Iseng Cek Riwayat GoFood Suami di Tengah Pesta, Aku Malah Temukan Alamat Kamar Bersalin yang Tak Pernah Ia Ceritakan

Iseng Cek Riwayat GoFood Suami di Tengah Pesta, Aku Malah Temukan Alamat Kamar Bersalin yang Tak Pernah Ia Ceritakan

Skandal & Pengkhianatan

Iseng Cek Riwayat GoFood Suami di Tengah Pesta, Aku Malah Temukan Alamat Kamar Bersalin yang Tak Pernah Ia Ceritakan



'Jangan sekarang, Raras. Tolong, jangan hancurkan semuanya di sini,' bisik suara di dalam kepalaku, berulang-ulang seperti mantra yang gagal. Tanganku bergetar hebat, membuat ponsel di genggamanku hampir merosot ke lantai marmer gedung serbaguna yang dingin ini. Di sekelilingku, denting gelas sampanye dan tawa tertahan dari para kolega bisnis Damar terdengar seperti dengungan lebah yang menyiksa. Aku berdiri di sudut remang-remang, bersembunyi di balik pilar besar, sementara suamiku—Damar Dananjaya—sedang berdiri di atas panggung, menerima penghargaan sebagai pengusaha muda paling inspiratif tahun ini. Dia terlihat begitu sempurna dengan setelan tuksedo rancangan desainer ternama, senyumnya menyilaukan, seolah dunia berada di bawah kendalinya. Namun, di layar ponselku, sebuah kenyataan pahit baru saja menampar kesadaranku tanpa ampun.

Semuanya bermula dari hal sepele. Ponselku mati total karena kehabisan daya tepat saat aku ingin memesan taksi online untuk kepulangan ibuku yang baru saja pamit dari acara ini. Tanpa curiga, aku meminjam ponsel Damar yang tergeletak di meja bundar kami. Aku hanya ingin membuka aplikasi ojek online, namun sebuah notifikasi pop-up dari aplikasi layanan antar makanan menarik perhatianku. 'Pesanan Anda: 1 Porsi Bubur Ayam Spesial (Tanpa Seledri) telah sampai di Lobby Melati, RSIA Bunda Harapan.' Jantungku berhenti berdetak sejenak. Bubur ayam tanpa seledri. Itu adalah pesanan favoritku setiap kali aku sedang sakit atau merasa tidak enak badan. Tapi masalahnya, aku sehat-sehat saja malam ini. Dan Damar? Dia bersamaku di sini, di gala dinner ini, sejak tiga jam yang lalu.

Dengan jari yang kaku, aku membuka riwayat pesanan di aplikasi tersebut. Mataku memanas melihat deretan pesanan yang dilakukan selama satu bulan terakhir. Hampir setiap pagi, ada pesanan makanan bergizi—sup ayam, buah-buahan segar, susu khusus ibu hamil—yang dikirim ke alamat yang sama: RSIA Bunda Harapan, Paviliun Melati, Kamar 402. Nama penerimanya selalu tertulis 'Ibu Aisya'. Namanya begitu familiar, namun otakku menolak untuk menyambungkannya. Aisya Kirana. Sahabat karibku sejak masa SMA. Wanita yang katanya sedang berada di Singapura untuk pengobatan kista selama tiga bulan terakhir. Wanita yang selalu menangis di pundakku karena merasa kesepian setelah perceraiannya setahun yang lalu.

Aku merasa udara di ruangan ini tiba-tiba menipis. Aku teringat bagaimana Damar begitu gigih menyarankanku untuk mengambil cuti panjang dan berlibur ke rumah orang tuaku di Yogyakarta bulan lalu dengan alasan aku butuh istirahat dari program IVF kami yang gagal untuk ketiga kalinya. 'Kamu butuh healing, Ras. Biar aku yang urus pekerjaan di sini,' katanya dengan nada lembut yang dulu sangat aku puja. Ternyata, di balik kelembutan itu, dia sedang mengurus 'keluarga' lain yang sedang tumbuh di rahim wanita lain. Dan wanita itu adalah orang yang paling aku percayai di dunia ini setelah ibuku sendiri.

Aku melangkah keluar dari gedung dengan kaki lemas, mengabaikan panggilan beberapa kenalan yang menyapa. Aku butuh udara. Aku butuh kepastian. Aku masuk ke dalam mobil, mengabaikan sopir pribadi kami, dan memilih untuk mengemudi sendiri menuju RSIA Bunda Harapan. Sepanjang perjalanan, air mataku mengalir deras, membasahi gaun batik sutra yang khusus kupakai untuk merayakan keberhasilan Damar malam ini. Ironis sekali. Aku merayakan kesuksesannya, sementara dia merayakan pengkhianatannya di tempat lain.

Setibanya di rumah sakit, aroma khas obat-obatan menyambutku. Aku berjalan dengan langkah tergesa menyusuri lorong Paviliun Melati yang sunyi. Setiap langkahku bergema, seolah-olah lantai rumah sakit ini ikut menertawakan kebodohanku. Kamar 402 berada di ujung lorong. Aku berhenti di depan pintu kayu itu, napas terengah, tangan gemetar saat hendak memutar knop pintu. Melalui kaca kecil di pintu, aku melihat ke dalam. Jantungku serasa dicabut paksa dari tempatnya.

Di sana, di atas tempat tidur rumah sakit, Aisya sedang duduk bersandar sambil menggendong seorang bayi yang baru lahir. Wajahnya tampak pucat namun bercahaya oleh kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. Dan di sampingnya, duduk seorang pria yang seharusnya masih berada di panggung penghargaan. Damar. Dia sudah sampai di sana entah bagaimana caranya, mungkin dia menyadari ponselnya hilang dan segera menyusul ke satu-satunya tempat yang ia tuju setiap malam. Damar sedang membelai pipi bayi itu dengan lembut, sebuah tatapan penuh cinta yang tak pernah lagi ia berikan padaku sejak tahun kedua pernikahan kami.

'Dia mirip sekali denganmu, Damar,' suara Aisya terdengar lirih namun jelas di telingaku yang menempel di pintu. Damar terkekeh, suara kekehan yang biasanya menenangkan hatiku, kini terdengar seperti belati yang mengiris-iris nadiku. 'Tentu saja. Dia Dananjaya kecil. Aku akan memastikan dia mendapatkan segalanya. Maaf ya, malam ini aku terlambat karena acara sialan itu. Raras benar-benar tidak mau lepas dariku tadi,' jawab Damar dengan nada meremehkan yang membuat dadaku sesak.

Aku mundur selangkah. Rasanya seperti dunia di sekelilingku runtuh perlahan-lahan. Semua perjuanganku, suntikan hormon yang menyakitkan setiap pagi, tangisanku setiap kali melihat hasil tes kehamilan yang negatif, semuanya terasa sia-sia. Damar tidak pernah benar-benar menginginkan anak dariku. Dia hanya menginginkan anak, dan dia memilih rahim sahabatku untuk mewujudkannya, menggunakan uang hasil kerja keras perusahaan yang kami bangun bersama dari nol. Aku teringat mutasi rekening perusahaan yang sempat mencurigakan beberapa bulan lalu—pengeluaran besar untuk 'investasi properti' yang tak pernah ia jelaskan secara detail. Sekarang aku tahu, properti itu kemungkinan besar adalah apartemen mewah yang ditinggali Aisya sebelum ia melahirkan.

Aku ingin berteriak, ingin mendobrak pintu itu dan menjambak rambut Aisya, ingin menampar wajah Damar hingga ia sadar betapa bejatnya dia. Tapi aku terdiam. Ada sesuatu yang lebih dingin dari amarah yang merayap di hatiku. Sebuah kehampaan yang luar biasa. Aku menyadari bahwa pengkhianatan ini bukan sekadar nafsu sesaat. Ini adalah sebuah rencana yang tersusun rapi selama bertahun-tahun. Aisya, yang selalu tahu kapan masa suburku, yang selalu menyarankanku dokter kandungan tertentu—yang sekarang kusadari mungkin adalah dokter yang sama yang membantunya menjaga kehamilan rahasia ini.

Aku mengambil ponsel Damar yang masih ada di tanganku. Dengan tangan yang kini tak lagi gemetar karena sudah mati rasa, aku mengambil foto pemandangan di dalam kamar itu. Klik. Satu foto. Klik. Dua foto. Aku juga merekam percakapan mereka selama beberapa menit. Ini bukan saatnya untuk menjadi wanita yang histeris dan memalukan di koridor rumah sakit. Ini adalah saatnya untuk menjadi wanita yang akan menghancurkan mereka dengan cara yang paling elegan.

Aku berjalan kembali menuju parkiran. Dinginnya angin malam Jakarta menusuk kulitku, tapi hatiku jauh lebih beku. Aku masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan diam sejenak. Aku melihat pantulan diriku di spion tengah. Mataku merah, maskaraku luntur, tapi sorot mataku tak lagi sama. Gendis Rarasati yang lemah lembut dan penurut sudah mati di depan pintu kamar 402 tadi. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang tahu persis bagaimana cara mengambil kembali apa yang menjadi haknya.

Aku mengirimkan pesan singkat ke pengacaraku, Baskara, yang juga merupakan sepupu jauhku. 'Bas, siapkan berkas gugatan cerai paling lengkap. Sertakan pembagian aset perusahaan secara mutlak padaku. Aku punya bukti perselingkuhan dan anak di luar nikah. Kita hancurkan Damar pelan-pelan.' Tak butuh waktu lama, Baskara membalas, 'Siap, Raras. Ada apa? Kamu baik-baik saja?' Aku tidak membalas. Aku hanya menatap ke depan, ke arah jalanan yang gelap. Permainan baru saja dimulai, Damar. Kamu pikir kamu pemenangnya karena mendapatkan seorang putra? Kita lihat saja, apakah putra itu bisa memberimu makan saat semua aset dan namamu kuhapus dari industri ini.

Aku teringat kembali pada bubur ayam tanpa seledri itu. Sebuah detail kecil yang menghancurkan topeng kesempurnaan seorang Damar Dananjaya. Lucu sekali bagaimana sebuah aplikasi makanan bisa menjadi saksi bisu dari akhir sebuah pernikahan yang sudah berjalan tujuh tahun. Aku memacu mobilku menjauh dari rumah sakit, meninggalkan sepasang pengkhianat yang masih asyik dengan dunia kecil mereka, tanpa menyadari bahwa badai besar baru saja mengetuk pintu mereka.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url