Notifikasi Detak Jantung Aruna Tiba-Tiba Melonjak Tajam di Villa Lembang, Padahal Katanya Sedang Sidang di Jakarta
'Denyut jantung Aruna melampaui 145 BPM. Terdeteksi aktivitas fisik berat di lokasi: Villa Kayu Manis, Lembang.' Notifikasi itu muncul di layar ponsel Galang tepat saat dia sedang menyeruput kopi sachet di pantry kantornya yang dingin. Galang tertegun. Jempolnya gemetar saat mengusap layar. Aruna, istrinya yang sudah dinikahinya selama delapan tahun, seharusnya sedang berada di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, mendampingi klien korporasi dalam sidang perdata yang melelahkan. Itulah alasan yang Aruna berikan tadi pagi saat mencium kening Galang dengan terburu-buru. Namun, fitur 'Family Sharing' pada jam tangan pintar yang baru saja Galang hadiahkan di hari ulang tahun Aruna minggu lalu, tidak pernah berbohong. Alat itu adalah pelacak kesehatan yang jujur, terlalu jujur untuk sebuah perselingkuhan yang direncanakan dengan sangat rapi.
Galang merasa dunianya seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Dia mencoba mengatur napas, namun dadanya terasa sesak seolah ada sebongkah batu besar yang menghimpitnya. Villa Kayu Manis. Galang sangat mengenal tempat itu. Itu adalah villa milik Mahendra, sahabat karibnya sejak SMA, orang yang menjadi saksi nikah mereka, dan orang yang meminjamkan modal pertama kali saat Galang membangun studio arsitekturnya. Bagaimana mungkin dua orang paling penting dalam hidupnya berada di tempat yang sama, di jam kerja, dengan detak jantung istrinya yang menunjukkan aktivitas fisik yang tidak masuk akal untuk seorang pengacara yang sedang bersidang? Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi kepala Galang. Apakah mereka sedang berolahraga? Ataukah sesuatu yang lebih menjijikkan dari itu?
Tanpa berpikir panjang, Galang menyambar kunci mobilnya. Dia mengabaikan panggilan telepon dari sekretarisnya tentang revisi desain mall di Surabaya. Masa bodoh dengan karir. Masa bodoh dengan uang. Ada sesuatu yang lebih berharga yang sedang dipertaruhkan: harga dirinya sebagai seorang suami. Perjalanan dari Jakarta menuju Lembang terasa seperti selamanya. Setiap kilometer yang dilewati terasa seperti sayatan sembilu. Galang teringat bagaimana Aruna belakangan ini sering pulang larut malam dengan alasan lembur, bagaimana Mahendra tiba-tiba menjadi sangat dermawan dengan sering mengirimkan makanan ke rumah mereka, dan bagaimana keduanya tampak sangat akrab di pesta pernikahan sepupu Galang bulan lalu. Galang mengira itu hanya keakraban biasa antara istri dan sahabat. Dia tidak pernah menyangka bahwa di balik tawa renyah itu, ada duri yang siap menikam jantungnya.
Jalanan menuju Lembang sedang macet parah karena perbaikan jalan. Galang memukul kemudi mobilnya dengan keras hingga tangannya memerah. Dia membuka kembali aplikasi kesehatan di ponselnya. Lokasi Aruna masih di sana. Detak jantungnya sudah menurun ke angka normal, 72 BPM. 'Sudah selesai, ya?' bisik Galang dengan suara serak yang penuh kebencian. Air mata mulai mengalir di pipinya, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia merasa seperti orang bodoh. Selama ini dia bekerja keras, menabung untuk masa depan mereka, merencanakan program bayi tabung yang mahal, sementara istrinya justru membuang-buang energi di tempat tidur orang lain. Dan orang itu adalah Mahendra. Mahendra yang selalu dia puji-puji sebagai saudara yang tak sedarah.
Saat mobilnya akhirnya memasuki gerbang Villa Kayu Manis yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus, Galang melihat mobil SUV hitam milik Mahendra terparkir di sana. Di sampingnya, ada mobil city car putih milik Aruna. Galang mematikan mesin mobilnya. Sunyi. Hanya suara gesekan daun pinus yang ditiup angin pegunungan yang dingin. Galang turun dari mobil dengan langkah gontai. Kakinya terasa seperti jelly. Dia berjalan menuju pintu utama villa yang tidak terkunci sepenuhnya. Dengan perlahan, dia mendorong pintu kayu jati yang berat itu. Aroma parfum vanilla yang sangat dia kenali—parfum kesukaan Aruna—langsung menyeruak indra penciumannya, bercampur dengan aroma kopi hitam yang menjadi ciri khas Mahendra.
Galang berjalan menyusuri lorong panjang yang menuju ke balkon belakang. Di sana, dia mendengar suara tawa. Bukan tawa penuh dosa yang dia bayangkan, tapi tawa yang terdengar sangat santai, sangat domestik. Galang mengintip dari balik tirai tipis. Di sana, di meja kayu panjang, Aruna dan Mahendra sedang duduk berhadapan. Namun, yang membuat Galang hampir terjatuh adalah apa yang ada di depan mereka. Bukan botol wine atau pakaian yang berserakan, melainkan tumpukan dokumen legal yang sangat tebal dan sebuah laptop yang menampilkan grafik keuangan studio arsitektur milik Galang. 'Kalau kita pindahkan aset ini ke perusahaan cangkang di Singapura sebelum gugatan cerai diajukan, Galang tidak akan bisa menuntut sepeser pun,' suara Aruna terdengar sangat dingin, sangat berbeda dengan suara lembut yang biasa dia dengar setiap pagi.
Mahendra mengangguk, menyesap kopinya dengan tenang. 'Aku sudah mengatur semuanya dengan orang bank. Galang itu terlalu fokus pada estetika bangunan, dia tidak pernah benar-benar mengerti angka. Dia pikir aku meminjamkan modal karena persahabatan? Tidak, Aruna. Aku ingin studio itu sejak lama. Dan sekarang, aku mendapatkan studionya, dan aku mendapatkanmu. Ini adalah skenario win-win yang sempurna.' Mahendra mengusap tangan Aruna di atas meja. Aruna tidak menarik tangannya. Dia justru tersenyum licik. 'Aku sudah bosan hidup dengan pria yang terlalu lurus sepertinya. Dia membosankan. Kamu lebih tahu cara menikmati hidup, Mahen.'
Darah Galang mendidih. Ini bukan sekadar perselingkuhan fisik. Ini adalah pengkhianatan terencana. Mereka ingin menghancurkan hidupnya secara finansial dan emosional. Aruna ingin menceraikannya setelah semua aset dipindahkan. Notifikasi detak jantung tadi... Galang baru menyadari sesuatu. Aruna mungkin baru saja melakukan sesi yoga intens di balkon itu untuk melepas stres setelah merencanakan kejahatan mereka, atau mungkin Mahendra baru saja membuatnya tertawa hingga jantungnya berdebar kencang karena adrenalin jahat yang mereka bagi bersama. Galang tidak lagi merasa sedih. Dia merasa dingin. Sangat dingin.
Dia mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan fitur rekam video, dan keluar dari balik tirai. 'Jadi, seberapa banyak harga studio itu di mata kalian berdua?' tanya Galang dengan suara datar namun mematikan. Aruna tersentak hingga kursinya terjungkal ke belakang. Wajahnya yang cantik seketika pucat pasi, seperti mayat. Mahendra tersedak kopinya, matanya membelalak kaget. 'Galang? Kenapa kamu ada di sini?' tanya Mahendra dengan suara bergetar. Galang hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. 'Aku? Aku hanya sedang mengikuti notifikasi detak jantung istriku yang tercinta. Ternyata jantungmu berdetak kencang bukan karena cinta, ya Aruna? Tapi karena rencana pencurian aset?'
Aruna mencoba mendekat, tangannya gemetar ingin meraih lengan Galang. 'Galang, ini tidak seperti yang kamu dengar. Kami hanya... kami sedang mendiskusikan strategi pajak untukmu!' teriak Aruna dengan nada panik. Galang tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di seluruh villa. 'Strategi pajak dengan memindahkan aset ke Singapura tanpa sepengetahuan pemiliknya? Jangan hina intelegensiku, Aruna. Aku mungkin seorang arsitek yang fokus pada estetika, tapi aku bukan orang bodoh yang tidak tahu cara membaca mutasi rekening pribadi yang kamu pikir sudah kamu hapus jejaknya.'
Galang mengangkat ponselnya yang masih merekam. 'Video ini, ditambah dengan semua log aktivitas dari Apple Health yang mencatat setiap detak jantungmu dan lokasi tepatmu berada di saat kamu mengaku berada di pengadilan, akan menjadi bukti yang sangat menarik di kepolisian. Oh, dan Mahendra, jangan pikir aku tidak tahu tentang penggelapan dana kantor yang kamu lakukan tahun lalu. Aku sengaja diam karena aku pikir kamu saudaraku. Tapi sekarang? Aku akan memastikan kalian berdua memakai baju warna oranye yang seragam.'
Mahendra berdiri, mencoba mengintimidasi Galang dengan postur tubuhnya yang lebih besar. 'Kau tidak punya bukti kuat, Galang! Itu hanya rekaman suara tanpa konteks!' Galang maju selangkah, menatap tepat ke mata Mahendra. 'Konteksnya adalah pengkhianatan, Mahen. Dan aku punya lebih dari sekadar video ini. Aku punya salinan email yang kalian kirim satu sama lain melalui server kantor yang lupa kalian enkripsi. Aku arsitek, Mahen. Aku biasa membangun sesuatu dari nol. Jadi, jangan kaget kalau aku juga tahu cara meruntuhkan sesuatu sampai ke fondasinya, termasuk hidup kalian berdua.'
Aruna jatuh terduduk di lantai, menangis histeris. Dia memohon-mohon maaf, mengatakan bahwa Mahendra yang mempengaruhinya. Namun Galang tidak lagi mendengarkan. Dia berbalik, berjalan keluar dari villa itu tanpa menoleh sedikit pun. Di dalam mobil, dia langsung menelepon pengacaranya—seorang kawan lama yang memang spesialis dalam kasus penipuan korporasi. 'Persiapkan semuanya, Danu. Kita akan meratakan dua orang ini tanpa sisa. Dan oh, kirimkan surat cerai ke alamat Aruna besok pagi. Pastikan dia tidak mendapatkan bahkan satu sendok teh pun dari rumah itu.'
Galang melajukan mobilnya menuruni bukit Lembang. Matahari mulai terbenam, menyisakan warna jingga yang membara di cakrawala. Hatinya hancur, itu pasti. Namun, di tengah kehancuran itu, dia merasakan kelegaan yang luar biasa. Dia sudah membuang racun dalam hidupnya. Sekarang, dia hanya perlu membangun kembali puing-puing itu menjadi sebuah istana yang baru, tanpa ruang sedikit pun untuk orang-orang seperti Aruna dan Mahendra. Pengkhianatan mungkin menyakitkan, tapi itu adalah cara semesta menunjukkan siapa yang layak tetap berada di sisi kita saat badai datang. Dan bagi Galang, badai ini baru saja dimulai, tapi dialah yang memegang kemudi kapalnya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, Galang berdiri di depan gedung studionya yang baru. Kasus Aruna dan Mahendra sudah masuk ke tahap penyidikan. Mahendra dinyatakan tersangka atas kasus penggelapan dana, sementara Aruna terancam hukuman atas keterlibatannya dalam konspirasi penipuan aset. Hidup mereka hancur dalam semalam, tepat seperti yang Galang janjikan. Galang melihat ke arah jam tangannya. Ada notifikasi masuk. Bukan detak jantung orang lain, melainkan pengingat jadwal meditasi untuk dirinya sendiri. Dia tersenyum, menarik napas dalam-dalam, dan melangkah masuk ke dalam kantornya. Kali ini, fondasinya jauh lebih kuat karena dibangun di atas kejujuran, bukan kepalsuan yang dibungkus dengan aroma vanilla dan janji persahabatan kosong.