Susu Bebas Laktosa di Riwayat GoMart Istriku Menguak Sandiwara Tiga Tahun Pernikahan Kami

Susu Bebas Laktosa di Riwayat GoMart Istriku Menguak Sandiwara Tiga Tahun Pernikahan Kami

Skandal & Pengkhianatan

Susu Bebas Laktosa di Riwayat GoMart Istriku Menguak Sandiwara Tiga Tahun Pernikahan Kami



'Kamu sejak kapan suka pelihara kucing, Ki?'

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Dananjaya, pelan dan tanpa nada mengancam. Sore itu, rintik hujan Jakarta menyiram kaca jendela dapur mereka yang minimalis di kawasan Bintaro. Di luar, langit abu-abu menggantung rendah, menciptakan bayangan panjang di atas meja semen ekspos yang biasanya menjadi tempat mereka menyesap kopi bersama. Danan masih memegang ponselnya, menatap layar yang menyala hangat di tengah temaram ruangan.

Kirana yang sedang memotong wortel di dekat wastafel mendadak menghentikan gerakan pisajunya. Hanya satu detik. Sangat singkat, namun bagi Danan yang seorang arsitek—seseorang yang terbiasa mengamati pergeseran milimeter pada struktur bangunan—jeda itu terasa seperti gempa bumi kecil. Kirana kembali memotong, suaranya terdengar terlalu santai saat menjawab, 'Kucing? Kamu tahu sendiri aku alergi bulu, Nan. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?'

Danan tidak langsung menjawab. Ia memutar-mutar ponselnya di atas meja. Di layar itu, aplikasi belanja online GrabMart milik bersama masih terbuka. Sebagai pasangan yang sama-sama sibuk mengelola firma arsitektur ArchSpace, mereka berbagi satu akun untuk memudahkan urusan logistik rumah tangga. Danan baru saja berniat memesan kopi kapsul ketika ia iseng memeriksa riwayat transaksi untuk melihat apakah sabun cuci piring yang ia minta kemarin sudah dibeli.

Namun, yang ia temukan justru barisan transaksi asing yang konsisten selama empat bulan terakhir. Setiap hari Selasa pukul dua siang, ada pesanan rutin: satu kotak susu almond bebas laktosa merk premium, satu kantung makanan kucing kering Royal Canin Hairball Control, dan satu botol diffuser ruangan aroma lavender. Alamat pengirimannya bukan ke rumah mereka di Bintaro, melainkan ke Apartment Denopati, Tower B, Unit 12A, Jakarta Selatan.

Danan mengenal alamat itu. Sangat mengenalnya. Itu adalah unit apartemen milik Baskara, sahabat karibnya sejak masa kuliah di ITB, sekaligus partner bisnis yang membangun ArchSpace bersamanya dari nol. Baskara adalah seorang pria lajang yang menderita intoleransi laktosa parah, dan tiga bulan lalu, pria itu baru saja mengadopsi seekor kucing Persia abu-abu yang dinamai Mochi.

Danan merasakan dadanya mendadak hampa, seolah seluruh oksigen di dapur itu tersedot habis oleh keheningan yang merayap. Ia menatap punggung Kirana yang masih membelakanginya, bergerak ritmis memotong sayuran. Wanita yang dinikahinya tiga tahun lalu itu tampak begitu anggun dengan daster rumahan berbahan linen halus, rambutnya dicepol asal namun tetap terlihat cantik. Bagaimana bisa seseorang yang tampak begitu tenang di permukaannya, menyimpan rahasia sedalam samudra di bawahnya?

Every Tuesday, batin Danan berbisik, menyusun kepingan teka-teki yang selama ini sengaja ia abaikan. Setiap hari Selasa siang adalah jadwal Kirana melakukan 'site visit' ke proyek renovasi butik di Senopati. Proyek yang pengerjaannya diawasi langsung oleh Baskara. Danan selalu berpikir istrinya adalah wanita pekerja keras yang rela berpanas-panasan di lapangan demi reputasi kantor mereka. Ia bahkan sering merasa bersalah karena terlalu sibuk menggambar cetak biru di kubikelnya sendiri, membiarkan Kirana menembus kemacetan Jakarta sendirian.

'Oh, ini,' Danan bersuara lagi, kali ini dengan nada yang sengaja dibuat heran. 'Aku cuma bingung melihat riwayat belanja kita. Ada pesanan makanan kucing dan susu bebas laktosa tiap hari Selasa. Dikirim ke apartemen Bas. Kamu sering mampir ke sana sebelum ke proyek, Ki?'

Bunyi pisau yang beradu dengan talenan kayu mendadak berhenti total. Kali ini tidak ada gerakan lanjutan. Kirana berdiri mematung membelakangi Danan. Bahunya yang rapuh tampak menegang di balik kain linen tipis. Perlahan, ia meletakkan pisau dapur, mengeringkan tangannya pada serbet gantung, lalu berbalik dengan senyuman yang tampak dipaksakan.

'Ah, itu...' Kirana menyelipkan seuntai rambut ke belakang telinganya, sebuah gestur tubuh yang sangat dipahami Danan sebagai tanda kegugupan. 'Bas sering minta tolong aku buat pesankan lewat akun kita karena kartu kreditnya sering bermasalah buat transaksi online. Kamu tahu sendiri kan, Bas itu agak gaptek kalau urusan aplikasi begitu. Daripada repot, ya sudah aku pesankan saja pakai akun kita, nanti dia ganti cash atau transfer ke aku.'

Penjelasan yang sangat logis. Terlalu logis, seolah-olah skenario jawaban itu sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk mengantisipasi momen seperti ini. Danan menatap mata cokelat istrinya. Tidak ada binar kebohongan yang klise seperti di sinetron; Kirana menatapnya balik dengan pandangan teduh yang biasa menenangkannya saat stres melanda. Di situlah letak kengerian yang sesungguhnya. Wanita ini bisa berbohong dengan mata yang begitu jujur.

'Begitu ya?' Danan tersenyum tipis, menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya. 'Tapi kenapa harus dikirim jam dua siang, Ki? Bukannya jam segitu kamu biasanya masih di lokasi proyek bersama dia? Kenapa tidak dibawa sekalian dari rumah atau dibeli bareng saat kalian makan siang?'

Pertanyaan itu seperti anak panah yang melesat tanpa suara, langsung mengenai sasaran terkecil di pertahanan Kirana. Sudut bibir wanita itu bergetar sesaat sebelum ia kembali menguasai diri. 'Kan kurirnya langsung antar ke lobi apartemennya, Nan. Jadi Bas tinggal ambil saat pulang kantor. Lebih praktis begitu. Kenapa sih? Kamu kok pertanyaannya interogatif sekali sore ini? Ada masalah di kantor?'

Danan tidak menjawab. Ia berdiri dari kursi makan, melangkah mendekati Kirana yang kini tampak sedikit menahan napas saat jarak di antara mereka terkikis. Danan mengulurkan tangan, bukan untuk memeluk istrinya, melainkan untuk mengambil sepotong wortel mentah yang baru saja dipotong, lalu mengunyahnya perlahan. Rasanya hambar, persis seperti perasaannya saat ini.

'Tidak ada masalah di kantor, Ki,' ucap Danan lembut, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Kirana. 'Hanya saja, kemarin aku tidak sengaja melihat mutasi rekening bersama kita. Ada beberapa kali transaksi nontunai di sebuah kafe kecil di bawah apartemen Bas, tepat di jam-jam yang sama. Dan yang membuatku heran, ada tagihan pembelian sebuah jam tangan kulit pria custom dengan inisial B.S. yang didebit dari rekening pribadimu bulan lalu. Aku baru ingat, minggu lalu Bas memakai jam tangan baru dengan strap kulit yang persis seperti itu.'

Kali ini, pertahanan Kirana runtuh sepenuhnya. Warna merah di pipinya mendadak surut, menyisakan wajah pucat pasi yang tampak kontras dengan pencahayaan dapur yang hangat. Ia melangkah mundur satu tapak hingga pinggulnya membentur tepian wastafel marmer. Matanya melebar, memancarkan kepanikan yang luar biasa, seolah-olah ia baru saja melihat hantu di tengah hari bolong.

'Nan... aku bisa jelaskan,' bisik Kirana, suaranya kini serak dan kehilangan semua ketenangan yang dipamerkannya beberapa menit lalu. 'Itu... itu kado ulang tahun dari kantor. Kami kan patungan...'

'Patungan dengan rekening pribadimu tanpa memberi tahu aku, bendahara kantor kita?' Danan memotong dengan suara yang tetap tenang, hampir seperti bisikan, namun setiap kata yang diucapkannya terasa seperti hantaman palu godam. 'Dan sejak kapan kado patungan kantor dikirim langsung ke alamat pribadi penerimanya dengan kartu ucapan bertuliskan 'Untuk separuh jiwaku'?'

Hening seketika merajai ruangan. Hanya suara rintik hujan di luar yang terdengar semakin deras, menemani detak jantung mereka yang berpacu liar. Kirana menutup mulutnya dengan sebelah tangan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. Sandiwara tiga tahun itu akhirnya retak, menyisakan puing-puing kenyataan pahit yang kini berserakan di lantai dapur mereka yang bersih.

Danan menatap wanita di hadapannya dengan rasa asing yang mendalam. Tiga tahun pernikahan yang ia bangun dengan keringat, kerja keras, dan kepercayaan tanpa batas, ternyata runtuh hanya karena detail kecil yang tak kasat mata: sekotak susu bebas laktosa dan sebungkus makanan kucing. Pengkhianatan tidak selalu datang dengan gemuruh badai yang dahsyat; kadang ia menyusup lewat sunyinya transaksi digital di sore hari, di bawah hidung seorang suami yang terlalu percaya pada cinta.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url