sempat suaminya pamerkan tadi sore. Namun, riwayat transaksi yang terpampang di sana justru menyajikan menu lain yang membuat seluruh sendi di tubuh Arimbi seketika melumpuh.

Di sana, tercatat sebuah pesanan GoFood yang diselesaikan pada pukul sebelas malam, tepat tiga hari yang lalu ketika Baskara pamit untuk menyelesaikan revisi maket proyek apartemen di kawasan Kuningan. Menu yang dipesan bukan kopi hitam atau mi instan yang biasa menemani malam-malam lembur suaminya, melainkan satu porsi Sup Ayam Angco—kuliner herbal tradisional Tionghoa yang sangat spesifik, terkenal berkhasiat untuk menjaga stamina ibu hamil di trimester pertama. Lebih dari itu, alamat pengirimannya bukan ke kantor biro arsitektur tempat Baskara bekerja, melainkan ke Margonda Residence Tower H, Kamar 1208. Sebuah nama dan lokasi yang sama sekali tidak pernah ada dalam lingkaran sosial maupun profesional yang Arimbi ketahui.

Dada Arimbi bergemuruh hebat, menghidupkan kembali luka lama yang telah terkubur di bawah tumpukan kepasrahan selama dua tahun terakhir. Pernikahan mereka yang telah menginjak usia lima tahun diwarnai oleh perjuangan melelahkan melawan infertilitas. Dua kali keguguran, belasan terapi hormon, hingga program bayi tabung yang gagal total telah menguras tidak hanya tabungan bersama, tetapi juga sisa-sisa kewarasan emosional mereka. Hingga akhirnya, pada suatu malam yang basah oleh air mata, mereka sepakat untuk berhenti mencoba. Mereka memutuskan untuk saling memiliki satu sama lain tanpa lagi menuntut kehadiran tangis bayi di rumah mereka yang sepi di pinggiran Bintaro. Namun kini, melihat menu sup penguat kandungan itu dikirim ke alamat lain, Arimbi merasa seolah-olah fondasi hidupnya baru saja diledakkan tanpa peringatan.

Suara gemercik air di kamar mandi tiba-tiba mereda, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Arimbi dengan cepat meletakkan kembali ponsel itu ke posisi semula, mengatur napasnya agar tidak terdengar memburu saat pintu kaca kamar mandi terbuka. Baskara keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang, menyisir rambut basahnya dengan jemari tangan kiri sementara tangan kanannya langsung meraih ponsel dengan gerakan refleks yang sangat terlatih. Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang biasanya selalu berhasil menenangkan badai di kepala Arimbi, namun malam ini senyuman itu terlihat seperti topeng yang sangat mengerikan.

'Kamu kenapa, Bi? Kok mukanya pucat sekali? Belum makan malam ya?' tanya Baskara dengan nada suara bariton yang lembut, melangkah mendekat dan mencoba menyentuh kening Arimbi untuk memeriksa suhunya. Sentuhan hangat tangan suaminya yang biasanya menenangkan kini terasa bagaikan sengatan listrik yang dingin. Arimbi refleks memundurkan kepalanya sedikit, berpura-pura sedang mencari sesuatu di dalam laci meja rias demi menghindari kontak fisik yang bisa meruntuhkan pertahanan air matanya.

'Enggak apa-apa, Bas. Cuma agak pusing sedikit karena angin malam. Aku tadi mau pesan martabak pakai HP kamu, tapi sepertinya mending langsung tidur saja,' jawab Arimbi dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin, menyembunyikan getaran hebat yang sedang mengocok isi perutnya. Baskara tampak tertegun sejenak, matanya melirik ke arah ponsel di tangannya dengan kilatan kecemasan yang lewat begitu cepat sebelum digantikan oleh tawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan.

'Oh, iya, silakan pakai saja kalau mau pesan. Tapi ini baterainya mau habis, biar aku cas dulu ya,' kata Baskara sembari buru-buru menancapkan kabel pengisi daya di sudut ruangan yang jauh dari jangkauan Arimbi. Tindakan defensif yang begitu halus itu semakin mempertegas kecurigaan yang kini mulai membakar habis sisa rasa percaya di hati Arimbi. Malam itu, di bawah selimut yang sama, mereka tidur saling memunggungi, dipisahkan oleh jurang rahasia yang tak kasat mata namun terasa sangat dingin dan lebar.

Keesokan harinya, Arimbi tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Jam di dinding baru menunjukkan pukul sembilan pagi ketika ia memutuskan untuk mengambil cuti darurat dari pekerjaannya sebagai editor di sebuah penerbitan buku. Dengan mengendarai mobil kota kecilnya, ia membelah kemacetan jalanan Jakarta menuju Depok, menyusuri jalan raya Margonda dengan jantung yang berdegup kencang layaknya genderang perang. Setiap jengkal aspal yang dilewatinya terasa seperti perjalanan menuju persidangan hidupnya sendiri. Ia harus tahu siapa yang tinggal di Tower H Kamar 1208, dan mengapa suaminya merawat perempuan di sana dengan perhatian yang dulu pernah ia dambakan.

Sesampainya di lobi apartemen yang ramai oleh mahasiswa dan pekerja muda, Arimbi berdiri di sudut dekat mesin kopi otomatis, berpura-pura sibuk dengan ponselnya sementara matanya mengawasi lift penghuni. Keberuntungan tampaknya sedang memihak pada rasa sakit hatinya ketika ia melihat seorang kurir makanan membawa kantong plastik berlogo restoran herbal yang sama dengan yang ia lihat di riwayat GoFood Baskara semalam. Arimbi melangkah cepat, membuntuti kurir tersebut masuk ke dalam lift yang sedang bergerak naik menuju lantai dua belas.

Ketika lift berdenting di lantai dua belas, lorong panjang berlantai keramik putih menyambut mereka dengan aroma pewangi ruangan yang menyengat. Arimbi menjaga jarak sekitar sepuluh meter di belakang kurir, mengawasinya mengetuk pintu bernomor 1208. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sesosok perempuan muda berambut sebahu yang mengenakan daster longgar berbahan katun lembut. Perempuan itu menerima makanan dengan senyum lebar, memegangi perutnya yang tampak mulai membuncit di balik pakaian longgarnya dengan gerakan protektif yang sangat familier di mata Arimbi.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Arimbi ketika ia mengenali wajah perempuan itu. Dia bukan orang asing. Dia adalah Dania, mantan anak magang di kantor biro arsitektur Baskara yang satu tahun lalu sempat mengundurkan diri secara mendadak dengan alasan ingin melanjutkan studi di luar kota. Perempuan muda yang dulu sering diajak Baskara makan siang bersama mereka, perempuan yang selalu bersikap manis dan mengagumi pernikahan Arimbi dan Baskara sebagai panutan hidupnya. Kini, perempuan itu berdiri di sana, mengandung anak yang kemungkinan besar adalah darah daging dari suami Arimbi sendiri.

Arimbi merasakan lututnya melemas, memaksanya bersandar pada dinding lorong yang dingin agar tidak terjatuh. Air matanya yang sejak semalam ditahan kini tumpah tanpa bisa dibendung lagi, membasahi pipinya yang terasa kebas. Di tengah keputusasaan yang mendalam itu, sebuah fakta mengerikan lainnya menghantam kepalanya: pengunduran diri Dania setahun lalu terjadi tepat satu bulan setelah Arimbi dinyatakan gagal dalam transfer embrio terakhirnya. Selama ini, saat ia meratapi rahimnya yang sunyi, suaminya ternyata sedang menanam benih kehidupan di rahim perempuan lain.

Dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki, Arimbi melangkah mendekati pintu kamar 1208 yang masih sedikit terbuka. Ia bisa mendengar suara tawa kecil Dania dari dalam ruangan, disusul oleh suara maskulin yang sangat ia kenal sedang berbicara di telepon genggamnya. 'Iya, sayang, supnya dimakan ya. Aku sebentar lagi selesai rapat di kantor, nanti sore aku mampir ke sana untuk antar buah segar yang kamu minta kemarin.' Suara itu adalah suara Baskara, terdengar begitu lembut, penuh perhatian, dan hidup—nada suara yang sudah sangat lama hilang dari rumah tangga mereka di Bintaro.

Arimbi berdiri mematung di depan pintu, tangannya gemetar hebat saat meraba gagang pintu besi yang terasa sedingin es. Segala kenangan manis tentang janji suci pernikahan mereka di hadapan keluarga besar kini terasa seperti lelucon paling kejam yang pernah ditulis oleh takdir. Dengan satu tarikan napas panjang yang terasa menyakitkan, Arimbi mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, bersiap menghadapi kenyataan paling pahit yang akan mengubah seluruh sisa hidupnya selamanya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url