Playlist Terlarang di Balik Layar Spotify: Saat Akun Keluarga Menjadi Saksi Bisu Pengkhianatan Terkejam

Playlist Terlarang di Balik Layar Spotify: Saat Akun Keluarga Menjadi Saksi Bisu Pengkhianatan Terkejam

Skandal & Pengkhianatan

Playlist Terlarang di Balik Layar Spotify: Saat Akun Keluarga Menjadi Saksi Bisu Pengkhianatan Terkejam



Kemacetan Jakarta sore itu terasa lebih mencekik dari biasanya. Sabda menyandarkan punggungnya pada jok kulit mobil SUV hitamnya, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan ritme yang tidak beraturan. Di luar, rintik hujan mulai membasahi kaca depan, membiaskan cahaya lampu rem mobil di depannya menjadi pendar kemerahan yang buram. Untuk mengusir penat, Sabda meraih ponselnya yang diletakkan di dasbor, berniat mengganti lagu di aplikasi Spotify yang sedari tadi menemani perjalanannya pulang dari kantor biro arsitek miliknya.

Namun, sesuatu yang ganjil menghentikan gerakannya. Di bagian bawah layar ponselnya, terdapat baris teks kecil yang berkedip: 'Listening on: Pradipta’s Home'. Sabda mengerutkan kening. Dahinya berlipat, menciptakan garis-garis dalam yang menandakan kebingungan sekaligus kecemasan yang mendadak menyeruak. Pradipta adalah sahabat karibnya sejak masa kuliah, rekan bisnis yang paling ia percaya, dan rumah pria itu berjarak hampir dua puluh kilometer dari posisi Sabda saat ini.

Sabda menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu. Ia teringat bahwa sebulan lalu, Aruna, istrinya yang cantik dan lembut, meminta izin untuk menambahkan satu slot lagi di paket 'Spotify Family' mereka. Katanya, itu untuk sepupunya yang baru pindah ke Jakarta. Sabda, yang terlalu sibuk dengan proyek pembangunan resor di Bali, hanya mengangguk setuju tanpa bertanya lebih lanjut. Ia mempercayai Aruna lebih dari ia mempercayai dirinya sendiri.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sabda menekan ikon perangkat di aplikasi tersebut. Di sana tertera jelas, sebuah playlist berjudul 'Senandika Malam' sedang diputar melalui soundbar mewah di ruang tamu Pradipta. Sabda mengenal playlist itu. Itu adalah playlist yang ia buat khusus untuk Aruna saat mereka masih masa pendekatan tujuh tahun lalu. Isinya adalah lagu-lagu indie folk dengan lirik yang puitis, lagu-lagu yang menurut Aruna adalah representasi dari jiwa mereka yang menyatu.

Rasa mual mulai mengaduk perut Sabda. Ia mencoba berpikir positif. Mungkin Aruna sedang berada di sana bersama istri Pradipta? Tapi tunggu, Pradipta belum menikah. Ia masih melajang, atau setidaknya begitulah yang Sabda tahu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Aruna pamit pagi tadi untuk mengunjungi ibunya di Bandung karena sang ibu mengeluh pening kepala. Aruna bahkan mengirimkan foto sepiring siomay di Jalan Pajajaran sebagai bukti keberadaannya di Kota Kembang.

Sabda menepi ke bahu jalan tol yang padat. Ia mengabaikan klakson kendaraan di belakangnya yang protes karena gerakannya yang mendadak. Ia membuka riwayat pencarian dan aktivitas akun Spotify mereka. Matanya membelalak. Selama tiga bulan terakhir, setiap kali Sabda lembur di kantor atau melakukan kunjungan lapangan ke luar kota, akun yang ia sangka milik 'sepupu' Aruna itu selalu aktif di jam-jam larut malam. Dan lokasi pemutarannya selalu sama: Apartemen Pradipta atau rumah pribadinya di kawasan Jakarta Selatan.

Dunia seolah runtuh menimpa pundak Sabda. Ia teringat betapa Pradipta selalu menjadi orang pertama yang menghiburnya saat ia stres menghadapi klien. Pradipta adalah orang yang memegang kunci cadangan rumahnya, orang yang tahu setiap sudut kehidupannya. Aruna, dengan senyum manisnya yang setiap pagi menyajikan kopi tanpa ampas kegemarannya, ternyata menyimpan duri yang begitu tajam di balik kelembutan sikapnya.

Sabda mencoba menghubungi nomor Aruna. Nada sambung berbunyi panjang, namun tidak diangkat. Ia mencoba sekali lagi, tetap sama. Kemudian, ia mengirim pesan singkat: 'Gimana kondisi Mama di Bandung? Udah enakan?'. Lima menit berlalu tanpa balasan, padahal status WhatsApp Aruna menunjukkan 'Online'. Sabda bisa melihat Aruna sedang mengetik, lalu berhenti, lalu mengetik lagi. Seolah-olah wanita itu sedang menyusun kebohongan yang paling rapi untuk disuguhkan kepadanya.

'Udah mendingan, Mas. Ini aku lagi pijitin Mama. Maaf ya telat balas, tadi HP-nya ditaruh di meja makan,' balas Aruna akhirnya. Kalimat itu meluncur masuk ke ponsel Sabda tepat di saat lagu 'The Night We Met' milik Lord Huron mulai teralun di perangkat milik Pradipta. Sabda memejamkan mata erat-erat. Air mata yang jarang sekali tumpah, kini menggenang di sudut matanya. Ia merasakan pengkhianatan ini bukan hanya sekadar perselingkuhan fisik, melainkan sebuah pencurian identitas emosional. Lagu itu adalah lagu mereka. Bagaimana bisa Aruna mendengarkannya bersama pria lain?

Tanpa pikir panjang, Sabda memutar balik arah kendaraannya. Ia tidak pulang ke rumah mereka di Bintaro. Ia memacu mobilnya menuju kawasan Senopati, tempat hunian Pradipta berada. Sepanjang perjalanan, otaknya berputar liar. Ia mengingat kembali detail-detail kecil yang selama ini ia abaikan. Wangi parfum pria yang tertinggal di bantal sofa, mutasi rekening Aruna yang sering menunjukkan transaksi di toko bunga premium, hingga perubahan password Wi-Fi rumah yang tiba-tiba diganti oleh Aruna dengan alasan 'keamanan'.

Sesampainya di depan gerbang rumah Pradipta yang megah, Sabda melihat mobil Aruna—sebuah hatchback putih yang ia hadiahkan di ulang tahun pernikahan kelima mereka—terparkir rapi di balik pagar besi tempa. Mobil itu seharusnya berada di garasi rumah mertuanya di Bandung. Hati Sabda hancur berkeping-keping. Kenyataan pahit itu kini terpampang nyata di depan matanya, lebih jelas dari skema bangunan paling detail yang pernah ia kerjakan.

Sabda turun dari mobil. Hujan semakin deras, mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup dalam sekejap. Ia tidak peduli. Ia berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang berat namun penuh amarah yang tertahan. Ia tidak langsung menggedor pintu. Ia berdiri di sana, di bawah naungan teras, mendengarkan sayup-sayup suara tawa dari dalam rumah. Suara tawa yang sangat ia kenali. Tawa Aruna yang renyah, bersahutan dengan suara berat Pradipta yang sedang membicarakan sesuatu tentang rencana masa depan.

'Kita harus segera kasih tahu dia, Arun. Aku nggak mau kita terus-terusan begini,' suara Pradipta terdengar samar namun jelas bagi telinga Sabda yang sudah terasah oleh kecurigaan. 'Sabar, Dip. Sabda itu orangnya teliti. Kalau kita salah langkah sedikit saja, aset perusahaan yang sudah kita pindahkan pelan-pelan ke akunmu bisa terlacak. Biarkan dia percaya aku di Bandung dulu,' sahut Aruna dengan nada dingin yang belum pernah Sabda dengar sebelumnya.

Lutut Sabda terasa lemas. Ini bukan sekadar skandal asmara. Ini adalah konspirasi untuk menghancurkannya secara finansial dan mental. Istrinya dan sahabatnya tidak hanya berbagi tempat tidur, tapi mereka juga sedang menjarah kerja keras yang ia bangun selama sepuluh tahun terakhir. Sabda mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia merasa seperti orang bodoh yang dikelilingi oleh pemangsa yang mengenakan topeng malaikat.

Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan menyalakan fitur perekam suara. Ia menempelkan ponselnya ke celah pintu, merekam setiap kata yang keluar dari mulut dua orang yang paling ia cintai sekaligus paling ia benci saat ini. Di dalam sana, lagu di Spotify berganti menjadi alunan musik klasik yang mendayu, seolah mengejek kehancuran yang sedang terjadi di luar pintu tersebut.

Sabda tahu, jika ia mendobrak pintu sekarang, ia hanya akan mendapatkan drama sesaat. Ia butuh lebih dari itu. Ia butuh keadilan. Ia butuh melihat mereka jatuh sedalam-dalamnya, seperti mereka menjatuhkannya malam ini. Dengan tangan gemetar, ia menyimpan rekaman itu, lalu berjalan kembali ke mobilnya. Ia menyalakan mesin, namun tidak langsung pergi. Ia menunggu di dalam kegelapan, memperhatikan lampu kamar di lantai dua rumah Pradipta yang baru saja menyala.

Di layar dasbor mobilnya, aplikasi Spotify masih menunjukkan aktivitas yang sama. Sabda dengan sengaja menekan tombol 'Next' di ponselnya dari jarak jauh. Di dalam rumah, lagu klasik itu tiba-tiba berhenti dan berganti menjadi lagu 'I Know It’s Over' milik The Smiths. Sabda bisa membayangkan kepanikan kecil yang terjadi di dalam sana saat playlist mereka tiba-tiba berubah secara misterius. Itu adalah pesan kecil darinya. Sebuah genderang perang yang baru saja ia tabuh tanpa kata-kata.

Malam itu, Sabda tidak pulang ke Bintaro. Ia menginap di sebuah hotel murah di pinggiran Jakarta, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar laptopnya. Ia membuka akses database kantor yang selama ini ia percayakan pada Pradipta. Benar saja, ada aliran dana yang tidak wajar ke sebuah vendor fiktif selama setahun terakhir. Totalnya mencapai miliaran rupiah. Sabda tersenyum getir. Air matanya sudah kering, digantikan oleh kedinginan yang membeku di dalam dadanya.

Esok pagi, ia akan menemui pengacara perceraian terbaik dan auditor forensik paling tajam di kota ini. Namun sebelum itu, ia memiliki satu rencana lagi. Ia membuka kembali aplikasi Spotify, mengubah nama akun keluarganya menjadi 'I SAW EVERYTHING', lalu menghapus akses Pradipta dan Aruna secara permanen. Ia ingin mereka tahu bahwa kegelapan telah dimulai, dan ia bukan lagi Sabda yang mudah dibodohi oleh senyuman manis atau pelukan hangat yang palsu.

Saat fajar menyingsing di ufuk timur Jakarta, Sabda menyesap kopi hitam pahitnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin hotel. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya memancarkan ketegasan yang baru. Aruna dan Pradipta mungkin berpikir mereka telah memenangkan permainan ini, tapi mereka lupa satu hal: Sabda adalah seorang arsitek. Ia tahu bagaimana membangun sesuatu dari nol, dan ia juga tahu persis di mana letak pilar utama yang jika dihancurkan, akan merobohkan seluruh bangunan tanpa sisa.

Ia mengambil ponselnya sekali lagi, melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Aruna dan puluhan pesan panik. Sabda tidak membalas satupun. Ia hanya mengirimkan satu file audio—rekaman pembicaraan mereka semalam—ke grup WhatsApp keluarga besar dan grup manajemen kantor. Tanpa kata pengantar, tanpa caci maki. Hanya kebenaran yang telanjang. Dan saat itulah, ponsel Sabda mulai meledak dengan notifikasi, namun ia memilih untuk mematikan perangkat tersebut dan melangkah keluar menuju cahaya matahari yang mulai meninggi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url